Oleh : Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Mudakir al-Jakarty
Maraknya aliran-aliran sesat di negeri ini adalah sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan, dan tak sedikit dari kaum muslimin yang menjadi korban kesesatan mereka. Di antara aliran sesat yang sangat meresahkan yang akhir-akhir ini marak adalah NII (Negara Islam Indonesia) KW IX yang dipimpin oleh Abu Toto Panji Gumilang. Dan di samping itu, sebagian media masa memberitakan atau menampilkan orang-orang NII yang berpenampilan berjenggot atau istrinya bercadar dan yang semisalnya, serta terkesan tidak menjelaskan bahwa yang namanya NII itu bukan identik dengan orang yang berjenggot, atau bercadar dan semisalnya. Karena hal itu adalah bagian dari ajaran Islam bukan ciri dari NII atau terorisme. Akhirnya, dampak dari kesan tersebut banyak dari kaum muslimin yang menjadi salah paham atau merasa takut dan curiga terhadap orang-orang yang berusaha menjalankan agama ini dengan baik. Sedangkan NII sendiri adalah sebuah pemikiran sesat yang teroganisir secara rapi.
Sebelum kita membahas kesesatan NII KW IX ada baiknya bagi kita untuk mengetahui kenapa banyak aliran-aliran sesat di negeri ini dan banyak dari kaum muslimin yang mengikutinya.
Sebab-sebab banyaknya aliran sesat di Indonesia, di antaranya :
1. Jauhnya ummat dari ilmu agama.
Kebodohan terhadap agama adalah sumber malapetaka, dan inilah yang menjadi sebab terbesar maraknya aliran-aliran sesat di negeri ini dan banyaknya ummat yang tertipu dengannya. Karena kebodohan ummat yang amat sangat sehingga kesesatan yang sangat jelas sekalipun banyak yang tidak mengetahui dan banyak orang yang mengikutinya. Seperti kelompok sesat Ahmadiyah, Islam Jama’ah (LDII), NII, JIL (Jaringan Islam Liberal) dan kelompok-kelompok sesat lainnya. Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ
“Katakanlah, ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang- orang yang tidak berpengetahuan?’.” (Qs. az-Zumar : 64)
قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Bani Israil berkata: ‘Wahai Musa buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala).’ Musa menjawab : ‘Sesungguhnya kamu itu kaum yang tidak mengetahui (bodoh) terhadap Allah.’.” (Qs. al-A’raaf : 138)
Berkata asy-Syaikh al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullaah : “Kebodohan mana yang lebih besar dari seseorang yang bodoh terhadap Rabbnya, Penciptanya dan ia ingin menyamakan Allah dengan selain-Nya, dari orang yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat (bahaya), tidak mematikan, tidak menghidupkan dan tidak memiliki hari perkumpulan (kiamat).” (Taisiirul Kariimirrahman Syaikh al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di pada ayat ini)
Berkata Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullaah : “Tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan dhoror (bahaya), kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan.” (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/315- dinukil dari Syarh al-Ushuuluts Tsalatsah, Abu ‘Ashim ‘Abdullah ad-Duba’i, hal : 7) Lanjut membaca →