Bingkisan di malam hari untuk para dukun

Oleh : Abu Ibrahim Abdulloh Bin Mudakir Al-Jakarty

Dikesunyian malam suasana musim dingin di Dammaj Yaman, terasa sunyi di ikuti sesekali lolongan anjing dan hembusan kerasnya angin, menambah kesunyian itu diatas kesunyian, ku coba tuangkan kelembutan tinta ini disecarik kertas, kurangkai kata demi kata, untuk menjadi sebuah kalimat dan tulisan, semoga menjadi bingkisan “manis” di malam ini  untuk para dukun dan tukang sihir. Terlalu dikenal nama-nama populer yang disandang oleh para dukun dan tukang sihir yang mencerminkan sesuatu yang terkesan “intelek” dan “membingungkan” sebagian orang, dimulai dari “ahli metafisika”, disusul dengan “mentalist” diikuti dengan “orang pintar” dan tak kalah dengan “ahli hipnotis”….!!! Padahal satu hakekat lain nama yaitu dukun, mengaku dirinya mengetahui perkara yang ghoib, ditambah mempertunjukkan ilmu sihirnya lalu memberi nama yang terkesan indah untuk menutupi hakekat perbuatan dan profesi nistanya. Oleh karena itu ku ingin memberikan bingkisan nama yang sesuai dengan hakekat jati diri  mereka. Lanjut membaca

Komunitas Anti Dukun

بِسْمِ اللهِ الْرَّحمَنِ الْرَّحَيمِ

KOMUNITAS ANTI DUKUN

Rubrik ini saya sengaja buat bagi siapa saja yang ingin berbagi pengalaman tentang kesesatan dukun atau ingin konsultasi tentang masalah ruqyah syar’iyah dan yang berkaitan dengannya.

Silahkan kirimkan pengalaman anda ke : anti_dukun (at) yahoo.com

Ini diantara atsar yang menceritakan pengalaman seorang wanita yang mempelajari sihir.

Dan di dalam hadits Bajalah, dia berkata : “Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menulis surat (yang berisi perintah) untuk membunuh setiap tukang sihir pria dan wanita”.

Bajalah berkata : “Kami telah membunuh tiga orang tukang sihir”.

Dan dari keterangan atsar-atsar juga menunjukkan –disandarkan kepada ayat yang telah lalu- bahwa sihir tidak mungkin bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah kafir.

Diantaranya adalah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata :

“Seorang wanita dari penduduk Daumatul Jandal datang kepada saya. Dia bermaksud menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam setelah beliau wafat. Awalnya dia hendak bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan sihir yang belum dia lakukan”.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Urwah :

“Wahai anak saudariku, engkau melihat dia menangis ketika dia tidak berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang dapat menyelesaikan (masalahnya). Dia menangis sampai saya terharu kepadanya”.

Dia berkata : “Sesungguhnya saya takut menjadi orang yang binasa. Dahulu saya memiliki suami, kemudian dia pergi. Datang seorang wanita tua kepada saya, kemudian saya mengadukan hal tersebut kepadanya” Lanjut membaca