Menunaikan Sebuah Kewajiban ( Sebuah usaha untuk memahami hukum yang berkaitan dengan puasa )

Ramadan-jpgPuasa adalah ibadah yang sangat agung yang mempunyai tuntunan syar’i maka wajib bagi seorang muslim  untuk mempelajari  hukum yang berkaitan dengan puasa sehingga puasanya sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan.

Berkata Asy-Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidazhullah: “Demikanlah seharusnya seorang muslim untuk mempelajari hukum shaum (puasa), dan berbuka, waktu dan sifatnya. Sehingga dapat melaksanakan puasa sesuai dengan apa yang disyariatkan, sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga puasanya benar dan diterima disisi Allah, maka yang demikian itu (mempelajari puasa –pent) termasuk perkara yang penting sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرا

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ” (Ahdzab : 21) (Al Mulakhos Al Fiqhi : 306)

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat untuk memahami hukum yang berkaitan dengan puasa sehingga puasa kita sesuai dengan tuntutan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pengertian Shaum (puasa)

Puasa secara bahasa adalah الإمساك (menahan)

Adapun secara syar’i:

الإمساك عن المفطرات مع النية، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس

Menahan dari segala  yang membatalkan puasa dengan disertai niat mulai dari masuknya waktu fajar hingga terbenamnya matahari. (Taisiirul Alaam Syarhu Umdatil Ahkaam, Syaikh Abdullah Al Bassam)

Hukum Puasa Ramadhan

Kewajiban   puasa ramadhan adalah perkara yang ma’ruf  diketahui  oleh kaum muslimin, berdasarkan Al Qur’an, sunnah dan ijma’, barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka dia  telah murtad dari agama islam.

Allah Ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas  orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Al Baqarah : 183)

Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

”Islam itu dibangun diatas lima perkara, syahadat (persaksian) Laa Ilaha Illallah Muhammadarrasulullah (tidak ada Ilah/sesembahan yang haq kecuali Allah da Muhammad utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji dan puasa Ramdhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Asy-Syaikh Al ‘Allaamah Shalih Al Fauzan Hafidzahullah: ”Kaum muslimin sepakat atas wajibnya puasa ramadhan, barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka dia telah kafir “ (Al Mulakhos Al Fiqhi, hlm 178)

Adapun jika meyakini kewajiban puasa dibulan ramadhan, tetapi dia tidak mengerjakannya maka hal itu merupakan dosa yang sangat besar. Sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili Radiyallahu ‘Anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Ketika aku tidur datang kepadaku dua orang laki-laki, mereka berdua mengambil kedua lenganku, mereka membawaku kegunung dengan jalan kasar (tidak rata), mereka berkata kepadaku mendakilah, maka aku berkata: saya tidak mampu mendakinya, mereka berkata kami akan memudahkanmu, maka aku mendakinya ketika sampai dipuncak gunung aku mendengar suara yang sangat kencang dan aku bertanya: suara apa ini? mereka berkata ini teriakan penduduk neraka, kemudian mereka membawaku ketempat yang lain, kemudian aku  melihat sebuah kaum yang tergantung dengan kaki diatas, serta mulut mereka terbelah dan mengalir darinya darah, aku berkata siapa mereka, mereka menjawab mereka adalah orang – orang yang berbuka sebelum waktu berbuka ” (HR. an-Nasa’i no 3273-, Ibnu Hibban no 7491 dan Hakim no 1568, dishahihkan oleh syaikh Muqbil di al-Jamius Shahih)

Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan bulan ramadhan sangatlah banyak diantaranya adalah:

Pertama : Bulan disyariatkannya puasa sebulan penuh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas  orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Al Baqarah : 183)

Kedua : Di buka pintu – pintu surga dan ditutup pintu – pintu neraka

Didalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

”Apabila datang ramadhan di buka pintu – pintu surga, ditutup pintu – pintu neraka dan dibelenggu syaithan. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu)

Ketiga : Bulan yang penuh barakah, didalamnya terdapat malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan

Allah Ta’ala berfirman

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْر

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemulian dan tahukah apakah malam kemulian itu ? malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan“ (Al Qadr : 1 – 3)

Syarat di wajibkan berpuasa

  1. Islam : Tidak sah orang kafir berpuasa sampai masuk islam.
  2. Berakal : Tidak sah orang gila sampai berakal
  3. Baligh. Anak kecil belum ada kewajiban berpuasa.
  4. Mampu untuk berpuasa. Orang sakit yang tidak mampu berpuasa tidak wajib berpuasa, begitupun bagi orang yang lanjut usia yang sudah tidak mampu berpuasa.
  5. Mukim. Tidak wajib berpuasa bagi musafir.
  6. Tidak lagi haid dan nifas : Tidak sah orang yang sedang haid dan nifas sampai bersih dari haid dan nifas.
  7. Niat dimalam hari setiap hari pada puasa wajib: Tidak sah jika tanpa niat dan niat tempatnya dihati.

Rukun Puasa

  1. Menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari makan, minum dan jima’ serta yang lainnya
  2. Zaman (waktu) yaitu siang hari di bulan ramadhan, yaitu dari masuknya waktu fajar hingga terbenamnya matahari. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

”Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar “(Al Baqarah : 187)

Yang membatalkan Puasa

Pertama: Makan dan minum dengan sengaja, adapun kalau lupa tidaklah membatalkan puasa, sebagaimana dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah Radiyallallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

”Barangsiapa yang lupa makan dan minum padahal dia sedang berpuasa maka sempurnakanlah puasanya, bahwasannya Allah telah memberinya makan dan minum ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Keluar mani dengan sebab, mencium, sentuhan atau onani adapun jika dikarenakan mimpi tidaklah membatalkan puasa.

Berkata asy-Syaikh Al ‘Allamah Shalih Al Fauzan Hafidzahullah: “Orang yang tidur apabila bermimpi dan keluar mani, maka tidak mengapa, puasanya shahih (benar/sah-ed) dikarenakan yang demikian terjadi tanpa usahanya, tetapi wajib atasnya mandi dari janabah “ (Al Mulakhos Al Fiqhi : 182)

Ketiga: Jima’ disiang hari di bulan ramadhan

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Kami duduk disisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tiba tiba  datang seseorang laki laki dan berkata : Wahai Rasulullah, celakalah aku, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam apa yang membuat kamu celaka? aku menjimai istriku sedang aku dalam keadaan berpuasa, (dalam riwayat lain aku menjimai istriku di bulan ramadhan) Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apakah kamu mempunyai budak untuk dibebaskan? Berkata laki-laki tersebut tidak, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apakah kamu bisa berpuasa dua bulan berturut – turut, berkata laki-laki tersebut, Tidak. Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: apakah kamu bisa memberi makan kepada 60 orang miskin, berkata laki-laki tersebut tidak, Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, diam, diantara kamipun seperti itu juga (diam -pent). Sesaat kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diberi satu keranjang bersisi kurma, berkata  Rasulullah: dimana orang yang bertanya tadi ? berkata orang tersebut : saya, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ambilah ini shadaqahkanlah dengannya, maka berkatalah laki – laki tersebut, apakah saya menshadaqahkan kepada orang yang lebih faqir daripadaku, demi Allah adakah diantara dua bukit ini penghuni rumahnya yang lebih faqir dari penghuni rumahku! maka Rasulullah tertawa, sampai terlihat gigi geraham (bagian yang depan), kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: beri makanlah dengannya keluargamu (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: Haid dan Nifas

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

”Bukakankah jika haid dia tidak shalat dan tiadak berpuasa? maka kami berkata, benar. inilah bentuk kekurangan pada agamanya“ (HR. Muslim)

Kelima: Muntah dengan sengaja

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

”Barangsiapa yang muntah dengan tanpa disengaja dan dia dalam keadaan puasa –pent tidak ada qada baginya dan apabila disengaja untuk muntah maka wajib baginya qada’ “ (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Syaikh al-AlBani di Shahih Sunan Abu Dawud no 2083)

Keenam: Murtad

Allah Ta’ala berfirman

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu“ (Az Zummar:65)

Orang – orang yang dibolehkan berbuka di bulan ramadhan dan Kewajiban yang harus mereka lakukan.

Disebutkan oleh Ibnu Qudamah Rahimahullah: “Di bolehkan seseorang untuk tidak berpuasa pada 4 macam keadaan:

1.   Orang sakit yang jika berpuasa akan membahayakan dirinya dan musafir yang boleh menqasar shalat, berbuka bagi keduanya lebih utama, wajib bagi keduanya menqada (mengganti puasa di hari yang lain), jika keduanya berpuasa maka puasanya sah

2.   Wanita yang sedang haid dan nifas, maka wajib baginya untuk meninggalkan puasa dan membayar qada’,  jika keduanya berpuasa maka tidak sah puasanya.

3.   Wanita hamil dan menyusui, jika khawatir akan keselamatan dirinya maka bagi keduanya boleh berbuka dan wajib qada (mengganti dengan puasa dihari lain –pent), jika keduanya khawatir atas anaknya maka boleh berbuka dan wajib qada serta memberi makan setiap hari kepada orang miskin.

4.   Orang yang tidak mampu puasa, seperti orang tua atau orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka baginya memberi makan setiap hari kepada orang miskin. (Umdatul Fiqih Ibnu Qudamah : 47 – 48)

Alhamdulillah itulah penjelasan ringkas yang terkait dengan puasa ramadhan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Wallahu a’alam bish shawwab.

Ditulis oleh Abu Ibrahim ‘Abdullah al-Jakarty

7 comments on “Menunaikan Sebuah Kewajiban ( Sebuah usaha untuk memahami hukum yang berkaitan dengan puasa )

  1. Bismillah,
    artikelnya bagus sekali, ana izin copas artikelnya ya ustadz..

    Sekalian mo nanya : Hukum melakukan Bekam bagi Hajjam dan mahjum apakah membatalkan shaum?

    Bagi yang belum punya E-Book Kumpulan Fatwa Syaikh Muqbil tentang Ramadhan (hukum suntikan, cabut gigi, berenang, jima saat puasa, dll) bisa di download gratis disini :

    http://kaahil.wordpress.com/2009/08/14/e-book-kumpulan-fatwa-asy-syaikh-muqbil-tentang-ramadhan/

    Jazaakalaahu khairan

    • abdullah1982 mengatakan:

      Jazakallahu Khoir, Abu Hana. Pangillan ustadz dari antum husnudzan lebih dari antum kepada ana, ana ikhwan biasa saja. Insya Allah jawabannya akan ana tulis, afwan abu hana, selama ini jaringan internet hp dll, terputus sampai sekarang. sekarang ana dishan’a baru tiba kemarin.

  2. Tambahan :
    Afwan ustadz sepertinya tulisan antum diatas terulang 2 kali.. mungkinkah bisa dihapus salahsatunya?

    Baarokallaahu fiikum..

    • abdullah1982 mengatakan:

      Jazakallahu Khoir Abu Hana

    • abdullah1982 mengatakan:

      Adapun pertanyaan yang antum tanyakan tentang apakah orang yang menghizamah (orang yang membekam)dan dihizamah (dibekam) batal puasanya ?
      Jawabanya adalah :
      Para ulama berselisih pendapat dalam permasalahan ini
      Pendapat pertama : Membatalkan puasa bagi orang yang menghizamah dan orang yang dihizamah, wajib baginya qada’ berdalil dengan hadist “batal puasa orang yang menghizamah dan orang yang dihizamah ” Hadist shahih dijamius shahih dari Syadaad Bin Aus dan Tsauban
      Pendapat kedua : Tidak membatalkan puasa, ini pendapatmayoritas ulama. Dan ini pendapat yang benar. Berdalil Hadist dari Abu Said Radiyallahu ‘Anhu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan keringan (membolehkan) bagi orang yang berpuasa untuk berhizamah “Riwayat At Tabrani dan Daruqutni dan berkata seluruh rijal hadistnya stiqat ( terpercaya)
      Begitu juga hadist dari Ibnu Abbas ” Bahwasannya Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam berhizamah dalam keadaan ihram dan berhizamah dalam keadaan puasa ” diriwayatkan imam Bukhari didalam shahihnya
      Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar : Hadist ini shahih tidak ada keraguan didalamnya, berkata Ibnu Abdil Bar dan selainnya didalam hadist ini menunjukkan bahwasannya hadist ” batal orang yang menghizamah dan orang yang dihizamah ” manshuh (terhapus) hukumnya dikarenakan datang dari sebagian jalan hadist, bahwasannya hadist tersebut (Nabi berhizamah dalam keadaan puasa) di haji wada’, imam syafi’i berpendapat seperti ini. Wa Allahu a’lam

  3. Fulanah mengatakan:

    Assalamu’alaykum
    Ana tahun kemarin hamil, dan tidak berpuasa sebanyak 2 hari kemudian ana mengqadhanya.
    Apa ana masih berkewajiban untuk membayar fidyah?

    • abdullah1982 mengatakan:

      Wa’alaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuh
      Afwan baru bisa jawab sekarang ada sedikit yang diurus apa yang ukhti tanyakan permasalahan khilaf, yang rajih (benar) adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada kewajiban atas wanita hamil atau menyusui kecuali mengqadha` secara mutlak (tidak ada kewajiban atasnya membayar fidyah), baik disebabkan ketidakmampuan atau kekhawatiran terhadap diri sendiri jika bershaum pada bulan Ramadhan, maupun disebabkan kehawatiran terhadap janin atau anak susuannya.Sebagaimana Rasulullahbersabda:
      “Sesungguhnya Allah memberikan keringanan setengah dari kewajiban sholat (yakni dengan mengqoshor) dan kewajiban bershaum kepada seorang musafir serta wanita hamil dan menyusui.” [HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasa’i dan Al-Imam Ahmad].wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s