Jawaban Teruntuk Yang Bertanya Tentang Khulu’

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty

Setiap orang menginginkan kebahagian, keharmonisan dan kelanggengan didalam pernikahannya, karena itulah tujuan disyariatkannya menikah untuk mencapai kebahagian dan keharmonisan diantara suami dan isteri, saling mencintai saling menyayangi saling menghargai dan saling membantu untuk mencapai kebahagian didalam kehidupan rumah tangganya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri – isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang “ ( Qs. Ar Ruum : 21 )

Apabila diantara sepasang suami istri tidak mendapatkan  hal yang demikian, tidak mendapatkan kasih sayang, ketentraman, kebahagian didalam pernikahan maka tidak terpenuhinya tujuan dari menikah, dalam hal ini syariat islam memberikan jalan keluar sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

فَإمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“  Setelah itu boleh ruju’ lagi dengan cara yang ma’ruf (baik) atau menceraikan dengan cara  yang baik ” ( Qs. Al Baqarah : 229 )

Begitu juga Allah Ta’ala berfirman didalam ayat lain

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ وَكَانَ اللهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

” Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada masing- masing dari limpahan karunia Nya, Dan Allah adalah Maha Luas ( karunia – Nya ) lagi Maha Bijaksana “ ( Qs. An Nisaa’ : 130 ) Lanjut membaca

Nabi Palsu

 

Berawal ketika ku membaca syarh kitab kasyfu subhat Syaikh Sholeh Al- Fauzan, sampai pada sebuah faedah yang membuat ku teringat sebuah khabar yang telah lama ku dengar tentang nabi palsu  di Indonesia, membuatku ingin menulis sebuah faedah yang agung dari Syaikh Sholeh Al-Fauzan yang ingin ku tulis dirubrik faedah santri. Berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan ” …. Dan akhir dari para Rasul adalah Muhammmad Shalallahu ‘alahi wassalam dialah penutup para nabi dan rasul, yang tidak ada nabi setelahnya sampai tegaknya hari kiamat, Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّين

” Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi“. (Qs. Al-Ahzab : 40 )

Dan Rasululloh bersabda : ” Saya adalah penutup para nabi yang tidak ada nabi setelah ku “ ( HR. Bukhari dan Muslim ) Muhammad adalah akhir para Rasul ‘Alahi shalawatu wassalam, dan akhir para nabi, karena setiap rasul adalah nabi. Tidak ada utusan setelahnya tidak seorang rasul tidak pula seorang nabi. Maka barang siapa yang meyakini adanya rasul atau nabi setelah diutusnya  Muhammad Shalallahu ‘alahi wassalam maka dia kafir. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Akan keluar setelahku 30 orang pendusta, setiap dari mereka mengaku bahwasannya dirinya adalah nabi, dan saya adalah penutup para nabi tidak ada nabi setelah ku.”

 Maka barangsiapa yang tidak menyakini risalah telah ditutup dengan diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, dan meyakini adanya nabi setelah di utusnya, maka dia telah kafir kepada Alloh, dan mendustakan Alloh, Rasul-Nya dan Ijma kaum muslimin (Syarh Kasfu Syubhat  : 21)