Selingan : Komentar Untuk Tulisan Terbaru saudara Firanda

Luqman bin Muhammad Ba’abduh

Alhamdulillah, yang telah menunjukkan kepada kita semua betapa saudara Firanda sudah tidak memiliki kesabaran lagi untuk sejenak menahan diri dari tulisannya yang ke-6. Dari tulisannya itu sangat tampak kepada kita sikap terburu-buru saudara Firanda dalam menilai tulisan bantahan terhadap dirinya sebagai tulisan yang tidak ilmiah sebagaimana “harapannya”, karena kata dia, ternyata hanya menampilkan pujian para ‘ulama kepada asy-Syaikh Rabi’.

Kalau saja dia mau sedikit bersabar mencermati tulisan bantahan tersebut pada bagian 1 hingga 4, niscaya tidak akan memberi kesimpulan yang sangat prematur seperti di atas.

Sikap terburu-buru seperti ini akan menyulitkan dirinya untuk bersikap ilmiah dan sportif. Tentunya sangat disayangkan jika sikap seperti ini ada pada seorang yang katanya dalam proses mendapatkan gelar “doktor”.

Tulisan saudara Firanda dalam 5 bagiannya, meliputi beberapa permasalahan yang dapat saya simpulkan sebagai berikut:

Pertama, Pembelaan terhadap Radio Rodja & Rodja TV dan menantang untuk didatangkan bukti-bukti penyimpangannya, disertai dengan upaya mementahkan tahdzir asy-Syaikh Rabi’ terhadap Rodja.

Kedua, Pembelaan terhadap ‘Ali al-Halabi sebagai rujukan utamanya dalam menyerang kehormatan asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah.

Ketiga, Tentang asy-Syaikh Rabi’. Pada poin ini ada dua hal,

1. Celaan terhadap asy-Syaikh Rabi’ dan upaya menjatuhkan kredibilitasnya dengan caranya yang khas dalam menggunakan kata-kata yang penuh tipu daya dan bercabang maknanya. Sehingga dari tulisan itu sangat tampak sekali ambisinya untuk menutupi keutamaan, keilmuan, dan perjuangan asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali dalam membantah ahlul bid’ah dan hizbiyyah dengan penuh ilmiah. Sebagaimana saudara Firanda juga berupaya mengesankan bahwa manhaj asy-Syaikh Rabi’ tidak sejalan dengan manhaj para ‘ulama kibar dan imam dakwah salafiyyah zaman ini, dan seolah-olah mereka tidak memberikan dukungan kepada asy-Syaikh Rabi’ dalam berbagai karya ilmiahnya.

Ketika saya melihat permasalahan ini lebih penting untuk saya dahulukan, maka saya mulai pembahasan-pembahasan saya pada tulisan terdahulu dengannya. Namun upaya saya tersebut, ditepis dan diremehkan oleh saudara Firanda dengan kata-katanya,

“Akan tetapi kenyataannya tulisan al-Ustadz Luqman Ba’abduh intinya hanya menampilkan pujian para ulama kepada Syaikh Robi’ yang tujuannya adalah untuk menyatakan bahwa Firanda yang telah mengkiritik Syaikh Robi’ adalah pengekor hawa nafsu, atau jahil, atau mubtadi’ !!!”

Ada dua kemungkinan yang mendorong saudara Firanda untuk mengucapkan ucapannya tersebut,

  1. Dia tidak memahami maksud tulisan bagian 1 – 4, seperti yang saya jelaskan di atas. Maka ini sangat disayangkan untuk seorang “setingkat” saudara Firanda ternyata sulit memahami maksud dan tujuan sebuah tulisan.
  2. Atau dia memang memahami dan menyadari bahwa tulisan bagian 1 – 4 sangat berpengaruh kepada pembaca dalam membongkar kelihaian saudara Firanda dalam menjatuhkan kredibilitas seorang ‘ulama, sehingga dia merasa terancam dengan manhaj Ahlus Sunnah dalam menilai seseorang yang mencoba melakukan hal itu terhadap ‘ulama Ahlus Sunnah. (lihat tulisan bagian ke-3).

Kalau kemungkinan kedua ini yang terjadi, maka kita benar-benar yakin bahwa saudara Firanda adalah seorang pengekor hawa nafsu bukan pencari kebenaran.

Ketika saya menampilkan pujian dan dukungan para ‘ulama kibar terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi’ dan karya-karyanya, tentunya tak seorang pun – yang memiliki cara pemahaman yang sehat – akan meyakini bahwa hal itu akan mengangkat derajat asy-Syaikh Rabi’ menjadi seorang yang makshum terlepas dari dosa dan kesalahan, yang tidak mungkin dikritik. Namun hal itu sengaja saya tampilkan sebagai bentuk bantahan kepada saudara Firanda yang mencoba menggiring para pembaca untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan negatif tentang asy-Syaikh Rabi’ yang ia inginkan, sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.

Ketika upayanya tersebut dibantah, buru-buru saudara Firanda menciptakan syubhat baru, yaitu bahwa asy-Syaikh Rabi’ seolah-olah seorang yang makshum di hadapan para pengikutnya. Tidak cukup sampai di situ dalam upayanya agar kritikannya terhadap asy-Syaikh Rabi’ bisa diterima oleh pembaca dan tidak dibantah, dia menggunakan kata-kata yang lebih ekstrim, yaitu “Diantara para masyayikh yang mereka ambil manhajnya dalam hal ini –bahkan seakan-akan seperti wahyu yang turun dari langit– adalah Syaikh Rabî’ bin Hâdî Al-Madkhalî … .”

2. Kritikan terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi’. Hal ini menyeret saudara Firanda sampai pada kesimpulannya bahwa asy-Syaikh Rabi’ adalah seorang syaikh yang mutasyaddid, dan salah dalam manhaj dengan kesalahan yang sangat berbahaya. Na’udzubillah min dzalik. Sebuah kesimpulan sepihak saudara Firanda, yang sama sekali tidak mendasarkan kesimpulannya tersebut kepada fatwa seorang pun dari ‘ulama kibar.

Kemudian untuk menjawab kritikan sepihak saudara Firanda terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi’ ini, sebenarnya sudah saya siapkan, dan itu sudah saya isyaratkan bahwa akan ada pembahasan tentangnya. Sebagaimana saya katakan dalam salah satu catatan kaki, “Ikuti insya Allah pembahasan dengan judul, Benarkah asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali mutasyaddid??” (lihat bagian ke-4 catatan kaki no. 1)

Catatan kaki di  atas menunjukkan bahwa saya akan membahas dan menjawab kritik saudara Firanda terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi’.

Namun sekali lagi sangat disayangkan sikap terburu-buru saudara Firanda menghalangi dirinya untuk bersikap ilmiah, sekaligus membuat dirinya sulit untuk bersikap sportif dan jujur. Semoga Allah lindungi kita semua dari sikap mengikuti hawa nafsu.

Di antara yang menunjukkan bahwa saudara Firanda tidak mencermati tulisan kami dengan baik, bahwa saya telah menuliskan pada setiap penghujungnya kalimat, “(bersambung insya Allah)”

Begitu juga dalam salah satu catatan kaki, saya mengatakan, “Semoga penjelasan lengkap tentang Ali al-Halabi bisa dibahas pada bagian-bagian berikutnya.”

Juga perkataan saya, “terkhusus celaan Firanda no.12 ini, akan ada penjelasannya pada bagian mendatang insya Allah.”

Bahkan sebelum itu semua, sejak awal saya sudah mengatakan, “Tulisan ini akan saya bagi  dalam beberapa episode, yang akan saya tampilkan secara berseri – insya Allah –  … .” Kemudian yang tampil pertama adalah bagian ke-1, menyusul berikutnya bagian ke-2, … dst

Bahkan dalam tulisan ke-enam-nya yang berjudul Standar Ganda ini, saudara Firanda mencoba untuk menyeret Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah dan mencoba berlindung dibalik punggung beliau, dengan banyak menukil dari karya beliau yang berjudul Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah. Padahal sungguh berbeda antara dia dengan asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah dalam menyikapi asy-Syaikh Rabi’. Firanda mencela dan menjatuhkan kredibilitas asy-Syaikh Rabi’, sedangkan asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah justru mengatakan,

وأنا لا أطعن فيه، ولا أحذر منه، وأقول: إنه من العلماء المتمكنين

“Aku tidak mencelanya dan tidak pula mentahdzirnya, dan aku berkata: Asy-Syaikh Rabi’ termasuk ulama’ yang mutamakkin (kokoh dalam keilmuan).”

Oleh karena itu untuk mengetahui liku-liku syubhat saudara Firanda dalam tulisannya ini, insya Allah saya akan menjadikan salah satu bagian dari rangkaian tulisan ini pembahasan tentangnya.

Bersama dengan ini kami bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dengan tulisan saudara Firanda, atau bahkan sebelumnya ‘Ali Hasan al-Halabi dan para pengikutnya yang mencoba menjatuhkan kredibilitas dan manhaj asy-Syaikh Rabi’ dengan syubhat-syubhatnya, ternyata justru mengundang Ahlus Sunnah di berbagai penjuru dunia untuk menjelaskan kepada umat tentang kebatilan syubhat-syubhat mereka. dan bersama dengan itu semakin Nampak kepada umat keutamaan, keilmuan, asy-Syaikh Rabi’ dalam berbagai disiplin ilmu serta perjuangannya membela al-Haq dan membantah kebatilan, yang selama ini berbagai keutamaan tersebut belum banyak diketahui oleh umat. Hal ini mengingatkan kita semua kepada sebuah sya’ir :

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلةٍ              طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ

لَوْ لاَ اِشْتِعَالُ النَّارِ فيِْمَا جَاوَرَتْ              مَا كَانَ يُعْرَفُ طِيْبُ عَرْفِ العُوْدِ

“Dan apabila Allah menghendaki tersebarnya sebuah keutamaan yang selama ini tertutupi

Maka akan Allah tampilkan melalui perantara lisan orang yang hasad

Kalau bukan karena bara api yang membakar benda yang ada di sekitarnya

          Maka tidak akan diketahui aroma wangi  kayu gaharu [1]

Untuk itu bersabarlah wahai para pembaca sekalian, sampai jumpa pada pembahasan-pembahasan berikutnya. Barakallahu fikum  

al-Faqir ila ‘afwi wa ‘auni rabbihi

Luqman Muhammad Ba’abduh

Jember, 24 Dzulhijjah 1434 H / 19 Oktober 2013 M


[1]  Yaitu sebuah kayu harum aromanya, biasaya berasal dari pohon Tengkaras, yang apabila dibakar dengan bara api maka akan semakin terasa aroma wanginya.

Maka demikianlah keutamaan keilmuan dan perjuangan asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizahullah, tatkala semakin banyak ahlul bid’ah dan hizbiyyah membenci dan mencela beliau, maka akan semakin tampak – insya Allah – keutamaan beliau di hadapan umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s