Diarsipkan di bawah: Artikel Umum | Tag: bom bali, bom jw mariot, dr Azhari, imam samudra, khawarij, m.Noordien Top, matiNordien top, negara indonesia, negara teroris amerika, negara teroris yahudi, nikmatnya aman, pembrontakkan, perbuatan maksiat, solusi unutuk pemerintah, teroris
Akankah Nikmat Aman Hilang dari Negeri ini
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Sebuah fitrah manusia ketika seseorang menginginkan kebahagiaan, ketenangan dan keamanan. Aman adalah sebuah kenikmatan yang sangat agung yang Allah karuniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْف
” Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (pemilik) rumah ini (ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan “ ( Qs. Al Quraiys : 3,4 )
Berkata As Syaikh Al Allamah ‘Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : ” Maka Allah menjadikan kehidupan yang lapang, memberi rezeki dan keamanan dari rasa takut termasuk kenikmatan duniawi yang paling besar yang mewajibkan untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala” (Taisir Al Karimurrahman, Syaikh As Sa’di pada ayat ini )
Wajib bagi kita untuk mensyukuri nikmat keamanan ini, dikarenakan dengan keamanan yang ada kita bisa menunaikan aktivitas kita sehari-hari baik aktivitas yang berkaitan dengan dunia ataupun ukhrawi.
Maka patut disyukuri ketika pemerintah menunaikan tugasnya dari melumpuhkan jaringan teroris Imam Samudra, Dr. Azhari, M. Noordien Top dan kelompoknya. Dikarenakan aksi terorisme adalah diantara yang dapat mengancam stabilitas keamanan bangsa ini, jika keamanan terganggu maka kitalah yang akan paling merasakan dampak jeleknya, susah untuk melaksanakan aktivitas yang berkaitan dengan dunia ataupun ukhrawi.
Tapi perlu diwaspadai walaupun pemerintah telah berhasil melumpuhkan para gembong teroris di Asia dengan matinya Imam Samudra, Dr. Azhari dan M. Noordien Top, bahwa sebab – sebab munculnya aksi terorisme masih ada dan diantaranya adalah buah dari kesesatan pemikiran khawarij, sebuah kelompok sesat yang mempunyai ciri mengkafirkan pelaku dosa besar, menghalalkan darah kaum muslimin, membrontak pemerintah dan yang lainnya, maka tidak menutup kemungkinan aksi terorisme inipun muncul kembali dimasa yang akan datang, dikarenakan sebab – sebab yang menimbulkan aksi dari terorisme masih ada.
Mungkin ada yang bertanya kenapa aksi mereka dinamakan teroris, Maka kita katakan dikarenakan aksi mereka membuat rasa takut, teror dan mengancam kehormatan, darah dan nyawa manusia serta stabilitas keamanan daerah tertentu atau bahkan keamanan negara dengan sengaja membunuh kaum muslimin dan orang – orang kafir yang tidak boleh dibunuh dengan berbagai aksi peledakkan.
Sedangkan Allah Ta’ala berfirman
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
” Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya “ ( Qs. An Nisa’ : 93 )
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda ” Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya ” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu)
Begitu juga dalam hadist lain Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Barangsiapa yang membunuh Muaahadan (orang kafir yang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin) tidak mencium bau harumnya surga, dan bau harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dari Ibnu Umar dan selainnya)
Adapun balasan bagi mereka adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
” Hukuman bagi orang – orang yang memerangi Allah dan Rasul Nya dan membuat kerusakkan dibumi, hanyalah dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka didunia dan diakhirat mereka mendapat adzab yang besar.” ( Qs. Al Maidah : 33 )
Berkata As Syaikh Al Allamah ‘Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul Nya, mereka adalah orang-orang yang menampakkan permusuhan, mereka adalah yang membuat kerusakkan dibumi dengan perbuatan kekufuran dan pembunuhan, mengambil harta dan menakuti – nakuti orang dijalan (perompak –pent) ” ( Taisir Al Karimurrahman, Syaikh As Sa’di, pada ayat ini)
Adapun yang menganggap aksi mereka sebagai jihad dan mengatakan mereka adalah seorang mujahid, jelas hal ini sangatlah keliru. Apa yang mereka lakukan sama sekali bukanlah jihad, tetapi aksi terorisme. Hal ini karena berapa pelanggaran yang mereka lakukan.
Yang pertama : Anggaplah apa yang mereka lakukan sebagai jihad menurut pemahaman sesat mereka, lalu kenapa mereka berjihad sebelum berdakwah kepada orang kafir yang akan diperangi. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ketika memberi bendera kepada Ali Bin Abi Thalib Radiyaalallahu ‘Anhu untuk memimpin perang khaibar ” Berjalanlah dengan tenang sampai kepada tempat musuh kalian, kemudiaan ajaklah mereka kepada islam “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl Bin Said Radiyalallahu ‘Anhu )
Berkata As Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Faedah yang dapat diambil dari hadist ini adalah wajibnya berdakwah kepada Islam apalagi sebelum memerangi orang kafir “ (Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid Syaikh Al Allamah Shaleh Al Fuzan : 59 )
Yang Kedua : Membunuh kaum muslimin dengan sengaja
Tidak bisa dipungkiri bahwa tempat yang dijadikan aksi terorisme mereka, adalah tempat – tempat yang disana banyak kaum musliminnya, yang secara otomatis jika dilaksanakan aksi peledakan disana maka kemungkinan akan jatuh korban dari kaum muslimin dan hal ini diketahui oleh mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمً
” Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya “ ( Qs. An Nisa’ : 93 )
Yang ketiga : Bahkan diantara mereka ada yang membunuh diri mereka sendiri dalam melaksanakan aksinya. Padahal Allah Ta’ala berfirman
وَلا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“ Dan janganlah kamu membunuh dirimu sungguh Allah maha penyayang kepadamu ”. ( QS. An-Nisa` : 29 )
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda : ” Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka kelak ia akan disiksa dengan sesuatu tersebut pada hari kiamat “. ( HR. Bukhari dan Muslim )
Yang Keempat : Mereka secara membabi buta membunuh orang-orang kafir tanpa membedakan antara yang boleh diperangi dan yang tidak boleh diperangi. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Barangsiapa yang membunuh Muaahadan (orang kafir yang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin) tidak mencium bau harumnya surga, dan bau harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan” (HR. Bukhari )
Adapun bagi mereka yang mengatakan atau mengidentikkan bahkan memaksakan kepada publik untuk menyakini bahwa islam adalah agama teroris atau para pelaku aksi teroris adalah orang – orang yang berpegang teguh kepada islam atau mengatakan jihad adalah aksi terorisme, maka kita katakan ucapan kalian yang mengindentikkan islam sebagai agama teroris adalah sebuah ucapan yang buruk dan sebuah kebatilan. Dan apa yang kalian ucapkan ini tidak terlepas dari tiga keadaan, keadaan yang pertama : orang yang bodoh dari ajaran islam atau keadaan yang kedua : orang yang tertipu dari informasi – informasi yang menyudutkan islam atau keadaan yang ketiga : adalah musuh – musuh islam.
Ketahuilah islam adalah agama yang hak dan rahmatan lil’alamiin (rahmat untuk semesta alam) Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ
“ Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam “ (Qs. Ali Imran : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“ Barangsiapa mencari agama selain agama islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs. Ali Imran : 85 )
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَة لِلْعَالَمِينَ ً
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam “ (Qs. Al Anbiya : 107)
Islam juga mengajarkan untuk tidak melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Tidak boleh Membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain “ ( HR. Ibnu Majah, Daruqutni dan selainnya dari Abu Said Al Khudri dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani Rahimahullah) apakah masuk diakal orang yang mengatakan aksi teroris dengan menaruh bom dan mencelakakan orang bagian dari islam…!!! Sedangkan islam melarang kita untuk berbuat yang dapat membahayakan diri kita dan orang lain. Berfikirah wahai orang – orag yang berakal… !!!
Begitu juga islam mengajarkan untuk membunuh dengan cara yang baik, seperti membunuh tikus misalnya dengan tidak menyiksanya, islam juga mengajarkan menyembelih hewan dengan membaguskan cara menyembelihnya, seperti dengan pisau yang tajam, sebagai perbuatan baik kepada hewan sembelihan, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist, dari Abu Ya’la Syaddaad Bin Aus Radiyallahu ‘Anhu bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu, maka apabila kalian membunuh maka perbaguslah dalam membunuh dan apabila menyembelih perbaguslah dalam menyembelih dan tajamkanlah salah seorang dari kalian pisaunya “ (HR. Muslim)
Berkata As Syaikh Muhammad Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah : Dianjurkan untuk berbuat baik kepada setiap sesuatu, dikarenakan Allah Ta’ala mewajibkan yang demikian yaitu mensyariatkannya dengan penekanan “ ( syarh hadist Arbain As Syaikh Muhammad Shaleh Al Utsaimin :207)
kalau islam mengajarkan untuk kita berbuat baik kepada setiap sesuatu termasuk kepada hewan lalu bagaimana tidak mengajarkan untuk berbuat baik kepada orang lain….!!! Maka apakah bisa dikatakan orang yang berakal orang mengatakan islam sebagai agama teroris…!!!
Islam juga mengajarkan untuk menyingkirkan gangguan dari jalan baik itu duri ataupun yang lebih kecil dari itu bahkan hal itu merupakan cerminan dari orang-orang beriman sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam bersabda : ” Iman adalah 73 sampai 79 cabang, yang paling tinggi adalah perkataan Laa ilaha Illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan ganguan dari jalan dan malu adalah bagian dari iman “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu) Apakah masuk diakal kalau gangguan dijalan saja kita diperitahkan untuk menyingkirkannya bahkan cerminan dari orang yang beriman, lalu ada orang yang mengatakan islam identik dengan teroris atau orang yang melakukan aksi teroris adalah orang-orang yang istiqamah terhadap agamanyanya….!!!
Adapun jihad adalah syariat islam yang sangat agung bahkan puncak dari ajaran islam. sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ المُسْلِمينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj: 78).
Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: ” Pokok perkara adalah islam, dan tiangnya adalah shalat dan puncak tertingginya adalah jihad “ (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad hasan, dihasankan oleh Syaikh Al Al Bani Rahimahullah )
Perlu diketahui bahwa jihad melawan orang kafir didalam islam dibagi dua, Yang pertama : Jihad difa’ (defensif, membela diri) ketika ummat Islam diserang oleh musuh maka kewajiban mereka untuk membela diri tanpa ada syarat-syarat jihad yang harus dipenuhi.
Yang kedua : Jihad thalab (ofensif, memulai penyerangan lebih dulu). Dalam jihad ada syarat – syarat yang harus dipenuhi. Yaitu Syarat Pertama: Jihad tersebut dipimpin oleh seorang kepala negara. Syarat Kedua: Jihad tersebut harus didukung dengan kekuatan yang cukup untuk menghadapi musuh sehingga apabila kaum muslimin belum memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi musuh, maka gugurlah kewajiban tersebut dan yang tersisa hanyalah kewajiban untuk mempersiapkan kekuatan. Syarat Ketiga: Jihad tersebut dilakukan oleh kaum Muslimin yang memiliki wilayah kekuasaan.
Maka jelaslah bagi orang yang berakal dari penjelasan diatas, bathilnya perkataan orang yang mengatakan atau mengesankan islam sebagai agama teroris atau orang yang berpegang teguh terhadap agamanya adalah orang-orang yang melakukan aksi pemboman, atau mengesankan bahwa jihad syar’i adalah aksi terorisme, bahkan sebagian orang yang mengatakan islam indentik dengan teroris atau mengatakan islam agama teroris adalah para teroris sejati, contohnya amerika dan negara – negara yang membantu dalam pembantaian, penindasan peneroran dan pembombardiran disebagian negara kaum muslimin bukankah itu tindakan terorisme, Bukankan amerika melakukan tindakan terorisme terhadap sebagian Negara kaum muslimin, begitu juga negara yahudi melakukan tindakan terorisme terhadap palestina dari pembantaian dan bombardir yang dilakukan oleh kedua Negara itu, itulah mereka para teroris, teroris teriak teroris. semoga Allah menghancurkan negara amerika, yahudi dan siapa saja yang menginginkan kejelekkan terhadap negara kaum muslimin. Oleh karena itu sangat disayangkan dari sebagian orang yang menyakiti orang – orang berusaha mengamalkan agamanya seperti memelihara jenggot dan berpakaian tidak isbal, dengan mencemoohnya hanya sekedar kebetulan sebagian yang melakukan tindakan peledakkan melaksanakan syariat memelihara jenggot atau berpakaian tidak isbal, bahkan yang lebih parah lagi dengan memperolok – olok syariat memelihara jenggot, berpakaian tidak isbal dan yang lainnya. Padahal hal itu semua adalah syariat islam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang pensyariatan memelihara jenggot serta berpakaiaan tidak isbal (berpakaian diatas mata kaki)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “ Bagian kain sarung yang terletak di bawah kedua mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah Radiyalallahu ‘Anhu ).
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata, “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan jenggot.” (HR. Muslim )
Maka sangat berbahaya bagi orang – orang yang menjadikan syiar-syiar islam sebagai bahan olok-olokan, oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ
تَسْتَهْزِئُونَ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُم
” Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ” sesungguhnya kami hanya bersendaugurau dan bermain-main saja. Katakanlah, mengapa kepada Allah, dan ayat-ayatNya serta Rasul Nya kamu selalu berolok-olok ? Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” ( Qs. At Taubah : 65-66 )
Berkata As Syaikh Al Allamah Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah ” Dapat diambil faedah dari dua ayat ini bahwasannya orang yang memperolok-olok Allah telah melakukan kekufuran ” berdasarkan firman Allah
لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُم
” Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman” ( Al Qaulul Mufiid ‘Ala Kitaabut Tasuhid Syaikh Al Allamah Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin : hal 272, jilid 2 )
Berkata As Syaikh Al Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Bahwa istija’ (mengolok-ngolok) dengan Allah, ayat-ayat Nya dan Rasul Nya merupakan kekafiran yang menghilangkan tauhid “ (Al Mulakhos Syarah Kitab Tauhid, Syaikh Shaleh Al Fauzan : 349 )
Dan diantara perkara yang lain yang dapat mengganggu keamanan Negara adalah pembrontakan yang dilakukan kepada pemerintah kaum muslimin. Jelas hal ini perbuatan yang menyelisihi syariat islam, dikarenakan Allah Ta’ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ
” Wahai orang –orang yang beriman taatilah Allah dan Rasul dan ulil amri (pemegang kekuasaan –pent ) diantara kamu “ (Qs. An Nisa’ : 59)
Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah : ” Dan yang dzahir (yang nampak) wa’allahu ‘alam bahwa ayat ini umum untuk setiap ulul amri dari para pemimpin dan ulama ” ( Silahkan lihat Tafsir Ibnu Katsir pada ayat ini )
Rasulullah bersabda : ” Untuk setiap muslim agar mendengar dan taat (kepada pemerintah-pent) terhadap perkara yang disukai dan yang tidak disukai kecuali jika diperintah untuk bermaksiat, jika diperintah untuk berbuat maksiat maka jangan didengar dan jangan ditaati ” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Bin Umar Radiyallahu ‘Anhu)
Dan jangan dipahami dari hadist ini bahwasanya kita tidak taat secara mutlak, bahkan wajib bagi kita untuk taat kepada pemerintah secara mutlak kecuali jika diperintah untuk berbuat maksiat. Pembrontakan kepada pemerintah kaum muslimin sebuah perbuatan yang sangat berbahaya yang berdampak jelek bagi keamanan negeri ini, maka dari itu wajib bagi kita untuk mentaati Allah dan mentaati Rasul Nya serta mentaati pemerintah kaum muslimin selama bukan disuruh berbuat maksiat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada ketaatan ( kepada makhluk) di dalam kemaksiatan kepada Allah, sesungguhnya ketaatan hanya di dalam sesuatu yang ma’ruf ( dibolehkan oleh agama ) ( HR . Bukhari dan Muslim ) .
Dan diantara perkara yang lainnya yang dapat mengancam keamanan sebuah negeri adalah perbuatan maksiat, perbuatan maksiat adalah perbuatan yang dapat membahayakan pribadi dan mujtama’ (komunitas masyarakat). Perbuatan maksiat seperti kesyirikan, pembunuhan, perzinahan, minuman keras, perjudian dan perbuatan maksiat lainnya sangat berbahaya dan dapat mengancam kebahagian dan keamanan seseorang dan mujtama’ (komunitas masyarakat disebuah negeri) sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
” Telah tampak kerusakkan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar) ” (Qs. Ar Rum : 41 )
Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah : ” Kerusakan didaratan berupa pembunuhan anak keturunan Adam dan kerusakan dilaut berupa pembajakkan kapal laut ” (Tafsir Ibnu Katsir pada ayat ini)
Inilah balasan yang Allah perlihatkan kepada manusia akibat perbuatan maksiat yang mereka lakukan, berupa kerusakan di daratan dan dilaut, rasa aman yang mulai hilang dan hidup yang jauh dari kebahagian, ketenangan dan keamanan disebabkan perbuatan maksiat kita. Allah Ta’ala berfirman
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
” Kebajikan apapun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri “ (Qs. An Nisa’ : 79 )
Berkata Qatadah Rahimahullah pada ayat فَمِنْ نَفْسِكَ (itu dari kesalahmu sendiri –pent): “Hukuman bagimu wahai anak keturunan adam dikarenakan dosamu “ (Tafsir Ibnu Katsir Rahimahullah pada ayat ini)
Oleh karena itu wajib bagi kita untuk bertaubat kepada Allah terhadap dosa yang kita lakukan jika kita ingin beruntung dan bahagia hidup didunia dan diakhirat.
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
” Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung “ ( Qs. An Nuur : 31 )
Inilah diantara perbuatan – perbuatan yang dapat mengancam keamanan seseorang dan mujtama’ (komunitas masyarakat disebuah negeri), dari aksi terorisme, pembrontakan kepada pemerintah kaum muslimin dan perbuatan maksiat. Semoga Allah menjaga negeri ini dan semoga Allah memberi taufiq kepada pemerintah terhadap apa – apa yang diridhai Nya.
Diarsipkan di bawah: Manhaj | Tag: amerika dan negara yahudi adalah teroris, bantahan terhadap teroris, beda jihad dan aksi teroris, bom bali, bom di jakarta, dampak dari aksi teroris, imam samudra, khawarij anjing-anjing neraka, Khwarij, lagi-lagi bom, memelihara jengot bukan ciri teroris, mengenakan hijab, mereka adalah teroris, nasehat untuk pemerintah dalam menanggulangi terorisme, teroris, tidak isbal
” Menjewer Para Teroris “
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Untuk kesekian kalinya kita menyaksikan kesadisan dan kekejian aksi teroris dinegeri kita dari mulai bom bali sampai pada bom yang meledak dijakarta pada beberapa bulan yang lalu, dan tidak menutup kemungkinan aksi teroris akan terulang kembali dimasa yang akan datang. Sebagaimana yang sama – sama kita saksikan, aksi teroris mereka menyebabkan hilangnya harta bahkan sampai korban jiwapun melayang, sebuah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan secara syar’i, akal dan fitrah yang lurus, dikarenakan beberapa hal, diantaranya :
Pertama : Perbuatan itu merupakan tindakan kedzaliman, yang Allah melarang kita untuk berbuat dzalim, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman didalam hadist Qudsi ” Wahai para hambaku sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diriKu, dan menjadikan kedzaliman sesuatu yang diharamkan atas kalian, maka janganlah kalian berbuat dzalim “ (HR. Muslim dari Abu Dzar Radiyallahu ‘Anhu )
Hadist ini umum, melarang kita untuk tidak bertindak dzalim baik sesama muslim atau orang kafir.
Kedua : Sesuatu perkara yang ma’ruf (diketahui), bahwa syariat islam menjaga lima perkara yaitu, dien, jiwa, harta, kehormatan dan akal. Maka sangat jelas sekali aksi para teroris itu dari pemboman yang dengan sebab itu menghilangkan harta dan jiwa yang diharamkan untuk ditumpahkan darahnya merupakan tindakan yang bertentangan dengan syariat yang mulia ini dari menjaga jiwa, harta dan akal. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
” Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya ” (Qs. An Nisa’ : 93)
Dan dalam sebuah hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya “ (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu’Anhu)
Adapun jika yang dibunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh, seperti kafir dzimmy (orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin, tunduk dengan aturan-aturan yang ada dan membayar jizyah), atau mu’ahad atau musta’man ( orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum Muslimin), merupakan sebuah dosa yang sangat besar. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Barangsiapa yang membunuh Muaahadan (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang,) tidak mencium bau harumnya surga, dan sesungguhnya bau harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan” (HR. Bukhari )
Dari sini sangatlah jelas apa yang dilakukan oleh para teroris itu, dari perbuatan pemboman sehingga jatuh korban dan menghilangkan harta merupakan tindakan kedzaliman yang sangat bertentangan dengan syariat islam, disamping perbuatan para teroris itu mempunyai dampak yang sangat buruk untuk islam dan kaum muslimin secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum. Dikarenakan disebagian aksi para teroris itu menamakan aksinya sebagai jihad atau menyandarkan kepada agama islam atau kebetulan para aksi pemboman itu sebagian mereka melaksakan syariat islam dari syariat memelihara jenggot, atau berpakaian tidak isbal. Diantara dampak buruknya adalah :
Yang pertama : Membuat musuh-musuh islam dari orang – orang kafir dan munafiq dari dalam atau luar negeri mengesankan atau mengindentikkan islam dengan teroris atau menuduh ini perbuatan orang yang istiqamah terhadap agamanya, jelas ini perkataan yang bathil. Islam berlepas diri dari perbuatan para teroris itu, begitu juga orang-orang yang berpegang teguh kepada agamanya berlepas diri dari hal itu. Islam adalah agama yang haq dan rahmatan lilalamin (rahmat untuk seluruh alam) sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ
“ Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam “ (Qs. Ali Imran : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين
“ Barangsiapa mencari agama selain agama islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs. Ali Imran : 85 )
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam “ (Qs. Al Anbiya : 107)
Islam juga mengajarkan untuk tidak melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Tidak boleh Membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain “ ( HR. Ibnu Majah, Daruqutni dan selainnya dari Abu Said Al Khudri dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani Rahimahullah) apakah masuk diakal orang yang mengatakan aksi teroris dengan menaruh bom dan mencelakakan orang bagian dari islam…!!! Sedangkan islam melarang kita untuk berbuat yang dapat membahayakan diri kita dan orang lain. Berfikirah wahai orang – orag yang berakal… !!!
Begitu juga islam mengajarkan untuk membunuh dengan cara yang baik, seperti membunuh tikus misalnya dengan tidak menyiksanya, islam juga mengajarkan menyembelih hewan dengan membaguskan cara menyembelihnya, seperti dengan pisau yang tajam, sebagai perbuatan baik kepada hewan sembelihan, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist, dari Abu Ya’la Syaddaad Bin Aus Radiyallahu ‘Anhu bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu, maka apabila kalian membunuh maka perbaguslah dalam membunuh dan apabila menyembelih perbaguslah dalam menyembelih dan tajamkanlah salah seorang dari kalian pisaunya “ (HR. Muslim) kalau islam mengajarkan untuk kita berbuat baik kepada hewan lalu bagaimana tidak mengajarkan untuk berbuat baik kepada orang lain….!!! Maka apakah bisa dikatakan orang yang berakal orang mengatakan islam sebagai agama teroris…!!!
Begitu juga islam agama yang menjaga lima perkara yaitu menjaga, dien, jiwa, harta, kehormatan dan akal. Sedangkan para teroris itu tidak segan-segan untuk membunuh orang, berapa banyak akibat dari ulah meraka orang meninggal dunia dan kehilangan harta, sedangkan Allah Ta’ala berfirman
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
” Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya “ (Qs. An Nisa’ : 93)
Dan dalam sebuah hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya “ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallampu bersabda dalam hadist lain tentang haramnya membunuh orang-orang kafir yang tidak boleh dibunuh ” Barangsiapa yang membunuh Muaahadan (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang) tidak mencium bau harumnya surga, dan sesungguhnya bau harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan” (HR. Bukhari )
Jelaslah apa yang dilakukan para teroris itu merupakan hal yang bertentangan dengan syariat islam bahkan perbuatan dosa besar.
Islam juga mengajarkan untuk menyingkirkan gangguan dari jalan baik itu duri ataupun yang lebih kecil dari itu bahkan hal itu merupakan cerminan dari orang-orang beriman sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam bersabda : ” Iman adalah 73 sampai 79 cabang, yang paling tinggi adalah perkataan Laa ilaha Illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan ganguan dari jalan dan malu adalah bagian dari iman “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu) Apakah masuk diakal kalau gangguan dijalan saja kita diperitahkan untuk menyingkirkannya bahkan cerminan dari orang yang beriman, lalu ada orang yang mengatakan islam identik dengan teroris atau orang yang melakukan aksi teroris adalah orang-orang yang istiqamah terhadap agamanyanya….!!! tidak ada yang mengatakan perkataan seperti itu kecuali ada tiga kemungkinan, kemungkinan yang pertama orang yang bodoh terhadap ajaran islam atau kemungkinan yang kedua orang yang tertipu atau kemungkinan yang ketiga musuh-musuh islam.
Maka jelaslah bagi orang yang berakal dari pejelasan diatas, bathilnya perkataan yang mengatakan atau mengesankan islam sebagai agama teroris atau orang yang berpegang teguh terhadap agamanya adalah orang-orang yang melakukan aksi pemboman. Bahkan sebagian orang yang mengatakan islam indentik dengan teroris atau mengatakan islam agama teroris adalah para teroris sejati, contohnya amerika dan negara – negara yang membantu dalam pembantaian, penindasan peneroran dan pembombardiran disebagian negara kaum muslimin bukankah itu tindakan terorisme, Bukankan amerika melakukan tindakan terorisme terhadap afganistan, begitu juga negara yahudi melakukan tindakan terorisme terhadap palestina dari pembantaian dan bombardir yang dilakukan oleh kedua Negara itu, itulah mereka para teroris, teroris teriak teroris. semoga Allah menghancurkan negara amerika, yahudi dan siapa saja yang menginginkan kejelekkan terhadap negara kaum muslimin.
Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebagian dari orang-orang sesat dari aksi pemboman yang dilakukan di Bali, di Jakarta dan tempat lainnya yang kebetulan sebagian dari mereka melaksanakan sebagian dari syariat islam, seperti memelihara jenggot atau berpakaian tidak isbal, mereka adalah orang-orang sesat Apa yang dilakukan mereka sama sekali bukan jihad, jihad ada aturan syar’inya, beda jihad dengan aksi terorisme mereka. Itulah mereka orang – orang bodoh, karena tindakan bodoh merekalah para musuh-musuh islam dan orang-orang bodoh mendzalimi kaum muslimin.
Apakah membunuh orang islam dengan sengaja mereka anggap jihad sedangkan Allah Ta’ala berfirman
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
” Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya ” (Qs. An Nisa’ : 93)
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya “ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Apakah membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh mereka katakan jihad, sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Barangsiapa yang membunuh Muaahadan (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang,) tidak mencium bau harumnya surga, dan sesungguhnya bau harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan” (HR. Bukhari )
Apakah aksi teroris mereka mereka namakan jihad sedangkan makna, hakekat dan syarat-syarat jihad saja mereka tidak mengetahuinya apalagi ada pada diri mereka. Bukan jihad yang mereka lakukan tapi aksi konyol.
Yang Kedua : Apa yang dilakukan oleh para teroris dari aksi pemboman menyebabkan kalangan awam dari kaum muslimin menjadi takut atau phobi terhadap islam dan orang -orang yang berpegang teguh terhadap agamanya, dari memelihara jenggot, memakai hijab, berpakaian tidak isbal dan menjalankan syariat islam lainnya, dikarenakan sebagian dari mereka para pelaku pemboman (teroris) menyadarkan perbuatannya atas nama jihad atau sebagian dari pelakunya mengamalkan sebagian dari syiar-syiar islam. hal ini dikarenakan jauhnya mereka (kaum muslimin) dari agama yang shahih sehingga mereka tidak bisa membedakan yang mana orang-orang shaleh dan yang mana orang-orang sesat, sehingga mereka phobi terhadap islam dan orang yang konsisten terhadap agamanya.
Yang ketiga : Tindakan atau aksi para teroris itu sedikit banyak menggangu keamanan atau stabilistas daerah tertentu atau bahkan negara, hal ini jelas akan mempengaruhi aktivitas kaum muslimin baik aktivitas untuk kepentingan dunianya atau agamanya. Sedangkan keamanan adalah sebuah nikmat Allah yang wajib kita jaga. Jika kondisi negara kita tidak aman maka kita yang merasakan mudharatnya.
Oleh karena itu wajib bagi pemerintah melakukan beberapa hal, untuk menanggulangi aksi terorisme diantaranya
Pertama : Wajib bagi pemerintah untuk mengetahui dan membedakan antara ahlu haq dan ahlu bathil, antara orang yang berpegang teguh kepada agamanya dan orang sesat, antara pemberi nasehat dan penghianat, antara pemberi obat bagi permasalahan bangsa ini dengan pemberi racun yang akan membahayakan bangsa ini atau mendzalimi orang lain, antara orang shaleh dengan para teroris, dikarenakan dengan mengetahui dan dapat membedakan antara haq dan kebathilan sebuah langkah awal yang benar untuk melakukan tindakan-tindakan selanjutnya, disamping terhindar dari kedzaliman, Allah Ta’ala berfirman
لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ
“ Kamu tidak mendzalimi orang dan tidak (pula) didzalimi “ (Qs. Al Baqarah : 279) jadi tidak ada kaitannya antara orang yang melaksanakan syariat islam dari memelihara jenggot dan berpakaian tidak isbal dan syariat lainnya dengan ciri-ciri teroris apalagi dijadikan barometer untuk menilai seseorang sebagai teroris, sebagaimana perkataan dan komentar dari orang-orang bodoh, kami berharap pemerintah dan kaum muslimin tidak termakan oleh komentar yang tidak didasari ilmu dan tanggung jawab, teroris adalah orang yang melakukan pemboman di Bali atau di Jakarta dan tempat lainnya, mereka yang berbuat dosa dari aksi pemboman bukan orang yang berpegang teguh terhadap agamanya yang harus menanggungya…!!!, Allah Ta’ala berfirman
وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“ Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain “ (Qs. Al An’aam : 164 )
Kedua : Meruju’ dan berhubungan dengan para ulama Ahlus Sunnah salafiiyiin, yang dengan itu kita akan mendapat arahan wejangan dalam menghadapi permasalahan bangsa ini, termasuk permasalahan teroris, karena awal dari aksi teroris adalah buah dari kesesatan pemikiran, baik pemikiran dari musuh-musuh islam atau dari orang –orang sesat dari kalangan khawarij. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“ Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempuyai ilmu jika kamu tidak mengetahui “ (Qs. An Nahl : 43)
Karena merekalah yang dapat menghadang pemikiran sesat dengan ilmu yang ada pada diri mereka, bukan meruju’ kepada orang yang ngga jelas ilmu, amal dan dakwahnya apalagi meruju’ kepada orang – orang bodoh yang ceplas – ceplos asal ngomong tanpa dilandasi ilmu dan ketenangan dalam berfikir.
Ketiga : Sudah seharusnya pemerintah dan kaum muslimin, untuk berusaha memahami agama ini dengan pemahaman yang benar, memahami aqidah ahlusunnah wal jamaa’ah dan menyebarkan kitab-kitab atau buku-buku ahlus sunnah waljama’ah dan melarang kitab-kitab atau buku yang akan menimbulkan aksi-aksi terorisme seperti buku imam samudara dan lainnya.
Keempat : Bertaqwa kepada Allah, dikarenakan jika kita bertaqwa kepada Allah, dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi permasalahan kita. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“ Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar “ (Qs. Ath – Thalaq : 2 )
Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua terhadap perkara-perkara yang diridhai Nya. Dan semoga Allah memberi taufiq dan menolong pemerintah dalam memerangi para teroris.
Diarsipkan di bawah: Coretan Pena Santri | Tag: buka aurat, durhaka kepada orang tua, hukum berbuat syirik, hukum mendatangi dukun, hukum meninggalkannya, jilbab, judi, kemungkaran yang terjadi dimasyarakat, makasiat yang terjadi di indonesia, minuman memabukkan, nasehat, riba, rokok, sajak, sholat, zina
Nasehat Untuk Kaum Muslimin
Oleh Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Melihat fenomena yang terjadi
Kemaksiatan tersebar dinegeri
Kewajiban Kita untuk menasehati
Agar ummat jadi ingat diri
Menyesali apa yang telah terjadi
Bertaubat kepada Ilahi
Allah Ta’ala berfirman
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
” Dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran “ ( Qs. Al ‘Ashr : 3 )
Dari Abu Ruqayah Tamiim Bin Aus Ad-Daari
bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassam bersabda :” Agama adalah nasehat ” kami (para sahabat) berkata untuk siapa wahai Rasulullah, Rasulullah berkata : untuk Allah, Rasul Nya kitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya “ (HR. Muslim)
Wahai ummat kasihanilah diri
Jangan memaksiati Rabbul Izati
Hidup didunia sebentar sekali
Semua akan dipertanggung jawabkan diakhirat nanti
Allah Ta’ala berfirman
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُون
” Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai
mereka semua “. ” Tentang apa yang telah mereka
kerjakan dahulu” ( Qs. AL Hijr : 92 – 93 )
Wahai ummat dosa syirik engkau harus jauhi
Dosa yang berbahaya sekali
Dosa yang tidak terampuni
Jika mati belum bertaubat kepada Ilahi
Masuk neraka kekal abadi
Jika syirik akbar dilakukan walau sekali
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan
Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa)
yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia
kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan
Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa
yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 )
Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz
Rahimahullah : “ Didalam ayat ini terdapat
penjelasan besarnya bahaya syirik,
dikarenakan seseorang apabila mati
dalam kaeadaan berbuat syirik maka tidak
akan diampuni baginya bahkan dia kekal
didalam neraka, berbeda dengan dosa
lainnya yaitu dibawah kehendak Allah,
jika Allah berkehendak mengadzabnya
sesuai dengan kadar dosanya kemudian
masuk surga, dan jika Allah berkehedak maka
Allah akan mengampuniannya (tidak mengadzab
nya). Adapun dosa syirik maka sungguh Allah
Ta’ala telah berfirman :
ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّة
َ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa
yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan )
Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan
surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.
Dan tidak ada seorang penolong pun bagi
orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )
(Syarh Kitab Tauhid Syaikh Syaikh Abdul
‘Aziz Bin Baaz : 37)
Macam syirik banyak sekali
Diketahui dengan terus thulabul ilmi
Menghadiri kajian ustadz salafi
Kitab tauhid yang dikaji
Perdukunan tersebar dinegeri
Kesesatan telah terjadi
Akibat ulah sidukun keji
Banyak ummat tak sadarkan diri
Perdukunan mengancam iman dihati
Wahai ummat jangan hilangkan iman dihati
Dengan percaya sidukun keji
Jangan juga bertanya walau sekali
Walau tanpa membenarkan dihati
Sebuah dosa yang besar sekali
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, berkata :
Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam
bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang
ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkan
nya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi
Wassallam “ ( HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya
dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh
Syaikh Al-Al Bany ).
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
sebagian istri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam,
Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda :
“Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan
sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima
sholatnya selama empat puluh malam, ( HR. Muslim )
Shalat perkara penting sekali
Pembeda antara orang kafir dengan muslim hakiki
Jangan ditinggalkan walau sekali
Sebuah dosa yang besar sekali
Bahkan menghilangkan iman dihati
Allah Ta’ala berfirman
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ المُشْرِكِينَ
“Serta dirikanlah sholat dan janganlah
kamu termasuk orang_orang yang
mempersekutukan Allah ” (QS. Ar-Rum : 31)
Berkata Al-Mawarzi Rahimahullah : ” Maka
jelaslah bahwa tanda dari orang musyrik
adalah meninggalkan shalat “ (Ta’dziimul
Qadri as – Sholat, al Mawarzi, jilid 2 hal :
1005-1006)
Adapun dalil dari As-Sunnah sebagaimana
dalam sebuah hadist yang diriwayatkan
dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu
berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
wassalam bersabda ” Sesungguhnya pembatas
antara seseorang dengan kesyirikan dan
kekufuran adalah meninggalkan sholat”
(HR. Muslim)
Dari Abu Buraidah Radiyalallahu ‘anhu
berkata, Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam
bersabda ” Perjanjian antara kami dan mereka
adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan
shalat maka sungguh dia telah kafir “ (HR. Imam
Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Majah di Shahihkan
Syaikh Al AlBani di dalam Shohihul jami’)
Berkata Syaikh Muhammad Bin Shaleh
Al Utsaimin Rahimahullah : ” Kami mendapati
didalam Al-kitab dan as-Sunnah keduanya
menunjukkan atas kafirnya orang yang
meninggalkan sholat” (Hukmu Tarkis Shalat ,
Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin : 6)
Kewajiban sholat bersama imam fardu ‘aini
Berjama’ah dimasjid setiap hari
Melaksanakan perintah ilahi
Mencari ridha Allah niat dihati
Dan kebahagian dinegeri akhirat nanti
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah sholat , tunaikanlah zakat dan
ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’
(QS. Al –Baqarah : 43)
Berkata Syaikh Al Alamah Abdul Aziz Bin Baaz
Rahimahullah : ” Ayat yang mulia ini merupakan
nash (dalil) wajibnya sholat berjama’ah dan
kebersamaan orang-orang yang sholat dalam
sholat mereka.” (Wujub Adaais sholat fil jama’ah,
Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah)
Adapun dalil dari As-sunnah, sebagaimana dalam
Sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
berkata : Bersabda Rasulullah Sholallahu alaihi
wassalam : ” Aku berniat memerintahkan kaum
muslimin untuk mendirikan sholat, maka aku
perintahkan seseorang untuk menjadi imam
dan sholat bersama mereka. Kemudian aku
perintahkan beberapa orang untuk membawa
seikat kayu bakar menuju orang-orang yang
tidak ikut sholat berjama’ah dan aku bakar “.
(HR. Bukhari-muslim)
Wahai muslimah dimana engkau dengan perintah Ilahi
Perintah mengenakan hijab syar’i
Pakaian kehormatan dan kemulian diri
Segera tunaikan menacari ridha Ilahi
Allah Ta’ala berfirman
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا
” Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isteri
mu, anak-anak perempuanmu dan isteri –
isteri orang mu’min, hendaklah mereka
menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh
mereka “ (Qs. Al Ahdzab : 59 )
Ingatlah dosa buka aurat pamerkan diri
Berbahaya untuk diri sendiri
Baik didunia apalagi diakhirat nanti
Kuhadirkan hadsit Nabi
Semoga menjadi peringatan dihati
Sehingga memperbaiki keadaan diri
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda : ” Dua golongan dari penduduk
neraka yang sebelumnya aku belum pernah
melihatnya, lelaki yang membawa cambuk
seperti ekor sapi yang di gunakan untuk
mencambuk manusia ( menzdolimi orang
dan dalam rangka permusuhan ). Dan
wanita yang berpakaian tapi telanjang,
memakai wik dan yang melenggak lenggokkan
kalau berjalan”. ( HR. Muslim dari Abu Hurairoh )
Gambar bernyawa tersebar dinegeri
Kemaksiatan yang harus diingkari
Dengan menjelaskan hukum gambar secara syar’i
Sebuah dosa yang adzabnya keras sekali
Dalam sebuah hadist dari Abdullah Bin Mas’ud
bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda : ” Orang yang paling berat adzabnya
pada hari kiamat adalah para penggambar
(makluk bernyawa )” (HR. Bukhari dan Muslim)
Termasuk gambar bernyawa dengan fotografi
Termasuk juga gambar yang ditelevisi
Mencakup gambar yang dilarang syar’i
Kemaksiatan yang harus dijauhi
Dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas Radiyallahu
‘Anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallahu
‘Alaihi Wasallam ” Setiap penggambar (makhluk
bernyawa) tempatnya dineraka dijadikan atas
setiap yang digambarnya ruh yang menyiksa
orang yang menggambarnya dineraka jahannam “
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perbuatan zina tersebar dinegeri
Perkara yang dianggap biasa sekali
Dengan dalil suka sama suka kata sidoi
Tanpa malu membenarkan diri
Inna Lillahi Wainnailahi Rajiuun terucap dilisan ini
Sudah separahkah bangsa ini
Dosa besar dilakukan tanpa malu membenarkan diri
Semoga dalil ini jadi pengingat dihati
Allah Ta’ala berfirman pada ayat lain
وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ
إِلَّا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
” Dan orang-orang yang tidak menyembah
sesembahan yang lain berserta Allah
dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) kecuali dengan
(alasan) yang benar, dan tidak berzina,
barangsiapa yang melakukan demikian itu,
niscaya dia mendapat (pembalasan)
dosa (nya)…. “ ( Qs. Al Fuqan 67 – 68 )
Berkata Syaikh Sa’di Rahimahullah :
” Dan nash firman Allah Ta’ala tentang
ketiga dosa ini merupakan dosa besar
yang paling besar, perbuatan syirik
didalamnya terdapat merusak agama,
membunuh didalamnya terdapat merusak
badan dan zina didalamnya terdapat
merusak kehormatan” ( Silahkan lihat
Taisirul Karimur Rahman pada ayat ini )
Wahai para pemuda pemudi
Kenapa kau pilih jalan yang dilarang syar’i
Bukankah ada yang dihalalkan oleh Ilahi
Dengan menikah secara syar’i
Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan
Hafidzahullah : “ Wahai manusia
bertaqwalah kalian kepada Allah dan
ketahuilah bahwa menikah terkandung
didalamya kebaikkan yang sangat
banyak, diantaranya kesucian suami
istri dan terjaganya mereka dari terjatuh
kedalam perbuatan maksiat, Rasullullah
Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :
” Wahai para pemuda barangsiapa
diantara kalian yang mampu menikah
maka menikahlah dikarenakan dengan
menikah dapat lebih menundukkan
pandangan dan menjaga kemaluan
“ Al Hadist ( Khutbatul Mimbariyah
Fil Munaasibaatil ‘Asriyah, Syaikh
Shaleh Al Fauzan : 242 )
Selain Zina ada khamer tersebar dinegeri
Dengan mudah bisa dibeli
Kemungkaran yang harus diingkari
Supaya adzab tidak melanda dinegeri
Berkata Syaikh Al Allamah Muhammad Bin
Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah : ” Khamar
adalah setiap yang memabukkan baik itu dari
anggur atau kurma atau syair atau dari
gandum “ (Syarh Al Kabair Imam Dzahabi,
Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin : 123 )
Perjudian dengan segala macamnya ada dinegeri
Dari yang dilokalisasi hingga spontanitas pribadi
Penyakit masyarakat yang berbahaya sekali
Harus segera diatasi
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلامُ
رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
” Wahai orang – orang beriman, sesungguhnya
(meminum) khamr (minuman memabukkan),
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi
nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syaithan, maka jauhilah
perbuatan – perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan ” (Qs. Al Maidah : 90)
Berkata Ibnu Katsier Rahimahullah :
” Allah Ta’ala melarang hamba-hamba Nya
yang beriman dari meminum khamr dan
melakukan maisir yaitu judi “ ( Tafsir ayat ini )
Musibah musik tersebar dinegeri
Keharaman musik banyak yang tidak mengetahui
Saatnya menjelaskan hukumnya secara syar’i
Sebagai nasehat untuk ummat disertai ketulusan hati
Dalam sebuah hadist dari Abu Malik Al As’ary :
Bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda ” Akan ada pada umatku sebuah
kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr
dan Musik “ (HR. Bukhari)
Durhaka kepada orang tua dosa besar sekali
Menjadi pemandangan sehari hari
Banyak dilakukan oleh anak ngga tahu diri
Tanpa bersalah memebentak orang tua sendiri
Lebih dari itu banyak terjadi
Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda ” Maukah aku
kabarkan kepada kalian dosa besar yang
paling besar, para sahabat berkata : Tentu
wahai Rasulullah, Rasulullah bersabda
” menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan
durhaka kepada orang tua ” (HR. Bukhari
dan Muslim dari Abu Barkah Radiyallahu ‘Anhu)
Wahai ummat ingatlah perintah Ilahi
Perintah untuk berbakti
Berbuat baik kepada orang tua perintah agung sekali
Digandengkan dengan perintah tauhid dakwah para Nabi
Allah Ta’ala berfirman
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
” Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya “
(Qs. Al Israa : 23 )
Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah
” Fedah yang dapat diambil dari ayat ini adalah
agungnya hak kedua orang tua, dimana
digandengkan hak keduanya atas hak Nya (tauhid)
dan menduduki hak kedua, dan wajib berbuat baik
kepada orang tua dengan seluruh kebaikkan
di karenakan didalam ayat tidak dikhususkan
macam kebaikkan tanpa macam kebaikkan lainnya “
( Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 14 )
Kemaksiatan riba tersebar dinegeri
Bank ribawi menjadi bukti
Selain Bunga bank macam riba banyak sekali
Diketahui dengan terus thulabul ilmi
Agar bisa menjauhi
Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda :
” Jauhilah oleh kalian 7 dosa yang membinasakan,
para sahabat berkata : apa saja itu wahai
Rasulullah, Rasulullah bersabda (diantaranya -pent)
” …. dan memakan riba “ (HR. Bukhari dan
Muslim dari Abu Hurairah )
Berkata Syaikh Al Allamah Shaleh Al Fauzan :
” Faedah yang dapat diambil dari hadist ini
adalah diharamkannya riba dan sangat besar
bahayanya “ ( Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid
: 202 )
Merokok kebiasaan berbahaya sekali
Membahayakan diri sendiri
mengancam kesehatan pribadi
Kemaksiatan yang harus dijauhi
Sebagaimana dalam sebuah hadist Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda :
” Tidak boleh Membahayakan Diri sendiri dan
tidak boleh membahayakan orang lain ”
( HR. Ibnu Majah, Daruqutni dan selainnya
dari Abu Said Al Khudri dan dishahihkan oleh
Syaikh Al AlBani Rahimahullah)
Berkata Syaikh Muhammad Al Imam
Hafidzahullah ” Dan dapat diambil faedah dari
hadist ini, bahwa seluruh yang membahayakan
jiwa atau membahayakan selainnya adalah
perbuatan yang terlarang kecuali datang dalil
yang mengkhususkannya ” ( Tahdzirul Ahlul
Iimaan Man Ta’atil Qaatt Wa Sammah Wad
Dkhuhaan : 11 )
Wahai ummat saatnya berbenah diri
Sebelum ajal menjeput nanti
Penyesalan tiada berarti
Tiada waktu memperbaiki diri
Ku akhiri nasehat pribadi
Semoga bermanfaat untuk diri sendiri
Dan perbaikkan ummat dinegeri
Al Hamdulilah puji syukur kepada Ilahi
Diarsipkan di bawah: Artikel Umum | Tag: artikel islam, hal yang menyelisihi syariat bulan ramadha, hukum puasa ramadhan, keutamaan ramadhan, menyelisihi syariat di bulan ramadhan, puasa, puasa ramadhan, puasa sesuai sunnah, yang diperbolehkan berbuka dibulan ramadhan, yang membetalkan ramadhan
Menunaikan Sebuah Kewajiban
(Sebuah usaha untuk memahami hukum yang berkaitan dengan puasa ramadhan)
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh barakah dan teristimewa bagi kaum muslimin, karena didalamnya disyariatkan puasa sebulan penuh, sebuah kewajiban yang sangat agung dan merupakan rukun dari rukun islam, dan didalamnya terkandung hikmah yang sangat banyak diantaranya mensucikan jiwa, melatih keshabaran, mengingatkan akan nikmat Allah dari makan, minum dan nikah serta hikmah lainnya. Puasa adalah ibadah yang sangat agung yang mempunyai tuntunan syar’i maka wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari hukum yang berkaitan dengan puasa sehingga puasanya sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ajarkan.
Berkata Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidazhullah : “ Demikanlah seharusnya seorang muslim untuk mempelajari hukum shaum (puasa), dan berbuka, waktu dan sifatnya. Sehingga dapat melaksanakan puasa sesuai dengan apa yang disyariatkan, sesuai dengan sunnah Rasulullah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga puasanya benar dan diterima disisi Allah, maka yang demikian itu (mempelajari puasa –pent) termasuk perkara yang penting sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ” ( Qs. Ahdzab : 21 ) ( Al Mulakhos Al Fiqhi : 306 )
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat untuk memahami hukum yang berkaitan dengan puasa sehingga puasa kita sesuai dengan tuntutan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Pengertian Shaum (puasa)
Puasa secara bahasa adalah menahan
Adapun secara syar’i : Menahan dari segala yang membatalkan puasa dengan disertai niat mulai dari masuknya waktu fajar hingga terbenamnya matahari. ( Taisiirul Alaam Syarhu Umdatil Ahkaam, Syaikh Abdullah Al Bassam, Jilid 1 Hal 245 )
Hukum Puasa Ramadhan
Kewajiban puasa ramadhan adalah perkara yang ma’ruf diketahui oleh kaum muslimin, berdasarkan Al Qur’an, sunnah dan ijma’, barangsiapa yang menginkari kewajibannya maka dia telah murtad dari agama islam.
Allah Ta’ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
” Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Qs. Al Baqarah : 183 )
Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Islam itu dibangun diatas lima perkara, (disebutkan diantaranya) Puasa ramadhan ” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘Anhu)
Berkata Syaikh Al ‘Allaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Kaum muslimin sepakat atas wajibnya puasa ramadhan, barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka dia telah kafir “ ( Al Mulakhos Al Fiqhi, Jilid 2 Hal 299 )
Adapun jika meyakini kewajiban puasa dibulan ramadhan, tetapi dia tidak mengerjakannya maka hal itu merupakan dosa yang sangat besar. Sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili Radiyallahu ‘Anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Ketika aku tidur datang kepadaku dua orang laki-laki, mereka berdua mengambil kedua lenganku, mereka membawaku kegunung dengan jalan yang penuh rintangan, mereka berkata kepada saya mendakilah, maka aku berkata : saya tidak mampu mendakinya, mereka berkata kami akan memudahkanmu, maka aku mendakinya ketika sampai dipuncak gunung aku mendengar suara yang sangat kencang dan aku bertanya: suara apa ini ? mereka berkata ini teriakan penduduk neraka, kemudian mereka berjalan bersamaku ketempat yang lain, kemudian saya melihat lagi sebuah kaum yang tergantung diatas urat tumit, serta mulut mereka terbelah dan mengalir darinya darah, aku berkata siapa mereka, mereka menjawab mereka adalah orang – orang yang berbuka sebelum waktu berbuka ” ( HR. Imam Nasai, Ibnu Hibban dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Salim Bin Ied Al Hilali Hafidzahullah )
Keutamaan Bulan Ramadhan
Keutamaan bulan ramadhan sangatlah banyak diantaranya adalah :
- Bulan disyariatkannya puasa sebulan penuh
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
” Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Qs. Al Baqarah : 183 )
- Di buka pintu – pintu surga dan ditutup pintu – pintu neraka
Didalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Apabila datang ramadhan di buka pintu – pintu surga, ditutup pintu – pintu neraka dan dibelenggu syaithan “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu )
- Bulan yang penuh barakah, didalamnya terdapat malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan
Allah Ta’ala berfirman
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْر
” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Al Qur’an) pada malam kemulian dan tahukah apakah malam kemulian itu ? malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan “ ( Qs. Al Qadr : 1 – 3 )
Syarat – Syarat Puasa
- Islam : Tidak sah orang kafir berpuasa sampai masuk islam
- Berakal : Tidak sah orang gila sampai berakal
- Tamyiz (dapat membedakan yang baik dan yang tidak baik) : Tidak sah anak kecil sampai tamyiz
- Tidak lagi haid dan nifas : Tidak sah orang yang sedang haid dan nifas sampai bersih dari haid dan nifas
- 5. Niat dimalam hari setiap hari pada puasa wajib : Tidak sah jika tanpa niat dan niat tempatnya dihati. ( Khulashatul Kalaam Fi Ahkamis Syiyam, Syaikh Abdulah Jarullah Hal 2 )
Adapun untuk anak kecil dianjurkan untuk berpuasa jika mampu untuk melatih.
Rukun Puasa
- Menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari makan, minum dan jima’ serta yang lainnya
- 2. Zaman ( waktu ) yaitu siang hari di bulan ramadhan, yaitu dari masuknya waktu fajar hingga terbenamnya matahari. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
” Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar “ ( Qs. AL Baqarah : 187 )
Yang membatalkan Puasa
- 1. Makan dan minum dengan sengaja di siang hari, adapun kalau lupa tidaklah membatalkan puasa, sebagaimana dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah Radiyallallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ” Barangsiapa yang lupa makan dan minum padahal dia sedang berpuasa maka sempurnakanlah puasanya, bahwasannya Allah telah memberinya makan dan minum ” (HR. Bukhari dan Muslim)
- 2. Keluar mani dengan sebab, mencium, sentuhan atau onani adapun jika dikarenakan mimpi tidaklah membatalkan puasa.
Berkata Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : Orang yang tidur apabila bermimpi dan keluar mani, maka tidak mengapa, puasanya shahih ( benar / sah -pent ) dikarenakan yang demikian terjadi tanpa usahanya, tetapi wajib atasnya mandi dari janabah “ ( Al Mulakhos Al Fiqhi : 307 )
- 3. Jima’ disiang hari di bulan ramadhan
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu berkata : kami duduk disisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tiba – tiba datang seseorang laki – laki dan berkata : Wahai Rasulullah, celakalah aku, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apa yang membuat kamu celaka ? aku menjimai istriku sedang aku dalam keadaan berpuasa, (dalam riwayat lain aku menjimai istriku di bulan ramadhan) Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apakah kamu mempunyai budak untuk dibebaskan? Berkata laki-laki tersebut tidak, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apakah kamu bisa berpuasa dua bulan berturut – turut, berkata laki-laki tersebut, Tidak. Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : apakah kamu bisa memberi makan kepada 60 orang miskin, berkata laki-laki tersebut tidak, Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, diam, diantara kamipun seperti itu juga (diam -pent). Sesaat kemudi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diberi satu keranjang bersisi kurma, berkata Rasulullah : dimana orang yang bertanya tadi ? berkata orang tersebut : saya, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ambilah ini shadaqahkanlah dengannya, maka berkatalah laki – laki tersebut, apakah saya menshadaqahkan kepada orang yang lebih faqir daripadaku, demi Allah adakah diantara dua bukit ini penghuni rumahnya yang lebih faqir dari penghuni rumahku ! maka rasulullah tertawa, sampai terlihat gigi geraham (bagian yang depan), kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : beri makanlah dengannya keluargamu ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berkata Syaikh Al Allamah Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah : Faidah yang dapat diambil dari hadist adalah besarnya dosa jima’ orang yang berpuasa di bulan ramadhan,…(beliau juga berkata) bahwa kafaratnya secara berurutan 1. membebaskan budak 2. jika tidak sanggup puasa 2 bulan berturut – turut, 3. Jika tidak sanggup memberi makan kepada 60 orang miskin ( Tanbiihul Afham Bisyarhi Umdatil Ahkaam : 53 )
- 4. Haid dan Nifas
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Bukakankah jika haid dia tidak shalat dan berpuasa ? maka kami berkata, benar. Dan didalam riwayat lain, ” berlalu berapa malam dia tidak shalat dan berbuka dibulan ramadhan, inilah bentuk kekurangan pada agamanya “ ( HR. Muslim dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallahu Anhuma )
- 5. Muntah dengan sengaja
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Barangsiapa yang muntah dengan tanpa disengaja (dan dia dalam keadaan puasa –pent) tida ada qada baginya dan apabila disengaja untuk muntah maka wajib baginya qada’ “ (HR. Abu Daud dishahihkan oleh Syaikh Al Bani Rahimahullah )
- 6. Murtad
Allah Ta’ala berfirman
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
” Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu “ (Qs. Az Zummar : 65 )
Orang – orang yang dibolehkan berbuka di bulan ramadhan
Disebutkan oleh Ibnu Qudamah Rahimahullah, di bolehkan seseorang untuk tidak berpuasa pada 4 macam keadaan
1. Orang sakit yang jika berpuasa akan membahayakan dirinya dan musafir yang boleh menqasar shalat, berbuka bagi keduanya lebih utama, wajib bagi keduanya menqada (mengganti puasa di hari yang lain), jika keduanya berpuasa maka puasanya sah
2. Wanita yang sedang haid dan nifas, maka wajib baginya untuk meninggalkan puasa dan membayar qada’, jika keduanya berpuasa maka tidak sah puasanya.
3. Wanita hamil dan menyusui, jika khawatir akan keselamatan dirinya maka bagi keduanya boleh berbuka dan wajib qada (mengganti dengan puasa dihari lain –pent), jika keduanya khawatir atas anaknya maka boleh berbuka dan wajib qada serta memberi makan setiap hari kepada orang miskin “
4. Orang yang tidak mampu puasa, seperti orang tua atau orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka baginya memberi makan setiap hari kepada orang miskin. ( Umdatul Fiqih Ibnu Qudamah : 47 – 48 )
Hal –hal yang menyelisihi syariat yang terjadi dibulan ramadhan
Perkara – perkara yang menyelisihi syariat dibulan ramadhan banyak sekali dilakukan oleh kaum muslimin, diantaranya :
Shalat hanya dibulan ramadhan
Shalat adalah sebuah kewajiban yang sangat agung, merupakan rukun dari rukun islam, apabila ditinggalkan merupakan perbuatan kekafiran yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam menurut pendapat yang benar.
Allah Ta’ala berfirman
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ المُشْرِكِينَ
“Serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang – orang yang mempersekutukan Allah ” (QS. Ar-Rum : 31)
Berkata Al-Mawarzi Rahimahullah : ” Maka jelaslah bahwa alamat (tanda) dari orang musyrik adalah meninggalkan sholat “ (Ta’dziimul Qadri as – Sholat, al Mawarzi, jilid 2 hal : 1005-1006 )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat ” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu )
Dan dalam sebuah hadist dari Abu Buraidah Radiyalallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ” Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkan sholat maka dia telah kafir “ (HR. Imam Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Majah di Shahihkan Syaikh Al Bani di dalam Shahihul jami ‘)
Berkata Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah : ” Kami mendapati didalam Al-kitab (Al-Qur’an) dan as-Sunnah dalil keduanya menunjukkan atas kafirnya orang yang meninggalkan shalat” ( Hukmu Tarkis Sholat , Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin: 6 )
Melafadzkan (mengucapkan ) niat puasa
Berkata Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Bin Shaleh Al Utsiamin Rahimahullah : Niat adalah tujuan dan kehendak hati ( Tanbihul Afham Bi Syarhi Umdatil Ahkam : 25 )
Didalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: ” sesungguhnya amalan itu tergantung dari niat “ ( HR. Bukhari dan Muslim, dari Umar Bin Khatab Radiyallahu ‘Anhu )
Berkata Syaikh Abdullah Al Bassam : ” Faedah yang dapat diambil dari hadsit ini adalah bahwa niat tempatnya dihati dan megucapkannya merupakan perbuatan bid’ah ” ( Taisirul Alam Syarhu Umdatil Ahkam, jilid 1 Hal 415 )
Puasa dihari syak (ragu-ragu) apakah sudah masuk bulan ramadhan dengan tujuan berhati – hati
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: ” Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan satu dan dua hari berpuasa kecuali orang yang sebelumnya telah berpuasa, maka berpuasalah “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu )
Berkata Syaikh ‘Al Allamah Abdul ‘Aziz Bin Abdullah Ar Rajihi Hafidzahullah : ” Didalam hadist ini terdapat dalil atas tidak bolehnya berpuasa sebelum ramadhan, satu atau dua hari dengan niat berhati – hati terhadap masuknya bulan ramadhan kecuali jika bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa, seperti bertepatan dengan puasa senin atau kamis, bagi orang yang kebiasaannya berpuasa di dua hari tersebut, atau berpuasa sehari dan berbuka sehari, bertepatan dengan hari terakhir pada akhir bulan yang dia berpuasa pada hari tersebut. Dan didalam hadist ‘Amr yang akan datang, merupakan dalil atas orang yang berpuasa pada hari syak (ragu-ragu –pent) telah berbuat maksiat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “ (Al Ifhaam Fi Syarhi Buluugil Maraam, Jilid 1 Hal 342 )
Hadistnya adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda : ” Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak (ragu-ragu –pent) maka sungguh dia telah berbuat maksiat kepada Abul Qaasim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (Kunyah Nabi –pent) ” (HR. Bukhari Ta’liqan dan dikeluarkan oleh Imam yang lima dengan sanad bersambung dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari Amr Bin Yasir Radiyallahu ‘Anhu )
Berbuka dengan rokok
Kita menjumpai sebagian dari kaum muslimin berbuka puasa dengan rokok, padahal rokok adalah sesuatu yang membahayakan dirinya oleh karena itulah rokok sesuatu yang diharamkan. Hal ini berdasarkan sebuah hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda : ” Tidak boleh melakukan hal yang membahayakan diri sendiri dan Tidak boleh melakukan hal yang membahayakan orang lain “ ( HR. Ibnu Majah, Daruqutni dan selainnya dari Abu Said Al Khudri dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani )
Berkata Syaikh Muhammad Al Imam Hafidzahullah ” Dan dapat diambil faedah dari hadist ini, bahwa seluruh yang membahayakan jiwa atau membahayakan selainnya adalah perbuatan yang terlarang kecuali datang dalil yang mengkhususkannya ” ( Tahdzirul Ahlul Iimaan Man Ta’atil Qaatt Wa Sammah Wad Dkhuhaan : 11 )
Tidak menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah, seperti ghibah, berkata dusta, namimah (adu domba) dan yang lainnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda ” Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan jelek dan perbuatan jelek tidak ada kebutuhan Allah bagi hambanya untuk meninggalkan makan dan minum “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu )
Mengisi bulan ramadhan dengan hal yang sia – sia, bahkan keharaman seperti noton TV, main catur dan lainnya
Membuat waktu Imsak sekitar 10 menit sebelum masuk waktu fajar dalam rangka berhati hati
Berkata Syaikh Al ‘Allamah Abdullah Al Bassam Rahimahullah : ” Waktu imsak adalah waktu masuk fajar, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
” Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar ” ( Qs. AL Baqarah : 187 )
dari sini diketahui apa yang diperbuat oleh orang yang menjadikan dua waktu, waktu fajar dan waktu imsak ( waktu mulai menahan makan dan minum -pent) merupakan perbuatan bid’ah yang Allah tidak menurunkan dalil tentang perbuatan tersebut, bahwasannya perbuatan tersebut merupakan was-was (bisikan) dari syaithan, untuk menyamarkan atas mereka dari perkara agama mereka. Yang benar bahwasannya sunnah Nabi Muhammad imsak adalah awal waktu masuknya fajar “ ( Taisirul Alaam Syarhu Umdatil Ahkam, jilid 1 Hal 415 )
Bagaimana kita mengisi Bulan ramadhan
- 1. Puasa dibulan ramadhan ikhlas mencari keridhaan Allah semata
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda ” Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah diampuni baginya dari dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang “ (HR Bukhari dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu )
- 2. Shalat Tarawih
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda ” Barangsiapa yang Shalat pada malam ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah diampuni dosanya apa yang telah lalu dan yang akan datang “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu )
- 3. Memperbanyak Ibadah
Seperti shalat sunnah rawatib, shalat dhuha dan lain – lain, sebagai bekal diakherat nanti.
- 4. Memperbanyak doa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Tiga doa yang tidak akan ditolak, doa orang tua (kepada anaknya –pent), doanya orang yang berpuasa, doanya orang musafir “ ( HR. Baihaqi dari Anas Radiyallahu ‘Anhu dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani Rahimahullah )
- 5. Memperbanyak istigfar dan taubat
Allah Ta’aala berfirman
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ الليْلِ مَا يَهْجَعُون وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
” Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan diakhir malam mereka memohon ampun kepada Allah “ ( Qs. Adz Dzaariyat : 17- 18 )
- 6. Memperbanyak shadaqah
Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhu berkata : ” Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam orang yang paling dermawan, kedermawannya bertambah dibulan ramadhan, ketika Jibril menemui Rasulullah mengajarkannya Al Qur’an, Jibril menemui Rasulullah setiap malam hari dari bulan ramadhan mengajarkannya Al –Qur’an, Rasulullah ketika bertemu jibril orang yang paling cepat berbuat kebaikkan daripada angin yang berhembus” (HR. Bukhari dan Muslim)
- 7. Memperbanyak membaca Al Qur’an
Hadist yang disebutkan diatas menunjukkan keutamaan belajar Al Qur’an baik dengan membacanya atau memahami maksudnya.
- 8. Memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : ” Barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun “ (HR. Imam Ahmad, Nasai, Tirmidzi dari Zaid Bin Khalid dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani di Shahihul Jami’)
- 9. I’tikaf di 10 hari terakhir di bulan ramadhan
Dalam sebuah hadist dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘Anha berkata ” Dulu Rasulullah beritikaf di sepuluh terakhir bulan ramadhan sampai Allah Azza Wajalla mewafatkannya, kemudian para istrinya beriktikaf setelah wafatnya “ ( HR. Bukhari dan Muslim )
- 10. Mengisi bulan ramdahan dengan ketaatan
Sudah seharusnya kita mengisi hari – hari kita dengan ketaatan kepada Allah, termasuk dibulan ramadhan, sebagai bekal kita diakhirat kelak, dan siapa yang menjamin ini bukan ramadhan terakhir untuk kita.
Setelah berakhirnya ramadhan
Wahai kaum muslimin, semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua dan memberikan keistiqamahan kepada kita diatas islam, sunnah dan ketaatan. Diantara tujuan dari berpuasa adalah supaya kita bertaqwa kepada Allah sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
” Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Qs. Al Baqarah : 183 )
Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan – larangan Nya, maka sebagai seorang muslim sudah seharus kita menunaikan kewajiban – kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita seperti mempelajari tauhid dan mengamalkannya secara dzahir dan bathin, melaksanakan shalat lima waktu, shalat dengan berjamaah dimasjid dan kewajiban lainnya, serta menjauhi perbuatan maksiat baik dibulan ramadhan atau diselain bulan ramadhan. Maka kita isi bulan yang penuh barakah ini dengan berbagai ketaaatan kepada Allah, begitu juga setelah berakhirnya bulan ramadhan kita jaga ketaatan yang telah kita lakukan di bulan ramadhan pada bulan – bulan lainnya. Semoga Allah memberi keistiqamahan kepada kita hingga akhir hayat kita dan menerima amal ibadah kita.
Diarsipkan di bawah: Fiqih | Tag: Fiqih, isteri, khlu', khulu', KUA, masalah rumah tangga, masalah suami istre, minta khalu', pengakuan bohong, percekcokan suami isteri, perceraian, suami
Jawaban Teruntuk yang Bertanya Tentang Khulu’
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Setiap orang menginginkan kebahagian, keharmonisan dan kelanggengan didalam pernikahannya, karena itulah tujuan disyariatkannya menikah untuk mencapai kebahagian dan keharmonisan diantara suami dan isteri, saling mencintai saling menyayangi saling menghargai dan saling membantu untuk mencapai kebahagian didalam kehidupan rumah tangganya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri – isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang “ ( Qs. Ar Ruum : 21 )
Apabila diantara sepasang suami istri tidak mendapatkan hal yang demikian, tidak mendapatkan kasih sayang, ketentraman, kebahagian didalam pernikahan maka tidak terpenuhinya tujuan dari menikah, dalam hal ini syariat islam memberikan jalan keluar sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
فَإمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
“ Setelah itu boleh ruju’ lagi dengan cara yang ma’ruf (baik) atau menceraikan dengan cara yang baik ” ( Qs. Al Baqarah : 229 )
Begitu juga Allah Ta’ala berfirman didalam ayat lain
وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ وَكَانَ اللهُ وَاسِعًا حَكِيمًا
” Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada masing- masing dari limpahan karunia Nya, Dan Allah adalah Maha Luas ( karunia – Nya ) lagi Maha Bijaksana “ ( Qs. An Nisaa’ : 130 )
Maka jika seorang suami atau istri tidak mendapatkan tujuan disyariatkannya menikah boleh dia melakukan perceraian atau pisah (khulu’).
Diantara bentuk tidak tercapai maksud dari disyariatkannya menikah ketika seorang isteri merasa tidak senang dengan suaminya baik secara fisik atau akhlaqnya sehingga dia merasa khawatir tidak dapat memenuhi hak suaminya maka seperti ini di bolehkan dia meminta khulu’ sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ به
” Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya ” (Qs. Al Baqarah : 229 )
Dan didalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘Anhu, bahwasannya isteri dari Tsabit Bin Qais datang kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam maka berkata : ” Wahai Rasulullah tidak ada kejelekkan didalam akhlaq dan agamanya tetapi saya khawatir kufur didalam islam (tidak dapat memenuhi hak suaminya –penj) bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “apakah kamu bisa mengembalikan kebunnya (mahar yang dikasih suaminya dulu -penj), berkata (isterinya Stabit-penj) : bisa. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (kepada Tsabit Bin Qais –penj) terimalah kebun dan thalaqlah dengan satu kali thalaq.” (HR. Bukhari)
Berkata Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafidzahullah : ” Hadist ini shahih dengan tanpa tambahan kalimat (thalaq) dikarenakan (hadist tanpa kalimat thalaq) punya penguat dari hadist dari Habibah Binti Shal …… kemudian syaikh menyebutkan hadistnya ” ( Malzamah Kitab Nikah, Syaikh Muhammad Bin Hizam)
Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Bin Abdullah Ar Rajihi Hafidzahullah : ” Hadist ini merupalkan dalil disyariatkanya khulu’ dan syahnya, bahwsannya dalil ini menunjukkan bolehnya seorang suami mengambil tebusan dari seorang isteri “ (Al Ifhaam Fi Syarhi Bulugil Maraam Juz 2 hal 203 )
Mungkin ada yang bertanya apasih pengertian khulu’ ?
Maka kita katakan : Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua.
Khulu’ adalah sebagaiamana yang dijelaskan oleh Syaikh Al Alaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Perpisahan seorang suami dengan isterinya dengan lafadz tertentu, dinamakan seperti itu, dikarenakan seorang isteri sendirilah yang meminta untuk pisah (lepas) dari suaminya, sebagaimana lepasnya pakaian dikarenakan setiap suami isteri adalah pakaian satu sama lainnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
” Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamupun pakaian bagi mereka ” (Qs. Al Baqarah : 187)
( Al Mulakhos Al Fiqhi, Jilid 2 Hal : 319 )
Lalu jika ada yang bertanya apakah boleh seorang isteri meminta khulu’ kepada suaminya kapan saja dia mau walau tanpa ada perselisihan atau percekcokkan atau alasan syar’i lainnya ?
Maka kita katakan : Dibolehkan seorang isteri meminta khulu’ kepada suaminya dengan alasan syar’i, seperti tidak terpenuhinya hak hak nya atau khawatir tidak dapat menunaikan hak suaminya dikarenakan dia tidak menyukainnya atau alasan syar’i lainnya. Adapun jika tidak ada alasan syar’i lainnya atau tidak ada perselisihan atau percekcokkan antara suami dan isteri yang secara syar’i dengan sebab perselisihan tersebut boleh seorang isteri meminta khulu’ atau sekedar minta khulu’ padahal keharmonisan dan keselarasan berjalan dirumah tangganya maka yang demikian, hukumnya tidak boleh. Berkata Syaikh Al ‘Alaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” ” Khulu’ hukumnya boleh apabila terpenuhi sebabnya yang telah diisyaratkan oleh ayat yang mulia, yaitu ketakutan suami isteri apabila tetap berada didalam ikatan pernikahannya, mereka tidak bisa melaksanakan hukum-hukum Allah. Dan apabila disana tidak ada alasan untuk meminta pisah, maka hal itu dimakruhkan dan sebagian ulama berpendapat jika demikian halnya (meminta khulu’ tanpa alasan syar’i –penj) haram hukumnya. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ” Setiap isteri yang meminta cerai kepada suaminya dengan sesuatu yang tidak dibolehkan maka diharamkan baginya bau harumya surga ” (Diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali Imam Nasai, Al Mulakhos Al Fiqhi, jlid 2 hal 320)
Mungkin ada yang bertanya, adakah lafadz tertentu yang digunakan untuk khulu’ ?
Sebelum menjawab pertannyaan diatas, maka kita katakan : Semoga Allah memberi taufiq dan pertolongannya kepada kita semua terhadap apa-apa yang di ridhai Nya
Maka kita katakan : Lafadz khulu’ adalah lafatdz-lafadz yang menunjukkan makna khulu’ dengan disertai niat, baik lafadz yang jelas seperti permintaan istri dengan berkata kepada suaminya: “……mas ana minta khulu “ atau lafadz-lafadz yang mengandung makna khulu’ baik dengan bahasa arab atau dengan selain bahasa arab dengan disertai niat khulu’.
Lalu kalau jika ada yang bertanya dengan pertanyaan : apakah disyaratkan sahnya khulu’ seorang suami harus melafadzkan ‘ Qabul ‘ (menerima khulu’ istrinya) ?
Maka kita katakan : Semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan Nya kepada kita semua untuk selalu menuntut ilmu hingga akhir hayat kita.
Menurut pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran, tidak disyaratkan suami mengucapkan “Qabul”(ucapan menerima khulu’ istrinya) cukup dengan menerimanya seorang suami atas tebusan harta dari istrinya maka jatuhlah khulu’, begitu juga tidak disyaratkan sahnya khulu’ dengan ridha dari suami apabila istri mempunyai alasan syar’i untuk meminta khulu’. Adapun jika suami tidak mau menerima atau mengambil harta atau mahar yang diberikan oleh istri untuk tebusannya, maka seorang hakim dapat memaksanya agar suami mengambilnya.
Berkata Syaikh Al-Alaamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh Rahimahullah:” Dan pendapat yang terakhir : bolehnya (seorang hakim) mengharuskan seorang suami untuk menerima khulu’ dengan kondisi tidak memungkinkannya lagi untuk bersatu antara suami dan istri sesuai dengan ijtihadnya seorang hakim”. (Taudhihul ahkam min Buluughil Maraam Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Bassam jilid: 5/474).
Jika ada yang bertanya: Apakah boleh bagi seorang suami mengambil atau menerima harta tambahan dari mahar yang dia pernah kasih kepada istrinya?
Maka kita katakan : Menurut pendapat yang benar dan ini pendapat mayoritas ahlul ilmi, boleh bagi suami mengambil harta tebusan melebihi mahar yang pernah di kasih oleh istrinya berdasarkan keridhaan isterinya. Berkata Syaikh Abdullah Bin Abdurrohman Al-Bassam Rahimahullah wajib khulu’ dengan tebusan, berdasarkan firman Allah Ta’ala
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ به
” Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang di berikan oleh isterinya untuk menebus dirinya”. (Qs. Al Baqarah : 229 )
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda ” Terimalah kebunnya dan thalaklah (cerailah) dengan satu kali thalak “
Dan beliau (Syaikh Abdullah Al Bassam) juga berkata : ” Boleh tebusan untuk khulu lebih banyak dari mahar berdasarkan firman Allah Ta’ala
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ به
” Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang di berikan oleh isterinya oleh istri untuk menebus dirinya”. (Qs. Al Baqqarah : 229)
Akan tetapi para ulama membenci mengambil lebih banyak dari mahar berdasarkan sabda Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
” Apakah kamu bisa mengembalikan kebun kepadanya “.
Dan berdasarkan firman Allah Ta’ala
وَلا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ
” Dan janganlah kamu melupakan keutamaan diantara kamu “ (Qs. Al Baqaroh : 237).
Dan di bolehkannya khulu’ dengan tebusan yang di sepakati oleh keduanya ini pendapat kebanyakan ulama ( Taudihul Ahkaam Min Buluugil Maraam jilid 5 halaman 472 ).
Lalu kalau ada lagi yang bertanya : Apakah seorang istri boleh meminta khulu’ ketika haid ?
Maka kita katakan: Para ulama membolehkan hal yang demikian dikarenakan khulu’ bukanlah thalaq karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada hadits yang lalu tidak memberikan perincian atau bertanya kepada istri Tsabit bin Qois, apakah dia dalam keadaan haid atau tidak, dan tidak adanya dalil yang mengatakan tidak boleh meminta khulu’ ketika haid. Itu menunjukkan bolehnya hal tersebut
Lantas adakah iddah bagi istri yang meminta khulu’?
Maka kita katakan: Menurut pendapat yang benar, tidak ada masa iddah (menunggu dengan 3x haid) bagi wanita yang khulu’ tetapi baginya istibra’(yaitu membersihkan rahimnya), apakah di rahimnya ada janin atau tidak dengan satu kali haid saja.
Berkata Syaikh Al-Alaamah Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin Rahimahullah : ” Iddahnya satu kali haid untuk istibra’ yaitu mengosongkan rahimnya, dikarenakan wanita yang hamil tidak haid apabila haid di ketahui bahwa rahimnya kosong dari janin dan oleh karena itu dibolehkan untuknya menikah. ( Fathu Dzil Dzalalil Wal Ikraam Bi Syarhi Bulughil Maraam 4/653).
Lalu jika ada yang bertanya: Apakah bagi seorang suami bisa ruju’ kembali kepada istrinya setelah khulu’ ?
Maka kita katakan: Tidak ada ruju’ bagi seorang suami dari seorang istri yang telah pisah dengan sebab khulu’. Jika dia menginginkan kembali kepada isterinya maka harus dengan akad dan pernikahan yang baru.
Berkata Syaikh Al-Alaamah Sholeh Bin Fauzan Rahimahullah :” Hikmah dari yang demikian itu (khulu’) bahwa seorang istri pisah dari suaminya dengan tidak adanya ruju’ atas suaminya, di dalamnya terdapat keputusan yang adil atas keduanya”. ( Al Mulakhos Al-Fiqih, jlid 2 : 320 ).
Berkata Syaikh Al ‘Alaamah Muhammad Al Utsaimin:” Wanita yang telah pisah karena khulu’ tidak ada ruju’ dan tidak mungkin bagi suaminya untuk ruju’ kepadanya kecuali dengan pernikahan yang baru. ( Fathu Dzil Dzalalil Wal Ikraam Bi Syarhi Bulughil Maraam 4/653) .
inilah penjelasan sederhana tentang khulu’ semoga bisa diambil manfaatnya. Wa Allahu ‘Alam
Diarsipkan di bawah: Bantahan Ilmiah | Tag: akhwan salfi, ” Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya, bantahan, bantahan cerpen kau rampas akhwatnya, http://ihwansalafy.wordpress.com, ibnu abdi muis, Ikhwanul muslimun kesesatan ikhwanul muslimun akhwat tarbiyah akwat salafi nikah kenapa kalian rampas ahwatnya jika kalian benci manhajnya ikhwansalafy.wordpress.com ibnu abd muis, jamaah khwarij, kalian rampas akwatnya, partai keadilan sejahtera, pernikahan, salafi, teruntuk akhwat ikhwani
Berputar diantara kebodohan, kebencian dan kebohongan
( sebuah catatan atas cerpen ” Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya ” )
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Beginilah kalau ditarbiyah dengan tarbiyah ikhwanul muslimin, jauh dari tarbiyah dan ilmu dien yang shahih (benar), sehingga melahirkan generasi seperti ibnu Abd Muis dan yang semisalnya, generasi yang jauh dari ilmu agama yang benar yang akhirnya berimbas pada setiap perkataan dan perbuatannya.
Dilatarbelakangi kebodohan terhadap dien yang shahih dan kebencian terhadap salafi keluarlah sebuah cerpen yang jauh dari nilai ilmiah dan keadilan bahkan terkesan dzalim disebuah blog ikhwani, dengan judul ” Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya “, sebuah cerpen yang seakan-akan mengumumkan bahwa penulisnya seorang yang sangat bodoh dan benci terhadap salafi sehingga menulis cerpen dengan judul dan tema seperti diatas.
Berkata Syaikh Abdul Hamid Al Hajuri Hafidzahullah : ” Sebagaimana diketahui dari orang-orang yang Allah beri bashirah (ilmu) kepada kebenaran, sunnah dan jalannya salaf bahwasannya dakwah ikhwanul muslimin dibangun diatas kebodohan dari hari pertamakali dibangun ” (An Nasihat Wal Bayan Lima Alahi Hizbi Ikhwan, Syaikh Abdul Hamid Al Hajuri : 65 )
Hadirnya tulisan ini insya Allah akan membuktikan apa yang telah saya utarakan pada pembukaan diatas dan sebuah penjelasan terhadap cerpen tersebut sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar dan nasehat kepada umat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ
” Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung “ (Qs. Ali Imran : 104)
Dari Abu Ruqayah Tamiim Bin Aus Ad-Daari bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassam bersabda : ” Agama adalah nasehat ” kami (para sahabat) berkata untuk siapa wahai Rasulullah, Rasulullah berkata : untuk Allah, Rasul Nya kitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya “ (HR. Muslim)
Judul Cerpen :
Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya
Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya
Oleh : Ibnu Abd Muis
Maka kita katakan : Inilah judul yang terkesan lucu dan menggelikan yang ditulis oleh seorang ikhwani yang bernama Ibnu Abd Muis, yang cerpen ini lebih pantas diberi judul ” ” Yang penting nyikat salafi walau ku tulis cerpen dengan judul Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya “
Wahai Ibnu Abd Muis apa yang menjadi alasan dirimu untuk menulis cerpen dengan judul seperti diatas, apakah kamu tidak tahu jika benar ada ikhwan salafy yang menikah dengan akhwat tarbiyah bukan sekedar fiksi sebagaimana dengan judul cerpen yang kau tulis.
Maka ketahuilah bahwa didalam pernikahan seorang wanita tidak dipaksa untuk menikah dengan ikhwan yang tidak disukainya baik didalam agamanya dan yang lainnya, termasuk didalam agamanya manhajnya, lalu mengapa engkau memberi judul dengan kata-kata merampas akhwatnya ini menunjukkan kebodohanmu disamping kebencianmu terhadap salafi, walaupun harus berlaku tidak adil dan terkesan dzolim.
Simaklah sebuah hadist yang mungkin tidak pernah kau dengar selama engkau liqa’ di firqah (kelompok) ikhwanul muslimin yang kau berada didalamnya, sebuah hadist yang dijadikan dalil bahwa seorang wanita tidak dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak disenanginya. Dari Abu Hurairah Radiyalallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Tidak dinikahkan seorang janda sampai diminta persetujuaannya (harus ada perkataan yang jelas –penj), tidak dinikahkan seorang perawan sampai diminta izinya, mereka (para sahabat) berkata : bagaimana izinnya bersabda Rasulullah : diamnya ” ( HR: Bukhari dan Muslim )
Berkata Syaikh Shaleh Al-Fauzan Hafidzahullah : ” Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada paksaan bagi wanita baik itu perawan atau janda dan orang yang membedakan antara perawan dan janda bahwa mereka berkata : Perawan walinya dapat memaksanya dan janda tidak ada paksaan atasnya, pembedaan yang mereka katakan itu tidaklah benar “ ( Tashiilul Ilmaam Bifiqhil Ahaadist Min Bulugil Maram, Jilid 4 Kitab Nikah, hal 328 )
Lihatlah wahai Ibnu Abd Muis tidak ada paksaan didalam pernikahan, seorang wanita tidak dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang tidak disukainya, bahkan seorang wanita dimintai persetujuaannya atau izinnya, jika seorang janda maka harus ada persetujuan dengan perkataan yang jelas adapun perawan diamnya ketika dimintai izin merupakan persetujuannya.
Maka ketika akhwat ikhwani menikah dengan ikhwan salafi, berarti dia telah memilih dan ridho bahwa ihwan salafi menjadi suaminya dan siap menjadi seorang salafiyah. Maka apakah pantas kau tulis cerpenmu dengan judul ” Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya ” kalau bukan karena kebodohanmu dan kebencianmu terhadap salafi, tanpa ada rasa dosa engkau berkata ” Mengenai kata “RAMPAS”, ini hanya judul kok, supaya lebih menarik. Banyak kan cerita-cerita yang enggak seru terlihat heboh dengan judul yang spektakuler. Maksud ana begitu ternyata banyak juga yang kebakaran jenggot. ” (Salah satu jawaban Ibnu Abd Muis terhadap pemberi komentar no : 15 ). Inalillahi wainailaihi Rajiuun hanya karena ingin supaya lebih menarik dan heboh kau dzolimi saudaramu dari kalangan salafi dengan berlaku tidak adil kepada sudaranya. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
” Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. ( Qs. Al-Maidah: 8 )
Berkata Ibnu Katsier Rahimahullah : “Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum membuat kalian meninggalkan dari berbuat adil kepada mereka, tetapi berbuat adillah kepada setiap orang baik teman atau musuh”. (Tafsier Ibnu Katsier pada ayat ini) Ini menjadi bukti bagiku bahwa cerpen ini lebih pantas di beri judul ” Yang penting nyikat salafy walau ku tulis cerpen dengan judul Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya ” ini yang pertama.
Yang kedua : Dari penjelasan diatas maka lebih tepat cerpenmu kau beri judul ” Sebagian akhwat ikhwani memilih ikhwan salafi menjadi suaminya “ dikarenakan ketika mereka menikah dengan ikhwan salafi, mereka telah memilih dan ridha bahwa calon suaminya adalah seorang salafi dan siap menjadi salafiyah dan mendapat penjelasan tentang kesesatan firqah (kelompok)ikhwanul muslimin. Diantara salah satu kejadian nyatanya adalah apa yang dituturkan Oleh Abu Tilmidz : ” Adapun yg terjadi pada ana adalah ana mendapatkan biodata akhwat yang rajin liqo dan ternyata ia juga meletakkan biodatanya di kajian Salafy dan analah yang menerima, ana suka dan terjadilah pernikahan.
Ketika taaruf ana katakan bahwa ana adl salafy dan hendaklah ia mau menuntut ilmu, menghidupkan sunnah, melahirkan anak2 pembela ulama, dan menjauhi bid’ah. Dan ternyata istri ana setuju dan kini jadilah ia seorang Salafiyyin ” (pemberi komentar ke 7 pada cerpen Ibnu Abd Muis).
Yang ketiga : Wahai ibnu Abd Muis, berapa orang atau ikhwan salafy yang engkau temui menikah dengan akhwat ikhwani, satu orang, atau dua, atau tiga….atau, apakah ini keadaan ikhwan salafy secara umum…??!!!, jawabnya jelas tidak, mungkin satu banding seribu, Lalu mengapa engkau memutlakkan dengan memberi judul seakan – akan ini keadaan ikhwan salafi kalau bukan karena kebodohan dan kebencianmu terhadap salafi, yang penting nyikat salafi walau jauh dari keadlian. Dan itupun seperti pada penjelasan ponit pertama mereka yang memilih ikhwan salafi dengan ridha dan senang bahwa calon suaminya adalah seorang salafi. Berbeda ketika ahlus sunnah memperingatkan ummat terhadap firqah (kelompok) ikhwanul muslimin yang engkau berada didalamnya. Mereka para ulama, masyaikh dan penuntut ilmu memperingatkan dengan berbagai penyimpangan yang benar ada didalam firqah (kelompok) ikhwanul muslimin, atau kondisi secara umun dari firqah (kelompok) yang engkau berada didalamnya. Kita ambil contoh, bahwa ikhwanul muslimin jamaah yang melalaikan dakwah tauhid dan melalaikan dari memperingatkan ummat dari syirik, inilah kondisi ikhwanul muslimin, di Indonesia, Yaman, Mesir Aljazair dan lainnya Berkata Syaikh ‘Al ‘Alamah Al Muhadist Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Harokah Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para ahlul ‘ilmi (ulama-penj) yang mu’tabar (terkenal) dikarenakan mereka tidak memperhatikan masalah da’wah kepada tauhid dan mengingkari syirik serta bid’ah. Mereka mempunyai cara tersendiri yang mengurangi semangat dalam dakwah kepada tauhid, dan tidak mengarahkan kepada aqidah yang shahih yang dimana dakwah ahlus sunnah berada diatasnya. Maka sewajibnya bagi Ikhwanul Muslimin untuk memperhatikan da’wah Salafiyah da’wah kepada tauhid, mengingkari ibadah kepada kubur-kubur, ketergantungan kepada orang mati dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati seperti Hasan, Husein, Badawi dan sebagainya.Wajib bagi mereka untuk mempunyai perhatian kepada perkara yang paling pokok ini, dengan makna Laa Ilaaha Illallah Karena inilah pokok agama dan sesuatu yang pertama kali didakwahkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di kota Mekkah berdakwah kepada tauhid kepada makna Laa ilaaha illallah, banyak dari kalangan ahlu ilmi (ulama –penj) mengkritik ikhwanul muslimin dalam permasalahan ini. Yaitu tidak adanya semangat dalam berdakwah kepada mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepadaNya. Dan mengingkari apa yang dilakukan orang-orang bodoh dari ketergantungan kepada orang mati dan memohon pertolongan kepadanya, bernadzar dan menyembelih kepada mereka, yang merupakan perbuatan syirik besar. Demikian juga mereka dikritik dengan tidak adanya perhatian kepada sunnah, kepada hadist yang mulia dan apa – apa yang salaful ummah (Rasulullah dan para sahabatnya) berada diatasnya dari hukum-hukum syariat “ ( Sebagaimana dalam majalatul Majalah edisi 806, dinukil dari Jam’u Sataat fiima Kutiba ‘anil ikhwaani Minal Mulaahadhoot, Syaikh Abdullah Bin Muhammad An Najmy : 21 )
Diantara buktinya para pembesar dan tokoh ikhwanul muslimin terjatuh kepada kesyirikan. Berkata Syaikh ‘Al ‘Alaamah Ahmad Bin Yahya An Najmi Rahimahullah : Dan akan kami sebutkan disini bahwa sebagian para pendiri mahnaj dakwah melakukan perbuatan syirik, mengakuinya dan membolehkannya dari selainnya, kita ambil contoh: Hasan Al Bana berkata di hari perayaan maulud Nabi pada malam hari pertama dari bulan Rabiul Awal :
Inilah kekasih bersama para kekasihnya telah hadir
Mengampuni seluruh orang yang hadir dari dosa – dosa yang telah lalu
Dinukilkan perkataan ini oleh saudara kandungnya Abdurrahman Al Bana didalam kitabnya, Ahdaasu sha’anat At Taarikh
Maka tidak boleh kita untuk mengambilnya sebagai imam, dikarenakan dia (Hasan Al Bana -penj) menyakini bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam hadir dalam perayaan maulud mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka, demikianlah selainnya dari para pendiri (tokoh) manhajnya yang sebagian mereka terjatuh kedalam perbuatan syirik atau menyetujui selain mereka atas perbuatan syirik tersebut, disamping itu telah hadirnya Hasan Al Bana di monumen diantara monumen yang paling besar yaitu ( Monumen syaidah Zaenab ) tidak mengucapkan satu kalimat dan satu hurufpun untuk melarang dari perbuatan syirik kepada Allah.
Dan Umar Tilimsaani berkata : tidaklah didalam berdoa kepada orang shaleh termasuk perbuatan syirik dan penyembahan terhadap berhala bahkan merupakan tabiat. Dan selain demikian itu dari apa – apa yang mempengaruhi mereka ( At Ta’liqaat ‘Ala Al Ushulus Tsalasah Syaikh Ahmad Najmi Rahimahullah : 14 )
Yang keempat : Inilah engkau, seorang yang terdidik didalam manhaj menyimpang yang tidak merasa berdosa dengan cerpen bohongmu ini, sebagiamana yang telah engkau katakan : ” Ibn Abd Muis, menjawab:
Wa’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Cerita ini hanyalah fiksi dan dilatarbelakangi dengan fakta yang terjadi di lapangan “ ( salah satu jawaban ibnu Abd Muis terhadap salah satu pemberi komentar no 14 terhadap cerpennya ) kenapa engkau menulis dengan sesuatu yang seakan-akan engkau alami padahal tidak, apa namanya ini kalau bukan dusta alias bohong dan fiksi. Berkata Syaikh ‘Al ‘Alaamah Al Faqih Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah : ” Bohong adalah mengkhabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataan baik itu dengan perkataan atau perbuatan ” ( Syarh Riyadhus Shaalihin Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin , jilid 1 hal 135 ) Kenapa engkau bermudah-mudahan dalam berbohong….!!! apakah karena yang penting nyikat salafi engkau menghalalkan segala cara walau dengan cerpen bohonmu itu. Naudzubillah. Tak ingatkah engkau atau engkau tidak tahu dalil – dalil tentang larangan berbohong, apakah murobimu tidak mengajarkanmu untuk tidak berbohong, kalau kondisimu seperti salah satu yang telah kusebutkan diatas penting bagiku untuk membawakan sebuah hadist larangan untuk berkata dusta atau bohong.
Dari Ibnu Masud Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Bahwa kejujuran mengantarkan kepada kebaikkan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga dan bahwasannya seorang senantiasa berkata jujur sampai ditulis disisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan bahwasannya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan kepada neraka dan bahwasannya seseorang senantiasa berkata bohong sampai ditulis disisi Allah sebagai pembohong ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berkata Syaikh Salim Bin Ied Al Hilali Hafidzahullah : ” Faedah dari hadist ini adalah peringatan dari berbohong dan bergampang-gampang melakukannya dikarenakan bohong sebab dari seluruh kejelekkan “ ( Bahjatun Naadzirin Syarh Riyadhus Shaalihin, jilid 1 hal 121 )
Yang Kelima : Kemungkinan sebagian kecil Ikhwan Salafi yang menikah dengan akhwat ikhwani mereka melihat bahwa akhwat ini harus diselamatkan dari jamaah ikhwanul muslimin yang penuh dengan penyimpangan dan dia melihat serta merasa sanggup akan hal itu dikarenakan respon dari akhwat yang akan dinikahinya menerima kebenaran misalnya, atau siap menjadi salafiyah yang ditarbiyah dengan Al- Qur’an dan As Sunnah diatas pemahaman salafus shalih, atau seorang akhwat yang telah tahu kebenaran dan melihat penyimpangan jamaah ikhwanul muslimin yang dia berada didalamnya. Seharusnya kalian merasa senang seorang mendapat hidayah dengan meninggalkan jamaah ikhawanul muslimiin dan berpegang teguh kepada manhaj salaf. Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :
” Tidak sempurna keimanan seseorang sampai mencintai untuk saudaranya, apa-apa yang dicintai untuk dirinya “ (HR. Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas Bin Malik Radiyallahu ‘Anhu)
Sebagaimana kalian merasa senang mendapat hidayah maka kalian seharus juga merasa senang jika ada akhwat ikhwani mendapat hidayah dengan meninggalkan kesesatan jamaah Ikhwanul muslimin. Jadi sangat sesuai sekali jika cerpenmu kau beri judul ” Sebagian Akhwat ikhwani mendapat hidayah dengan sebab menikah dengan ikhwan salafy”
Judul Cerpen :
” Jika kalian benci manhajnya “
Maka kita katakan :
Ya kami benci terhadap kemaksiatan, penyimpangan dan kesesatan yang terdapat di manhaj ikhwanul muslimin, diantaranya adalah :
Pertama : Penyelisihan mereka terhadap manhaj dakwah para rasul, yaitu tidak memberikan perhatian dakwahnya kepada tauhid dan memperingatkkan ummat dari perbuatan syirik, inilah inti dakwah para Rasul. Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
” Dan sunnguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk mendakwahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut “ ( Qs. An Nahal : 36 ) Berkata Syaikh ‘Al ‘Alaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Faedah yang dapat diambil dalam ayat ini bahwasannya hikmah dari diutusnya para Rasul adalah dakwah kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik “ ( Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 11 )
Kedua : Berdakwah dengan cara-cara bid’ah, berdakwah dengan partai, musik, drama dan film.
Jika sebuah ibadah seperti dakwah dilakukan dengan tidak sesuai dengan tuntunan Nabi, maka amalannya tertolak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Barangsiapa yang beramal dengan sesuatu yang bukan dariku maka amalannya tertolak ” (HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘Anhu)
Cerpen :
Seperti minggu sore kemarin, syura’ rutin DPRa di Kantor DPC. Agak Bete sedikit memang, tapi bukan karena bahasan syuranya, seperti biasa lah, selalu ada saja yang disewotin.
Maka kita katakan :
Inilah buah dan imbas dari demokrasi, partai dan kesibukkan yang ada didalamnya, yang penulis (Ibnu Abd Muis) berada didalamnya. Naudzubillah dari demokrasi dan pemilu sebuah sistem dan ideologi yang bukan dari islam.
Cerpen :
“Kenapa akh, dari tadi keliatan agak bete ghitu”, Tanya Ridwan, ketua DPRa, “Ada masalah?”, tanyanya lagi.
“Mba Nilam kemana, abis nikah kok nggak nongol-nongol?”
“Ada urusan keluarga kali, soalnya nggak ada kabar ke ana”, jawab Ridwan singkat.
“Dikerem suaminya kali ya?”, tanyaku polos.
“Astaghfirullah, mana ana tahu akhi. Lagian apa urusan kita terhadap mereka”, sergah Ridwan kepadaku.
“Kayanya kejadiannya bakalan sama seperti ukhti Intan tuh”, tandasku lagi.
“Antum ini ngomong apa sih”, Tanya Ridwan bingung. “Nggak jelas juntrungannya, ana nggak ngerti maksud pembicaraan antum.”
“Iya, mulai dari Ukhti Intan, kemudian Mba Nilam, siapa yang sibuk coba, bantuin mereka ngurusin pernikahannya?”, tanyaku ke Ridwan yang cuma makin bingung dengan ulahku.
“Astaghfirullah, akhi.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), (Qs. Al-Baqarah: 264)
Maka kita katakan :
Wahai Ibnu Abd Muis kenapa engkau tidak menerima nasehat dari temanmu untuk tidak menyebut nyebut kebaikkanmu membantu repsepsi pernikahan, malah bangga kau tulis dan kau pampangg diinternet. Naudzubillah. Bukankah kau tahu hal itu akan menghilangkan pahala kebaikanmu. Berkata Ibnu Katsier Rahimahullah : Tentang ayat diatas. ” Di khabarkan bahwa shadaqah dibatalkan pahalanya jika diikuti bersama shadaqah tersebut dari menyebut-menyebutnya dan menyakiti penerima ” (Tafsir ayat Al Baqarah ayat 264)
Berkata Syaikh As Sa’di Rahimahullah : “…..Didalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa menyebut – nyebut shadaqah dan menyakiti penerima membatalkan pahala shadaqah, berdalil dengan ayat ini bahwa amal kejelekkan membatalkan amal kebaikkan ” (Tafsir karimur Rahman pada ayat ini)
itupun kalau benar ceritamu adapun kalau sekedar fiksi dan bohong itulah engkau seorang pembohong Dari Ibnu Masud Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Bahwa kejujuran mengantarkan kepada kebaikkan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga dan bahwasannya seorang senantiasa berkata jujur sampai ditulis disisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan bahwasannya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan kepada neraka dan bahwasannya seseorang senantiasa berkata bohong sampai ditulis disisi Allah sebagai pembohong ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Cerpen :
Kok antum masih ungkit itu lagi sih. Kan kita sudah sepakat nggak akan bahas itu terus,” jelas Ridwan yang sepertinya sudah paham maksud kebawelanku.
“Ana sudah nggak tahan. Mungkin Mba Nilam adalah yang terakhir buat ana,” celotehku lagi.
“Maksudnya akhi?” tanya Ridwan.
“Ana janji, ana nggak akan bantuin akhwat manapun jika mereka nikah sama ikhwan Salafy!”, teriakku kesal.
“Loch, memangnya kenapa?”
“Ya, antum sendiri lihatkan. Waktu nikah, yang sibuk itu kita. Boro-boro ada ikhwah Salafy yang mau ikutan bantuin temennya nikah. Udah gitu, setelah mereka jadi nikah, seperti biasa, si akhwat nggak boleh lagi terlibat aktivitas kita,” jawabku dengan nada tinggi.
Maka kita katakan
Santai saja wahai Ibnu Abd muis jangan marah gitu dong…. Tak ingatkah engkau sebuah hadist atau engkau hanya ingat lagu atau album dari team nasyid Snada atau Brothers, kalau begitu ku hadirkan sebuah hadist Dari Abu Hurairah, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berilah aku nasehat, bersabda Rasulullah : ” janganlah kamu marah ” laki-laki tersebut mengulangi lagi perkataannya (berilah aku nasehat), Rasulullah bersabda jangan lah kamu marah “ ( HR. Bukhari ). Kalau pada kenyataannya ada seorang akhwat ikhwani yang menikah dengan ikhwan salafi itu merupakan takdir Allah, apalagi banyak dari mereka malah kenal manhaj yang haq dan mengetahui penyimpangan ikhwanul muslimin yang dulu dia berada didalamnya. Dan saya berharap ceritamu membantu repsesi pernikahan bukan sebuah kebohongan darimu tetapi kalau itu sebuah kebohongan itulah engkau yang terbiasa dengan hal itu. “Ibn Abd Muis, menjawab: Wa’alaikum Sallam warahmatullahi wabarakatuh, Cerita ini hanyalah fiksi dan dilatarbelakangi dengan fakta yang terjadi di lapangan “ ( salah satu jawaban ibnu Abd Muis terhadap salah satu pemberi komentar no 14 terhadap cerpennya )
Cerpen :
“Antum nggak boleh gitu akhi. Nggak semuanya seperti itu kok. Itu buktinya si Abu Zainuddin. Nanti jadi sia-sia loch apa yang sudah diamalkan kemarin,” seloroh Ketua DPRaku khawatir.
“Iya, kalau Abu Zainuddin mah nggak usah diomongin. Beliau itu udah the bestnya salafy dech, beda banget.
Maka kita katakan :
Ana berharap Abu Zainuddin bukan tokoh bayangan tanpa hakekat, tokoh fiksi dan hayalan, sebagaimana Ibnu Abd Muis melandasi cerpennya ini dengan kebohongan ” Ibn Abd Muis, menjawab: Wa’alaikum Sallam warahmatullahi wabarakatuh, Cerita ini hanyalah fiksi dan dilatarbelakangi dengan fakta yang terjadi di lapangan “ ( salah satu jawaban ibnu Abd Muis terhadap salah satu pemberi komentar no 14 terhadap cerpennya ). Kenapa tidak kau sebut ada seseorang yang diam terhadap penyimpangan ikhwanul muslimin tetapi dia mengaku salafi, kenapa harus bohong dengan cerpenmu ini. Dan apa yang engkau inginkan dengan perkataan the best salafy apakah dengan masihnya Abu Zainuddin atau yang semisalnya membiarkan istrinya bergabung dengan aktivitas ikhawanul muslimin atau tidak melarang atau memperingatkan dari kesesatan ikhwanul muslimin atau masih bermesraannya dengan firqah ini, jika kondisinya seperti ini justru di pertanyakan kesalafiannya, jangan-jangan hanya sekedar pengakuan tanpa hakekat atau sekadar julukan yang engkau berikan. Seoarang salafi adalah seorang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih, dan berusaha menjaga agama ini dari yang mengotorinya dari keyakinan-keyakinan sesat atau bid’ah dan hizbiyah dan diantara kesesatan adalah manhaj Ikhwanul Muslimin, maka wajib bagi seorang salafi untuk menjelaskan kepada ummat tentang kesesatan ikhwanul muslimiin. Sebagai nasehat untuk kaum muslimin dan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ
” Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung “ (Qs. Ali Imran : 104)
Dari Abu Ruqayah Tamiim Bin Aus Ad-Daari bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassam bersabda : ” Agama adalah nasehat ” kami (para sahabat) berkata untuk siapa wahai Rasulullah, Rasulullah berkata : untuk Allah, Rasul Nya kitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya “ (HR. Muslim)
Dari Abu Said Al-Khudry Radiyalallahu ‘Anhu berkata, Bahwasanya Rasulullah Shalalallahu ‘Alaihi Wassam bersabda : “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya,apabila tidak mampu maka ubalah dengan lisannya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya demikian itu selemah-lemah iman “ ( HR. Muslim )
Cerpen :
Tapi, kenapa sich, mereka mau menikahi akhwat tarbiyah? Memangnya mereka nggak punya stock akhwat apa? Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!”, teriakku lagi sambil nahan marah.
Maka Kita katakan :
Kalau stock Insya Allah banyak, lagian sebagian akhwat ikhwani yang memilih dan ridha untuk menjadi istri dari sebagian kecil ikhwan salafi. Kalian seharusnya berpikir kenapa sebagian akhwat tarbiyah senang kapada ikhwan salafi, mungkin saja karena melihat ikhwan ikhwani sudah ditarbiyah bertahun-tahun masalah tauhid yang menjadi pondasi agama ini saja ngga tahu, ditanya dimana Allah ngga bisa jawab dengan benar atau bertahun – tahun ditarbiyah tanpa rasa malu berfoto-foto di air terjun ketika rihlah, seharus kalian sadar dan berpikir apa yang kalian dapat dari dien ini selama berada dalam fiqqah (kelompok) ikhwanul muslimin.
Cerpen :
Ridwan, ketua DPRaku cuma miris dan berkata “Antum nggak boleh gitu akhi.
” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al Hujarat : 12 )
Mungkin memang sudah jodohnya. Mau dengan Salafy, mau dengan ikhwan tarbiyah, atau mau dengan yang ammah sekalipun, kalau sudah jodohnya, ya mereka pasti akan menikah, kalau Allah sudah berkehendak, mau ditolak bagaimana?”.
Maka kita katakan :
Allah Ta’ala berfirman
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
” sungguh Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdirnya ” (Qs. Al Qamar : 4)
Cerpen :
“Gini-gini loch akh. Maksud ana, ana nggak habis pikir aja. Kan mereka sebut kita ahlul bid’ah. Dan ahlul bid’ah itu menurut mereka lebih sesat dari ahlul maksiat. Tapi kenapa mereka malah mencari akhwat tarbiyah yang jelas-jelas ahlul bid’ah menurut mereka. Ini yang ana nggak ngerti,” tanyaku panjang lebar.
Maka kita katakan :
Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa syaithan mempunyai tahapan dalam menggoda manusia, pertama syaithan menggoda manusia untuk berbuat syirik dan kekufuran, kemudian jika manusia tidak tertipu maka digoda dengan perbuatan bid’ah, jika tidak tergoda juga maka syaithan beralih menggodanya dengan dosa besar dan seterusnya, bid’ah sesuatu yang lebih besar dosanya daripada maksiat dan lebih disenangi oleh syaithan, dikarenakan pelaku bid’ah merasa berada diatas kebenaran adapun pelaku maksiat, sadar bahwa diri berbuat maksiat.
Adapun Manhaj ikhwanul muslimin adalah manhaj bidah bukan dari ahlus sunnah, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. Diantaranya Syaikh ‘Al ‘Alaamah Hamaad Bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah pernah ditanya apakah jamaah ikhwan dan tabligh termasuk dari Ahlu Sunnah ? Syaikh Menjawab ” Seluruh orang yang berada diatas pemikiran yang menyelisihi Ahlus Sunnah maka bukan termasuk dari mereka, Jama’ah Ikhwan dan tabligh bukanlah termasuk dari ahlus sunnah dikarenakan mereka berada diatas pemikiran yang menyelisihi ahlus sunnah “ ( Di nukil dari Ar Risalah Al Kubra Ila Akhi Al Muntadzim fi Jama ‘atul Ikhwanul Muslimin, Syaikh Ali Rajihi Hal ; 152 )
Syaikh Al ‘Alaamah Al Muhadist Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i Rahimahullah ketika ditanya, apakah Ikhwanul Muslimin termasuk Ahlus Sunnah ? Berkata Syaikh Rahimahullah : ” Ikhwanul Muslimun manhaj mereka bukan manhaj ahlus sunnah, adapun perorangan dari mereka ada yang tersamar atas mereka dari penyimpangan ikhwanul muslimun, tidak bisa kita memutlakkan setiap perorangan dari mereka bahwasannya dia bukan ahlus sunnah “ ( Di nukil dari Ar Risalah Al Kubra Ila Akhi Al Muntadzim fi Jama ‘atul Ikhwanul Muslimin, Syaikh Ali Rajihi Hal ; 152 )
Cerpen :
“Akhi, tidak ada yang memungkiri, akhwat tarbiyah itu sangat militan dalam berdakwah. Kesibukan apapun yang menyertai mereka. Kuliah, kerja atau ngurus keluarga. Kalau sudah panggilan dakwah, pasti mereka kejar. Hijab dan busana muslim yang panjang tidak menyurutkan gerak gesit mereka,” jelas Ridwan santai
Maka Kita Katakan :
Kami tidak memungkiri bahwa akhwat tarbiyah jauh dari tarbiyah yang shahih, jauh dari ilmu dien yang benar, sehingga mereka ditarbiyah diatas kebodohan dan penyimpangan yang ada di manhaj ikhwanul muslimin, sehingga semangat dan “kemilitanannya” tidak terarah dengan ilmu. Diantara mereka semangat walau disuruh bermaksiat kepada Allah dengan berdemo dan unjuk rasa, diantara mereka semangat untuk berkampanye walau ikhtilat menjadi keharusan, diantara mereka semangat untuk rihlah kepuncak di luar kota walau dengan safar tanpa mahram, bahkan diantara mereka semangat walau harus pergi ke bioskop untuk nonton film Fatahila. Innaalillahi Wainnaailaihi Raajiuun, inilah sebagian dosa ikhawnul muslimin terhadap muslimah.
Cerpen :
“Jadi itu alasan mereka menikahi akhwat kita?”, tanyaku sewot.
“Akhwat kita?” tanya Ridwan sambil manyun. “Ngaku-ngaku akhwat kita, sembarangan. Nanti dimarahin bapaknya para akhwat baru tau rasa loch.”
“Bukan, bukan itu. Maksud ana akhwat tarbiyah,” sergahku cepat “Tapi pasti ada alasan lain, kenapa mereka lebih senang merampas akhwat tarbiyah dibandingkan akhwat salafy?”.
Maka Kita katakan :
Itulah keadaan Ibnu Abd Muis yang sembarangan, cerpen ini menunjukkan kesembarangannya.
Perkataannya yang mengatakan Ikhwan salafi lebih senang dan merampas akhwat ikhwani bukti lain yang menunjukkannya kesembarangan sekaligus kebodohannya.
Merampas dari mana wahai Ibnu Abd muis…??!!, mereka (sebagian dari akhwat ikhwani) yang senang dan ridha menikah dengan Ikhwan salafi. Bukankan telah saya singgung diatas bahwa seorang wanita tidak dipaksa didalam permasalahan menikah, bukankah makna merampas mengambil sesuatu secara paksa tanpa keridhaannya, bukankah sebagian akhwat tarbiyah yang memilih dan ridha bahwa calon suaminya seorang salafi, sebagaimana yang dialami oleh Abu Tilmidz : ” Adapun yg terjadi pada ana adalah ana mendapatkan biodata akhwat yang rajin liqo dan ternyata ia juga meletakkan biodatanya di kajian Salafy dan analah yang menerima, ana suka dan terjadilah pernikahan.
Ketika taaruf ana katakan bahwa ana adl salafy dan hendaklah ia mau menuntut ilmu, menghidupkan sunnah, melahirkan anak2 pembela ulama, dan menjauhi bid’ah. Dan ternyata istri ana setuju dan kini jadilah ia seorang Salafiyyin ” (pemberi komentar ke 7 pada cerpen Ibnu Abd Muis). Tak tahukah engkau wahai Ibnu Abd Muis, tentang sebuah hadist yang menjelaskan tentang hal itu. Dari Abu Hurairah Radiyalallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Tidak dinikahkan seorang janda sampai diminta persetujuaannya (harus ada perkataan yang jelas –penj), tidak dinikahkan seorang perawan sampai diminta izinya, mereka (para sahabat) berkata : bagaimana izinnya bersabda Rasulullah : diamnya ” ( HR: Bukhari dan Muslim)
Berkata Syaikh ‘Al ‘Alaamah Shaleh Al-Fauzan Hafidzahullah : ” Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada paksaan bagi wanita baik itu perawan atau janda dan orang yang membedakan antara perawan dan janda bahwa mereka berkata : Perawan walinya dapat memaksanya dan janda tidak ada paksaan atasnya, pembedaan yang mereka katakan itu tidaklah benar “ ( Tashiilul Ilmaam Bifiqhil Ahaadist Min Bulugil Maram, Jilid 4 Kitab Nikah, hal 328 ), kenapa engkau memberi judul dengan kata merampas kalau bukan karena kebodohan dan kebencianmu terhadap salafi, tidak terlalu heran bagiku kalau engkau bisa berbuat dan memberi judul seperti ini yang penting nyikat salafi, untuk berbuat lebih dari ini saja sangat memungkinkan. Berkata Syaikh Abdullah Bin Muhammad bin Husain An Najmi Hafidzahullah : Dan diantara yang menunjukkakn bahwa musuh mereka ( ikhwanul Muslimin) adalah para muwahid salafiyiin pembunuhan yang mereka lakukan terhadap Syaikh Jamilurrahman Af Ghani Salafy dan pengikutnya dan menceraiberaikan sebagian dari mereka karena keistiqamahan serta pengajaran mereka terhadap kitab tauhid dan menyebarkan dakwah salafiyah “ ( Jam’u Sataat fiima Kutiba ‘anil ikhwaani Minal Mulaahadhoot, Syaikh Abdullah Bin Muhammad An Najmy : 21, Taqdim Syaikh Ahmad An Najmi Rahimahullah )
Adapun perkataanmu bahwa kenapa mereka lebih senang, siapa yang lebih senang untuk menikahi mereka (akhwat tarbiyah) apakah dengan kondisi tidak pahamnya aqidah sebagian besar para akhwat tarbiyah bahkan secara umum menjadikan ikhwan salafi lebih senang dengan mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya : ” Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah Thogut” (QS. An-Nahl : 36)
Bagaimana mereka tidak tahu, sebuah ilmu yang dengan sebab itu mereka diciptakan dan merupakan inti dakwah para Rasul
Bagaimana mereka tidak tahu perkara yang pertama kali diwajibkan atas nya untuk dia pelajari. Berkata Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuuri, salah seorang ulama yaman, ” Apabila ditanyakan kepadamu apa yang pertama kali diwajibkan atas seorang hamba maka jawablah mempelajari Tauhidullah azza wa jalla dan dalilnya adalah hadist Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, ketika Nabi mengutus Muadz Bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata ke Yaman berkata Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam : ” Sesungguhnya kamu akan mendatangi sebuah kaum dari ahlu kitab, maka yang pertama kali kamu dakwahkan adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala ”
( Hadist Mutafaq ‘alahi dan ini lafadz Bukhari – Kitab Mabadiul Mufidah fi Tauhid wal Fiqh wal Aqidah Syaikh Yahya al-Hajuri : 8 )
Apakah dengan kondisi akhwat tarbiyah terjatuh kepada bid’ah maulud, partai dakwah, berdakwah dengan nasyid menjadikan ikhwan salafi lebih senang kepada mereka, padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam : ” Barangsiapa yang beramal dengan sesuatu yang bukan dariku maka amalannya tertolak ” (HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘Anhu)
Apakah dengan kondisi terjunnya akhwat tarbiyah kedemokrasi, kampanye pemilu dan partai menjadikan ikhwan salafi lebih ” tertarik ” kepada mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
” Hukum (keputusan) itu hanyalah milik Allah “ (Qs. Yusuf : 40 )
Bukankah demokrasi adalah hukum atau keputusan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Berkata Syaikh Yahya Bin Ali Al Hajuri Hafidzahullah ” apabila dikatakan kepada kamu apa hukumnya demokrasi ? Maka katakanlah hukum demokrasi syirik akbar (besar) dan dalilnya adalah Firman Allah
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
” Hukum (keputusan) itu hanyalah milik Allah ” (Qs. Yusuf : 40 )
وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“ Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu Nya dalam menetapkan hukumnya “ ( Qs. Al Kahfi : 26 ) ” ( Kitab Mabadiul Mufidah fi Tauhid wal Fiqh wal Aqidah Syaikh Yahya al-Hajuri : 29 )
Bukan Allah Ta’ala berfirman, membedakan orang beriman dari orang kafir, orang berilmu dengan orang bodoh
أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُون
” Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama ” ( Qs. As Sajdah : 18 )
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
” Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Rabb kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran ” ( Qs. Ar Ra’d : 19 )
Bukankah pemilu menyamakan orang beriman dengan orang kafir, ulama dengan orang bodoh, orang shaleh dengan orang fajir, wanita sholehah dengan wanita nakal dengan memiliki satu suara, padahal Allah Taiala membedakan antara orang beriman dan orang kafir, orang berilmu dan orang bodoh, ini menunjukkan bahwa pemilu bertentangan dengan syariat islam.
Apakah dengan kondisi akhwat tarbiyah sering berdemonstrasi, turun kejalan untuk berunjuk rasa menyebabkan ikhwan salafi menjadi senang dengan mereka padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda ” Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk dari golongannya “ ( HR. Abu Daud di shahihkan Syaikh Al Bani Rahimahullah dari Sahabat Ibnu Umar Radiyallahu ‘Anhu ) bukankah demonstrasi adalah produk dan caranya orang kafir, lalu mengapa mereka tasyabuh dengan orang-orang kafir.
Apakah dengan kondisi safarnya tanpa mahram ketika rihlah kepuncak menjadikan ikhwan salafi senang dengan mereka, bukankah Rasulullah Shalallahu “Alaihi Wassalam Bersabda : ” Tidak boleh seorang wanita safar (diucapkan 3 kali) kecuali bersama mahram” ( HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘Anhu ). Maka kita katakan, kita menginginkan seorang istri yang sholehah. Yang taat kepada Allah dan Rasul Nya, menjauhi kesyrikan, bid’ah, demokrasi, pemilu, partai dan kemaksiatan lainnya.
Adapun jika mereka bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha (sebenarnya), meninggalkan jama’ah ikhwanul muslimin dan berpegang teguh kepada manhaj ahlus sunnah wal jama’ah. Maka bagi mereka adalah ayat ini
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا
” Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikkan. Allah Ghafuuran ( yang maknanya Maha Pengampun ) dan Rahiiman ( lagi Maha Penyayang ) ” ( Qs. Al Furqan : 70 )
Cerpen :
“Waduh, merampas, kesannya kasar banget. Jangan gitu akhi. Kalau alasan kenapa mereka tidak memilih akhwat salafy, ana tidak tahu, mungkin memang kurang stock?” jawab Ridwan.
“Atau mungkin karena ekstrim juga!?”, timpalku langsung.
“Hush!!! Sembarangan!”, cegah Ridwan atas komentarku.
Maka Kita katakan :
Siapa yang mengatakan kami tidak memilih akhwat salafi, secara umum ikhwan salafi menikah dengan akhwat salafi. Adapun kurang stock insya Allah tidak, diantara buktinya banyak dari ikhwan salafi yang menjalankan sunnah poligami. Perkataan Ibnu Abd Muis ” Atau mungkin karena ekstrim juga” ini salah satu bukti lagi atas kesembarangan Ibnu Abd Muis, yang ana ngga habis pikir cerpen ngawur kaya gini sudah gitu ditulis oleh orang sembarangan banyak dipasang di bolg-blog ikhwani..!! Innaalillahi wainnailaihi Raajiuun
wahai Ibnu Abd Muis kalau bicara itu yang benar, jangan melemparkan istilah kepada akhwat yang konsiten terhadap agamanya, memakai hijab dan cadar dengan ekstrim. Kenapa ngga mengunakan dengan istilah iltizam atau istiqamah atau istilah yang syar’i lainnya. Ini yang pertama. Yang kedua : jangan engkau samakan akhwat salafi dengan akhwat ikhwani, dimana letak persamaannya akhwat salafi tidak mendengar nasyid adapun akhwat ikhwani tidak hanya dengar bahkan sebagian dari mereka ada yang mendatangi konsernya, akhwat salafi tidak pernah berdemo adapun akhwat ikhwani jangan tanya, akhwat salafi tidak sibuk dengan demokrasi, pemilu dan partai adapun akwat ikhwani kalian tahu sendiri bahkan ada calon legeslatif darinya….!!!
Cerpen :
“Assalamu’alaikum”, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
“Wa’alaikum salam ustadz. Ana fikir ustadz sudah pulang. Afwan, kita terlalu rame ya?” jawabku spontan atas sapaan salam ustadz Azri, ketua DPC kami yang tiba-tiba keluar dari balik pintu secretariat.
“Hemm… afwan dari tadi ana mencuri-curi dengar sambil senyum di dalam,” selorohnya pada kami sambil ikut duduk di bangku bambu tepat di sebelah kiriku. “Sepertinya seru juga diskusinya,” lanjutnya lagi,”Memang tidak ada habisnya kalau membicarakan salafy”. Aku cuma senyum, agak sedikit malu karena kesewotanku didengar beliau.
“Begini akhi, apa yang sudah akhi Ridwan katakan itu benar, akhwat tarbiyah itu memang super. Tapi kalau mereka kurang stock akhwat ana juga nggak yakin. Apalagi kalau alasannya seperti yang antum omongin tadi. Yang pasti, kemungkinan alasannya, ini pun baru menurut ana loch. Karena seorang yang telah tarbiyah dan telah mengikuti amal jama’i di dalam jamaah ini, yang telah tahu karaktristik manhaj ini dengan baik dan mendalam, selalu berhusnudzan terhadap qiyadah, pasti telah memiliki pondasi yang bagus tentang keislaman mereka. Mulai dari Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, Hadist dan ulumul hadits, Aqidah Islam, Fiqih, Sirah, akhlaq, kepribadian muslim, dan lain sebagainya. Belum lagi ditambah dengan materi-materi yang berhubungan dengan pengembangan diri mereka, seperti bagaimana mengelola waktu, bagaimana berkomunikasi efektif, managemen organisasi, urgensi kaderisasi dan lain-lain.
Tak ketinggalan sampai kepada pembahasan dakwah dan pemikiran islam serta materi yang membahas social kemasyarakatan.”
“Intinya mah tinggal poles dikit gitu ya ustadz?”, timpalku lurus.
Ustadz Azri cuma senyum denger ucapanku, “Itupun baru tarbiyah tingkat pemula loch
Maka Kita Katakan
Duh…., jauh sekali ustadz dengan kenyataannya, walau sudah ditarbiyah bertahun-tahun masalah yang paling pokok saja mereka tidak tahu, Allahu Mustaa’an, apalagi mengetahui ilmu Al Qur’an, bagaimana, mereka mengetahui ilmu Al Qur’an kalau secara umum murobbi mereka menafsiri Al Qur’an semaunya, menurut akalnya, karena mereka tidak ihtimam (memberikan perhatian yang sangat) kepada Ilmu Al Qur’an Dan As-Sunnah, mereka sibuk dengan berita, politik dan yang lain. Mereka tidak tahu kalau Al Qur’an itu harus ditafsiri dengan Al Qur’an atau dengan sunnah atau dengan perkataan sahabat dan tabiin atau dengan lughah (bahasa) (silahkan lihat penjelasan ini di Ushulut Tafsir Ibnu Utsimin), apalagi ilmu hadist, orang para ustadz dan murobinya saja ngga ihtimam bagaimana mad’unya, minimal mereka tahu perbedaan antara hadist shahih dan dhaif dan memberikan perhatian kepadanya didalam ilmu amal dan dakwahnya, Ini yang tidak ada di firqah ikhwanul muslimin, walau sudah tahunan ditarbiyah. Sampai perkara aqidah saja mereka lalaikan, sudah tahunan ditarbiyah ditanya Allah berada dimana, ngga bisa jawab dengan benar, pengertian tauhid dan pembagiannya saja ngga tahu. Apalagi fiqih begitu juga sirah yang shahih (yang benar) mereka jauh darinya. Kalau akhlaq, dengan melalaikan tauhid dari pengilmuan menyebabkan mereka terjatuh kepada pelanggaran tauhid apakah bisa dikatakan mempunyai akhlaq yang baik kepada Allah, terjatuh nya mereka kepada bidah partai, maulud dan tidak I’tibanya mereka dalam berdakawah menunjukkan akhlaq mereka kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam perlu dibenahi, tasyabuhnya mereka dengan orang kafir dengan berdemokrasi dan demostrasi, begitu juga sering nyanyi ala sufiyah (baca -nasyid ) bahkan dengan membuat konser nasyid menunjukkan jauhnya mereka dari kepribadian seorang muslim. Inilah buah dari tarbiyah ikhwani.
Adapun yang berkaitan dengan mengelola waktu, apakah bagi kalian baiknya seseorang dalam mengelola waktu dengan membagi, waktu untuk demonstarsi, waktu untuk bernasyid, waktu untuk berkampanye dengan melalaikan dari ilmu dan kewajiban agama lainnya. Innaalillahi Wainnaailahi Raajiuun
Cerpen :
Kalau seluruh kader sabar dalam halaqahnya, pasti mereka menjadi muslim mandiri. Tidak malas-malasan. Kritis. Rajin menghadiri kajian Islam. InsyaAllah, mereka jadi kader sejati, yang tidak mudah terombang-ambing.”
Maka kita katakan :
Orang yang tidak ditarbiyah dengan Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih adalah orang yang paling mudah terombang ambing.Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “Aku tinggalkan bagi kalian, jika kalian berpegang teguh diatasnya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu kitabullah dan sunnahku “ (HR. Hakim dishahihkan Oleh Syaikh Al Al Bani )
Berkata Syaikh Abdullah Bin Muhammad Bin Husain An Najmi : ” Dan sesungguhnya pokok kesesatan ikhwanul muslimin dan selainnya dari manhaj-manhaj dakwah adalah disebabkan jauhnya dari kitabullah, sunnah Rasulullah Shalallahu “Alaihi Wassalam dan dari petunjuk salaful ummah serta mengikuti hawa ” ( Jam’u Sataat fiima Kutiba ‘anil ikhwaani Minal Mulaahadhoot, Syaikh Abdullah Bin Muhammad An Najmy : 98, Taqdim Syaikh Ahmad An Najmi Rahimahullah )
Wahai… Ibnu Abd Muis lihatlah para tokoh kalian terombang ambing dalam kesesatan, seperti Hasan Al Bana tersesat didalam kelamnya kesyirikan dan bidah ketika dia mengucapkan bahwa nabi Muhammad dapat mengampuni dosa diacara maulud, kesesatan selainnyapun dia lakukan, Sayid Quthub tenggelam di kelamnya kesesatan pemahaman takfir sebagaimana yang dikatakan oleh para tokoh mereka sendiri, adapun Said Hawa teracuni bidahnya tasawuf, kalau Qardawi termakan oleh kesesatan demokrasi, membolehkan musik, gambar dan lainnya.
Cerpen :
“Oh, gitu ya ustadz”, tanyaku takjub, “Loch, lantas kenapa orang-orang Salafy yang ana temui, sebagian besarnya bercerita bahwa mereka mantan tarbiyah,” timpalku lebih lanjut.
Maka aku katakan :
Termasuk ana mantan tarbiyah, Al hamdulillah ana keluar dari ikhwanul Muslimin dan mengenal manhaj salaf. Semoga Allah memberikan keistiqamahan kepada ana dan semoga Allah selalu memberikan taufiq kepada ana dan seluruh ahlus sunnah untuk memperingatkan ummat dari kesesatan jama’ah ikhwanul muslimin dan dari kesesatan jama’ah yang lainnya ikhlas mencari keridhaan Nya semata.
Cerpen :
“Coba dech, antum perhatikan. Sebagian mereka, apakah mantan tarbiyah, atau mantan Jamaah Tabligh atau mantan jamaah lainnya. Pasti ceritanya selalu tentang kekurangan. Ya, merekalah orang-orang yang selalu melihat kekurangan yang dimiliki orang lain
Maka kita katakan :
Bukan kekurangannya tapi kesesatannya, wajib bagi kita yang memiliki kemampuan untuk menjelaskan kesesatan ikhwanul muslimin, jama’ah tabligh, hizbut tahrir dan yang lainnya sebagai nasehat untuk umat.
Dari Abu Ruqayah Tamiim Bin Aus Ad-Daari bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassam bersabda : ” Agama adalah nasehat ” kami (para sahabat) berkata untuk siapa wahai Rasulullah, Rasulullah berkata : untuk Allah, Rasul Nya kitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya “ (HR. Muslim)
Cerpen :
Mereka belum paham karakteristik dari tarbiyah itu sendiri
Maka kita katakan
Perkataan ini sangat cocok dialamatkan untuk kalian yang tidak paham dan memberikan perhatian terhadap inti dakwah para Rasul, yaitu mendakwahkan kepada tauhid dan memperingatkan ummat dari perbuatan syirik, kepada perkara inilah serta syariat yang lainnya ummat ditarbiyah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
” Dan sunnguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk mendakwahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut “ ( Qs. An Nahal : 36 ) Berkata Syaikh ‘Al ‘Alaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Faedah yang dapat diambil dalam ayat ini bahwasannya hikmah dari diutusnya para Rasul adalah dakwah kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik “ ( Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 11 )
Lihat wahai Ibnu Abd Muis….., kepada tauhid bukan kepada demostrasi bukan kepada pemahaman khawarij, bukan kepada nasyid bid’ah ala sufiyah, partai, cerpen fiksi, perkataan para politikus dan hal yang tidak bermanfaat lainnya.
Cerpen :
Mereka adalah orang-orang yang tidak shabar
Maka kita katakan
Keshabaran adalah dengan mentaati Allah dan Rasul Nya, dengan meniti jalan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul Nya didalam ilmu amal dan dakwah, Al Hamdulillah salafi insya Allah orang yang shabar karena mereka berpegang teguh terhadap Al Qur’an dan As Sunnah atas pemahaman salafus shalih didalam ilmu, amal dan dakwah. Karena kami yakin tidak akan jaya ummat ini kecuali dengan apa yang menjadikan umat terdahulu menjadi jaya, yaitu dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As Sunnah diatas pemahaman mereka. Ihtiman dengan dakwah tauhid dan memperingatkan ummat dari perbuatan syirik, berpegang teguh kepada sunnah dan memperingatkan ummat dari perbuatan bidah dan maksiat, dan istiqamah dalam ketaatan dan manhaj yang haq ini. Adapun kalianlah wahai ikhwanul muslimin yang tidak shabar. Sehingga berdakwah dengan menyelishi manhaj nubuwah dengan anggapan lebih cepat mencapai kepada keberhasilan dan kejayaan yang akhirnya berujung kepada pembantaian ikhwanul muslimin dialjazair, mesir akibat pembrontakan yang dilakukan oleh ikhwan kalian di negara tersebut.
Cerpen :
Mereka adalah orang-orang yang selalu membutuhkan motivasi dari luar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mengembangkan ilmu mereka dengan potensi yang mereka miliki untuk berkontribusi kepada umat
Maka kita katakan
Al Hamdulillah salafi sibuk dengan dakwah tauhid, memperingatkan ummat dari kesyrikakan dan dari bid’ah serta dari maksiat dengan lisan dan perbuatan mereka, Insya Allah ini adalah kontribusi salafi kepada ummat, adapun kalian apa kontribusi kalian kepada ummat, kalian ajak ummat berdemontrasi, kalian ajak ummat untuk membenci pemerintah, kalian ajak ummat berpartai, kalian ajak ummat untuk bernyanyi dengan konser nasyid kalian….!!!
Lihatlah kontribusi kalian kepada umat, pembantaian yang dilakukan pemerintah akibat pembrontakan partai FIS di Aljazair.
Lihatlah apa yang terjadi dimesir, pembantaian yang dilakukan pemerintah akibat pembrontakan yang dilakukan oleh ikhwanul muslimin di mesir ribuan kaum muslimin jadi korban inilah kontribusi ikhwanul muslimin kepada ummat.
Demi Allah wahai Ahlu Sunnah jika kalian perduli terhadap ummat ini dakwahkan ummat ini kepada tauhid dan peringatkan dari perbuatan syirik, dakwahkan kepada sunnah dan peringatkan ummat dari bid’ah, serta peringatkan ummat ini dari kesesatan jamaah ikhwanul muslimin dan firqah – firqah sesat lainnya
Cerpen :
Tapi saksikanlah akhi. Mereka hanya akan ghirah di awal. Mereka tidak akan bertahan lama. Karena hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memiliki jiwa ikhlas seperti Abu Zainuddin” jelas Ridwan panjang lebar
Maka kita katakan
Berkata Syaikh Al ‘Alaamah Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin Rahimahullah : ” Ikhlas kepada Allah maknanya adalah : Seseorang memaksudkan amal ibadahnya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan dalam rangka mencapai kebahagian di negeri akherat ” (Syarh Al Ushulus Sittah : 112) maka wajib bagi kita untuk selalu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah semata didalam ibadah kita dan didalam amar ma’ruf nahi mungkar kita dan didalam menjelaskan ummat tentang kesesatan jamaah ikhwanul muslimin. Tidak seperti Abu Zainuddin dan yang semisalnya yang diam seribu bahasa terhadap kesesatan jamaah ikhawnul muslimin, bahkan bermesraan dengan jamaah ini. Tidaklah sebuah alamat dari keikhlasan seseorang dengan diamnya terhadap kesesatan jamaah ikwanul muslimin atau jama’ah sesat lainnya. sama sekali tidak…!!!
Cerpen
“Sudah akhi Ridwan jangan diteruskan. Tidak baik akhi, ada baiknya kalau kita selalu berusaha untuk membersihkan hati kita” pinta ustadz Azri berusaha memutus penjelasan Ridwan
Maka kita katakan
Benar kita harus selalu berusaha sepanjang hidup kita membersihkan hati kita sebagaimana Allah T’ala berfirman
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
” Sungguh beruntunglah orang-orang yang mensucikan diri “ ( Qs. As Syams : 9 )
Berkata Syaikh Al ‘Alaamah Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : ” yaitu membersihkan dirinnya dari dosa-dosa dan mensucikannya dari kejelekan-kejelekan dan memperbaikinya dengan ketaatan kepada Allah dan meninggikan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih ” ( Tafsir Karimur Rahman pada ayat ini )
Dan cara yang benar menurut Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih didalam membersihkan hati kita, didalam mentazkiyah diri kita adalah dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya dari kesyirikan, bid’ah, kesesatan dan maksiat, diantara salah ketaatan untuk membersihkan hati kita adalah dengan memperingatkan ummat dari kesesatan karena Allah dan diantara kesesatan adalah manhaj Ikhwanul Muslimin.
Cepen
“Antum sendiri sudah sampai mana materi halaqahnya,” tanya ustadz Azri, ketua DPCku tiba-tiba.
“Ups!”, agak kaget. “Hik..hik.. ana baru enam bulan ustadz, baru juga masuk materi akidah tauhid,” jawabku malu sambil cengengesan.
Maka kita katakan
Berkata Syaikh ‘Al ‘Alamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Harokah Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para ahlul ‘ilmi yang mu’tabar (terkenal) dikarenakan mereka tidak memperhatikan masalah da’wah kepada tauhid dan mengingkari syirik serta bid’ah. Mereka mempunyai cara tersendiri yang mengurangi semangat dalam dakwah kepada tauhid, dan tidak mengarahkan kepada aqidah yang shahih yang dimana dakwah ahlus sunnah berada diatasnya. Maka sewajibnya bagi Ikhwanul Muslimin untuk memperhatikan da’wah Salafiyah da’wah kepada tauhid, mengingkari ibadah kepada kubur-kubur, ketergantungan kepada orang mati dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati seperti Hasan, Husein, Badawi dan sebagainya.Wajib bagi mereka untuk mempunyai perhatian kepada perkara yang paling pokok ini, dengan makna Laa Ilaaha Illallah Karena inilah pokok agama dan sesuatu yang pertama kali didakwahkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di kota Mekkah berdakwah kepada tauhid kepada makna Laa ilaaha illallah, banyak dari kalangan ahlu ilmi (ulama –penj) mengkritik ikhwanul muslimin dalam permasalahan ini. Yaitu tidak adanya semangat dalam berdakwah kepada mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepadanya. Dan mengingkari apa yang dilakukan orang-orang bodoh dari ketergantunagn kepada orang mati dan memohon pertolongan kepadanya, bernadzar dan menyembelih kepada mereka, yang merupakan perbuatan syirik besar. Demikian juga mereka dikritik dengan tidak adanya perhatian kepada sunnah, kepada hadist yang mulia dan apa – apa yang salaful ummah berada diatasnya dari hukum-hukum syariat “ ( sebagaimana dalam majalah Al-Majalah edisi 806, dinukil dari Jam’u Sataat fiima Kutiba ‘anil ikhwaani Minal Mulaahadhoot, Syaikh Abdullah Bin Muhammad An Najmy : 21 ) Maka kalau kita lihat potret ikhwanul muslimin di indonesia sangat jelas sekali akan kelalaian mereka terhadap dakwah para Rasul. Coba kita tengok majalah sabili yang menjadi corong dakwah mereka puluhan tahun telah terbit apakah ada materi yang membahas masalah aqidah atau tauhid, puluhan tahun telah terbit untuk mendapatkan satu artikel tauhid saja kita akan kesulitan mendapatkanya dari majalah sabili tersebut, kalau bukan pelalaian terhadap dakwah para Rasul apa namanya ini, belum lagi majalah yang lain An Nida atau Tarbawi atau yang lainnya…!!!!, coba kita tengok di ceramah – ceramah mereka atau di kaset kaset mereka atau dikampanye – kampanye mereka adakah yang membahas keberadaan Allah diatas langit adakah yang membahas menyembelih untuk selain Allah hukumnya syirik, adakah yang membahas hukum mempercayai ramalan bintang atau sekedar kajian politik atau kajian yang tercampur dengan berbagai syubhat dalam aqidah atau dalam manhaj dan yang lainnya dengan melalaikan dakwah tauhid…!!!! itulah mereka melalaikan dakwah para Rasul.
Cerpen
“Ya, kalau boleh dibilang anak ingusan di tarbiyah githu… hehehe…,” ujarku berusaha membela diri.
Maka kita katakan
Itulah engkau wahai Ibnu Abd Muis anak ingusan, sebagaimana kata dirimu sendiri, lebih baik engkau belajar Dien yang shahih dengan pemahaman yang benar dari pada nulis cerpen yang ngga karuan seperti ini, tanpa didasari ilmu dan keadilan. Allah Ta’ala berfirman
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akan diminta pertanggungjawabannya “ (Qs. Al Isra : 36 )
Rasulullah bersabda ” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkatalah yang baik atau diam “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh Radiyallahu ‘Anhu )
Cerpen
“Tapi kayanya antum sudah lama ikut aktifitas amal jamai ya?” tanya ustadz Azri kepadaku. “Soalnya ana sering lihat antum di berbagai tempat kegiatan bakti social, nggak cuma di DPRa antum saja?”
“Iya, ustadz, ana sibuk banget. Kerja, dari pagi sampe malem. Maklum kuli.. hehehe… Takut halaqahnya nggak serius, jadi ana fikir biar ana aktif di kegiatan social kemasyarakatannya saja, ternyata tarbiyah point utamanya. Sekalipun agak terlambat, nggak apa-apa lach”
“Nah, ini dia ustadz, salah satu penyebab akhwat-akhwat kita keburu dinikahi ikhwan bukan tarbiyah,” tuduh Ridwan kepadaku.
“Maksudnya?”, tanyaku bingung.
“Ya, antum ini lah salah satu penyebabnya. Sudah kerja, punya kendaraan, manager pula status di kantornya. Masih juga belum mau nikah. Jangan marah dong kalau akhwat tarbiyah dinikahi sama ikhwan salafy. Antum terlalu idealis sih”, tuding Ridwan lagi kepadaku.
Aku makin mati kutu dibilang begitu, “Afwan, afwan akhi, ustadz, ana nggak idealis kok. Ana tidak pernah terpikir, kalau ana punya kriteria khusus terhadap akhwat yang akan ana nikahi. Masalahnya beda. Ini masalah target masa depan. Masa akhwatnya hebat ikhwannya jeblog, nanti ana malu khan. Dan ana juga nggak mau pusing, gara-gara mikirin uang untuk resepsi, untuk lahiran, pendidikan anak, makan sehari-hari dan lain sebagainya,” jelasku membela diri.
“Memang antum usianya berapa sekarang?” tanya ustadz Azri sambil nepuk-nepuk bahuku.
“Seperempat abad lebih dikit ustadz”, jawabku. “Belum tua banget khan?” tanyaku langsung kepada beliau.
Beliau cuma tersenyum dan berkata, “Belum, belum tua kok.” Sementara Ridwan ketua DPRaku sudah pegang perutnya menahan geli.
“Loch, antum kenapa? Kok kayanya geli banget dengar umur ana seperempat abad?” tanyaku ke Ridwan bingung.
Ustadz Azri menepuk lututku, “Dulu, waktu ana nikahi istri ana, ana baru berumur sembilan belas tahun akhi. Masih kuliah di LIPIA” terangnya sambil tersenyum teduh.
“Hah…” ternganga aku sambil takjub. “Sembilan belas tahun! Masih muda banget ustadz. Waduh, ana ketuaan dong ya?”
“Bukan tua lagi mas, udah engkong-engkong,” canda Ridwan sambil terus pegangi perutnya menahan geli dan “Ana aja udah punya anak dua waktu umur segitu”.
“Ya ampun, jangan-jangan hampir sebagian besar ikhwan kita seperti ana kali ya!” sergah aku masih dalam keadaan terkejut. “Pasti ustadz anak orang kaya kan, jadi kalau bingung dengan masalah keuangan tinggal minta bantuan?” tanyaku sambil terus berusaha membela diri.
“Alhamdulillah, ana di Jakarta sendirian akhi. Orang tua ana di Padang Pariaman. Di Kampung. Waktu itu ana tinggal di tempat paman ana. Ya sambil bantu-bantu beliau, ana juga jualan buku-buku Islam sambil kuliah di LIPIA karena ana yakin
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. At-Thalaaq: 3)
” jelasnya panjang lebar sambil berusaha meyakinkan aku.
“Waduh, malu banget ana nih ustadz. Ana yakin, ikhwan-ikhwan kita memang terlalu idealis, bertahan dengan kejombloannya, karena terlalu khawatir seperti ana. MasyaAllah….”
“Makanya itu akhi, antum jangan sewot kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi ikhwan-ikhwan salafy. Nggak ada pilihan lain, sekalipun mungkin mereka tidak mau, tapi daripada jadi khawatir kali. Mau dibilang apa?” tuding Ridwan lagi kepadaku
Maka kita katakan
Itulah engkau wahai ibnu Abd Muis menunda nikah tanpa alasan syar’i sudah begitu dzalim dengan menuduh ikhwan salafi merampas akhwat tarbiyah, mereka akhwat tabiyah yang senang dan ridha kalau ikhwan salafy menjadi suaminya, bahkan dengan sebab menikahnya mereka dengan ikhwan salafi mereka mendapat hidayah dengan keluar dari jamaah ikhwanul muslimin. Lengkaplah kebahagian mereka, mendapat suami yang mereka senangi dan mendapat hidayah….!!! adapun engkau masih bertahan dengan kejombloanmu dan berada di Jama’ah Khawarij. Berkata Syaikh ‘Al ‘Alaamah Al Muhadist Ahmad Syaakir Rahimahullah : ” Al Ikhwanul Muslimin khawarij jaman ini “ (Majalah Al Ishaalah, ke 40 dinukil dari Ar Risalah Al Kubra Ila Akhi Al Muntadzim fi Jama ‘atil Ikhwanil Muslimin, Syaikh Ali Rajihi Hal ; 152 )
Cerpen
“Ya, iya juga sich, mungkin salah ana juga kali ya,” jawabku lirih.
“Ya, nggak salah antum aja, tapi semua ikhwan tarbiyah yang punya kekhawatiran berlebihan seperti antum, antum niatkan saja untuk segera menikah. Ana ada chanel nih. Antum mau nggak ana kenalin. Mad’unya istri ana,” tawar ustadz Azri serius sambil terus tersenyum, “Kayanya cocok dech sama antum”.
“Aduh ustadz, tapi ana tetep nggak bisa terima. Kalau mereka mau menikahi akhwat tarbiyah, jangan matikan dakwah mereka juga dong.
Maka kita katakan
Dakwah kepada apa….?!!, dakwah kepada tauhid …??!! dakwah kepada sunnah…??!! atau kepada pemahaman khawarij, atau kepada demokrasi atau kepada nasyid atau kepada partai atau kepada kesia-sian dengan melalaikan dakwahnya para Rasul….!!!
Al Hamdiulillah dengan menikahnya sebagian akhwat tarbiyah dengan sebagian kecil ikhwan salafi menjadikan dia kenal dakwah yang haq dakwah Ahlus sunnah, sehingga sebagian mereka menjadi aktif saling tolong menolong dengan akhwat salfiyiin lainnya didalam ilmu, amal dan dakwah.
Allah Ta’ala berfirman
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
” dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan “ ( Qs. Maidah : 2 )
Cerpen
Enggak sopan tuh namanya. Kita yang bangun dia yang nikmatin. Standard ganda banget sich! Manhajnya di benci, tapi akhwatnya doyan!
Maka kita katakan
Membangun apa….??!!, membangun pemahaman para muslimah dengan menyakini demo sebagai jihad…..??!! membangun dengan tulisan dan lisan agar para muslimah membenci pemeritah kaum muslimin, mengajak para muslimah berkampanye, memalingkan muslimah dari perkara tauhid kepada politik, demokrasi, partai dan segala kesibukkan didalamnya…..!!!! Inalillahi wainailahi Rajiuun, inilah sebagian dosa kalian terhadap muslimah…. wahai muslimah sadarlah… !!!! dimana ilmu kalian terhadap aqidah shahihah ??!!! dimana kalian tehadap fiqih ibadah…???!!! dimana kalian dengan ilmu syar’i yang berkaitan dengan kewanitaan …??!! jika kalian ingin membela islam dan kaum muslimin maka belalah dengan ilmu amal dan dakwah kepada dien yang haq, bukan kepada kesesatan demokrasi bukan kepada kebid’ahan partai keadilan bukan kepada konser nasyid bukan dengan turun kejalan dan demonstrasi…!!!!, “
Dan perkataamu ” tapi akhwatnya doyan…” ??!!. saya melihat antum perlu diruqyah, supaya kebencian dan hizbiyah ikhwan hilang dari dirimu dengan idzin Allah. Mereka yang sama-sama suka, mereka akhwat tarbiyah ridha dan senang dinikahi dengan sebagian kecil ikhwan salafi, mereka sangat senang mendapat seorang suami yang sesuai dengan keretrianya yang dengan sebab pernikahan itu mereka mendapat penjelasan tentang manhaj yang haq dan mendapat penjelasan tentang kesesatan firqah ikhwanul muslimun.
Cerpen
Atau ana aja yang nikahin akhwat Salafy ya ustadz, biar mereka jadi baik hati dan lembut. Kan impas tuch!” ujarku kesel.
Maka kita katakan
Innaalilahi wainnailahi Raajiuun, seorang menjadi baik jika terbimbing dengan ilmu yang haq, ilmu Al Quran dan As Sunnah diatas pemahaman salafus shalih dengan diamalkan secara dhohir dan bathin. Maka sebaliknya seseorang dikatakan jahat dan berhati keras jika berbuat maksiat diantara perbuatan maksiat adalah demokrasi, demostrasi, nasyid sufi ala ikhwani dan yang lainnya yang ada di firqah (kelompok) ikhwanul muslimin. sangat memungkinkan jika seorang akhwat salafi menikah dengan seorang Ibnu Abd Muis atau yang semisalnya menjadi seorang yang keras hatinya dan kasar, dengan diajak berlaku kasar kepada pemerintah dengan berdemo di depan bundara HI, atau keras hati dengan memaksiati Rabbul ‘Alamin dengan aktif di penyimpangan yang ada di jama’ah ikhwanul Muslimin yang Ibnu Abd Muis ada didalamnya….!!!
Cepen
“Astaghfirullah akhi, sudahlah, jangan dipikirin yang kaya gitu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Baik buat kita maupun buat mereka. Jangan biarkan ketidaksukaan antum terhadap mereka membuat antum tidak adil.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Maidah: 8 )
Maka kita katakan
Benar, semuanya ada hikmahnya diantara hikmahnya mereka keluar dari jamaah Ikhawnul muslimin dan berpegang teguh kepada manhaj Salaf.
Cerpen
Kita do’akan, sekalipun mereka tidak beramal jama’i lagi dengan kita, mudah-mudahan ghirah dakwah mereka tidak mati.
Maka kita katakan
Kami Ahlu sunnah menginkari amal jama’i yang menyelisihi syariat, seperti yang ada pada jamaah ikhwanul muslimin dari tolong menolong dalam demokrasi, didalam partai, didalam demo, didalam konser nasyid didalam memalingkan ummat dari Al Qur’an dan As Sunnah kepada koran, berita politik dan semisalnya. Insya Allah sebagian akhwat tarbiyah yang telah menikah dengan ikhwan salafi menjadi salafiyyah yang istiqamah yang semangat didalam ilmu amal dan dakwah, semangat dengan suaminya didalam tolong menolong dalam ketaatan, begitu juga semangat dengan akhwat salafiyah lainnya didalam ilmu amal dan dakwah. Allah Ta’ala berfirman
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
” dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan “ ( Qs. Maidah : 2 )
Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wassalam bersabda : ” Orang mukmin dengan mukmin yang lainya seperti bangunan yanng saling memperkuat satu dengan yang lainnya “ ( HR. Bukhari dari Abu Musa Al Asy’ari)
Cerpen
Ya minimal beribadah untuk suami dan keluarga mereka, kan sama saja, sementara mantan murabiyyah mereka mendapat pahala atas ilmu yang bermanfaat bagi mereka” terang ustadz Azri bijak.
Maka kita katakan
Jika sesuai syariat dan dibarengi dengan niat yang ikhlas diharapkan mereka mendapat pahalanya, begitu juga berhak mendapat dosa terhadap kesesatan yang para murobiyah tanamkan kepada para muslimah. Dari demokrasi mengajak kampanye dan yang lainnya
Cerpen
“Iya, ya.. nggak ada untungnya buat ana. Itu sudah menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Mending ana focus ngurusin pekerjaan ana dan dakwah ana di manapun ana berada”, sadar
Maka kita katakan
Dakwah kepada apa wahai Ibnu Abd Muis, kepada kesesatan, kepada demokrasi kepada mendemo pemerintah kepada cerpen fiksimu ini, kepada belajar bohong…??!!! Orang seperti antum berdakwah mau jadi apa umat ini mau dibawa kemana umat ini…??!! mau dibawa kepada kesesatan ikhwanul muslimin, mau dibawa kepada kegelapan kebodohan….!!! Allah Ta’ala berfirman
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ
” Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan , menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung “ (Qs. Ali Imran : 104)
Bagaimana antum akan menyuruh yang ma’ruf kalau ngga tahu yang ma’ruf begaimana antum akan memperingatkan dari yang mungkar kalau ngga tahu itu sebuah kemungkaran. Ditambah lagi engkau seorang yang bermanhaj menyimpang, berkata Ibnu Sirin Rahimahullah : ” Sesungguhnya ilmu ini (ilmu sannad dan yang berkaitan dengannya) merupakan bagian dari ilmu agama, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian” ( silahkan lihat muqadimah Shahih Muslim, Hal 19 Dar Ibnu Hazm )
Wahai Ibnu Abd Muis inilah catatan ringan dariku, sebagai bentuk pengingkaran atas kemungkaran yang ada pada cerpenmu, dan sebagai nasehat untuk ummat tentang kesesatan jama’ah ikhwanul muslimin yang engkau berada didalamnya
Cerpen
ana focus ngurusin pekerjaan ana dan dakwah ana di manapun ana berada”, sadar
“Jangan lupa! bukan cuma ngurusin pekerjaan dan dakwah aja, tapi tuh, tawaran ustadz Azri diterima nggak, prediksinya cocok sama antum soalnya,” ingat Ridwan sambil rangkul bahuku.
Aku cuma mengangguk tanda setuju, sambil terus menyembunyikan malu.
“Loch, dengan akhwat Salafynya gimana?”, canda ustadz Azri, lanjutnya “Ada-ada aja antum.”
Dan aku makin menunduk malu.
Selesai….
Maka kita katakan :
Iya seharusnya engkau malu dengan cerpen ngga karuanmu ini, dengan kebodohan, kedzaliman dan kesesatan yang ada dicerpenmu ini, karena malu mengantarkan kepada kebaikan. Sebagaimana dalam sebuah hadist yang di riwayatkan dari Imran Bin Husain Radiyalahu ‘Anhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalm bersabda : ” Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan “ ( HR. Bukhari ). Atau engkau tidak punya rasa malu lagi ?
Inilah catatan ringanku pada cerpen ini, sebagai bentuk amar’ ma’ruf nahi mungkar dan nasehat kepada ummat tentang kesesatan manhaj ikhwanul muslimin.
Diarsipkan di bawah: Coretan Pena Santri | Tag: akhwat saatnya kalian menikah, akhwat salafi, akwat solehah, anjuran menikah, haramnya homo dan lesbi, haramnya zina, ikhwan saatnya kalian menikah, ikhwan salafi, isti solehah, keutamaan meikah, menikah, menikah sunnah, saatnya untuk meikah
Sssttttt……. Ada yang ingin Ku Katakan
” Saatnya Untuk Kita Menikah “
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Melihat prilaku menunda menikah tanpa alasan syar’i ditengah-tengah kaum muslimin baik dengan alasan menyelesaikan kuliah, karir atau alasan tidak syar’i lainnya menjadi salah satu sebab dari banyak sebab tersebarnya kemaksiatan onani, zina bahkan liwath (homo dan lesbi), Naudzubillah, dibarengi kemaksiatan buka aurat, ikhtilat tersebarnya pornografi membuat kerusakkan diatas kerusakkan, menambah tersebar luasnya kemaksiatan. Sebuah fenomena yang membuat lisan ini berucap semoga Allah menjaga kita semua. Sambil berfikir apa yang harus ku tulis disecarik kertas ini, sebagai nasehat untuk kaum muslimin. Ku coba awali dengan sebuah doa dengan berkata semoga Allah memberi hidayah dan menjaga kita semua…
Wahai kaum muslimin……..
Tidak tahukah kalian bahwa diantara penyebab kemaksiatan onani, perzinahan bahkan perbuatan liwat (homo dan lesbi) adalah akibat menunda nikah karena karir, kuliah atau tanpa alasan syari’i lainnya…
Tidak khwatirkah kalian terjatuh kedalamnya…
Karir apa yang kalian cari…, apakah dengan mempertaruhkan agama kau raih karirmu….!!!
Bukankah keselamatan agama dan menjaga keimanan hal yang sangat terpenting bagi kita…
Lalu apa yang menghalangi kalian untuk menikah, padahal dengan menikah dapat menjaga kita dari kemaksiatan….
Wahai kaum muslimin…….
Kuhadirkan perkataan seorang ulama yang menjelaskan hukum dan manfaat menikah sebagai hadiah dariku untuk kalian, Berkata Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin Rahimahullah : ” Dan berkata sebagian Ahlu Ilmi (ulama -penj) bahwasannya menikah hukummnya wajib secara mutlak karena asal perintah adalah wajib. Hal ini dikarenakan perkataan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ” Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian mampu untuk menikah maka menikahlah ” Al-lam li ‘Amr pada asalnya di dalam ” ‘amr : perintah ” adalah wajib kecuali ada yang memalingkannya dari perintah wajib. Disamping itu bahwasannya meninggalkan menikah disertai kemampuan untuk menikah didalamnya terkandung tasyabuh (menyerupai) orang nasrani yang mereka meninggalkan menikah dengan tujuan untuk menjadi pendeta dan tasyabuh dengan selain dari kaum muslimin haram hukumnya. Dimana terdapat didalam menikah dari kebaikan yang besar dan menolak kerusakkan yang banyak, bahwasannya dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan akan tetapi dengan adanya syarat mampu pada pendapat ini, dikarenakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengkaitkan yang demikian itu dengan kemampuan sebagaimana perkataannya ” barangsiapa diantara kalian mampu menikah ” dan dikarenakan didalam kaidah umum, setiap kewajiban disertai dengan syarat mampu. Pendapat wajibnya nikah dalam sisiku lebih mendekati kebenaran “. ( Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaq’ni, Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin, Kitab Nikah hal : 12 ).
Terlepas disana ada perbedaan pendapat tentang hukum menikah, akan tetapi ulama sepakat bahwa terdapat kemaslahatan yang banyak dengan menikah, diantaranya menjadi sebab terjaganya seseorang dari perbuatan maksiat.
Wahai kaum muslim…..
Bagaimana jika…(semoga Allah menjaga kita semua) dengan menundanya seseorang dari menikah tanpa alasan syar’i sebab terjatuh kedalam perbuatan zina, padahal Allah Ta’ala berfirman
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya : ” Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’ : 32)
Berkata Syaikh As-Sa’di Rahimahullah ” Larangan mendekati zina lebih mengena daripada sekedar larangan berbuat zina, dikarenakan yang demikian itu mencakup larangan dari segala muqadimah zina dan perkara yang mendekatkannya.“ ( Tafsir Ar Karimur Rahman, Syaikh As-Sa’di )
Allah Ta’ala juga berfirman pada ayat lain
وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
” Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain berserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)…….. “ ( Qs. Al Furqan 67 – 68 )
Berkata Syaikh Sa’di Rahimahullah : ” Dan nash firman Allah Ta’ala tentang ketiga dosa ini merupakan dosa besar yang paling besar, perbuatan syirik didalamnya terdapat merusak agama, membunuh didalamnya terdapat merusak badan dan zina didalamnya terdapat merusak kehormatan” ( Silahkan lihat Taisirul Karimur Rahman )
Apalagi jika sampai terjatuh kedalam perbuatan liwath, Naudzubillah. Sebuah dosa yang sangat besar, sebuah kekejian yang sangat keji. Sebagaimna Allah Ta’ala berfirman :
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
” Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ” mengapa kamu melakukan perbuatan keji (liwath), yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (didunia ini) “ ( Qs. Al A’raaf : 80 )
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Tidak ada yang paling aku takutkan daripada ketakutanku kepada kalian atas perbuatan kaum luth “ ( HR. Ahmad, tirmidzi dan dari Sahabat Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhu dishahihkan oleh Syaikh Al – Al Bani Rahimaullah)
Berkata Imam Adz-Zhahabi Rahimahullah : ” Liwath (homo/lesbi) lebih keji dan jelek dari perbuatan zina “ ( Al Kabaair Imam Adz Zhahabi )
Siapa yang menjamin kita akan selamat dari perbuatan maksiat….
Apakah karena karir kau pertaruhkan agamamu ….
Apakah karena mempriroritaskan kuliah dengan ikhtilat kau pertaruhkan kejernihan hatimu….
Apakah karena karir dikantor atau aktivitas profesimu dengan kemaksiatan ikhtilat atau kemaksiatan yang ada didalamnya kau ambil resiko yang membahayakan agamamu dengan menunda menikah…
Tidak inginkah kita hidup dengan kehidupan sempurna sebagai seorang manusia dengan didampingi seorang istri sholehah atau ditemani seorang suami sholeh……..
Tidak inginkah kita merasakan hidup sakinah dengan ditemani seorang istri penyayang lagi penurut atau suami penyabar lagi bijaksana….
Tidak inginkah kita bahagia sebagaimana kebahagian seorang suami istri yang menggandeng buah hatinya pergi kemajelis ilmu…..
Tidak inginkah kita bahagia sebagaimana kebahagian keluarga fulan yang bercanda dengan buah hatinya…..
Tidak inginkah kita bahagia ketika kening kita dikecup anak-anak kita sebagaimana kebahagian sepasang suami istri yang dikecup keningnya oleh buah hatinya sambil berkata : ” Ummi….. Abi… Abdurrahman berangkat dulu yah, sekarang ada setoran Juz Amma sama Ustadz…
Jawablah wahai kaum muslimin….
Kalau kalian ingin bahagia sebagaimana mereka bahagia, kalau kalian ingin menjaga agama kalian sebagaimana mereka menjaga agamanya, lalu apa yang menjadi alasan kalian untuk menunda nikah tanpa alasan syar’i. Apakah kalian merasa aman dengan kemaksiatan yang telah tersebar, yang banyak orang terjatuh kedalamnya. Tahukah kalian yang menjadi alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim ‘Alaihissallam akan dirinya terjatuh kedalam perbuatan penyembahan berhala, sehingga beliau berdoa kepada Allah agar dijauhi dari penyembahan berhala, yaitu dikarenakan banyaknya orang yang terjatuh kedalam perbuatan tersebut. Bukankah Allah Ta’ala berfirman mengkabarkan tentang doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ
” dan jauhkanlah aku berserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala ” ( Qs. Ibrahim : 35 ).
Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Ketika Nabi Ibrahim merasa takut terhadap dirinya, maka beliaupun berdoa kepada Rabbnya agar di teguhkan diatas agama tauhid dan agar tidak dipalingkan hatinya sebagaimana dipalingkannya mereka. Karena beliau adalah seorang manusia seperti mereka dan seorang manusia tidaklah merasa aman dari fitnah “ ( Durus Nawaqidul Islam, Syaikh Shaleh Al Fauzan : 37)
Wahai saudaraku fillah, semoga Allah menjaga kita semua.
Tak tahukah kalian, bahwa disana ada seorang akhwat yang karena sangat takutnya terjatuh kedalam perbuatan maksiat atau karena khawatir terhadap keselamatan agamanya dia selalu berdoa ” Ya Allah jauhkanlah aku dari perbuatan maksiat dan karuniakanlah kepada diriku seorang suami sholeh “
Wahai ukhti fillah, tak tahukah kalian bahwa disana ada seorang ikhwan yang karena khawatir terjatuh kedalam perbuatan maksiat dia isi waktu terkabulnya doa dengan berdoa ” Ya Allah jauhkanlah aku dari perbuatan maksiat dan karuniakanlah kepada diriku seorang istri sholehah “
Wahai saudaraku fillah, bagaimana kalau ikhwan atau akhwat tersebut terjatuh kedalam perbuatan maksiat, lalu bagaimana kalau kita yang berada pada kondisi mereka. Bukankah kita merasa sedih kalau kita berbuat maksiat apakah kita tidak merasa sedih kalau saudara kita terjatuh kedalam perbuatan maksiat, lalu dimana ta’awun kita terhadap saudara kita, Bukankah Allah Ta’ala berfirman
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
” dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan “ ( Qs. Maidah : 2 )
Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Dan Allah akan menolong hambanya apabila hambanya menolong saudaranya ” (HR. Muslim dari Sahabat Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu )
Berkata Syaikh Shaleh Alu Syaikh Hafidzahullah : ” Didalam hadist ini terdapat anjuran kepada seseorang untuk menolong saudaranya dengan sebesar – besar anjuran, anjuran bahwasannya seorang hamba apabila menolong saudaranya maka Allah akan menolongnya, apabila kamu membantu kebutuhan saudaramu, Allah akan membantu kebutuhanmu, jika kamu membantu kaum muslimin, dan suatu saat kamu butuh bantuan maka Allah akan membantumu dan ini keutamaan dan pahala yang sangat besar “ ( Syarh Arbain Nawawi, Syaikh Sholeh Alu Syaikh : 391 )
Wahai saudaraku adakah yang lebih besar dari ta’awun yang dengan sebab ta’awun kita dapat menjadi sebab selamatnya saudara kita dari kemaksiatan…..Jawablah wahai saudaraku fillah…..
Karena dengan menikahnya dirimu, maka engkau sedang ta’awun dengan istri atau suamimu, karena dengan menikahnya dirimu menjadi sebab terjaganya seorang istri atau suami kedalam perbuatan maksiat. Berkata Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin Rahimahullah : ” Diantara keutamaan menikah adalah dengan menikah dapat menjaga kemaluan dirinya dan istrinya dan menjaga pandangannya dan pandangan istrinya, kemudian setelah keutamaan itu lalu dalam rangka memenuhi kebutuhan syahwatnya ” ( Syarhul Mumti’ Jilid 12 hal : 10 )
Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : “ Wahai manusia bertaqwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa menikah terkandung didalamya kebaikkan yang sangat banyak, diantaranya kesucian suami istri dan terjaganya mereka dari terjatuh kedalam perbuatan maksiat, Rasullullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah maka menikahlah dikarenakan dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan “ Al Hadist ( Khutbatul Mimbariyah Fil Munaasibaatil ‘Asriyah, Syaikh Shaleh Al Fauzan : 242 )
Mungkin diantara kalian ada yang berkata, saya belum mau menikah dan belum ada pikiran kearah sana, maka saya katakan semoga Allah menjaga kita semua dan mengkaruniakan kepada kita pendamping yang sholehah…amin, wahai saudara ku fillah bahwa disana ada pendapat dari ulama yang mengatakan hukumnya sunnah (dianjurkan) bukan sekedar mubah (boleh) bagi orang yang tidak berkeinginan untuk menikah atau melakukan hubungan suami istri, sementara dia mampu, dan ini pendapat yang benar dikarenakan beberapa hal, diantaranya dengan menikah dia dapat menjaga agama istrinya atau menjadi sebab istrinya terjaga dari perbuatan maksiat, begitu juga dikarenakan masuk kedalam keumuman dalil tentang diajurkannya menikah ” ( Silahkan lihat Malzamah Kitab Nikah Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafidzhullah )
Maka sudah saatnya untuk kita menikah, mencari pendamping sholehah, semanhaj, membina keluarga sakinah.
Maka sudah seharusnya kita ta’awun dengan menganjurkan orang untuk menikah dan membantunya sesuai dengan kemampuan kita.
Wahai kaum muslimin, semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua….
Tidak tahukah kalian beberapa banyak dari pemuda kaum muslimin yang terjatuh kepada perbuatan zina, sebuah dosa yang sangat besar yang pelakunya berhak dihukum 100 kali cambukkan dan diasingkan dari negerinya, Adapun kalau sudah menikah dihukum dengan dirajam sampai mati.
Tidak tahukah kalian bahkan ada yang terjatuh pada sebuah dosa yang pelakunya berhak dikenai hukuman dengan dilempar dari gedung yang paling tinggi kemudian dilempari batu, bahkan dosa liwath ini telah menyebar dinegeri ini. Naudzubillah
Tidak tahukah engkau bahwa kemaksiatan onani, ponogarafi, buka aurat, pacaran dianggap sesuatu hal yang biasa…
Wahai kaum muslimin kalau seperti ini kondisi bangsa ini, lalu apa yang menjadikan alasan kita untuk menunda nikah…….
kalau seperti ini kondisi bangsa ini lalu apa yang menjadi alasan para orangtua tidak menganjurkan anaknya untuk menikah……
Kalau seperti ini kondisi bangsa ini lalu apa yang menjadi alasan para orang tua melarang anaknya untuk segera menikah, katakanlah kepada diriku wahai kaum muslimin.
Bukankah kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan untuk diri kita….
Bukankah kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan untuk keluarga kita…
Bukankah para orangtua menginginkan keselamatan dan kebahagiaan untuk anak-anaknya…..
Bukankah kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan untuk kaum muslimin…
Lantas apa yang menghalangi kita untuk menikah…..
Lantas apa yang menghalangi kita untuk menganjurkan orang untuk menikah…..
Lantas apa yang menghalangi kita untuk membantu saudara kita untuk menikah…..
Bukankah Allah Ta’ala dan Rasul Nya menganjurkan kita untuk menikah, Allah Ta’ala berfirman :
فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
” Maka nikahillah perempuan yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja “ ( Qs. An Nisa’ : 3 )
Rasullullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah maka menikahlah dikarenakan dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dan barangsiapa tidak mampu menikah maka baginya untuk berpuasa hal itu sebagai tameng baginya “ ( HR. Bukahri dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu )
Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Didalam hadist ini terdapat anjuran dari Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassalam untuk para pemuda, khususnya para pemuda kaum muslimin, dikarenakan syahwat para pemuda lebih kuat dan kebutuhan untuk menikah disisi mereka lebih banyak, karena inilah dianjurkan bagi mereka untuk menikah “ ( Tashiilul Ilmaam Bifiqhil Ahaadist Min Bulugil Maram, Jilid 4 Kitab Nikah, hal 304 )
Berkata Syaikh Abdullah Al Basam Rahimahullah : ” Setiap pernikahan ini terkandung didalamnya manfaat yang agung, yang kemanfaatan tersebut kembali kepada suami istri, anak – anak, perkumpulan (komunitas), dan agama dengan kebaikan yang banyak ” ( Taudihul Ahkam Min Bulugil Maram, Jlid 5 Kitab Nikah hal 209 )
Oleh karena itu ada yang ingin kukatakan ” Saatnya untuk kita menikah “, menjalankan perintah Allah dan Rasul Nya, membina rumah tangga sakinah semoga dengan itu Allah menjaga agama dan diri kita dari kemaksiatan.
Diarsipkan di bawah: Komunitas anti dukun | Tag: belajar debus, belajar santet, Bos Eddy, debus, dedy cobuzeir, dukun, hipnotis romi ravael, hukum pelet, ilmu hitam, ilmu putih, ini puisi atau sajak, kafir, kesesatan aksi sihir dedy cobuzeir, ki gendeng pamukas, ki joko bodo, mama lauren, Marijan, Masuri, mbah maridzan, mbah roso, musyrik, nama dukun, nama-am dukun, nama-nama dukun, pelet, pengobatan pelet, pengobatan sihir, perkumpulan dukun sesat, permadi, romi ravael, ruqyah syar'iyah, santet, sihir
Menyapa Para Dukun dan Tukang Sihir di Indonesia
( sebuah perlawanan atas kesombongan dan upaya penyesatan aqidah ummat oleh para dukun dan tukang sihir )
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Dukun kampung dukun DKI
Hingga dukun gunung merapi
Bikin sesat ummat dinegeri
Kemungkaran yang harus diingkari
Ku bawakan Hadist Nabi
Untuk diamalkan sehari-hari
Dari Abu Said Al-Khudry Radiyalallahu ‘Anhu
berkata, Bahwasanya Rasulullah Shalalallahu ‘Alaihi Wassam
bersabda : “Barangsiapa diantara kalian melihat
kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya,
apabila tidak mampu maka dengan lisannya,
apabila tidak mampu maka dengan hatinya
demikian itu selemah-lemah iman “ ( HR. Muslim )
Berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan :
” Wajib bagi seorang penuntut ilmu untuk
memperhatikan permasalahan ini (bahaya
dukun dan tukang sihir) dan supaya kalian
memperingatkan dari bahaya mereka,
mengingkarinya, karena kebanyakan
manusia tersamar dari pengetahuan
tentang masalah ini dan tertipu oleh mereka
”(Iaanatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan,
jilid 1 hal 376)
Ku hadirkan nama-nama dukun dinegeri
Memperingatkan ummat agar berhati-hati
Dari kesesatan si dukun keji
Kesesatannya banyak sekali
Ki Gendeng Pamungkas
Pertemuan dukun Voodoo diikuti
Dengan bangga diwawancarai
Aku seorang dukun kata beliau sendiri
Yang mengikuti pertemuan dukun sedunia ini
Dasar Ki Gendeng ngga tahu diri
Kekafiran dijadikan kebanggaan diri
Kubawakan perkataan Mufti
Salah seorang ulama Saudi
Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahulah :
(Setelah menyebutkan beberapa hadist)
“Sebagaimana di dalam hadits ini sebagai
dalil atas kafirnya dukun dan tukang shir
dikarenakan keduanya mengaku mengetahui
perkara yang ghaib, yang demikian itu perbuatan
kekafiran dikarenakan keduanya tidak bisa
mendapatkan yang mereka inginkan kecuali dengan
Melayani jin dan beribadah kepadanya dari selain
Allah, yang demikian itu merupakan perbuatan
kekufuran dan syirik kepada Allah Subhanah,
dan jika membenarkan mereka mengetahui perkara
yang ghaib maka hukumnya seperti mereka (Kafir) “…
(Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha,
Syaikh Ibnu Baaz : 7-8 )
Dedy Cobuzeir
Dedy Cobuzeir bikin sensasi
Untuk ketenaran pribadi
Dan keuntungan duniawi
Mata ditutup nyetir mobil sendiri
Berlagak tahu perkara ghoib hakiki
Bengkokin sendok dengan sihir yang dipelajari
Aksi jalan di air dia jalani
Memamerkan sihir seenak hati
Nyesatin ummat di negeri
Kemungkaran yang harus diingkari
Simaklah perkataan Alim Rabbani
Pemerintah harus larang dedy punya aksi
Berkata Syaikh Abdul aziz bin Baaz Rahimahullah:
” Oleh karena itu kepada para penguasa dan mereka yang
Mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing wajib mencegah
segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya.
dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang
berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-
pasar dan tempat-tempat lainnya. Dan secara tegas menolak
segala apa yang mereka lakukan” ((Hukmu Sihri wal Kaahanah
wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz : 7-8 )
Wahai Dedy yang sombong lagi bangga diri
Budak iblis ngga tahu diri
Nyembah Syaithan agar dilayani
Untuk menjalankan aksi sihir cari sensasi
Wahai ummat jaga iman dihati
Sihir perkara yang bahaya sekali
Berkata Syaikh Muhammad Al Imam Hafidahullah:
Banyak dari kaum muslimin yang tidak mengetahui
Bahayanya perbuatan tukang sihir atas aqidah
Islamiyah yang itu merupakan pondasi dari agama
seorang muslim yang dengan hilangnya aqidah hilangnya
agama seseorang muslim (Irsaadun Naadzor Ila Ma’rifati
Alaamati Saahir : 3 )
Mbah Marijan
Mbah Marijan dukun gunung merapi
Makin tua makin jadi
Dukun kok dijadikan maraji
Ummat telah kehilangan jati diri
Tugas Dai untuk membenahi
Aqidah ummat yang pertama kali
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ
” Katakanlah : Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku, berdakwah kepada Allah dengan hujah
(keterangan) yang nyata” ( Qs. Yusuf : 108 )
Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan : Wajib bagi setiap muslim setelah apa yang Allah karuniakan kepadanya berupa pengetahuan aqidah islamiyah ini dan berpegang teguh dengannya untuk berdakwah mengajak manusia kepadanya. untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu’.(An-Nahl: 36) ( Irsaadu Ila Shahihul I’tiqad War Rad ‘Ala Ahli Syirki Wal Ilhaad : 17 )
Bos Eddy ( Eddy Rusmanto )
Bos Eddy paranormal terkenal sekali
Guru besar di padepokkan Pati
Jadi dukun karena sakit hati
Cintanya ditolak si dambaan hati
Belajar ilmu pelet di Pati
Jadilah dukun sejati
Dasar ngga punya harga diri
Karena perempuan kesesatan dibeli
Dasar gila sidukun satu ini
Menghabiskan 200 juta setahun untuk promosi
Perdukunan jadi tersebar di negeri
Kemungkaran yang harus diingkari
Pemerintah harus menutup perdukunan di negeri
Berkata Syaikh Abdul aziz bin Baaz : ” Oleh karena itu
kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai
pengaruh di negerinya masing-masing wajib mencegah
segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya.
dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang
berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-
pasar dan tempat-tempat lainnya. Dan secara tegas menolak
segala apa yang mereka lakukan” ((Hukmu Sihri wal Kaahanah
wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz : 7-8 )
Perdukunan sangat berbahaya sekali
Maksiat yang sangat besar sekali
Jangan sampai mendatangi
Wajib bagi ummat berhati-hati
Agar tidak nyesal diakhirat nanti
Permadi
Selain Bos Eddy ada Permadi
Lain orang satu profesi
Sama – sama berjiwa keji
Kekejiannya sudah terbukti
Wahai engkau permadi
Dukun engkau jadikan profesi
Meramal sesuatu yang akan terjadi
Nyesakan umat dinegeri
Wahai ummat jangan hilangkan iman dihati
Dengan percaya ramalan Permadi
Ku bawakan hadist Nabi
Sebagai dalil nasehatku ini
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, berkata :
Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam
bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang
ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkan
nya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi
Wassallam “ ( HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya
dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh
Syaikh Al-Al Bany ).
Jangan kotori iman dihati
Dengan bertanya walau sekali
Walau tanpa membenarkan dihati
Kubawakan petunjuk Nabi
Untuk bersama kita renungi
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
sebagian istri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam,
Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda :
“Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan
sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima
sholatnya selama empat puluh malam, ( HR. Muslim )
Mama Lauren
Mama lauren sering di televisi
Diminta meramal apa yang akan terjadi
Berlagak tahu perkara ghoib hakiki
Sesatkan umat banyak sekali
Wahai ummat dimana engkau dengan Kalam Ilahi
Dimana engkau dengan hadist Nabi
Kubawakan untuk direnungi
Sebagaimana Allah berfirman :
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللهُ
“Katakanlah tidak ada seorangpun di langit dan
di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib
kecuali Allah” (Qs. An-Naml : 65 )
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,
berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam
bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi
tukang ramal atau dukun, membenarkan apa
yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir
terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Sholallahu Alaihi Wassallam “
( HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan
disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan
oleh Syaikh Al-Al Bany )
Mama Lauren si peramal keji
Meramal apa yang akan terjadi
Seperti tampak baik hati
Hakekatnya tukang tipu ngga tahu diri
Kubawakan petunjuk nabawi
Untuk bongkar mama Lauren punya profesi
Dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘Anha bahwasannya
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :
” Bahwa malaikat turun ke awam, kemudian
menyebutkan perkara yang ditaqdirkan di langit
maka syaithan mencuri dengar setelah mendengarnya
kemudian melapor ke para dukun, kemudian menambah
kedustaan bersama berita tersebut 100 kedustaan
dari diri mereka ” ( HR. Bukhari )
Ki Joko Bodo
Ki Joko Bodo si dukun keji
Nyembah syaithan dengan sesaji
Dari mantra-mantra hingga jampi-jampi
Menarik syaithan punya simpati
Agar syaithan mau melayani
Supaya jadi dukun sejati
Kubawakan perkataan mufti
Salah seorang ulama Saudi
Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh Hafidzahullah:
” Setiap tukang sihir memperbudak dirinya
kepada syetan dengan melayaninya. Tidaklah
mungkin seorang tukang sihir menjadi tukang
sihir sejati kecuali apabila mendekatkan dirinya
kepada syaithan. Maka dengan ini sihir termasuk
perbuatan syirik kepada Allah ” (Tamhiid syarah
kitab tauhid Syaikh Sholeh Alu syaikh : 287 )
Ki Joko Bodo suka sensasi
Dasar dukun ngga tahu diri
Iklan sms menjadi bukti
Nyesatkan ummat di negeri
Wahai ummat ingatlah adzab Ilahi
Neraka apinya panas sekali
Adzab kuburpun akan menanti
Kalau percaya si dukun keji
Kubawakan Kalam Ilahi
Untuk menjadi peringgatan dihati
فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى
” maka Aku peringatkan kamu dengan
neraka yang menyala-nyala ” ( Qs. Al-Lail : 14 )
إِنَّ لَدَيْنَا أَنكَالًا وَجَحِيمًا وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا
” Sungguh disisi Kami ada belenggu-belenggu
(yang berat) dan neraka yang menyala-nyala` ”
” dan (ada) makanan yang menyumbat dikerongkongan
dan adzab yang pedih ” ( Qs. Al Muzzammil : 13-14 )
Romi Ravael
Romi Ravael ahli hipnotis yang digemari
Tampang keren jadi modal tersendiri
Ahli hipnotis cari sensasi
Hipnotis 5 ribu orang tercatat di MURI
Dasar tukang sihir ngga tahu diri
Pakai nama hipnotis untuk ngelabui
Nipu ummat banyak sekali
Aksi sihir Romi bahaya sekali
Iman bisa hilang dihati
Kalau meridhoi sihir dihati
Berkata Syaikh Muhammad Bin
‘Abdul Wahhab Rahimahullah,
: “Pembatal keislaman yang ketujuh :
SIHIR dan diantara jenis sihir adalah
as-sharf dan al-athaf (pelet) barangsiapa yang
melakukannya atau ridho dengannya maka dia
telah kafir, dalilnya adalah Firman Allah Ta’ala :
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ
Artinya : “Dan tidaklah kami megajarkan (sihir)
kepada seorang pun sampai kami berkata
sesungguhnya kami adalah fitnah (ujian), maka
janganlah kalian kafir” ( QS. Al-Baqarah : 102 )
Wahai ummat jaga iman dihati
Jangan lupa jaga diri
Menangkal hipnotis dengan ayat kursi
Muawidzatain bermanfaat sekali
Dzikir pagi sore dibaca tiap hari
Sihir tak akan mempan kenai diri
Dengan idzin Allah Rabbul Izati
ِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
” Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan
Sihirnya kecuali dengan idzin Allah” ( Qs. Al-Baqarah : 102 )
Mbah Roso
Mbah Roso terkenal sekali
Tukang sihir yang sering dicari
Raja pelet dia digelari
Jual pelet tingkat tinggi
Selain pelet kejahatannya banyak sekali
Nyesatin umat di negeri
Kemungkaran yang harus diingkari
Dengan menjelaskan hukum pelet secara syar’i
Berkata Syaikh Muhammad Bin ‘Abdul Wahhab
Rahimahullah : “Pembatal keislaman yang ketujuh
SIHIR dan diantara jenis sihir adalahas-sharf
dan al-athaf (pelet) barangsiapa yang melakukannya
atau ridho dengannya maka dia telah kafir, dalilnya
adalah Firman Allah Ta’ala :
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ
Artinya : “Dan tidaklah kami megajarkan (sihir)
kepada seorang pun sampai kami berkata
sesungguhnya kami adalah fitnah (ujian), maka
janganlah kalian kafir” ( QS. Al-Baqarah : 102 )
Berkata Syaikh Ahmad An Najmi Rahimahullah :
Pelet adalah apa yang dibuat untuk menjadikan seorang
suami mencintai istrinya atau seorang istri mencintai
suaminya. Dan ini dikalangan kami dikenal dengan hidaayah,
dan ini semua tidaklah boleh hukumnya. Bahkan jika seorang
melakukan yang demikian itu bahwasannya dia melakukan
macam dari perbuatan sihir dan sihir perbuatan haram dan tidaklah seorang melakukan nya kecuali menjadi kafir (Syarhul Muujazul Mumahadu Khooliq Mumajad Syaikh Ahmad An Najmi : 65 )
Bentengi diri bermanfaat sekali
Dari pelet si dukun keji
Dengan petunjuk nabawi
Doa mau dan bangun tidur dibaca tiap hari
Dzikir pagi sore penting sekali
Mu’awidzatain bermanfaat sekali
Pengobatan sihir dan pelet dengan ruqyah syar’i
Baca Al-Baqarah bermanfaat sekali
Selain tindakan pencengahan baik sekali
Untuk pengobatan yang terkena pelet si dukun keji
Masuri
Masuri sibiang keladi
Dukun berasal dari pati
Makin tua makin jadi
Nulis buku sihir banyak sekali
Kesesatan telah terjadi
Akibat ulah dukun Masuri
Ilmu sihir tersebar dinegeri
Wahai umat jaga iman dihati
Jangan baca buku karya Masuri
Ilmu hitam dan putih haram dipelajari
Keduanya ilmu sihir yang harus dijauhi
Berkata Syaikh Muhammad Al-Imam Rahimahullah :
“Macam sihir yang menggunakan bantuan syaitan,
ada tiga macam :
1. Sihir Hitam ( Black Magic / Ilmu Hitam )
2. Sihir Merah ( Red Magic / Ilmu Merah)
3. Sihir Putih (White Magic / Ilmu Putih)
Sihir merah dan hitam , macam sihir ini tegak
dibangun keduanya di atas mencela Allah,
RasulNya, ayat-ayat-Nya dan menghina
Kehormatan Al-Qur’an sebagaimana hal ini
disebutkan oleh seorang tukang sihir yang
bernama At-Thuhiy dalam kitabnya yang
berjudul ” Sihir Merah” . penyihir dengan
macam ini melakukan berbagai perkara
diantaranya menulis ayat Al-Qur’an dan
meletakkannya di tempat-tempat yang najis
(kotor) seperti betis orang sakit bahkan
meletakkan di kemaluan (semoga Allah
melindungi kita dari perbuatan itu) dan perbuatan
ini terkandung pelecehan terhadap Al-Qur’an,
tidaklah mungkin seorang muslim tidak mengetahui
perbuatan tersebut (hal itu termasuk pelecehan terhadap
Al-Qur’an). Dan hal ini sejelek-jelek jalan kekufuran.
Sihir putih adalah ibarat atau ungkapan dari perbuatan
Ta’awwudz Syirkiyah (memohon perlindungan yang
terdapat kesyirikkan di dalamnya) untuk menolak sihir
dan selainnya. Sungguh ta’awudz ini telah tersebar
di kebanyakkan negara-negara Islam dan digunakannya
sihir putih ini adalah dikarenakan sebab kuatnya
penyebaran sihir hitam dan merah” ( Irsyadun Nadzor ila
Ma’rifati alamattis Saahir, Syaikh Muhammad Al-Imam : 11)
Kubawakan Kalam Ilahi
Bersama hadist Nabi
Dengan penjelasan Alim Rabbani
Hukum sihir secara syar’i
Simak dan pahami
Berkata Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin :
“Mempelajari sihir dan mengajarkannya termasuk perbuatan
kekufuran, yang nampak dari dzohir ayat kekafiran dengan
kekafiran yang besar yang mengeluarkan dari agama, berdasarkan
firman Allah ”
وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
Hanya syaithan-syaithan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)
mereka mengajarkan sihir kepada manusia.( Qs. Al-Baqarah : 102 )”
(Tafsirul Qur’an Syaikh Ibnu Utsaimin :33 )
Berkata Syaikh Ahmad An – Najmi Rahimahullah : ” Sungguh Allah
Subhanhu wa Ta’ala telah mengkhabarkan bahwa mempelajari sihir
hukumnya kafir, dan melajimkan yang demikian itu bahwa mengamalkan
sihir hukumnya kafir.” (Syarh Nawaqidul Islam : 257)
Berkata Syaikh Yahya Al Hajuri : ” Pada Hadist dari Abi Huhairoh
Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasululloh shallallahu ‘Alaihi wassalam
bersabda : ” Jauhilah oleh kamu dosa yang membinasakan :
” Syirik kepada Allah, sihir….” 7 dosa yang membinasakan ini
diantaranya sihir, dan sihir termasuk dari dosa yang membinasakan,
bahkan sihir termasuk perbuatan kekufuran ( Syarah Kitab
Tauhid, Kaset No 8 )
Ku akhiri coretan ini
Untuk memerangi dukun dinegeri
Menjelaskan kesesatan si dukun keji
Yang sombong lagi bangga diri
Semoga Allah memutuskan leher para dukun dinegeri
Dan dukun di dunia ini
Amin…
Catatan :
Mufti (ulama yang memberikan fatwa)
Ghoib dibagi dua : 1. Ghoib hakiki : ghoib yang tahu hanya Allah semata, seperti apa yang akan terjadi besok dan lain-lain
2. Ghoib nisbi : Yaitu disatu sisi bukan perkara yang ghoib jika manusia mengetahui atau menyaksikan pada kejadian tertentu misalnya dan disisi lain pada manusia yang tidak mengetahui atau menyaksikan merupakan perkara yang ghoib. Misalnya : Ada kejadian pencopetan pada hari ini jam 10 pagi diterminal Senen
Bagi yang ada dilokasi kejadian pencopetan dan melihat kejadiannya bukanlah perkara yang ghoib, tapi bagi yang tidak berada diterminal senen atau berada di yaman maka kejadian itu perkara yang ghoib. Karena tidak mengetahui atau menyaksikannya. Maka barangsiapa yang mengaku mengetahui perkara yang ghoib baik ghoib hakiki ataupun nisbi maka dia adalah dukun.
Mu’awidzatain (Qs. Al Falaq dan An Naas )
Pati nama daerah di Jawa Tengah
MURI : Museum Untuk Rekor Indonesia
Maraji : Di jadikan rujukan pada sebuah permasalahan
Di perkenankan untuk mengambil setiap artikel yang ada diblog ini, dengan tidak merubah makna dan mencatumkan sumber pengambilannya serta bukan dalam tujuan komersial.
Catatan : Ada sedikit perubahan dan tambahan pada artikel ini, ana berharap kepada yang mengcopy paste artikel ini sebelum ada tambahan dan perubahan untuk mencopy paste yang ada tambahannya , agar bisa lebih berfaedah. Jazakallahu Khoir
Diarsipkan di bawah: Bantahan Ilmiah | Tag: aqidah, bantahan gus sholeh tentang ponari dan hasyim muzadi, fenomena ponari, gus sholeh, hasyim muzadi, hukum ponari sama dengan menziarai kubur, jombang, menyapa ponari, nadhatu Ulama, NU, Ponari, ponari dan semisalnya harus ditutup, Sebuah catatan atas perkataan ngawur dari Gus Sholeh, Sebuah catatan atas perkataan ngawur dari Hasyim Muzadi, tauhid
Sebuah catatan atas perkataan ngawur dari Hasyim Muzadi dan Gus Sholah tentang Fenomena Ponari
Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty
Fenomena Ponari benar-benar membuat gempar bangsa ini, tak pelak semua elemenpun memperlihatkan reaksinya, orang yang tidak perduli atau melalaikan agamanya orang yang paling pertama terseret ke kelamnya kesyirikan di fenomena Ponari, sebagian para pebisnis dan ahli dunia orang yang terdepan meraup keuntungan di fenomena Ponari walaupun aqidah ummat menjadi taruhan dan elemen yang lainya dari bangsa inipun berkomentar sesuai dengan latar belakang kehidupan dan pendidikan masing-masing tak ketinggalan seorang yang ditokohkan Hasyim Muzadi dan Gus Sholeh pun berkomentar dengan komentar ngawur tentang fenomena Ponari, tulisan sederhana ini sebuah nasehat dan upaya membendung dampak dari perkataan mereka berdua dan perkataan yang semisal mereka, karena tidak menutup kemungkinan ada yang mengambil perkataan mereka berdua atau yang semisal dengan perkataan mereka, dan menyakini sebagai kebenaran dan mengamalkannya.
Pertama : Perkataan Hasyim Muzadi dan Gus Sholah sesuatu yang tidak aneh jika keluar darri lisan mereka
Pengetahuan tentang latar belakang kehidupan dan pendidikan mereka berdua, berupa pengetahuan sejauh mana mereka berdua mengetahui tentang permasalahan aqidah yang benar, pengetahuan tentang makna Laa Ilaha Illallah serta makna tauhid dan syirik maka tidaklah terlalu aneh kalau keluar komentar seperti itu dari mereka. Berdasarkan hal diatas dan apa yang keluar dari lisan mereka tentang fenomena Ponari maka saya tidak ragu untuk mengatakan hal ini di latarbelakangi dari ketidaktahuan mereka tentang makna tauhid dan Laa Ilaha Ilallah dengan benar yang berakibat kurang mengetahui hakekat dari perbuatan syirik, karena ketidaktahuan mereka tentang makna tauhid yang benar berimbas kepada pemahaman yang kurang tentang hakikat dari kesyirikan. Bagi mereka atau yang semisal mereka, tauhid hanyalah tauhid Rububiyah, yaitu menyakini Allah menciptakan langit dan bumi, hanya Allahlah yang menyembuhkan dan lain – lain dari makna tauhid Rububiyah, maka bagi mereka syirik hanyalah syirik dalam Rububiyah, syirik bagi mereka hanyalah jika menyakini ada pencipata selain Allah atau keyakinan Ponari dan batunyalah yang dapat menyembuhkan selain Allah. Jelas keyakinan ini keyakinan syirik, tapi syirik tidak terbatas pada syirik Rububiyah semata ada juga syirik pada Uluhiyah bahkan ini yang banyak terjadi.
Kedua : Hasyim Muzadi dan Gus Sholah antara pemahaman yang benar tentang tauhid dan syirik
Penting bagi saya untuk menjelaskan pengertian dan makna serta hakekat dari tauhid dan syirik dengan pemahaman yang benar, untuk memudahkan melajutkan pembahasan selanjutnya.
Pengertian Tauhid :
Secara Bahasa : Berasal dari kata (wahada – yuwahidu tauhidan, ja’ala syai’i wahidan) maknanya menjadikan sesuatu menjadi satu (Taisirul ‘Azizul Hamid, Syaikh Sulaiman Alu Syaikh)
Secara Syar’i : Mentauhidkan Allah dengan apa-apa yang menjadikan kekhususan bagi Allah, didalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan Asma wa Sifat-Nya ( Qaulul Mufid Syarh Kitabut Tauhid , Syaikh Ibnu Utsaimin : 11 dan Syarh Kasyfu Subhat, Syaikh Ibnu Utsaimin : 21 )
Pembagian Tauhid :
Para ulama Ahlus Sunnah membagi tauhid menjadi tiga. Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah : ” Bahwa Tauhid yang dengannya Allah mengutus Rasul dan menurunkan dengannya kitab dibagi menjadi 3 macam, menurut penelitian nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah dan menurut kenyataan orang-orang yang dibebani syariat….yang pertama tauhid rububiyah, yang kedua tauhid ibadah dan dinamakan juga tauhid uluhiyyah dan yang ketiga tauhid asma’ wa sifat “ (Ta’liq Aqidah Thahawiyah, Syaikh Ibnu baaz dengan diringkas . hal : 45)
Tauhid Rububiyah adalah : ” Mentauhidkan Allah di dalam perbuatannya yaitu mengilmui dan meyakini bahwa Allah esa dalam penciptaan, memberi rejeki dan pengaturan” ( Silahkan lihat ta’liq Aqidah Thahawiyah, Syaikh Ibnu baaz dan Qoulu Mufied fi adilatit tauhid serta Jamiul Farid Syarah kitabut tauhid )
Dalilnya firman Allah ta’ala :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)
Macam yang pertama ini diakui dan diyakini oleh orang-oang Musyrik zaman dahulu dan tidak menyebabkan masuknya ke dalam Islam. Dalilnya adalah firman Allah :
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Artinya : “ Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)
Sangat jelas sekali ayat ini menjelaskan orang musyrik zaman dahulu mengakui bahwa Allah sebagai penciptanya tapi tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Sedikit sekali orang yang mengingkari Tauhid Rububiyah ini sebagaimana berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al-Wushoby : ” Tidak ada yang mengingkari macam tauhid ini seorangpun kecuali fir’aun, Namrud dan Dahriyah pada zaman dahulu, komunis pada zaman sekarang. Dan keingkarannya terhitung kafir mulhid (Qoulu Mufied fi adilatit tauhid hal : 79)
Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan hamba, yaitu dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata tidak ada sekutu baginya dengan seluruh macam-macam ibadah seperti cinta, khouf (takut), roja’, tawakkal , doa dan selainnya dari macam-macam ibadah (Lihat Qoulu Mufied fi adilatit tauhid dan jamiul Farid Syarah kitabut tauhid)
Sebagimana firman Allah :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)
Tauhid uluhiyah inilah yang diingkari oleh orang musyrik zaman dahulu, dalilnya adalah sebagaimana firman Allah ketika nabi berkata kepada kaumnya :” ucapankanlah kalian لا إِلَهَ إِلا اللهُ Supaya kalian beruntung, mereka berkata :
أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
Artinya : ” Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi sesembahan yang satu saja, sesungguhnya ini benar-benar sesuatu hal yang sangat mengherankan “ (QS. Shaad : 5)
Tauhid asma wa sifat yaitu beriman dengan apa-apa yang Allah sifatkan untuk dirinya di dalam kitabnya dan apa yang Allah disifati dengannya oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dari nama-namaNya yang husna dan sifatnya yang ulya. Menetapkan sebagaimana adanya, tanpa takhrif (menyelewengkan makna dari sifat Allah ke makna yang batil), tanpa ta’til * meniadakan makna yang benar) tanpa takyif (menanyakan bagaimana hakikat sifat Allah) tanpa tamsil (menyamakan sifat Allah dengan makhluknya )
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)
Pengertian Syirik : Menyamakan selain Allah dengan Allah didalam hal – hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. (Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi Darus Shamiy, hal : 37 )
Syirik dibagi dua :
Pertama : Syirik Akbar (besar) yaitu yang mengeluarkan pelakunya dari islam dan mengekalkan pelakunya didalam neraka jika mati belum bertaubat darinya.
Kedua : Syirik Asghor (kecil) yaitu yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam tetapi mengurangi tauhid dan sarana yang dapat menjerumuskan kesyirik Akbar. (Aqidah Tauhid, Syaikh Sholeh Al Fauzan : 77, dengan diringkas )
Syirik bisa terjadi dalam Rububiyah, uluhiyah dan Asma Wa Sifat
Pertama : Syirik dalam Rububiyah : Yang demikian ini seperti keyakinan seseorang ada selain Allah sebagai pencipta, atau pemberi rezeki atau menghidupkan dan mematikan dan yang selainnya dari sifat Rububiyah Allah
Kedua : Syirik pada Uluhiyah : Yang demikian itu seperti seseorang memalingkan ibadah kepada selain Allah siapapun orangnya, seperti menyembelih, nadzar, doa sumpah dan selainnya
Ketiga : Syirik pada Asma Wa Sifat yang demikian itu seperti seseorang mengsifati sebagian dari makhluq Allah dengan sebagian sifat yang merupakan kekhususan bagi Allah Ta’ala seperti ilmu ghoib (mensifati selain Allah mengetahui ilmu ghoib-penj) dan selainnya dari sifat yang khusus bagi Rabb kita Subhanah ( Qaulul Mufid Fi ‘Adilatit Tauhid, Syaikh Muhammad Al-Whusoby : 95 )
Syirik bisa terjadi pada keyakinan, ucapan dan perbuatan
Perlu diketahui bahwasannya syirik bisa terjadi pada keyakinan semata tanpa dibarengi dengan ucapan atau perbuatan, begitu juga bisa terjadi pada ucapan semata tanpa dibarengi dengan keyakinan atau perbuatan, begitu juga bisa terjadi pada perbuatan semata tanpa dibarengi dengan ucapan atau keyakinan.
Pertama : Syirik terjadi pada keyakinan
Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Barangsiapa yang beranggapan boleh beribadah bersama Allah dan beribadah kepada yang lainnya dari malaikat atau nabi atau pohon atau jin atau yang lainnya maka dia telah kafir, apabila dia ucapkan dengan lisannya maka dia telah kafir dengan ucapan dan sekaligus keyakinanya dan apabila dia melakukan hal itu maka dia telah kafir dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan sekaligus. Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal itu ( Al Qawadihu Fil Aqidah syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz, Wasailu Salamatu Minha : 18 )
Kedua : Syirik dalam ucapan
Seperti doa kepada selain Allah, sebagaimana dalam sebuah hadist Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasululloh shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam adabul mufrod dishahihkan Syaikh Muqbil di Shahihul musnad mima laysa fi shohihain)
Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Adapun berdoa kepada orang mati, atau yang tidak hadir dihadapannya yang tidak mendengar ucapanmu, atau berdoa kepada patung, atau jin atau pohon dan yang selainnya maka ini perbuatan syirik orang musrik ” (Syarh Al-Ushulus Tsalasah : 14 )
Ketiga : Syirik dalam perbuatan
Seperti Menyembelih hewan dalam rangka taqaruban ( mendekatkan diri ) untuk selain Alloh, seperti untuk jin.
Sebagaimana Allah berfirman :
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
” Katakanlah (Muhammad) sesungguhnya Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb semesta alam” (QS. Al-An’am : 162)
Yang dimaksud dengan َنُسُكِي disini adalah sembelihan
Berkata Syaikh Sholih Al-Fauzan : ” Diambil faedah dari ayat ini bahwa Sholat dan sembelihan termasuk ibadah” dan beliau berkata juga : “Menyembelih untuk selain Allah syirik besar dikarenakan menyembelih digandengkan dengan sholat dimana barangsiapa yang sholat untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik, demikian juga barangsiapa yang meyembelih untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik ( Mulakhos Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Al-Fauzan : 95 )
Allah ta’ala berfirman :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
” Laksanakanlah sholat karena Rabbmu dan berkurbanlah ” (QS. Al-Kautsar : 2)
Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahulloh : ” Dan ini menunjukkan menyembelih dan sholat adalah ibadah, dikarenakan keduanya diperintahkan, barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik, sebagaimana kalau sholat diperuntukkan untuk selain Alloh. Maka barangsiapa yang menyembelih untuk berhala, Jin dan selain mereka maka dia telah berbuat syirik” . ( Syarh Kitabit Tauhid, Hal : 68 ) Pemahaman tentang makna tauhid dan hakikat syirik perkara yang sangat penting, jadi pahamilah dengan baik dan benar. Dengan memahami pembahasan diatas sedikit banyak Insya Allah kita dapat melihat kengawuran perkataan Gus Sholeh, Hasyim Muzadi dan semisal mereka.
Ketiga : Penjelasan ngawur dan sesatnya perkataan Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi
Perkataan Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi
INILAH.COM, Jombang – Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah mengiaskan fenomena dukun cilik Ponari, dengan seseorang yang sedang melakukan ritual ziarah kubur.
“Untuk menjawab pertanyaan, apakah berobat ke tempat Ponari itu musyrik atau tidak, kita bisa melihat niatan orang yang berziarah kubur,” katanya di Jombang, Jawa Timur, Minggu (22/2).
Ia menjelaskan, kalau seseorang berobat ke tempat Ponari dan meyakini bahwa batu yang dibawa bocah berusia sembilan tahun itu bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, sudah pasti orang tersebut telah melakukan perbuatan syirik.
“Akan tetapi kalau seseorang menganggap bahwa batu Ponari itu hanya sebagai wasilah (perantara), sedang yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, maka sama sekali tidak ada perbuatan menyekutukan Allah,” kata cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU),
Perbuatan itu sama halnya dengan orang berziarah kubur. “Kalau orang berziarah kubur lalu berdoa dan meminta kepada ahli kubur, jelas dia berbuat kemusyrikan,” imbuh Gus Sholah.
Oleh sebab itu, metode pengobatan yang dilakukan dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang itu, tidak bisa begitu saja dinilai syirik karena mengandung unsur-unsur takhayul begitu saja.
“Harus arif dalam menilai pengobatan yang dilakukan Ponari. Tidak bisa melihat dari satu sudut pandang saja,” kata adik kandung mantan Presiden Abdurrahmah Wahid itu.
Fenomena Ponari itu, lanjut Gus Sholah, bukan merupakan ancaman serius terhadap syariat Islam sehingga tidak seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa syirik.
“Demikian pula terhadap masyarakat Jombang yang dikenal religius karena banyaknya pondok pesantren, sama sekali tidak terusik dengan fenomena Ponari itu,”
Justru dia menyarankan masyarakat Desa Balongsari untuk bergotong-royong dalam menertibkan antrean pasien agar tragedi yang menewaskan empat orang pasien akibat terinjak-injak ribuan pasien lainnya, tidak terulang. [*/dil]
Jombang (GP-Ansor): Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, mengatakan : ” Praktek Ponari tidak perlu ditutup yang perlu dilakukan itu penertiban antrean pasien agar tidak terjadi korban ” Menurut Hasyim Muzadi; ” syirik dan tidaknya pengobatan yang di lakukan dukun cilik Ponari tergantung niat masing-masing “. katanya usai menghadiri wisuda sarjana di Unversitas Darul Ulum Jombang, Minggu (22/2/2009).
Penjelasan Perkataan ngawur mereka
Perkataan Gus Sholah : “Untuk menjawab pertanyaan, apakah berobat ke tempat Ponari itu musyrik atau tidak, kita bisa melihat niatan orang yang berziarah kubur,”
Perkataan Hasyim Muzadi : “Syirik tidaknya pengobatan yang dilakukan dukun cilik Ponari tergantung pada niat masing – masing pasien “
Maka kita katakan :
Pak Hasyim dan Pak Gus, syirik itu tidak hanya pada niat dan hati seseorang, syirik itu bisa terjadi dihati atau pada niat seseorang, seperti keyakinan seseorang yang menyembuhkan pasien Ponari adalah Ponari itu sendiri bukan Allah, adapun contoh pada niat seperti sholat dalam rangka pamer atau supaya di puji calon mertua atau beribadah kepada Allah dalam rangka riya, begitu juga syirik bisa terjadi pada ucapan seperti bersumpah dengan nama selain Allah, begitu juga syirik bisa terjadi pada perbuatan seperti menyembelih untuk selain Allah. Mari kita simak perkataan seorang Mufti kerajaan Saudi dahulu Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Barangsiapa yang beranggapan boleh beribadah bersama Allah dan beribadah kepada yang lainnya dari malaikat atau nabi atau pohon atau jin atau yang lainnya maka dia telah kafir, apabila dia ucapkan dengan lisannya maka dia telah kafir dengan ucapan dan sekaligus keyakinanya dan apabila dia melakukan hal itu maka dia telah kafir dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan sekaligus. Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal itu ( Al Qawadihu Fil Aqidah, Wasailu Salamatu Minha : 18 ).
Maka jika perbuatan tersebut termasuk perbutan kesyirikan tidak menjadi halal dengan niat seseorang, sebagaimana maksiat tidak menjadi halal dengan niat seseorang yang melakukan maksiat. Apakah bapak akan mengatakan kepada seseorang yang maling kerumah bapak misalnya, apa niat kamu maling kerumah saya, maka simaling menjawab untuk membantu ibu saya yang sakit tidak punya biaya untuk berobat, lalu bapak mengatakan oh….tidak apa-apa karena kamu niatnya baik ketika maling dirumah saya…..!!!! …besok maling lagi yach…. kerumah saya atau kerumah yang lain…!!!!, tapi jangan sampai ketahuan yach …!!! Apakah bapak akan mengatakan, kepada simaling perbuatannya tergantung niatnya, karena niatnya untuk berbuat baik dan membantu kedua orang tuanya, maka perbuatan maling jadi halal….!!!! Jelas sekali perkataan bapak sangat ngawur dengan mengatakan orang yang berobat kePonari tergantung niatnya. Sebagaimana ngawurnya jika bapak mengatakan seperti perkataan kepada maling pada contoh diatas, bahkan perkataan bapak tentang hukum berobat kepada Ponari lebih sangat ngawur dan bahayanya.
Berkata Gus Sholah : ” kalau seseorang berobat ke tempat Ponari dan meyakini bahwa batu yang dibawa bocah berusia sembilan tahun itu bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, sudah pasti orang tersebut telah melakukan perbuatan syirik “
Maka kita katakan :
Kalau menyakini batu yang menyembuhkan penyakit para pasien Ponari, benar ini merupakan kesyirikan bahkan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 )
Allah Ta’ala juga telah berfirman dalam ayat lain :
ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )
Kenapa hal ini merupakan termasuk syirik…?? karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah kepada selain Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )
Berkata Gus Sholah ” Akan tetapi kalau seseorang menganggap bahwa batu Ponari itu hanya sebagai wasilah (perantara), sedang yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, maka sama sekali tidak ada perbuatan menyekutukan Allah,”
Maka Kita katakan :
Wahai pak Gus Sholah, semoga Allah memberi hidayah dan pemahaman agama yang benar kepada kita semua. Kalau meyakini Ponari dan batunya yang menyembuhkan penyakit para pasiennya itu merupakan perbuatan syirik akbar (yang besar) yang mengeluarkan pelakunya kedalam islam, sebagaimana pada penjelasan diatas dan pada artikel saya tentang Ponari. Lalu kalau hanya menganggap batu ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit para pasiennya sedangkan dia menyakini yang menyembuhkan hanyalah Allah semata maka yang seperti ini merupakan kesyirikan dengan kesyirikan yang kecil tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam, tapi merupakan dosa yang sangat besar. Kenapa bisa dihukumi sebagai syirik kecil ? maka kita katakan, jika seseorang menyakini Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab, Ponari bukanlah sebab kesembuhan berbagai penyakit pasiennya
· Bukankah Ponari tidak menetahui Tibun Nabawi (pengobatan Nabi), seperti bekam, minum habbatu sauda dan lain-lain
· Bukankah Ponari bukan seorang dokter
· Bukankah Ponari tidak memiliki sedikitpun dari ilmu kedokteran
· Bukankah Ponari tidak memiliki ilmu pengobatan tradisional, seperti jamu-jamuan, atau refeleksi
· Sudah begitu dengan tidak mengetahui dan mempunyai kemampuan apa-apa dari pengobatan nabawi, kedokteran dan tradisional lalu mengaku atau orang mengklaim Ponari dan batunya bisa mengobati berbagai penyakit, dari penyakit dalam sampai penyakit luar bahkan penyakit stress dan gila ….!!!
· Ditambah cara pengobatan Ponari terkadang ketika melakukan pengobatan dibarengi sambil bermain dengan teman sebayanya kemudian tangannya digerakkan oleh orang lain untuk menyelupkan batu kedalam air.
Karena alasan inilah tidak ada keterkaitan sama sekali Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit pasiennya, maka yang berkeyakinan Ponari sebagai sebab kesembuhan para pasiennya merupakan bentuk mengambil sebab apa yang Allah tidak jadikan sebagai sebab. Dan ini merupakan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman :
وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“ Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu Nya dalam menetapkan hukumnya “ ( Qs. Al Kahfi : 26 )
Hukum Allah dibagi dua :
Hukum Syariyah : Yaitu berupa perintah dan larangan Allah
dan hukum kauniyah : Yaitu apa yang Allah taqdirkan, termasuk diantaranya sebab dan akibat. Maka jika menetapkan sebab yang tidak Allah tetapkan sebagai sebab maka ini termasuk syirik.
Syaikh Yahya, salah seorang ulama yaman pernah ditanya : Ya Syaikh berkaitan dengan, soal kemarin (tentang Ponari dan batunya), apa hukum jika seseorang menyakinii Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakinya, apakah termasuk syirik karena menjadikan sebab apa yang bukan sebab, karena Ponari bukan seorang dokter dan tidak mempunyai ilmu tentang kesehatan. Syaikh Menjawab : menjadikan apa yang bukan sebab sebagi sebab merupakan kesyirikan dan sarana mengatarkan kepada syirik (dinukil secara makna)..
Atau jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab. Tidak terbukti secara syar’i bahwa batu tersebut sebab kesembuhan begitu juga tidak terbukti secara penelitian, sudah begitu mengklaim Ponari dan batunya dapat menyembuhkan semua penyakit (Silahkan lihat lebih lanjut penjelasan menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab merupakan kesyirikan disyarh kitab Tauhid para ulama, diantaranya syaikh Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin di kitab Qalaul Mufidnya, hal : 107)
Berbeda jika bapak mengatakan : ” Akan tetapi kalau seseorang menganggap bahwa Komix itu hanya sebagai sebab kesembuhan penyakit batuk, sedang yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, maka sama sekali tidak ada perbuatan menyekutukan Allah,”
maka kalau seperti ini yang bapak katakan, maka ucapan ini benar, karena komix terbukti secara penelitian dokter sebagai obat bagi penyakit batuk.
Berkata Gus Sholeh : “Kalau orang berziarah kubur lalu berdoa dan meminta kepada ahli kubur, jelas dia berbuat kemusyrikan”
Maka kita katakan :
Benar kalau berdoa meminta kepada orang mati, merupakan perbuatan syirik di lakukan dengan lisan, karena doa ibadah jika dipalingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik yang besar yang mengeluarkan pelakunya kedalam islam, Adapun diantara dalilnya adalah sebuah hadist Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam adabul mufrod dishahihkan Syaikh Muqbil di Shahihul musnad mima laysa fi shohihain)
Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahulloh : ” Adapun berdoa kepada orang mati, atau yang tidak hadir dihadapannya yang tidak mendengar ucapanmu, atau berdoa kepada patung, atau jin atau pohon dan yang selainnya maka ini perbuatan syirik orang musrik ” (Syarh Al-Ushulus Tsalasah, Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 14 ),
Jika yang dinginkan dari perkataan diatas adalah jika ziarah kubur dengan niat dalam rangka beribadah kepada Allah disisi kuburan maka hal ini pun tidak disyariatkan dalam islam bahkan perkara yang yang diada-adakan didalam agama dan setiap perkara baru yang diada-adakan didalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafa Ar – Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, berpegang teguhlah atasnya dan gigitlah dengan gigi geraham (ungkapan untuk benar-benar berpegang teguh -penj), berhati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” ( HR. Imam Ahmad dan Muslim dari Aisyah Radiyalahu ‘Anha ) Berkata salah seorang Ulama kibar (besar) saudi Arabia, Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafidzahullah tentang hadist diatas: ( perkara baru adalah bid’ah ) ” kalimat ini umum, untuk setiap perkara yang baru didalam agama maka itu adalah bid’ah dan tidak ada disana perkara yang baru didalam agama yang baik atau bid’ah didalam agama yang baik, sebagiamana perkataan orang-orang sesat ” ( Syarh Lumatul ‘I’tiqad : 61 ). Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, tentang sebuah gereja dengan gambar-gambar yang ada didalamnya yang dilihatnya di negeri Habsyah. Maka bersabdalah Beliau : ” Mereka itu apabila ada seorang shaleh – atau hamba yang shaleh meninggal-, membangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat didalam tempat itu gambar-gambar. Nah mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah” ( HR. Bukhari dan Muslim ) Berkata Syaikh Shaleh Al-Faudzan : ” Didalam hadist ini mengandung penjelasan yang sangat gamblang, dilarangnya beribadah kepada Allah disisi kuburan orang shaleh dan menjadikan sebagai masjid dikarenakan perbuatan yang demikian itu sebagian dari perbuatan orang-orang nasrani dan orang yang melakukan perbuatan tersebut termasuk sejelek-jelek makhluk. ( Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 169 )
Berkata Gus Sholah : “Harus arif dalam menilai pengobatan yang dilakukan Ponari. Tidak bisa melihat dari satu sudut pandang saja,”
Maka Kita katakan
Benar kita harus arif, arif yang sesuai dengan tuntunan syariat islam, bukan menurut perasaan dan akal seseorang. Kearifan dalam fenomena ponari adalah dengan menjelaskan kepada ummat akan haramnya berobat kePonari karena dapat menjerumuskan kepada kesyirikan, arif dalam fenomena Ponari adalah dengan menutup praktek pengobatannya selama-lamanya, arif dalam fenomena Ponari dengan menasehati Ponari dan keluarganya bahwa apa yang dilakukan selama ini dari praktek pengobatan ponari bertentangan dengan syariat islam, arif dalam fenomena Ponari dengan menjelaskan kesalahan ucapan bapak ( Gus Sholeh ) dan pak Hasyim serta yang semisal ucapan ini kepada ummat, arif dalam fenomena Ponari dengan mencabut ucapan bapak dan mengumumkan kepublik kesalahannya …!!! Jika memang pak Gus menginginkan kearifan dalam melihat fenomena ini.
Berkata Gus Sholah : Fenomena Ponari itu, lanjut Gus Sholeh, bukan merupakan ancaman serius terhadap syariat Islam sehingga tidak seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa syirik.
Maka Kita katakan
Terlepas dari fatwa MUI. bukan ancaman serius bagaimana Pak…..???!!!!, Syariat islam yang paling agung adalah tauhid dan lawannya adalah syirik, syirik akbar (yang besar) dapat menghilangkan tauhid seseorang yang artinya seseorang menjadi kafir jika seseorang melakukan perbuatan syirik akbar, syirik dosa besar yang paling besar, dosa yang tidak diampuni dan pelakunya kekal dineraka jika mati belum bertaubat.
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“ Sesungguhnya perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah kedzaliman yang sangat besar “ ( Qs. Luqman : 13 ) dalam ayat lain Allah juga berfirman : Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 )
Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Didalam ayat ini terdapat penjelasan besarnya bahaya syirik, dikarenakan seseorang apabila mati dalam kaeadaan berbuat syirik maka tidak akan diampuni baginya bahkan dia kekal didalam neraka, berbeda dengan dosa lainnya yaitu dibawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya kemudian masuk surga, dan jika Allah berkehedak maka Allah akan mengampuniannya (tidak mengadzabnya). Adapun dosa syirik maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman :
ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )
(Syarh Kitab Tauhid Syaikh Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz : 37)
Praktek pengobatan Ponari, praktek yang menjerumuskan kepada kesyirikan, dan kesyirikan merupakan ancaman yang paling besar terhadap agama seseorang. Maka ucapan bapak merupakan ancaman serius bagi syariat islam yang mulia ini.
Berkata Gus Sholah : “Demikian pula terhadap masyarakat Jombang yang dikenal religius karena banyaknya pondok pesantren, sama sekali tidak terusik dengan fenomena Ponari itu,”
Maka kita katakan
Kebenaran dan kesalahan tidak dinilai dengan diam atau tidak terusiknya masyarakat jombang, sesuatu itu dikatakan haq (benar) dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadist) dan sesuatu itu dikatakan salah dengan Al – Qur’an dan As-Sunnah (hadist), ini yang pertama.
Yang kedua, apakah masyarakat jombang yang konon banyak pondok pesantrennya paham tentang makna tauhid dengan pemahaman yang benar wahai pak Gus, apakah mereka paham hakekat kesyirikan …? Jawablah wahai pak Gus, maka dengan arif saya mengatakan, diamnya mereka atau tidak terusiknya mereka menjadi salah satu alasan saya untuk mengatakan sebagian besar dari mereka tidak paham tauhid dengan pemahaman yang benar, dan tidak memahami hakekat dari kesyirikkan, ini adalah reliata. Apakah masyrakat yang seperti ini dijadikan patokan dan standar kebenaran….??!! Jawablah wahai pak Gus…..
Berkata Gus Sholah : Justru dia menyarankan masyarakat Desa Balongsari untuk bergotong-royong dalam menertibkan antrean pasien agar tragedi yang menewaskan empat orang pasien akibat terinjak-injak ribuan pasien lainnya, tidak terulang
Berkata Hasyim Muzadi : Praktek pengobatan Ponari tidak perlu ditutup yang perlu di lakukan penertiban antrean pasien agar tidak terjadi korban.
Maka kita katakan :
Wahai pak Gus dan pak Hasyim, ingatlah setiap perkataan dan perbuatan kita akan di mintai pertanggung jawaban diakherat kelak, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
” Tidak ada sesuatu kata yang diucapkannya melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”. ( Qs. Qaaf : 18 )
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه
” Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah , niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Qs. Az-Zalzalah : 8 ) ” bagaimana kalau ada yang mengambil ucapan bapak dan menyakini sebagai kebenaran serta mengamalkan, – Naudzubillah -, sesat dan menyesatkan. Dan terbukti banyak yang mengambil ucapan bapak. Saya bawakan sebuah hadist untuk menjadi peringatan bagi kita semua, Rasulullah Shalallahu “Alaihi wassalam bersabda : ” Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu itu langsung di cabut dari dada-dada manusia, akan tetapi di cabutnya ilmu itu dengan di wafatkan para ulama maka apabila para ulama sudah tidak tersisa lagi maka manusia menjadikan tokoh-tokoh orang bodoh kemudian mereka ditanya dan mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, maka sungguh mereka itu sesat dan menyesatkan “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Bin Amr Bin Ash Radiyalallahu ‘Anhu)
Apakah kesyirikan mau dilestarikan, sehingga tidak perlu ditutup, kalau tempat perjudian saja harus ditutup maka praktek pengobatan ponari lebih berhak untuk ditutup, besar mana dosa judi dengan kesyrikan, jawab wahai pak Hasyim dan pak Gus, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Maukah kalian ku beri tahu dosa yang paling besar ? maka kami katakan : tentu wahai Rasulullah, Rasulullah bersabda ” Berbuat syirik kepada Allah……” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah)
Perkataan bapak merupakan perkataan menganjurkan saling tolong menolong dalam perbuatan dosa, karena praktek pengobatan Ponari sebuah kemaksiatan. Bukankah Allah berfirman :
وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“ Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan ” ( Qs. Al Maidah : 2 )
Wahai Pak Gus dan Pak Hasyim dan yang berpendapat dengan pendapat semisal mereka berdua, maka wajib bagi kalian untuk bertaubat kepada Allah dan menarik ucapan kalian serta memberi tahu kepada publik tentang kesalahannya. Karena ucapan bapak sangat berbahaya sekali yang dapat menjerumuskan seseorang kedalam kerusakkan aqidah. Dan wajib bagi pemerintah untuk menutup praktek pengobatan Ponari selama-lamanya.