Untukmu Yang Masih Bertanya Tentang Radio Rodja

Sebenarnya penjelasan tentang pertanyaan radio rodja sudah dijelaskan oleh ustadz-ustadz kita diantaranya oleh Ustadz Muhammad Umar As-Sewwed, Ustadz Luqman Ba’abduh, Ustadz Usamah Mahri, Ustadz Afifudin dan yang lainnya yang dengan mudah kita bisa mendengarkan via internet Alhamdulillah. Dan jawaban mereka cukup insya Allah bagi yang ingin mengetahui tentang radio rodja. Namun berhubung pertanyaan ini masih terdengar ditanyakan oleh sebagian ikhwah  kepada  Asatidzah oleh karena itulah pada kesempatan ini saya  yang ingin mengatakan bagi orang yang bertanya tentang radio rodja bahwa cukup bagi kita untuk mendengarkan kajian, muhadhoroh ustadz-ustadz kita. Apa yang ada dari ilmu, faedah, pembahasan yang dibahas oleh pengisi radio rodja ada pada ustadz-ustdaz kita dan apa yang ada pada ustadz-ustadz kita tidak ada pada para pengisi rodja (dan itu semua karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki). Apa yang ada pada ustadz-ustadz kita dan tidak ada pada para pengisi Rodja di antaranya adalah apa yang saya akan sebutkan di bawah ini :

1. Ustadz-ustadz kita Alhamdulillah sangat menjaga pergaulan mereka, mereka tidak bergaul dengan ahlu bid’ah, hizbiyyin, orang-orang menyimpang, yayasan hizbi atau satu organisasi dan satu wadah dengannya. Dan seperti inilah manhaj yang haq manhaj ahlus sunnah. Mari kita simak perkataan a’imah salaf (para Imam Salaf) yang dai-dai rodja mengaku mengikuti mereka..! Tetapi praktek dan amalannya menyelisihi bahkan bertolak belakang dengan pengakuannya.

Berkata Abu Qilabah Rahimahullah :

لا تجالسوا أهل الأهواء ، ولا تجادلوهم ، فإني لا آمن أن يغمسوكم في الضلالة ، أو يلبسوا عليكم في الدين بعض ما لبس عليهم

“Janganlah kalian duduk bersama ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah –ed) dan janganlah mendebat mereka dikarenakan sesungguhnya aku tidak merasa aman mereka menjerumuskan (menenggelamkan) kesesatan kepada kalian atau menyamarkan (merancukan –ed) kepada kalian perkara agama, sebagian perkara agama yang mereka samarkan.” (Asyari’ah Al-Ajuri : 56 – Al Ibnah Ibnu Bathah : 2/437)

قال إسماعيل بن خارجة يحدث قال : دخل رجلان على محمد بن سيرين من أهل الأهواء ، فقالا : يا أبا بكر نحدثك بحديث ؟ قال : لا قالا : فنقرأ عليك آية من كتاب الله عز وجل ؟ قال : لا ، لتقومن عني أو لأقومن

Ismail bin Khorijah menceritakan, beliau berkata : “Dua orang dari ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah) masuk menemui Muhammad bin Siriin mereka berdua berkata : ‘Wahai Abu Bakar, kami akan menyampaikan satu hadits kepadamu?’ Berkata (Ibnu Siriin) : ‘Tidak.’ Berkata lagi dua orang tersebut : ‘Kami akan membacakan satu ayat kepadamu dari Kitabullah (al-Qur’an) Azza Wajjala?’ Berkata (Ibnu Siriin) : ‘Tidak. Kalian pergi dariku atau aku yang pergi.’” (Asyari’ah Al-Ajuri : 57 – Al Ibanah Ibnu Bathah : 2/446)

Berkata Imam Al Barbahari Rahimahullah:

فاحذر ثم احذر أهل زمانك خاصة وانظر من تجالس وممن تسمع ومن تصحب فإن الخلق كأنهم في ردة إلا من عصم الله منهم

“Berhati-hatilah dan berhati-hatilah kepada orang-orang yang hidup sezaman denganmu secara khusus, dan lihatlah siapa teman dudukmu, dan dari siapa engkau mendengar dan dengan siapa engkau berteman, dikarenakan manusia hampir saja menjadi murtad dari agamanya karena sebab teman bergaulnya kecuali orang yang Allah jaga.” (Syarh Sunnah Lilbarbahari)

Adapun dai-dai rodja maka mereka bergaul, berteman, bermuamalah dengan yayasan hizbi, ahlu bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang. Seperti Abu Qatadah, Zaenal Abidin LC, Khalid Syamhudi LC dan yang lainnya yang menjadi da’i dan pengisi Yayasan Hizbi Al-Sofwa Lenteng Agung Jakarta, lihat juga bagaimana kelakuan Abu Qatadah yang mengisi bareng, duduk berdampingan satu meja dengan Hartono Ahmad Jaiz, Amin Jamaludin di DDII dengan Tema : “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” yang ketika itu ana masih ingat  (ketika masih ngaji dengan mereka) Amin Jamaludin berbicara membolehkan demonstrasi pada majelis tersebut. Begitu juga Abu Qatadah merekrut ustadz yang pernah belajar di Abul Hasan Al-Misri yang para ulama telah memvonisnya sebagai hizbi, mubtadi’ dan ustadz tersebut belum bertaubat darinya dan belum lama ini pun (belum ada satu tahun) Abu Qatadah menerima orang yang baru pulang setelah belajar 7 tahun di Markaznya Abul Hasan Al Misri di Yaman diterima dan disambut untuk mengajar di pondoknya sampai sekarang. Di samping itu Abu Qatadah menyalurkan dana ihyaut turats kepada pondok yang bermanhaj khawarij, Pondok Al-Muaddib Cilacap yang di pimpin oleh mertuanya seorang teroris bernama Nurdin M. Top yang bernama Baridin.  Begitu juga Yazid Jawwas dan kawan-kawannya berkerja sama dengan salah seorang pembesar ikhwani DR. Hidayat Nurwahid, sama seorang hizbi Farid Okbah, sama sesepuh sururi dan orang yang ditokohkan oleh HASMI (Harakah Sunniyyah Untuk Masyarakat Islam) Taufiq Shalih Al Katsiri dalam muraja’ah tafsir ibnu katsir jilid 1 Pustaka Imam Syafi’i. Tak ketinggalan Abdul Hakim bin Amir Abdat di antara penyimpanggnya dia mengisi satu majelis dengan pembesar atau seseorang yang di Syaikhkan dari ihyaut turats Kuwait di Malaysia. Dan contoh-contoh lainnya yang sangat banyak yang hal ini merupakan manhaj da’i-da’i rodja sepanjang yang saya ketahui. Dan apa  yang mereka lakukan bukanlah sekedar kesalahan “manusiawi“ (seperti lupa, atau tidak tahu itu seorang hizbi, atau seorang yang menyimpang, ahlu bid’ah atau diundang ngisi tanpa tahu ada pembicara selain dirinya ternyata ada pembicara lain dari kalangan orang-orang yang menyimpang atau ahlu bid’ah atau kesalahan yang mereka telah ruju’ darinya dan lain-lain) tidak, tetapi yang saya sebutkan ini adalah manhaj mereka. Mereka tahu penyimpangan Ihyaut Turats, Al-Sofwa, DDII, Al-Irsyad, L-Data, Taruna Al-Qur’an, Abdurrahman Abdul Khaliq, Abul Hasan Al-Misri, Thariq Suwaidan, Hidayat Nurwahid, Amin Jamaluddin, Taufiq Shalih Al-Katsiri, Yusuf Utsman Ba’isa dan yang lainnya tetapi mereka tetap bermuamalah dengan mereka bahkan membela sebagian mereka.Wallahu musta’an.

2. Alhamdulillah ustadz-ustadz kita,  sikap mereka tegas dengan ahlu bid’ah apalagi sama tokoh dan para pembesarnya, hal ini bisa kita lihat dan dengarkan dalam ceramah-ceramah mereka dalam muhadhoroh-muhadhoroh mereka yang tak jarang memberi peringatan kepada ummat dari bahaya ahlu bid’ah. Hal ini yang tidak ada pada mereka (ustadz-ustadz rodja), secara umum pengisi radio rodja -sebatas yang ana tahu- plintat plintut dalam menyikapi sebagian ahlu bid’ah, tidak membantahnya atau diam atas penyimpangan mereka, seperti tidak membantah atau diam atas penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq, Abul Hasan Al Misri dan yang lainya sebagaimana diamnya Firanda MA, Abdullah Taslim MA dan  selainnya atas kesesatan dan penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq dan Yayasan Ihyaut Turats yang mereka berdua mengaku mengetahui dan mempunyai bukti-bukti kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan penyimpangan yang ada di tubuh Ihyaut Turats. Bahkan salah seorang dari pembicara rutin radio rodja yaitu Ali Subana malah memuji seorang ahlu bid’ah dan bahkan pembesar ahlu bid’ah pada zaman ini yaitu DR. Yusuf Al-Qardhawi. Sebagaimana hal ini diceritakan oleh salah seorang ikhwan (Abu Aisyah) yang dulu pernah tinggal bersama keluarganya di Qatar dan dia ikut majelisnya Ali Subana di sana. Suatu ketika Ali Subana pernah ditanya tentang Yusuf Qardhawi dengan pertanyaan, ‘Siapakah Yusuf Qardhawi?’ Kata seorang penanya yang ikut di majelisnya di Qatar, lalu Ali Subana menjawab, “Yusuf Qardhawi termasuk ulama pada abad ini.” Lalu ikhwan kita ini berkata ketika menceritakannya kepada saya : “Ana mendengar sendiri dengan telinga ana bahwa Ali Subana menjawab seperti itu.”

Atau cerita salah seorang ikhwan dari Jakarta yang baru saja mengenal ta’lim satu sampai dua tahun yang pernah bertanya kepada ana tentang radio rodja, lalu ana jelaskan tentang pemateri di radio Rodja sampai tentang Ali Subana yang memuji Yusuf Qardhawi lalu ia pun berkata: “Ia.., ana pernah dengar di radio rodja Ali Subana menukilkan perkataan Yusuf Qardhawi ana pun kaget setahu ana Yusuf Qardhawi sesat.”

Insya Allah kita semua tahu siapa DR. Yusuf Qardhawi, seorang tokoh dan pembesar ikhwanul muslimin, seorang tokoh sesat yang sangat terkenal yang sangat jelas kesesatannya, kalau yang seperti ini saja masih direkomendasi sama salah seorang dari pembicara radio Rodja lalu bagaimana dengan tokoh sesat  dan menyimpang lainnya..?! Di antaranya seperti Ali Hasan bin Abdul Hamid dan Salim bin Ied Al-Hilali jelas lebih mereka rekomendasi dan bela walaupun para ulama telah menjarhnya dan sebagian telah mentabdi’nya.

3. Alhamdulillah ustadz-ustadz kita tidak ada yang mengambil dana dari yayasan hizbi penyebar manhaj khawarij Ihyaut Turats bahkan ustadz-ustadz kita memperingatkan dari bahaya bermuamalah dengan Ihyaut Turats dan bahaya pendirinya yaitu Abdurrahman Abdul Khaliq adapun sebagian mereka mengambil bahkan menjadi gembong dan kaki tangan dari yayasan hizbi Ihyaut Thurats seperti Abu Qatadah dan Abu Nida LC. Dan lihat juga kelakuan salah satu pembicara radio rodja yang bernama Firanda MA. yang membela mati-matian yayasan hizbi Ihyaut Turats, padahal dalam banyak kesempatan dia dan Abdullah Taslim MA. mengakui bahwasanya dia mengetahui penyimpangan Ihyaut Turats dan mempunyai data-data penyimpangannya, sekarang kita tanyakan kepada mereka Firanda dan Abdullah Taslim yang keduanya menjadi pembicara radio rodja, “Mana bantahan kalian terhadap Abdurahman Abdul Khaliq atau Ihyaut Turats atau Al Sofwa dalam ceramah, muhadoroh, dan tulisan-tulisan kalian..?! Bukankah kalian mengetahui penyimpangan Ihyaut Turats, Abdurahaman Abdul Khaliq sebagaimana pengakuan kalian sendiri, lalu mana pengamalanmu pada hadits ini wahai Firanda..?! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, maka apabila tidak bisa ubahlah dengan lisannya, maka apabila tidak bisa maka dengan hatinya yang demikian selemah-lemah iman” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudry)

Justru kalian malah membantah orang yang membantah ihyaut turats dan Abdurhaman Abdul Khaliq. Katanya kalian tahu tentang penyimpangan Abdurahman Abdul Khaliq dan ihyaut turats, lalu kenapa tidak membantah, menjelaskan penyimpangan orang yang melakukan penyimpangan (Abdurrahaman Abdul Khaliq) supaya ummat secara sebab selamat dari bahaya penyimpangan mereka, kok malah membantah orang yang membantah penyimpangan Abdurahman Abdul Khaliq dan Ihyaut Turats. Kemana akal sehatmu wahai Firanda..!

4. Ustadz-ustdaz kita Alhamdulillah menjaga pakaiannya dan adab-adabnya dengan memakai sarung atau jubah di kesehariannya, adapun sebagian mereka (pengisi) radio rodja tidak sedikit yang memakai banthalun, atau bahkan celana yang agak ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka (maaf –pantat mereka-) bahkan ketika shalat dan ta’lim. Saya punya pengalaman buruk ketika masih ikut ta’lim dengan salah satu pengisi radio rodja tentang celana banthalun, yang saya malu untuk menceritakannya di sini. Wallahu musta’an

Inilah sedikit penjelasan dari saya untuk saudaraku yang bertanya tentang radio rodja yaitu untuk mencukupkan dengan mendengar kajian ustadz-ustadz kita karena apa yang ada pada pengisi radio rodja dari ilmu dan faedah ada pada ustadz-ustadz kita dan sebaliknya apa yang ada pada ustadz-ustadz kita (yang telah saya sebutkan di atas) tidak ada pada ustadz-ustadz rodja. Selain dari itu sama-sama kita ketahui dari perkataan Ibnu Siriin yang Insya Allah menutup “perjumpaan kita”, yang beliau berkata :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesunguhnya ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Dan perkataan Syaikh ‘Abdullah Mar’i Hafidzahullah : “Jangan sampai mereka yang dulunya salafiyyin (ketika mendengar radio rodja –ed) menjadi Khalafiyyin (orang menyelisihi manhaj salaf –ed)” (sumber : rekaman pertemuan Tanah Abang Jakarta) .

Wallahu muwwafiq

Ditulis oleh : Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

About these ads

130 comments on “Untukmu Yang Masih Bertanya Tentang Radio Rodja

  1. shahih.com mengatakan:

    Jazakallhkhoiron Ustadz.

    • abdullah1982 mengatakan:

      wa anta Jazakumullahu khoir

      • roby mengatakan:

        maaf, sy bingung..
        apakah kita juga tdk boleh
        bermuamalah dg orang
        tua atau saudara kandung
        yg ahli bid’ah??
        apakah kita juga tdk boleh
        menerima dana dari
        mereka??
        mohon penjelasannya..

      • abdullah1982 mengatakan:

        saudaraku yang saya hormati, ada hal yang ingin saya katakan.
        1. kita harus membedakan antara ahlu bid’ah dan orang yang sekedar ikut-ikutan, sehingga melakukan berbuatan yang tidak ada contohnya yang dia anggap sebgai amalan ketaatan. maka keduannya mempunyai hukum yang berbeda, begitu juga muamalah yang berbeda kepada mereka. secara umum keadaan kaum muslimin ada pada kondisi kedua, karena jauhnya mereka dari agama sehingga terjatuh kepada perbuatan bid’ah. maka kita nasehatkan dengan cara yang baik.
        2. yang harus kita lakukan sebagai seorang anak adalah menasehati orang tua kita dengan baik. wallahu a’alam bish shawwab

  2. Abu Bimbel mengatakan:

    subhanallah, semoga Allah menjaga ustadz dari makar2 hizbiyyun dan tetap istiqamah.

    barakallahu fik

  3. abu ahmad mengatakan:

    masya Allah, nasehat yg bermanfaat. Jazakallohu khoiron.

  4. Abu salman mengatakan:

    Bertamb ah lagi satu pewalak ruwaibidhoh di teng ah kaum muslimin wkwkwkwkwk. Dikira ente hebat nulis kayak gini hahaha. Udah ah ngocol capek ketawa

  5. Abu Ishaq mengatakan:

    Apakah antum sudah pernah menasihati ustadz2 yang antum sebut diatas??

    Nasihatilah mereka secara LANGSUNG… nasihatilah Ust. Abu Qatadah, Ust. Firanda, Ust.Abdullah Taslim dan ustadz2 lainya yang menurut pengamatan antum masih bergaul atau mendukung golongan yang menyimpang, cobalah nasehati mereka ustadz2 pengisi Radio Rodja yang tidak memiliki ilmu dan faedah seperti Ustadz2 antum agar mereka bisa sesuai dan sejalan dengan ustadz2 antum.

    Menurut ana, tulisan yang antum tulis terlihat sangat ilmiah…sepertinya sudah menjadi rangkuman atas penyelidikan intelejen sudah gitu dilengkapi dengan dalil2 shohih…Subhanalloh.

    Tapi tulisan antum ini bisa berpotensi menjadi fitnah dan akhirnya bisa menjadi perpecahan ummat, coba dong berikan perimbangan yang adil, jangan hanya mendakwa seolah2 ustadz yang antum sebut di atas itu berdosa seumur hidupnya oleh karena melakukan hal2 yang menurut antum sebuah kesalahan fatal dan ‘sepertinya’ harus di laknat

    Akhi… Manusia itu dhoif termasuk antum, ana dan pastinya juga ustadz2 Antum, nasehatilah dengan cara yang lebih ma’ruf… kasihan ummat yang semakin bingung saja mana yang salah, mana yang sesat dan mana yang lurus!

    Barakallahu fikum

    • abdullah1982 mengatakan:

      Abu Ishaq yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua, kalau antum tanya sudahkah meraka dinasehati secara langsung maka jwabnya sebagian asatidzah salafiyyin sudah menasehati sebagian mereka secara langung dan tidak langsung (sepanjang pengetahuan ana) bahkan sebagian masyaikh sudah menasehati firnda secara langsung, menjawab pertanyaan firanda tetapi ya firanda mengikuti hawa nafsunya dan berbuat kurang adab dengan syaikh muhammad bin hadi, kalau antum bertanya dari siapa ana tahu..?maka ana jawab dari FIRANDA yang memberita tahu ana secara LANGSUNG ketika ana masih ngaji bersama mereka. insya Allah akan ada penjelasn tersendiri. begitu juga syaikh Abdullah Bukhari telah menjelaskan masalah ini. seharusnya antum bertanya kepada firanda yang membuat rusuh dakwah dengan menyakiti salfiyyin dengan membela habis-habisan musuh salafiyyin di penjuru dunia ihyaut thurast, pemecah belah dakwah slafiyyin di indonesia, yaman dan temapt yang lain. dan seharus antum marah sama Yusuf Utsman Ba’isa dan dengan Al-Irsyadnya yang telah mengundang Abdurrahman Abdul Khaliq sebab terpecahnya salafiyyin dan mepertanyakann kenapa kamu membuat potensi ummat untuk pecah…!! semoga Allah memberi hidayah kepada ana, antum dan kita semua. fikum barakallah

      • coret mengatakan:

        barokallohu fiikum yaa akhi….. kasian orang2 itu, hizbiyyun yg mengaku salafy…. yg memporak porandakan dakwah salafy…. smg alloh subhanahu wata’ala menjadikan kita org2 yg istiqomah di atas manhaj salaf. jgn tertipu dg hizbiyyun!!!

      • Abu_Miska Al-Alory mengatakan:

        Jazakumullah khairan atas ‘ilmu yang disampaikan..mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga ahlusunnah. hendaklah seorang muslim senantiasa lapang dada menerima haq yang datang padanya dan menjauhi taqlid buta terhadap pribadi tertentu…wallahulmusta’an

  6. Bismillah Jazaakallohu khoyro untuk penjelasannya ustadz,mudah2an umat yang notabene awam (yang hanya menilai/memaknai kata salaf hanya dari kulitnya saja) benar-benar bisa memahaminya.untuk al akh abu ishaq inilah kenyataan yang harus di terima bahwasannya sepintar2nya manusia menyimpan bangkai toh tetap bau nya akan tercium juga seperti halnya dai2 turotsyun semisal Yazid jawas Cs sepandai2nya mereka berlindung di balik penampilan salafy toh tetap Allah akan tunjukan juga manhaj aslinya.sebenarnya dari penjelasan di atas juga sudah cukup untuk orang yang memiliki mata hati akan ketergelinciran ustadz2 turotsyyun tersebut apalagi bukti yang tidak terbantahkan bahwasannya Penulis adalah teman satu Madrasah (sekolah) Ustadz Firanda (di jamilurrahman jogja) yang saat ini keberadaannya (Yaitu ustadz Firanda) di jadikan bemper oleh dai2 turotsyyun.Untuk Abu Salman belajarlah yang rajin (bukan sekedar belajar di mana ustadz antum bedah Buku sebulan sekali atau setahun sekali)Fahami apa makna kalimat Ruwaibid’ah Menurut hemat ana apabila bisa menampilkan hujjah dari kitab dan sunnah dan juga realita yang terjadi di lapangan itu tidak bermakna RUWAIBID’AH.Terakhir sebagai bentuk kecintaan ana ter hadap antum berdua (Abu Salman dan Abu Ishaq) dan pengamalan Hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang artinya:’tidaklah beriman salah seorang kalian (dengan keimanan yang sempurna) hingga dia mencintai untuk saudaranya (semuslim) seperti apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri) ana mengajak antum untuk kembali kepada al-haq dan tidak menjadi orang terdepan menolong kebatilan mari hadiri ta’lim ustadz-ustadz salafyyin yang sudah terbukti kewara’annya dan kezuhudannya dalam da’wah ini Hayyakumulloh.Hadanallahu wa iyyahum

  7. penuntut ilmu mengatakan:

    kasihan yang baca ini…masyaallah….hambatan dakwah selain dari eksternal …internalnya pun sangt ganas…

    • abdullah1982 mengatakan:

      akhi yang semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua, justru hambatan dakwah, pencemar dakawh, perusak dakwah adalah yayasan Ihyaut turats yang sebagian ustadz2 rodja bermuamalah, dan membalanya. apakah kita biarakan ummat sedikit-demi sedikit mulai terbiasa dengan pergaulan bebas antar manhaj walaupun sama keturunan pembunuh utsman? Yiautu KhwariJ…!!. naudzubillah..

  8. bintang mengatakan:

    Afwan my tanya apakah sarung itu diperbolehkan penggunaannya untuk sholat? Apakah termasuk bid’ahkah sarung karena di zaman Rasulullah kan tidak ada sarung. ada yang mengatkan sarung itu mirip bantalon. Mohon penjelasannya. Jazakallahu khoyran.

    • abdullah1982 mengatakan:

      sarung bukan banthalun, sarung bukan perkara bid’ah dan boleh digunakan untuk shalat. dibawah ini sedikit penjelasan ulama tentang pakaian pantolun

      Pertanyaan :
      Apakah boleh shalat memakai pantaloon (celana panjang ketat) bagi wanita dan lelaki. Bagaimana pula hukum syar’inya bila wanita memakai pakaian yang bahannya tipis namun tidak menampakkan auratnya?

      Jawab:

      Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pakaian yang ketat yang membentuk anggota-anggota tubuh dan menggambarkan tubuh wanita, anggota-anggota badan berikut lekuk-lekuknya tidak boleh dipakai, baik bagi laki-laki maupun wanita. Bahkan untuk wanita lebih sangat pelarangannya karena fitnah (godaan) yang ditimbulkannya lebih besar.

      Adapun dalam shalat, bila memang seseorang shalat dalam keadaan auratnya tertutup dengan pakaian tersebut maka shalatnya sah karena adanya penutup aurat, akan tetapi orang yang berpakaian ketat tersebut berdosa. Karena terkadang ada amalan shalat yang tidak ia laksanakan dengan semestinya disebabkan ketatnya pakaiannya. Ini dari satu sisi. Sisi yang kedua, pakaian semacam ini akan mengundang fitnah dan menarik pandangan (orang lain), terlebih lagi bila ia seorang wanita.

      Maka wajib bagi si wanita untuk menutup tubuhnya dengan pakaian yang lebar dan lapang, tidak menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya, tidak mengundang pandangan (karena ketatnya), dan juga pakaian itu tidak tipis menerawang. Hendaknya pakaian itu merupakan pakaian yang dapat menutupi tubuh si wanita secara sempurna, tanpa ada sedikitpun dari tubuhnya yang tampak. Pakaian itu tidak boleh pendek sehingga menampakkan kedua betisnya, dua lengannya, atau dua telapak tangannya. Si wanita tidak boleh pula membuka wajahnya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya tapi ia harus menutup seluruh tubuhnya. Pakaiannya tidak boleh tipis sehingga tampak tubuhnya di balik pakaian tersebut atau tampak warna kulitnya. Yang seperti ini jelas tidak teranggap sebagai pakaian yang dapat menutupi.

      Nabi n telah mengabarkan dalam hadits yang shahih1:

      صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: رِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ وَنِساَءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسَهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ لاَ يَجِدْنَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

      “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang saat ini aku belum melihat keduanya. Yang pertama, satu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi, yang dengannya mereka memukul manusia. Kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka miring dan membuat miring orang lain. Kepala-kepala mereka semisal punuk unta, mereka tidak akan mencium wanginya surga.”

      Makna كَاسِيَاتٌ: mereka mengenakan pakaian akan tetapi hakikatnya mereka telanjang karena pakaian tersebut tidak menutupi tubuh mereka. Modelnya saja berupa pakaian akan tetapi tidak dapat menutupi apa yang ada di baliknya, mungkin karena tipisnya atau karena pendeknya atau kurang panjang untuk menutupi tubuh.

      Maka wajib bagi para muslimah untuk memperhatikan hal ini. (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/158-159)

      Majalah AsySyariah Edisi 054

      • fajargamal mengatakan:

        Ustadz,

        Afwan, ana kerja memakai bantholun, tapi ana memakai ukuran bantholun yang lebih besar 4 angka dari sebenarnya. Seharusnya ana memakai no 38 tetapi yang pakai no 40 dan no 42 (karena ana orangnya yang tinggi besar). Dan ana selalu memakai baju di keluarkan sehingga menutupi (afwan) pantat ana.

        Apakah tidak apa2x ana memakai celana tsb?
        Apakah dalam sholat ana harus memakai sarung?

        Sebelumnya Jazaakallahu khoir.

  9. tholabul ilmi mengatakan:

    Assalamualaykum Warrahmatullah Wabarakatuh,

    afwan, ana tergelitik untuk bertanya beberapa hal mengenai hal2 diatas.

    Bukankah ada ulama yg membolehkan mengambil bantuan IT? Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Abdul Aziz Alu Asy Syaikh, Saleh Alu Syaikh?

    Apakah mereka mengeluarkan fatwa2 tersebut dengan tdk memahami apa yg difatwakannya? maksudnya bahwa yayasan tsb adalah yayasan hizbi, tetapi kenapa mereka membolehkannya? menurut ana tidak mungkin tdk tahu, jika ulama mengeluarkan fatwa pastinya sudah dipahami seluk beluk permasalahannya. walaupun ulama juga manusia yang punya ksalahan.

    Bagaimana hubungan antara para ulama yg melarang dan membolehkan, apakah saling mentahzir? terus terang ana bingung. Yang satu mengambil fatwa yg melarang dan yang satu mengambil fatwa yang membolehkan, jadi siapa yg harus disalahakan?

    Mohon jawabannya, jazakallahu khoiro

    • abdullah1982 mengatakan:

      wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. afwan akhi supaya antum puas, antum bisa membaca hasil transkip ceramah sesi 1 dan ke 2 ustadz Luqman tentang ihyaut turats, insya Allah antm akan dapat jawabn yang memuaskan dari ketidak tahuan kita tentang kejelakan ihyaut turats dari satu sisi saja.

      [TRANSKRIP-DAUROH TANGERANG SESI 1] Mewaspadai Tersebarnya Bahaya Khawarij Melalui Yayasan Ihya At Turots. silahkan lihat disini :
      http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1975

      TRANSKRIP-DAUROH TANGERANG SESI 2] Mewaspadai Tersebarnya Bahaya Khawarij Melalui Yayasan Ihya At Turots
      http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1976

      • alfan mengatakan:

        bismillah…
        afwan, tautan dauroh tengerang tentang yayasan ihya at turots, isi rekamannya kok sama dengan rekaman pada sesi 1? barokallahu fiikum wa jazakallah khoiro katsiro

  10. abdullah mengatakan:

    tolong jelaskan apa kata ali subana tentang yusuf qardawi,kalo hanya sekedar dia mengatakan (ulama),mungkin maksudnya ulamaknya ikhwanulmuslimin,karna saya pernah hidup bersama dia(ali subana)di qatar tdk pernah saya mendengar dia mengatakan hal tersebut,kalo memang benar,saya yakin dia pasti hadir terus dalam khutbah jumat yusuf qardawi,.agar kita terhindar dari ghiibah,. Tolong dijawab.

    • abdullah1982 mengatakan:

      sebagaimana yang ana nukilkan dari Abu Aisyah yang pernah di Qatar dan mendengar perkataan Ali Subana tersebut bahkan ana ta’akid lagi ada yang kurang yaitu yang lengkap begini perkataannya : ” Yusuf Qardhawi termasuk ulama besar abad ini jika ada yang ingin mendengar khutbatnya di masjid sana (masjid yang keseharian Qardhawi berada disana)”

      • penuntut ilmu mengatakan:

        dua2nya pernah tinggal bersama ali subana, yg satu tdk pernah mendengar perkataan tersebut yg satu lagi katanya pernah, bagaimana menurut antum? ahsannya kalau antum ada rekamannya jadi memang perkataannya bisa dipertanggung jawabkan. ana agak khawatir kalau antum hanya mendengar dari katanya.

      • abdullah1982 mengatakan:

        tidak semua ketika seseorang menyebutkan perkataan harus terbukti dengan rekaman, ulama terdahulu tidak dengan rekaman ketika menukilkan sebuah perkataan. namun jelas kalau ada bagus. kenapa antm tidak mengatakan dia yang tidak mendengar. bahkan banyak hal yang didengar oleh sumberinformasi tentang Ali Syubbana tetapi hanya yang berkaitan dengan apa yang ana tulis saja yang ana bawakan.

  11. SUMANTO mengatakan:

    BERSIKAPLAH KEPADA SEMUA MAHLUK ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA, SEPERTI HALNYA ENGKAU BERHARAP AKAN DI BALAS DENGAN SIKAP YANG SAMA, DI HARI PEMBALASAN NANTI…

    KALAU ENGKAU BERHARAP AKAN DI CELA OLEH ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA DI HARI PEMBALASAN NANTI, MAKA SILAHKAN ENGKAU BANYAK-BANYAK MENCELA ORANG LAIN…, APALAGI MENCELA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM ADALAH HUKUMNYA HARAM….

    TETAPI KALAU ENGKAU TAKUT AKAN HARI PEMBALASAN NANTI MAKA BERSIKAPLAH YANG TERBAIK TERHADAP ORANG LAIN

    APALAGI ANTUM HANYA MENGAMBIL DALIL DARI PERKATAAN-PERKATAAN MANUSIA, BUKAN QOLALLAH WA QOLA ROSUL….

    • pencari kebenaran mengatakan:

      indah nian rangkaian kata2 ini. dapet dari mana akh? dari ustadz2 sururi ya? soalnya setau ana ya begini ini perkataan dan dakwah mereka. biar murid2nya gak bisa mengoreksi kekeliruannya. sdh kerasukan kata2 indah yg menyesatkan.

      • abdullah1982 mengatakan:

        LARANGAN MENDENGARKAN RADIO TURATSIYYAH-HALABIYYAH-MA’RIBIYYAH (semisal RODJA dll.) (Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah)
        27 Jul

        Pertanyaan:
        Di dekat kami ada radio yang dia ini pengikut At-Turotsiyyin seperti Abul Hasan dan Ali Al-Halaby dan ada sebagian Salafiyyin yang menanyakan tentang hukum mendengarkan radio ini. Dan tentunya di radio ini disebarkan perkataan Al-Halaby, Ar-Ruhaily dan selain keduanya, padahal Salafiyyin memiliki radio sendiri dan memiliki CD-CD yang merekam durusnya para ulama dan para da’i (Salafiyyin) Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, Tauhid, Sunnah, Akhlaq. Maka apakah anda menasehati anak-anak anda di Indonesia untuk mendengarkan radio ini?

        Jawab:
        Yang pertama, mencukupkan diri dengan mendengarkan radio Salafiyyin dan pada yang engkau sebutkan itu sudah cukup. Maka TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH.
        Kedua, barangsiapa yang DIA INI MEMILIKI KEMAMPUAN KEAHLIAN/KAPASITAS LALU MENDENGARKAN RADIO INI DALAM RANGKA MEMBANTAHNYA MAKA TIDAK MENGAPA.
        JADI ORANG-ORANG AWAMNYA AHLUSSUNNAH TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO TERSEBUT.
        Kewajiban kita hanya menjelaskan, dan termasuk kelembutan dan rahmat Allah kepada kita (yaitu) Allah tidak membebani kita untuk memberi hidayah kepada hati-hati manusia dan Allah tidak membebani kita agar kebenaran itu diterima oleh mereka….
        (diterjemahkan secara bebas. Sumber: rekaman pertanyaan-pertanyaan Salafiyyin Indonesia pada malam Ahad, 15 Jumadil Akhir 1433H yang bertepatan dengan 5 Mei 2012)

        Link Suara: http://bit.ly/NVrfUk

        Faidah-faidah yang bisa kita petik:
        1. Si penanya tidak menyebutkan secara khusus nama radio tertentu kecuali penyifatannya adalah radio dari kalangan Turatsiyyun, Abul Hasan, Al-Halaby, Ar-Ruhaily. Ini mengandung faidah yang sangat luas bahwa hukum yang ditanyakan tersebut tidak hanya tertuju pada satu atau dua radio saja (tidak ada celah bagi hizbiyyin dan para pembelanya untuk beralasan [misalnya] “Itu kan fatwa larangan untuk radio A bukan larangan mendengarkan radio B, C atau yang lainnya” atau berhilah “Nama radionya sudah berubah dari RODJA menjadi RADJA, jadi fatwa tentang larangan mendengarkan radio RODJA sudah tidak berlaku lagi” dan hilah-hilah yang lainnya.).
        2. Syaikh memberikan penegasan yang jelas lagi gamblang TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH. Maka apapun nama radio tersebut yang memiliki sifat-sifat di atas masuk dalam larangan beliau.
        3. Asy-Syaikh pada bulan Mei 2012 kemarin masih memperingatkan Salafiyyin tentang Penyimpangan Turotsiyyah maka ini adalah bantahan terhadap ucapan semisal masalah Ihya’ut Turots sudah selesai dan yang masih membicarakannya adalah PAHLAWAN KESIANGAN.
        4. Larangan bagi awam Ahlussunnah untuk mendengarkan radio Turotsiyah Halabiyyah Ma’ribiyyah.
        5. Bolehnya bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan radio tersebut dalam rangka membantahnya (maka bagaimana pula jika dia malah berpromosi, memuji, men-Salafy-kan dan membela tokoh-tokohnya serta menghasung ribuan orang lainnya untuk mendengarkannya?). Wallahul musta’an.

        Diterjemahkan oleh Tim Darussalaf.or.id,.
        Muroja’ah : Al-Ustadz Muhammad Ar-Rifa’i (Alumni Yaman)

      • haeruman mengatakan:

        hadakalloh

  12. salafeyoon mengatakan:

    nyimak dulu…
    salah sat

  13. Aqila mengatakan:

    Tp sayang, sih penulis hanya bs menjadi komentator di balik layar.. Padahal ilmunya tak sbanding sdkitpun dgn orang yg di komentarinya.. Wallahua’lam.. Allahumusta’an

    • heru syahrizal mengatakan:

      jazakumullohu katsiron akhi Sumanto, Aqila…yang penting kita mengetahui dan dapat merasakan kebenaran ilmu yang lurus dari da’i-da’i yang telah di tuduh dengan keji oleh si penulis…biarkan dia dengan perbuatannya..niscaya akan kembali kepada dirinya sendiri. Wasallam

      • Abdul Aziz bin Abdullah mengatakan:

        Untuk Al Akh Heru Syahrizal Apa Maksud Di tuduh dengan keji?yang jelas dong biar kita gampang menjelaskan ke antum dari sisi mana penulis menuduh keji

  14. Bismillah jazaakalloh khoiro ustadz dengan dijelaskannya dai2 yang memiiki fikrah menyimpang akan semakin bertambah wawasan yang akan menambah kekuatan dan kekokohan manhaj ini.untuk AL AKH SUMANTO mari kita belajar agama ini dari sumber yang benar,dari pemahaman yang benar dan dari ustadz yang amanah di dalam da’wahnya membentengi umat dari faham menyimpang adalah satu kewajiban bagi seseorang yang mempunyai kemampuan termasuk didalamnya membentengi aqidah dan manhaj umat dari faham2 menyimpang yang terdapat pada dai2 hizby mengenai lemah lembut betul hukum asalnya da’wah harus dengan kelemah lembutan akan tetapi adakalanya da’wah harus di lakukan dengan keras mana kala kelemah lembutan tidak dapat merubah kemungkaran yang ada.dai2 turotsyun adalah dai yang sejak lama sudah di nasehati akan tetapi karena tidak ada itiqad baik untuk berubah maka cara seperti ini mungkin layak untuk di lakukan.timbanglah semuanya dengan dalil bukan dengan ra’yu (AKAL) teramat banyak dalil yang menjelaskan tentang kerasnya da’wah ulama salaf terhadap pengusung kebatilan.Untuk Akh Aqila Hadanallohu Da’wah bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan tulisan di blog ini misalnya.walhamdulillah Ustadz2 kami bukanlah ustadz yang senang memperlihatkan ilmu akan tetapi mereka hafidzahumulloh adalah asatidzah yang tawadhu dan berusaha beramal dengan ilmu yang di milikinya.tidak ada manusia yang sempurna keilmuannya hanya milik Allahlah keilmuan yang sempurna

  15. heru alfarisi mengatakan:

    Assalamualaykum Warrahmatullah Wabarakatuh
    ana baca antum sebelumnya pernah ikut kajian ustadz Abu Qatadah….begini akhi yang maksum hanya Nabi…jangan sampai hanya karena kita melihat ustadz yang kita pernah mengaji dengannya tidak sesuai dengan kita langsung menyalahkannya dan menyebar aib keseluruh manusia, yang ana takutkan suatu saat antum dapat informasi baru tentang ustadz-ustadz tempat akhi mengaji sekarang yang tidak sesuai dengan antum..apakah antum akan menulis hal yang sama akhi ?

    • abdullah1982 mengatakan:

      wa’alaikumusslam warahmatullahi wabarakatuh, saudaraku yang semoga Allah memberi hidayah kepada anda. saya ucapakan terima kasih kepada anada telah mau mambaca artikel ini. Saudaraku yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Apa yang dialakukan abu qatadah adalah sebuah penyimpangan manhaj yang bukan sekadar “kesalahan yang manusia tidak bisa lepas dari kesalahan” tapi inilah manhajnya, berulang-ulang kali dilakukannya dan tidak bertaubat kepada Allah. yang penyimpangannya tidak bisa dibiarkan kasian ummat nanti bahkan mereka sudah menyangka apa yang dilakukan oleh abu qatadah dan yang semisalnya itulah manhaj salaf…!! padahal pada hakekatnya itulah manhaj hizbiyah sururiyah wa hasaniyyah.

  16. suhali mengatakan:

    beginilah serunya jika orang2 pandai sedang berdebat.

    • zulfa yoni mengatakan:

      Apakah begini cara2 salaf terdahulu

      • abdullah1982 mengatakan:

        Semoga Allah memberi hidayah kepada anda

      • abu abdillah mengatakan:

        Bismillah
        Iya jelas sekali para salaful umah melakukan bantahan2 dan mentahdzir para pelaku kebid’ahan. Demikianlah yg dibenarkan sebagi seorang salafy mencontoh kaidah-kaidah dakwah para salaf. Sangat cemburu terhadap manhaj al haQ, dengan membantah pengekor hawa nafsu. Tidak membiarkan kemungkaran menyebar hanya dgn alasan mpertahankan persatuan diatas kebatilan.. Allahul musta’an

  17. Abu lu'lu' mengatakan:

    Jazakumullohu kher ustadz kami jadi tambah mantab dengan artikel antum ini…. sedang mereka (turotsiyyun) tambah bingung… Alhamdulillah ‘ala kulli hal…

  18. rizky mengatakan:

    membangga banggakan golongan sendiri?

    • abdullah1982 mengatakan:

      bukan membangga-banggakan golongan, tapi menjelaskan apa yang akan membahayakan ummat supaya ummat tidak terjatuh kepada penyimpangan.

  19. firdha yulandari mengatakan:

    jazaakallahu khayran

  20. firdha yulandari mengatakan:

    ustadz, mohon penjelasannya tentang kalimat ini:
    “Di antaranya seperti Ali Hasan bin Abdul Hamid dan Salim bin Ied Al-Hilali jelas lebih mereka rekomendasi dan bela walaupun para ulama telah menjarhnya dan sebagian telah mentabdi’nya.”

    • abdullah1982 mengatakan:

      para ulama kibar cukup lama bershabar atas perbuatan Ali Hasan, dengan terus menasehati sampai tiba ketika syaikh Rabi’ dan syaikh Ubaid mentabdinya (mengatakan Ali Hasan sebagai Ahlu Bid’ah)

  21. ANSHORUS-SUNNAH AS-SALAFY mengatakan:

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Alhamdulillah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allohu Robbul ‘Alamien atas telah terbitnya sebuah buku (terbit Muharrom 1430H/2009M) yg berjudul: “MENJALIN UKHUWWAH DIATAS MINHAJ NUBUWWAH buah karya Al-Ustadz Askary bin Jamal al Bugisi, Mudir Ponpes IBNUL QOYYIM Balikpapan-Kalimantan) yg mana buku tersebut berisi bantahan ilmiyah sekaligus jawaban tuntas atas segala polemik (fitnah) yg terjadi diberbagai belahan bumi yg disitu ahlussunnah terfitnah dengannya yg diakibatkan oleh ulah segerombolan du’aatul hizby ikhwany as-surury bertopeng salafy yg terus menerus menebar racun u/memecah belah barisan salafiyyin di seluruh dunia…

    Buku tsb terbagi dlm 10 bab a/l:

    BAB 1. ” FATWA PARA ULAMA TTG IHYAA -UT TUROTS & KESIMPULAN NYA (Mulai Hal.15)

    BAB.2. ” JUM’IYYAH IHYAA-UT TUROTS MASALAH IJTIHADIYYAH??
    (Mulai Hal.32)

    BAB.3 ” KESALAHAN MUJTAHID VS PENGEKOR HAWA NAFSU (IFROTH HADDADIYAH VS TAFRITH SURURIYYAH) (Mulai Hal.49)

    BAB.4 ” ‘ULAMA,… ANTARA SENIOR DAN PALING SENIOR…?
    (Mulai Hal.70)

    BAB.5 ” IHYAA-UT TUROTS; BONEKA ABDURROHMAN ABDUL KHOLIQ…
    (Mulai Hal.103

    BAB.6 ” IHYAA-UT TUROTS MENYIMPANG…
    -JARH MUFASSAR ATASNYA… (Mulai Hal.130)

    BAB.7 ” ‘ULAMA AHLUSSUNNAH TDK MEREKOMENDASI IHYAA-UT TUROTS (1) (Mulai Hal.149)

    BAB.8 ” ‘ULAMA AHLUSSUNNAH TIDAK MEREKOMENDASI IHYAA-UT TUROTS (2) Mulai Hal.173

    BAB.9 “MENGAPA ASY-SYAIKH AL-ALBANIE Rohimahulloh TIDAK MEREKOMENDASI IHYAA-UT TUROTS..?? (Mulai Hal.199)

    BAB.10 “APAKAH ABDURROHMAN ABDUL KHOLIQ SALAFY…??
    (Mulai Hal.223)

    Semoga dg kehadiran buku tsb dpt membuka mata dan hati kita semua betapa kejinya sepak terjang seorang HIZBY ihkwani assurury berbaju salafy yg masih saja didukung oleh sebagian duat di tanah air tercinta yg mengaku bermanhaj salaf…Wallohul Musta’aan (dan hanya kpd Alloh sajalah kita memohon pertolongan…) untuk mendapatkan buku dg judul diatas antum bisa menghubungi: PENERBIT QOULAN SADIDA, MALANG-JATIM TELP.(0341) 706-2995 atau dpt menghubungi ikhwah penjual buku/majalah/herbal disetiap kajian salafiyyin di kota-kota terdekat…
    Semoga bermanfaat

    AKHUKUM FILLAH

    ANSHORUS-SUNNAH AS-SALAFY

  22. abu musa mengatakan:

    BANYAK KESALAHAN SANGAT MENDASAR DALAM TULISAN ANDA .. .

  23. halil_Ae' mengatakan:

    asalammualaikum,,
    _betul semua manusia tidak maksum kecuali nabi kita yg ma’sum,,
    tujuan dakwah mereka adalah tegaknya kaliamat tauhid dibumi allah ini,,..
    hati” artikel yg antum tulis..
    bisa jadi fitnah,,
    manang kala tulisan antum keliru,,,
    antum telah menghalagi ilmu dari mereka kpd masyarkat,,yg tujuannya menegakkan agama allah,,
    ,,hati” dalam memperkatakan ulama,,,
    bukankah ulama dagingnya berakun,,
    jazakumullah gfik
    wa’alaikum salam

    • abdullah1982 mengatakan:

      wa’alaikumussalam. yang ana komentari adalah ust2 kalian, firanda, abdullah tasli,abu qatadah dll. bukan para masyaikh yang ahlussunnah yang jika ada yang ngisi di situ.

  24. Wiqo mengatakan:

    “para ulama kibar cukup lama bershabar atas perbuatan Ali Hasan, dengan terus menasehati sampai tiba ketika syaikh Rabi’ dan syaikh Ubaid mentabdinya (mengatakan Ali Hasan sebagai Ahlu Bid’ah)”.

    Ana terus terang baru dengar pernyataan ini, bisakah antum tuliskan disini pernyataan sikap para syaikh tsb kepada kedua syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid dan Salim bin Ied Al-Hilali??

    • abdullah1982 mengatakan:

      perkataan ana diatas hanya sampai pada Ali Hasan. ust2 punya rekaman syaikh ubaid ketika ditanya oleh seseorang dalam majelis umum beliau, tentang tabdi syaikh Rabi’ kepada Ali Hasan. lalu syaikh Ubaid setelah panjang berbicara… sampai pada perkataannya kepada Ali Hasan seorang sesat dan mubtabdi’ ana punya rekaman suara beliau tentang tabdinya beliau kepada li Hasan.

  25. abdulloh mengatakan:

    antum ini bekas reruntuhannya laskar jihad ya ?

  26. tegar orang awam mengatakan:

    kebenaran tidak dapat dilihat dari siapa yang menyampaikan, tapi pelajarilah kebenaran, niscaya kamu akan tahu mana yang benar dan mana yang salah, selama kita tidak memperturutkan nafsu kita.

    • abdullah1982 mengatakan:

      mencari kebenaran hanya dari orang yang benar bukan dari orang yang ngga benar. berbeda dengan menerima kebenaran maka kita terima kebenaran itu darimana saja.

      Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :
      وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

      “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Qs. al-An’ām : 68)

      Dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

      “ Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shalih dan orang yang jahat, seperti orang yang bergaul dengan seorang yang membawa wangi kesturi dan pembuat pandai besi, orang yang membawa minyak wangi (tukang minyak wangi) mungkin memberi minyak wangi kepadamu atau engkau membeli darinya, paling tidak engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pembuat pandai besi kemungkinan apinya akan membakar bajumu atau engkau mendapati bau yang tidak enak darinya. “ (HR. Bukhari : 5534 dan Muslim : 2628 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari)

      Berkata Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah :
      فِيهِ تَمْثِيله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَلِيس الصَّالِح بِحَامِلِ الْمِسْك ، وَالْجَلِيس السُّوء بِنَافِخِ الْكِير ، وَفِيهِ فَضِيلَة مُجَالَسَة الصَّالِحِينَ وَأَهْل الْخَيْر وَالْمُرُوءَة وَمَكَارِم الْأَخْلَاق وَالْوَرَع وَالْعِلْم وَالْأَدَب ، وَالنَّهْي عَنْ مُجَالَسَة أَهْل الشَّرّ وَأَهْل الْبِدَع ، وَمَنْ يَغْتَاب النَّاس ، أَوْ يَكْثُر فُجْرُهُ وَبَطَالَته . وَنَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأَنْوَاع الْمَذْمُومَ

      “ Didalam hadits (ini) terdapat perumpamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang teman duduk yang shalih seperti penjual minyak wangi dan perumpamaan teman duduk yang jelek seperti pembuat pandai besi, dan didalamnya (didalam hadits tsb -ed) terdapat keutamaan bergaul dengan orang shalih, orang yang baik, orang yang menjaga muru’ah (kehormatan), orang yang mempunyai akhlaq yang mulia, orang yang wara’ dan memiliki adab dan (didalam hadits ini –ed) terdapat larangan dari bergaul dengan orang yang jelek, ahlu bid’ah, orang yang mengumpat manusia, atau bergaul dengan orang yang banyak berbuat dosa dan pengaguran dan semisalnya dari macam-macam orang yang tercela.” (Syarh Shahih Muslim : 8/427 Daarul Hadits Qaahirah)

      Berkata Al-Imam Al Barbahari :
      فاحذر ثم احذر أهل زمانك خاصة وانظر من تجالس وممن تسمع ومن تصحب فإن الخلق كأنهم في ردة إلا من عصم الله منهم

      “Berhati-hatilah dan berhati-hatilah kepada orang-orang yang hidup sezaman denganmu secara khusus, dan lihatlah siapa teman dudukmu, dan dari siapa engkau mendengar dan dengan siapa engkau berteman, dikarenakan manusia hampir saja menjadi murtad dari agamanya karena sebab teman bergaulnya kecuali orang yang Allah jaga.” (Syarhu Sunnah Lilbarbahari, bersama Syarhnya Syaikh Shalih al-Faudzan : 345, Daarul ad-Dhiyaa’)

      Berkata Asy-Syaikh Al Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi Rahimahullah tentang perkataan Imam Barbahari diatas :
      في هذا تحذير لطالب العلم, وأنه لا ينبغي أن يجالس و لا يصاحب و لا يسمع إلا ممّن يثق بعلمه و عقيدته

      “Pada kalimat ini terdapat peringatan untuk penuntut ilmu, bahwasanya tidak sepantasnya untuk duduk, dan tidak sepantasnya untuk berteman, dan tidak sepantasnya untuk mendengar kecuali kepada orang yang terpercaya ilmu dan aqidahnya.” (Irsaadu Saarii fi Syarhis Sunnah Li Barbahaari, Syaikh Ahmad An-Najmi : 241, Darut Tauhid, Daarul Minhaaj)

      Dan berkata juga asy-Syaikh Al Allamah Shalih al-Fauzan hafidzahullah ketika mengomentari perkataan Imam Al Barbahari “ dikarenakan manusia hampir saja menjadi murtad dari agamanya karena sebab teman bergaulnya kecuali orang yang Allah jaga.” Beliau (Syaikh Shalih Al-Fauzan) berkata :
      هذا في وقته – رحمه الله – و أيضا هذا يتكرّر, فوقتنا هذا وما بعده – والله أعلم- أشدّ, لأنه كلّما تأخّر الزمان كثرت الفتن, والشرور, واستغربت السّنة, وقلّ المتمسكون بها, فالخطر أشدّ

      “ dan ini pada masa syaikh Rahimahullah dan juga berulang pada masa kita ini dan setelahnya -wallahu a’lam- lebih dahsyat, dikarenakan lebih terakhir zaman lebih banyak fitnah, kejelekkan dan asingnya sunnah dan sedikitnya orang yang berpegang teguh kepadanya, maka bahayanya lebih dahsyat.” (Syarhu Sunnah Lilbarbahari, bersama Syarhnya Syaikh Shalih al-Faudzan : 345, Daarul ad-Dhiyaa’)

  27. Ja'far Al Munai mengatakan:

    Abdullah 1882@ Apa yg antum paparkan diatas sangat hebat dan sekilas terlihat ilmiah… tp afwan antum jangan cuma bisa berbicara melalui tulisan2 seperti ini,kasian ummat yg baru mau tergugah hati mereka dengan agama ini, sekarang kita berbicara di luar dari pernyataan antum di atas. selama ini ana mendengarkan dan mengikuti kajian2 rodja sangan manfa’t, mereka lebih waro dalam menyampaikan ilmu dan dapat di pertkananggung jawabkan berdasar dalil2 yg soheh.. kalau betul apa yg antm paparkan ini coba antum tanyakan sendiri kepada mereka karna setau mereka ustad2 yg terbuka dan suka berbicara dengan dalil bukan hawana nafsu dan setimen… jazakallohu khoir

    • abdullah1982 mengatakan:

      afwan sebagaian syaikh sudah bicara/nasehatin sebagain mereka. diantaranya syaikh MUhammdad bin Hadi, Syaikh Abdullah Bukahari telah menasehati mereka terkait dengan ihyaut turats. bukan ana yang “berdiskusi” dengan mereka. Sebagian Syaikh mereka telah mendengar naseihat dan fatwa dari sebagian kesalahn yang mreka lakukan

  28. abdullah1982 mengatakan:

    akhlaq yang jelek itu pada firanda, membela yayasan hizbi khawarij, merusak manhaj kaum muslimin. sok jagoan, sok besar dan sesumbar.

    “Jangan Dikritik Dulu Nanti Dananya Tidak Keluar”…Ucap Firanda MA.
    06 Jul

    Pada suatu hari datang utusan Ihyaut Turats dari Kuwait ke Ma’had Jamilurrahman Jogja dalam rangka kunjungan dan mengisi muhadharah di Ma’had tersebut. Ketika itu para pengajar Jamilurahman, Firanda dan sebagian pengajar di Islamic Centre bin Baaz yang dipimpin oleh Abu Nida, datang pada acara muhadarah tersebut. Setelah selesai dari muhadharah, utusan Ihyaut Turats Kuwait tersebut pun berjalan keluar sampai pada pelataran masjid, bertemulah dengan sebagian santri dan pengajar Ma’had Jamilurrahman di sana dan tiba-tiba salah satu pengajar Jamilurrahman (Abu Saad MA) mengenalkan Firanda kepada utusan dari Ihyaut Turats tersebut bahwa Firanda adalah seorang penuntut ilmu di Jaamiah Islamiyah Madinah. Terjadilah pembicaraan antara Firanda dengan utusan Ihyaut Turats dari kuwait tersebut yang didalam pembicaraan tersebut Firanda mengkritik Abdurrahman Abdul Khaliq. Setelah beberapa menit terjadi dialog antara Firanda dan utusan Kuwait tersebut, utusan tersebut pergi bersama sebagian pengajar Islamic Center bin Baaz. Lalu kami (santri Jamilurrahman) beserta Firanda masih berada di halaman masjid, lalu Firanda berkata : “Jangan di kritik dulu, nanti dananya tidak keluar.” Lalu Firanda melanjutkan perkataannya lagi, “Ana pernah tanya kepada Syaikh Muhammad bin Hadi di sana dan ada beberapa teman yang bersama ana (Arifin Badri, Anas, Abdullah Taslim dll)… “Ya Syaikh, apa hukum mengambil dana Ihyaut Turats?” Syaikh menjawab : “Tidak boleh karena dikhawatirkan nanti ia akan menjadi sururi.” (kurang lebih seperti itu makna jawabannya –ed) lalu Firanda kembali bertanya (baca : ngga puas) : “Apakah seseorang itu dihukumi apa yang terjadi sekarang atau yang akan datang?” Lalu Syaikh Muhammad Hadi pun terlihat merah wajahnya dengan apa yang diucapkan oleh Firanda, sehingga kata Firanda teman-temannya menahan-nahannya untuk tidak melanjutkan apa yang ia tanyakan.

    Pada kesempatan yang lain Firanda pernah bilang kepada temannya bernama Amir Sorong Lc. (berasal dari sorong), dan temannya tersebut pernah bercerita kepada ana tentang perkataan Firanda. Dia berkata bahwa Firanda pernah bilang kepadanya : “Mudah baginya untuk membantah asatidzah (ustadz-ustadz kita, terkait permasalahan Ihyaut Turats-ed) semudah membalikkan telapak tangan.” Dan perkataan sesumbarnya ini direalisasikan oleh Firanda dengan mengeluarkan buku pembelaan terhadap Ihyaut Turats dan “menyikat” orang-orang yang menjelaskan penyimpangan mereka (1). Namun apakah realitanya sesuai dengan sesumbar yang ia katakan mudah membantah ustadz-ustadz kita semudah membalikan telapak tangan…? malah kenyataannya berbeda…! Alhamdulilllah ahlussunnah salafiyyin bangkit membantah Firanda, ada yang membantah secara khusus bukunya firanda (2), ada yang menjelaskan kepada ummat secara rinci tentang bahaya Ihyaut Turats, dan alhamdulillah sebagian orang yang awalnya tidak paham tentang permasalahan Ihyaut Turats menjadi paham, yang awalnya masih samar menjadi jelas.

    Itulah keadaan Firanda dan keadaan sebagian besar mereka (kalau tidak mau dikatakan semua) menutup mata atas peyimpangan dan kesesatan Ihyaut Turats dan Abdurrahman Abdul Khaliq. Ada yang karena ngga enak telah di beri bantuan dan ada yang karena fanatik dan menutup mata dari penyimpangan Ihyaut Turats. Bahkan sedikit banyak mereka menjadi tunggangan Ihyaut Turats dalam menyebarkan manhaj menyimpangnya, lihat saja da’i resmi Ihyaut Turats (Abu Qatadah) harus rela melangkahkan kakinya untuk mengantarkan uang bantuan ke ma’had yang bermanhaj khawarij, begitu juga sebagian ustadz-ustdaz mereka malah berlaku keras kepada asatidzah (ustadz-ustadz kita) dikarenakan ketegasan ustadz-ustadz kita melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar dengan menjelaskan penyimpangan Ihyaut Turast, Al-Sofwa dan lainnya.

    Wahai Firanda di mana dirimu terhadap perintah amar ma’ruf nahi mungkar…? Terhadap penjelasan tentang penyimpangan Ihyaut Turats…? Malah engkau menghadang, membantah orang yang menjelaskan penyimpangan mereka…?

    Padahal Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:
    كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ المُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali Imran : 110)
    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran : 104)
    وَالمُؤْمِنُونَ وَالمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At-Taubah : 71)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

    “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak sanggup maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak sanggup maka ubahlah dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

    Ditulis oleh Abu Ibrahim Abdullah Al-Jakarty

    ____________________________

    (1) Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan Penulis Abu Abil Muhsin Firanda

    (2) Menjalin Ukhuwah di Atas minhaj Nubuwwah Bantahan Ilmiah Terhadap Buku Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan Karya Abu Abil Muhsin Firanda, Penulis Al-Ustadz Askari Bin Jamal Al-Bugisi

  29. Ibnu Gazali mengatakan:

    @wongmelo :bantahan antum untuk ustadz abdullah sungguh lucu dan tidak ilmiah ,.seperti perkataan antum “”bila antum mengharamkan rodja hanya karena mereka menerima, berteman dan bermuamalah dengan yayasan hizbi (yang noteabene juga masih muslim) yang antum tuduhkan itu, lantas kenapa antum masih menginjakkan kaki di negeri ini akhie. jalanan yang antum lewati tiap hari itu bantuan dari Bank Dunia yang duitnya dari negara-negara non-muslm macam amrik, aus, ingg “” satu lagi perkataan antum
    “blog wordpress yang antum gunakan ini juga didirikan oleh non-muslim akhi (Matt Mullenweg), kok antum masih bermuamalah dan menggunakan wordpress. KONSISTEN DONG

    HP yang antum gunakan itu buatan siapa akhi? kalau sesama muslim yang beraqidah sama aja antum boikot, kenapa antum masih bermuamalah dengan non-muslim akhi?”

    afwan ya akhie,..pada saat kita menginjakkan kaki di negeri ini menggunakan blog wordpress ini dan menggunakan HP,.tidak ada syarat tertulis ataupun tak tertulis untuk kita mengikuti mereka,…tapi kalau dengan yayasan hizbi seperti ihya ut turots (yang sudah jelas kehizbiannya) disaat kita bermuamalah dengan mereka mengambil bantuan dari mereka ,.kita memang tidak ada syarat hitam diatas putih untuk mengikuti mereka,..tapi mereka akan meminta untuk dai-dai mereka agar dapat mengisi di ma’had yang telah bermuamalah,..dai-dai yang bermanhaj quthbiyyin dan ikhwaniyyin,., banyak terjadi seperti di ma’hadnya ainur rofiq gufron , abu nida , dan yang lainnya,.,ya akhi,…janganlah perasaan antum membuat antum menjadi tidak ilmiah,.,

    satu lagi.,.,pergaulan mereka (dai-dai rodja) dalam bermuamalah dengan yayasan hizbi ihya ut turots,..membuat mereka menjadi membatu dan bahkan banyak merendahkan para ulama ,.,.seperti perkataan firanda ,..yang mengatakan ulama senior dan tidak senior (dalam bukunya lerai pertikaian),..abdulah taslim yang mengatakan “ulama-ulama yang diundang oleh ikhwah-ikhwah kita adalah masayiykh yang biasa-biasa saja” ,apakah dengan mereka antum belajar ???? yang para masayikh ahlus sunnah saja dia rendah kan,..(kalau antum mau rekaman suara abdulah taslim -hadahullah- yang merendahkan para ulama tersebut,..ana ada)

    -Allahul Musta’an-

    • abdullah1982 mengatakan:

      Mendudukkan Rekomendasi Para Ulama
      Oleh Ustdaz Askari

      Jika kita memperhatikan secara seksama apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan fatwa dalam menyikapi Ihya At-Turots, keadaannya bukanlah seperti masalah khilafiyyah yang didalamnya terjadi saling tarik menarik dalil atau masing-masing mengetahui dalil yang ada, hanya berbeda dalam hal pemahaman. Seperti halnya masalah sedekap disaat posisi I’tidal (dalam sholat, red), dimana masing-masing dari para Ulama tersebut mengetahui dalil yang datang dalam masalah ini, namun terjadi perbedaan dalam hal memahaminya. Atau seperti masalah duduk akhir dalam sholat, apakah dengan cara tawarruk ataukah iftirosy, masing-masingnya berhujjah dengan satu hadits yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Humaid As-Sa’idi. Atau seperti masalah menggerakkan jari ketika tasyahhud, yang berbeda dalam menyikapi keabsahan adanya tambahan “wayuharrikuha” dalam riwayat Zaidah bin Qudamah, atau permasalahan yang semisal apa yang kami sebutkan.

      Namun perselisihan fatwa yang terjadi dalam menyikapi Ihya At-Turots tidaklah seperti tersebut diatas, namun disebabkan karena adanya tambahan ilmu yang diketahui oleh Ulama yang mentahdzir mereka, yang tidak diketahui oleh para Ulama yang merekomendasi mereka. Cobalah kita perhatikan rekomendasi para Ulama tersebut, apakah mereka memberi rekomendasi karena dalam Ihya At-Turots ada bai’at? Atau karena mereka ikut serta dalam politik praktis? Atau mereka ketahui bahwa diantara mereka ada yang memiliki fikroh At-takfir? Jawabannya adalah: “Tidak!”. Bahkan merupakan perkara yang ma’ruf tentang sikap para Ulama terhadap berbagai macam penyimpangan tersebut yang dapat menjerumuskan kaum muslimin kepada berbagai praktek hizbiyyah.

      Maka semestinya sikap yang ditempuh oleh seorang “Salafi” adalah memandang secara jernih letak perbedaan fatwa yang terjadi. Sebab para Ulama rahimahumullah tersebut berfatwa sebatas apa yang telah sampai kepada mereka. Oleh karenanya Aisyah radhiallahu ‘anha mengingkari orang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah kencing berdiri,karena itulah ilmu yang sampai kepadanya. Dan telah diketahui oleh shahabat yang lain, diantaranya Hudzaifah Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah kencing dalam keadaan berdiri. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma yang menghalalkan nikah mut’ah, sebab tidak sampai kepada beliau kabar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bahwa nikah mut’ah tersebut hukumnya haram secara mutlak. Imam Syafi’i rahimahullah Ta’ala yang mentsiqohkan Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya Al-Aslami, sebab – tidak sampai kepada beliau ilmunya – bahwa dia seorang perawi yang ditinggalkan haditsnya. Berkata Imam Ahmad : “Dia seorang Qodari, Mu’tazili dan Jahmi, semua musibah ada padanya”. Berkata Bisyr bin Mufadhdhal : “Aku bertanya kepada Ulama penduduk Madinah tentangnya, semuanya mengatakan : kadzdzab (pendusta besar) atau yang semisalnya”. Akankah kita katakan (sesuai kaedah Firanda) bahwa masalah Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya Al-Aslami adalah permasalahan ijtihadiyah sehingga dia tidak boleh dijarh?! Atau menurut kaedah al akh Firanda, ia justru akan menjarh Imam Ahmad Rahimahullah Ta’ala yang notabene beliau adalah murid dari Imam Syafi’i Rahimahullah Ta’ala? Dan masih banyak lagi permisalan dalam permasalahan seperti ini. Sehingga dalam menyikapi permasalahan ini, semestinya menerapkan kaedah yang sudah ma’ruf:

      “Yang mengetahui adalah hujjah atas bagi yang tidak mengetahui”,”yang menetapkan lebih didahulukan ucapannya dari yang menafikan”. Wallahul muwaffiq.

      http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=98:mendudukkan-rekomendasi-para-ulama&catid=31:nasehat-a-bantahan&Itemid=46

      Ulama Ahlus Sunnah Tidak Merekomendasi Ihya At Turats
      05 Feb

      (Bagian Ke 7, no 1)

      Fatwa Syaikh Bin Baaz tentang sebagian amalan organisasi Ihya At-Turats

      Barangsiapa yang memperhatikan secara seksama fatwa-fatwa Syaikh Bin Baaz rahimahullah, khususnya berkenaan tentang masalah politik, masuk parlemen, bai’at dan yang semisalnya, dia akan mengetahui bahwa seandainya beliau – Syaikh Ibn Baz- mengetahui hakekat penyimpangan dari organisasi ini, niscaya beliau tidak akan memberi rekomendasi tersebut. Diantara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tentang masalah bai’at. Berikut nash fatwa tersebut:

      الرقم :2/2808 التاريخ :1416/8/18 هـ
      من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم /….
      سلام عليكم ورحمة الله وبركاته ….وبعد
      فأشير إلى استفتائك المفيد بالأمانة العامة لهيئة كبار العلماء برقم (3285 )
      وتاريخ 1416/7/11 هـ . الذي تسأل فيه عن حكم تنصيب أمير تجب طاعته في الأمور الدعوية
      وافيدك أنه سبق ان صدر من اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والافتاء فتوى فيما
      سألت عنه فنرفق لك نسخة منها وفيها الكفاية إن شاء الله .
      وفق الله الجميع لما فيه رضاه إنه سميع مجيب .
      والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته . . .
      المفتي العام للمملكة العربية السعودية
      ورئيس هيئة كبار العلماء وإدارة البحوث العلمية والإفتاء
      فتوى رقم (16098) وتاريخ 1414/7/5 هـ .
      الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده .. وبعد :
      الجواب : لا تجوز البيعة إلاّ لولي أمر المسلمين ولا تجوز لشيخ طريقة ولا لغيره لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم والواجب على المسلم أن يعبد الله بما شرع من غير ارتباط بشخص معين ولأن هذا من عمل النصارى مع القساوسة ورؤساء الكنائس وليس معروفا في الإسلام .
      اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
      الرئيس نائب رئيس اللجنة
      عبدالعزيز بن عبدالله بن باز عبدالرزاق عفيفي

      عضو عضو
      عبدالله بن عبدالرحمن الغديان صالح بن فوزان الفوزان
      بكر بن عبدالله أبو زيد عبدالعزيز بن عبدالله بن محمد آل شيخ

      Berikut terjemahannya :
      Syaikh Ibn Baz : “Pada fatwa no: 3285, tanggal: 11-7-1416 H, yang engkau tanyakan padanya tentang hukum mengangkat pemimpin yang wajib dita’ati dalam perkara dakwah dan aku memberi faidah kepadamu bahwa telah terdahulu muncul fatwa dari Lajnah Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah tentang apa yang engkau tanyakan maka kami sertakan salinan darinya dan itu sudah cukup insya Allah. Semoga Allah memberi taufik kepada semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.”

      Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

      Mufti umum kerajaan Arab Saudi dan kepala lembaga para ulama besar dan kantor penelitian ilmiah dan fatwa.

      Adapun yang dimaksud oleh beliau adalah fatwa no:16098, tertanggal: 5-7-1414 H:

      ”Alhamdulillah hanya bagi-Nya, shalawat dan salam atas Nabi yang tiada nabi setelahnya.Wa ba’du:

      Jawaban: “Tidak diperbolehkan bai’at kecuali kepada pemerintah kaum muslimin dan tidak boleh kepada Syaikh tarikat dan juga kepada yang lainnya, sebab ini tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Wajib bagi bagi seorang muslim untuk beribadah kepada Allah dengan apa yang disyari’atkan-Nya, dengan tanpa ikatan dari orang tertentu dan sebab ini termasuk perbuatan kaum Nashara terhadap pendeta dan para pemimpin gereja yang tidak dikenal di dalam Islam.

      Lajnah Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal-Ifta’

      Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
      Wakil ketua : Abdurrazzaq Afifi
      Anggota : – Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan
      - Bakr Abu Zaid
      - Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
      - Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh

      (diambil dari situs http://www.sahab.net dan juga dalam kaset “Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb”, kaset no:495, dimana beliau menjawab tiga pertanyaan seputar masalah bai’at kepada selain penguasa – yang mirip dengan jawaban tersebut di atas – namun dengan jawaban yang lebih rinci.)

      Nah, bagaimana mungkin bagi Syaikh bin Baaz akan merekomendasi mereka, jika sekiranya beliau mengetahui hakekat hizbiyyah yang ada pada mereka. Demikian pula diantara yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tatkala seseorang bertanya dengan nash pertanyaan sebagai berikut (terjemahannya) :

      “Apa yang engkau nasehatkan kepada para da’i berkenaan tentang sikap mereka terhadap ahli bid’ah? Sebagaimana kami berharap darimu yang mulia bimbingan nasehat secara khusus kepada para pemuda yang terpengaruh dengan sikap loyalitas hizbiyyah yang berlabel agama?”

      Maka beliau menjawab dengan nash sebagai berikut:
      نوصي إخواننا جميعا بالدعوة إلى الله سبحانه بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن؟ أمر الله سبحانه بذلك مع جميع الناس ومع المبتدعة إذا أظهروا بدعتهم ، وأن ينكروا عليهم سواء كانوا من الشيعة أو غيرهم- فأي بدعة رآها المؤمن وجب عليه إنكارها حسب الطاقة بالطرق الشرعية . والبدعة هي ما أحدثه الناس في الدين ونسبوه إليه وليس منه ، لقول النبي : ((من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد)) وقول النبي صلى الله عليه وسلم :
      ((من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ))ومن أمثلة ذلك بدعة الرفض ، وبدعة الاعتزال ، وبدعة الإرجاء ، وبدعة الخوارج ، وبدعه الاحتفال بالموالد ، وبدعة البناء على القبور واتخاذ المساجد عليها إلى غير ذلك من البدع ، فيجب نصحهم وتوجيههم إلى الخير ، وإنكار ما أحدثوا من البدع بالأدلة الشرعية وتعليمهم ما جهلوا من الحق بالرفق والأسلوب الحسن والأدلة الواضحة لعلهم يقبلون الحق .
      أما الانتماءات إلى الأحزاب المحدثة فالواجب تركها ، وأن ينتمي الجميع إلى كتاب الله وسنة رسوله ، وأن يتعاونوا في ذلك بصدق وإخلاص ، وبذلك يكونون من حزب الله الذي قال الله فيه سبحانه في آخر سورة المجادلة : {أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ } بعدما ذكر صفاتهم العظيمة في قوله تعالى : {لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ } الآية . ومن صفاتهم العظيمة ما ذكره الله عز وجل في سورة الذاريات في قول الله عز وجل :
      { إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ } فهذه صفات حزب الله لا يتحيزون إلى غير كتاب الله ، والسنة والدعوة إليها والسير على منهج سلف الأمة من الصحابة رضي الله عنهم وأتباعهم بإحسان . فهم ينصحون جميع الأحزاب وجميع الجمعيات ويدعونهم إلى التمسك بالكتاب والسنة ، وعرض ما اختلفوا فيه عليهما فما وافقهما أو أحدهما فهو المقبول وهو الحق ، وما خالفهما وجب تركه . ولا فرق في ذلك بين جماعة الإخوان المسلمين ، أو أنصار السنة والجمعية الشرعية ، أو جماعة التبليغ أو غيرهم من الجمعيات والأحزاب المنتسبة للإسلام . وبذلك تجتمع الكلمة ويتحد الهدف ويكون الجميع حزبا واحدا يترسم خطي أهل السنة والجماعة الذين هم حزب الله وأنصار دينه والدعاة إليه . ولا يجوز التعصب لأي جمعية أو أي حزب فيما يخالف الشرع المطهر .
      Jawaban Syaikh Ibn Baz : “Kami menasehati saudara-saudara kami semuanya agar berdakwah menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah dan nasehat yang baik dan berdebat dengan cara yang paling baik. Allah memerintahkan semua itu kepada seluruh manusia dan juga kepada ahli bid’ah disaat mereka menampakkan bid’ahnya dan melakukan pengingkaran atas mereka. Sama saja apakah mereka dari kalangan Syi’ah atau yang lainnya, maka bid’ah apa saja yang dilihat oleh seorang mukmin, maka wajib baginya mengingkarinya sesuai kemampuan dengan cara-cara yang syar’i.

      Bid’ah adalah apa yang diada-adakan oleh manusia dalam agama dan mereka menisbahkannya kepada agama tersebut, padahal bukan darinya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :
      من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
      “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami – apa-apa yang tidak termasuk darinya-, maka ia tertolak”.

      Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:
      من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
      “Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan – yang bukan dari kami – maka ia tertolak.”

      Diantara permisalan bid’ah tersebut seperti: bid’ah Rafidhah, bid’ah Mu’tazilah, bid’ah Murji’ah, bid’ah Khawarij, bid’ah merayakan maulid, bid’ah membangun di atas kuburan, membangun masjid di atas kuburan dan yang lainnya.

      Maka wajib menasehati mereka dan membimbing mereka kepada kebaikan dan mengingkari apa yang mereka ada-adakan dari berbagai bid’ah dengan dalil-dalil yang syar’i serta mengajari mereka kebenaran terhadap apa-apa yang mereka jahil dengannya dengan lemah lembut, cara yang baik dan dalil-dalil yang jelas. Semoga mereka mau menerima kebenaran. Amien.

      Adapun bersikap loyal kepada kelompok-kelompok bid’ah, maka wajib hukumnya meninggalkannya dan hendaklah semuanya bersikap loyal kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan agar mereka saling bekerjasama di atasnya dengan kejujuran dan keikhlasan. Maka dengan itu mereka akan menjadi Hizbullah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentangnya pada akhir surah Al-Mujadilah:

      أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
      “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

      Setelah Allah menyebut sifat-sifat mereka yang mulia:

      لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ …
      “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan [1462] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah.”

      Dan diantara sifat mereka yang agung adalah apa yang disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam surah Adz-Dzariyat, firman-Nya:

      إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

      “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS.Adz-Dzariyat:15-19).

      Maka ini adalah sifat-sifat Hizbullah, mereka tidak mungkin memihak kepada selain Kitabullah dan Sunnah dan mengajak kepadanya dan berjalan di atas manhaj pendahulu umat ini dari kalangan para Shahabat –radhiyallahu anhum- dan yang mengikuti mereka dengan baik. Maka mereka menasehati seluruh kelompok dan seluruh organisasi dan mengajak mereka untuk berpegang teguh terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah dan mencocokkan apa yang mereka perselisihkan kepada keduanya,. Maka apa yang sesuai dengan keduanya atau salah satunya maka diterima dan itulah yang benar dan apa yang menyelisihi keduanya, maka wajib ditinggalkan. Dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara jama’ah al-Ikhwanul Muslimun atau Ansharus Sunnah atau organisasi yang syar’i atau Jama’ah Tabligh atau selain mereka dari berbagai organisasi dan kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam. Dengan itu maka kalimat dapat disatukan dan sepakat dalam tujuan, sehingga semua menjadi kelompok yang satu yang menempuh garis Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang mereka itu adalah Hizbullah, para penolong agama-Nya dan yang mengajak kepada jalan-Nya. Tidak boleh ta’ashshub (fanatik) kepada organisasi tertentu atau kelompok tertentu, yang menyelisihi syari’at yang suci.” (dari Fatawa Bin Baaz, jilid:7, hal:176-178).

      Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tentang sebagian amalan Ihya At-Turats

      Demikian pula Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah Ta’ala, beliau tidak diberi penjelasan secara detail tentang organisasi Ihya At-Turats, sehingga beliau menjawab pertanyaan berdasarkan “manhaj tertulis” yang disodorkan kepada beliau. Kalau sekiranya beliau mengetahui bahwa dalam organisasi tersebut ada “pembai’atan”, tentulah beliau tidak akan memberi rekomendasi tersebut. Diantara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tatkala ditanya tentang masalah bai’at. Berikut ini nash pertanyaannya:

      ((السؤال: بالنظر إلى العالم الإسلامي اليوم نجد أن هناك كثيرا من الجماعات التي تدعوا إلى الإسلام وكل منهم يقول : أنا على منهج السلف ومعي على الكتاب والسنة ,فما موقفنا نحو هذه الجماعات .وما حكم إعطاء البيعةلأمير من أمراء هذه الجماعات ؟

      “Melihat dunia Islam pada hari ini, kita mendapati disana banyak dari kalangan jama’ah-jama’ah yang menyeru kepada Islam. Setiap mereka berkata: “Kami berada di atas manhaj Salaf dan bersama kami di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” Apa pendirian kita terhadap jama’ah-jama’ah ini dan apa hukum memberi bai’at kepada pimpinan dari para pemimpin jama’ah-jama’ah ini?”

      Maka beliau menjawab dengan nash sebagai berikut:

      ((الحكم في هؤلاء الجماعات الذين يدعي كل طائفة منهم أنهم على الحق سهل جدا,فإننا نسأله ما هو الحق ؟ الحق ما دل عليه الكتاب والسنة ,والرجوع إلى الكتاب والسنة يحسم النزاع لمن كان مؤمنا,أما من اتبع هواه فلا ينفعه فيه شيئ.قال تعالى:
      {فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً}
      فأنا قلت لهؤلاء الجماعات : اجتمعوا ولينزع منكم كل واحد هواه الذي في نفسه,وينوي النية الحسنة بأنه سيأخذ بما دل عليه القرآن والسنة مبنيا على التجرد من الهوى لا مبنيا على التقليد أو التعصب لأن فهم الإنسان القرآن والسنة على حسب ما عنده من العقيدة هذا لا يفيده شيئا لأنه سوف يرجع إلى عقيدته,ولهذا قال العلماء كلمة طيبة,قالوا: يجب على الإنسان أن يستدل ثم يبني لا أن يبني ثم يستدل,لأن الدليل أصل,والحكم فرع فلا يمكن أن يقلب الوضع ويجعل الحكم الذي هو الفرع أصلا والأصل الذي هو الدليل فرعا ,ثم إن الإنسان إذا اعتقد قبل أن يستدل ولم تكن عنده نية حسنة ,صار يلوي أعناق النصوص من الكتاب والسنة إلى ما يعتقده هو,وحصل بذلك البقاء على هواه ولم يتبع الهدى ,فنقول لهؤلاء الطوائف التي تدعي كل واحد منها أنها على الحق : نقول تفضل,ايتوا بنية حسنة مجرد عن التعصب والهوى وهذا كتاب الله وهذه سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ,ولو لا أن فيهما حل النزاع ما أحال الله عليهما ,فإن الله لا يحيل على شيئ إلا ومصلحته فيه , ردوه إلى الله والرسول ,لكن البلاء الذي يحصل من عدم الاتفاق على الكتاب والسنة هو الشرط الذي في الآية {إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر فإن بعض الناس قد يرجع إلى الكتاب والسنة لكن لا إيمانا لكن على هوى وتعصب لا يتزحزح عنه فهذا ليس فيه فائدة, ولكن على من منهم على الكتاب والسنة أن يستعيذوا بالله عز وجل على هذه الطوائف وسيتبين الحق من الباطل بل قد قال الله عز وجل
      بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (الأنبياء:18)
      أما بالنسبة لإعطاء البيعة لرجل هذا لا يجوز,لأن البيعة للولي العام على البلد,وإذا أردنا أن نقول: كل إنسان له بيعة تفرقت الأمم ,صار البلد التي مائة حي من الأحياء كم يكون فيه إمام؟ مائة إمام مائة ولاية هذا هو التفرق.فما دام في البلد حاكم شرعي فإنه لايجوز إعطاء البيعة لأي واحد من الناس,أما إذا كان الحاكم لا يحكم بما أنزل الله فإن هذا له أحوال قد يكون هذا كفرا وقد يكون ظلما وقد يكون فسقا بحسب ما تقتضيه النصوص الشرعية ….))

      Jawaban As-Syaikh Ibn Utsaimin : “Hukum terhadap jama’ah-jama’ah yang setiap kelompok dari mereka mengaku bahwa mereka berada di atas kebenaran sangat mudah, yaitu kita bertanya kepadanya, apa itu kebenaran? Kebenaran adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah. Kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang menyelesaikan pertengkaran bagi siapa yang mukmin. Adapun bagi yang mengikuti hawa nafsunya, maka tidak memberi manfaat sedikitpun kepadanya. Allah berfirman:

      فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
      “Jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari Akhir, yang demikian itu lebih baik dan paling baik akibatnya.”

      Maka saya mengatakan kepada jama’ah-jama’ah ini: “Bersatulah dan hendaklah setiap kalian melepaskan hawa nafsunya yang bercokol pada dirinya dan berniat dengan niat yang baik, bahwa dia akan mengambil apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, dibangun di atas kekosongan dari hawa nafsu, bukan dibangun di atas taqlid atau ta’ashshub. Sebab seseorang memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan apa yang dia yakini, maka ini tidak memberi faidah baginya sedikitpun, sebab bagaimanapun mesti kembali pada keyakinannya.

      Oleh karena itu, para ulama menyebutkan sebuah kalimat yang baik, yaitu: wajib bagi seseorang untuk mencari dalil (terlebih dahulu), kemudian membangun (sebuah hukum). Jangan terbalik, membangun hukum lalu kemudian mencari dalil, sebab dalil adalah asal, sedangkan hukum adalah cabang. Maka tidak merubah keadaan, lalu dijadikan hukum yang berstatus sebagai cabang menjadi asal, sementara dalil yang merupakan asal justru menjadi cabang.

      Lalu jika seseorang yakin sebelum dia mencari dalil dan dia tidak memiliki niat yang baik, maka dia akan memutar balik nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah menuju kepada apa yang diyakininya, sehingga dia pun tetap berada di atas hawa nafsunya dan enggan mengikuti hidayah.

      Maka kami katakan kepada kelompok-kelompok yang setiap mereka mengklaim dirinya di atas kebenaran : “Silahkan, datanglah dengan niat yang baik yang kosong dari ta’ashshub dan hawa nafsu, inilah Kitabullah dan ini adalah Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, jikalau pada keduanya tidak terdapat solusi dari perselisihan, tentu Allah Ta’ala tidak akan mengarahkan (untuk kembali) kepada keduanya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengarahkan kepada sesuatu melainkan didalamnya terdapat kemaslahatan, kembalikanlah kepada Allah Ta’ala dan Rasul.

      Akan tetapi musibah yang terjadi yang menyebabkan tidak sepakatnya mereka di atas Al-Kitab dan As-Sunnah adalah syarat yang terdapat dalam ayat :
      إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر
      “Jika kalian beriman kepada Allah dan hari Akhir”,
      sebab sebagian manusia terkadang kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi bukan karena keimanan, namun karena hawa nafsu dan ta’ashshub – yang dia tidak bergeser darinya -. Maka ini tidak ada faedahnya.

      Akan tetapi terhadap siapa yang mereka berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah agar berlindung diri kepada Allah Azza wa Jalla dari kelompok-kelompok ini. Dan akan nampak kebenaran di atas kebatilan. Bahkan Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

      بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (الأنبياء:18)

      “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya. Maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).”

      Adapun tentang pemberian bai’at kepada seseorang, maka ini tidak boleh. Sebab bai’at tersebut kepada penguasa umum terhadap sebuah negeri. Dan jika kita ingin mengatakan: “Setiap orang harus punya bai’at, maka terpecah-belahlah umat, lalu jadilah dalam sebuah negeri ada seratus kampung, ada berapa pemimpinnya? Seratus imam, seratus wilayah, maka inilah perpecahan.!” Maka selama di negeri tersebut ada pemimpin yang syar’i, maka tidak dibolehkan memberi bai’at kepada seseorang dari manusia. Adapun apabila pemimpin tersebut tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka ini memiliki beberapa keadaan, boleh jadi menjadi kafir, boleh jadi kefasikan dan boleh jadi kekufuran…”

      (Diambil dari kaset Silsilah Liqo’ al-Bab al-Maftuh, kaset no:7, side B, demikian pula terdapat pada kaset no:6, side B)

      Beliau juga berkata:
      “Tidak terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang membolehkan jama’ah-jama’ah dan kelompok-kelompok. Bahkan yang ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah adalah celaan terhadap hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

      فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
      “Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. (QS.Al-Mukminun:53)

      Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok ini menafikan apa yang diperintahkan oleh Allah, bahkan yang dianjurkan oleh Allah adalah firman-Nya:

      إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
      Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku. (QS.Al-Anbiya’:92)

      (Lihat kitab al-Fatawa al-Muhimmah fi Tabshiir al-Ummah, kumpulan fatwa yang disusun oleh Jamal bin Furaihan Al-Haritsi, hal:120)

      Jawaban dari rekomendasi Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh hafidzhahullah

      Rekomendasi yang beliau berikan tidak lebih dari sekedar pujian terhadap pembagian beberapa kitab yang dicetaknya dan disebarkan kepada sebagian penuntut ilmu, sama sekali tidak menyentuh perkara manhaj dari Ihya Turats. Jikalau sekiranya beliau juga mengetahui penyimpangan yang dimiliki organisasi ini, niscaya beliau tidak akan memberikan rekomendasi untuk mereka. Dan fatwa Al-Lajnah di atas merupakan salah satu bukti, dimana beliau termasuk yang turut menandatangani fatwa tersebut.

      Jawaban atas rekomendasi Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafidzhahullah

      Apa yang kami sebutkan pada edisi sebelumnya (edisi yang berjudul: Ihya At-Turats, boneka Abdurrahman Abdul Khaliq), dari fatwa beliau tentang fiqhul waqi’ sebenarnya telah membantah salah satu dari pemikiran organisasi tersebut. Beliau juga berkata tatkala menjelaskan tentang penisbahan diri terhadap suatu kabilah, kelompok dan yang semisalnya. Beliau berkata:
      “Bagian kedua : Nama-nama dan panggilan yang tercela: (lalu beliau berkata):
      Termasuk dalam hal ini nama-nama yang diada-adakan oleh jama’ah-jama’ah Islam dengan beraneka ragamnya, yang menjadikannya sebagai nama yang menunjukkan bahwa itu nama kelompoknya, – yang membedakannya dari kelompok yang lain-, seperti Hizbut Tahrir misalnya. Seperti pula kelompok Al-Ikhwanul Muslimun dan seperti jama’ah-jama’ah lainnya yang nampak di sebuah negeri dan tidak ada pada negeri yang lain. Maka penamaan ini adalah penamaan yang diada-adakan dan tercela. Sebab nama itu sendiri mengandung ajakan untuk memecah-belah kaum muslimin dan menolong kelompoknya, dan tidak yang lainnya.”
      (Dari kaset berjudul: Syarah Fadhlul Islam,yang ditranskrip oleh Salim Al-Jazairi)

      Kalaulah sekiranya beliau mengetahui bahwa organisasi ini pun dibangun di atas manhaj Al-Ikhwanul Muslimun, tentunya beliau pun tidak akan merekomendasinya.

      Jawaban atas rekomendasi Asy-Syaikh Ali bin Muhammad Nashir Al-Faqihi hafidzhahullah

      Sebenarnya mereka Ihya At-Turats menampakkan beberapa proyek yang dengannya mereka mendapatkan pujian dan rekomendasi dari para ulama tersebut, tentunya mereka menyembunyikan hakekat dari dakwah hizbiyyah dari hadapan ulama. Karena tujuan mendapatkan rekomendasi adalah untuk keuntungan dari organisasi itu sendiri, sehingga leluasa bergerak di dunia. Memang para ulama tersebut –rahimahumullah- akhirnya memberi tazkiyah berdasarkan apa yang mereka ketahui dari sebagian amalannya, yang sekiranya mereka mengetahui hakekat dari amalan mereka dan pemikiran sebagian tokoh-tokohnya, niscaya mereka tidak akan pernah memberi rekomendasi tersebut.

      Bagaimana mungkin beliau – para ulama – akan memberi rekomendasi, jika sekiranya beliau mengetahui bahwa pemikiran Abdurrahman Abdul Khaliq masih bercokol pada pemikiran para tokohnya? Bagaimana mungkin seorang syaikh Salafi akan merekomendasi mereka, jika ia mengetahui bahwa pemikiran mereka dibangun di atas manhaj Al-Ikhwanul muslimun? Berfikirlah – wahai akhi salafi – dengan hati yang jernih yang selalu mengedepankan al-haq di atas segala sesuatu.

      Jawaban atas rekomendasi Syaikh Abdullah bin Humaid hafidzhahullah

      Bagaimana mungkin pula bagi Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid, akan memberikan tazkiyahnya, jika beliau benar-benar mengetahui hakekat dari organisasi ini. Yang menunjukkan hal tersebut adalah tatkala beliau membahas tentang masalah ta’awun/bekerjasama, beliau menjelaskan diantara sebab rusaknya ta’awun adalah hizbiyyah, beliau berkata:
      البعد عن التعصب والحزبية :
      ليس أضر على الدعوة بعامة والتعاون بين الدعاة بخاصة من الحزبية المنغلقة والمذهبية الضيقة ، بل لا يكدر صفو الأخوة الإيمانية ، ولا يضعف الرابطة الإسلامية أعظم من التحزب المقيت والتعنصر البغيض .

      Menjauhkan diri dari fanatisme dan hizbiyyah :
      Tidak ada yang paling memudharatkan dakwah secara umum dan saling ta’awun diantara para da’i secara khusus, kecuali sifat hizbiyyah (fanatik kelompok), madzhabiyyah (fanatik madzhab) yang sempit. Bahkan yang demikian itu tidaklah mengotori kesucian ukhuwwah iman dan tidak pula yang melemahkan persatuan Islam yang lebih besar dampaknya, ketimbang pengaruh hizbiyyah yang terkutuk dan fanatik ras/kesukuan yang dibenci.”
      (Dari majalah al-Buhuts al-Islamiyyah,no:51, dari bulan Rabi’ awal hingga Jumada Ats-Tsaniyah,tahun 1418 H. Dari makalah yang berjudul: at-Ta’awun baina Ad-Du’ah, hal:221)

      Jawaban atas rekomendasi dari Syaikh Bakr Abu Zaid hafidzhahullah

      Adapun tazkiyah beliau tidak ada hubungannya dengan permasalahan manhaj, namun sebatas pujian terhadap tulisan/buku dari Maktabah Thalibul Ilmi yang disebarkan oleh Ihya At-Turats. Namun kalaulah kita menganggap bahwa beliau mentazkiyah manhajnya, itu bukan berarti menyebabkan bahwa perkara ini termasuk perkara ijtihadiyyah yang dapat ditolerir dan tidak perlu diperingatkan. Sebab beliau sendiri telah melakukan pembelaannya terhadap Sayyid Quthb, namun hal tersebut tidak menyebabkan bahwasanya perselisihan tentang Sayyid Quthb hanyalah termasuk dalam perkara ijtihadiyyah – yang tidak boleh ada pengingkaran padanya – seperti yang disangka oleh kebanyakan hizbiyyun?

      Lalu apa jawaban anda terhadap mereka yang menganggap bahwa itu termasuk perselisihan dalam masalah ijtihadiyah? Yang menyatakan tidak boleh bagi seorang salafi mentahdzir dari seorang quthbi, ikhwani, sururi?
      Adapun kami akan menjawab dengan mengatakan: bahwa Syaikh Bakr Abu Zaid hafidzhahullah tidak mengetahui secara hakiki manhaj dan pemikiran yang dimiliki oleh Sayyid Quthb, sebagaimana yang beliau akui sendiri. Beliau pernah mengatakan bahwa kitab “Fi Dzhilal al-Qur’an” yang ia dapatkan sebagai hadiah tatkala masih duduk di bangku Tsanawiyyah (setingkat SMU, pen), namun ia tidak bersemangat untuk membacanya dan hanya diletakkan di rak bukunya sejak masa itu. (lihat kitab: al-Had al-Fashil, tulisan Syaikh Rabi’, hal:17)

      Jawaban atas rekomendasi Syaikh Abdullah bin Mani’ hafidzhahullah

      Pujian beliau sebatas pameran yang pernah diadakan oleh Ihya At-Turats, beliau menyebutkan beberapa kegiatan mereka yang “dinampakkan” oleh mereka. Adapun kegiatan politik, bai’at, demonstrasi dan yang semisalnya, tentunya tidak dimasukkan dalam kegiatan pameran yang mereka adakan tersebut. Allahul musta’an.

      Beliau salah seorang diantara anggota Hai’ah Kibar al-Ulama’, dalam daurah yang ke-39 yang mereka adakan di Thaif, di bulan Rabi’ Awal, tahun 1413 H, termasuk diantara pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

      نحذر من أنواع الارتباطات : الفكرية المنحرفة، والالتزام بمبادئ جماعات وأحزاب أجنبية. الأمة في هذه البلاد يجب أن تكون جماعة واحدة متمسكة بما عليه السلف الصالح، وتابعوهم، وما كان عليه أئمة الإسلام قديما وحديًثا من لزوم الجماعة والمناصحة الصادقة، وعدم اختلاق العيوب أو إشاعتها.
      طرف من بيان هيئة كبار العلماء في دورته ا لتاسعة والثلاثين بالطائف في شهر ربيع الأول من عام ثلاثة عشر وأربعمائة وألف للهجرة .

      “Kami memberi peringatan dari berbagai macam ikatan pemikiran yang menyimpang dan peringatan dari berpegang kepada dasar-dasar – berbagai kelompok dan partai yang asing – (bukan dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, pen). Umat di negeri ini wajib untuk berada dalam satu jama’ah, yang berpegang teguh dengan apa yang telah menjadi pijakan Salafus Shalih, dan yang mengikuti mereka. Serta di atas apa yang menjadi pijakan para tokoh Islam dahulu dan sekarang, dengan komitmen terhadap jama’ah (Ahlus Sunnah, pen) dan saling menasehati dengan penuh kejujuran dan tidak membuat berbagai kerusakan atau menyebarkannya.”
      (Lihat kitab: Al-Ajwibah al Mufidah, pada catatan kaki, hal:237 no:294)

      Jawaban atas rekomendasi Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah

      Syaikh Fauzan hafidzhahullah memiliki manhaj yang sangat jelas. Jawaban beliau terhadap berbagai pertanyaan seputar manhaj dakwah sangat jelas bertentangan dengan mauqif Ihya At-Turats beserta para tokohnya. Kalaulah beliau mengetahui hakekat manhaj mereka, tentunya rekomendasi tersebut tidak akan beliau keluarkan.

      Salah satu bukti adalah fatwa Lajnah Da’imah tentang masalah bai’at yang telah kami sebutkan, dimana beliau termasuk salah satu yang menandatanganinya. Demikian pula diantaranya adalah fatwa beliau ketika ditanya :
      “Apakah mungkin bersatu bila disertai dengan hizbiyyah? Lalu apakah manhaj yang wajib bersatu di atasnya?”, maka beliau menjawab dengan tegas :
      “Tidak mungkin bersatu bersama dengan hizbiyyah, sebab kelompok-kelopok tersebut saling berlawanan satu sama lain dan menggabungkan antara dua hal yang berlawanan adalah mustahil. Allah Ta’ala berfirman :

      وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

      “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS.Ali Imran:103)

      Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang dari perpecahan dan memerintahkan bersatu di atas satu kelompok, yaitu kelompok Allah :

      أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

      “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS.Al-Mujadilah:22)
      dan Allah Ta’ala berfirman:

      وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
      “dan sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu” (QS.Al-Mu’minun: 52)

      Maka berkelompok, berpartai dan membentuk berbagai jama’ah, sama sekali bukan termasuk dari Islam. Allah Ta’ala berfirman:

      إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

      “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan masing-masing mereka memiliki pengikut, engkau bukan dari mereka sedikitpun”(QS. Al-An’am:159)

      Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan, beliau mengatakan: “Semuanya dalam Neraka, kecuali satu golongan”, dan bersabda: “yaitu siapa yang berada di atas jalanku dan jalan para shahabatku”. Maka disana tidak ada golongan yang selamat kecuali yang satu ini, yang manhajnya adalah berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya. Adapun selainnya hanyalah memecah-belah dan tidak menyatukan (ummat), Allah menyatakan:

      ْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

      “Dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka dalam penyelisihan”. (Al-Baqarah:138)

      Imam Malik rahimahullah mengatakan:
      “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.

      Dan Allah Ta’ala berfirman:

      وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ

      “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga….” (QS.At-Taubah:100)

      Maka tidak boleh bagi kita kecuali dengan bersatu di atas manhaj Salafus Shaleh.”
      (dari kitab: Al-Ajwibah al-Mufidah:212-213).

      Semestinya nasehat ini tekah cukup bagi al akh Firanda dan yang bersamanya untuk segera bertaubat kepada Allah dan kembali ke jalan sunnah dan meninggalkan sikap fanatik yang menjerumuskan ke dalam kesesatan. Semoga ….

      (Bersambung, Insya Allah)

      ULAMA AHLUS SUNNAH TIDAK MEREKOMENDASI IHYA ATTURATS (2)
      05 Feb

      لميراث من فتاوى العلماء عن جمعية إحياء التراث 8

      Menjawab nasehat Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dan Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahumallah

      Firanda menukilkan dari Syekh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafidzhahullah Ta’ala bahwa beliau berkata:
      أَقُوْلُ لا َيَجُوْزُ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي إِنْدُوْنِيْسِيَا أَنْ يَتَفَرَّقُوْا وَأَنْ يَخْتَلِفُوْا مِنْ أَجْلِ التَّعَامُلِ مَعَ جُمْعِيَةِ إِحْيَاءِ التُّرَاثِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ الَّذِيْ يُفَرِّقُ بِهِ بَيْنَ النَّاسِ. وَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَهِدُوْا فِي تَحْصِيْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وّأّنْ يَتْرُكُوْا الشَّيْءَ الَّذِيْ فِيْهِ فِتَنٌ. جُمْعِيَةُ إِحْيَاءُ التُّرَاثِ فِيْهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ، فِيْهَا نَفْعٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ فِي مُخْتَلَفِ أَقْطَارِ الأَرْضِ مِنْ جِهَةِ الْمُسَاعَدَاتِ وَمِنْ جِهَةِ تَوْزِيْعِ الْكُتُبِ. الاِخْتِلاَفُ بِسَبَبِ هَذَا لاَ يَصْلُحُ وَلاَ يَسُوْغُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ. وَعَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ هُنَاكَ أَنْ يَتَّفِقُوْا وَأَنْ يَتْرُكُوْا التَّفَرُّقَ
      “Aku katakan, tidak boleh bagi Ahlus Sunnah di Indonesia untuk berpecah belah dan saling berselisih disebabkan masalah mu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats, karena ini adalah termasuk perbuatan setan yang dengannya ia memecah belah di antara manusia. Namun yang wajib bagi mereka adalah besungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Hendaknya mereka meninggalkan sesuatu yang menimbulkan fitnah. Yayasan Ihya’ at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin. Dan wajib atas Ahlus Sunnah di sana (di Indonesia, -pen) untuk bersepakat dan meninggalkan perpecahan.” [Jawaban berupa nasehat ini beliau sampaikan di masjid seusai shalat Zhuhur, Kamis, 13 Oktober 2005, atau 10 Ramadhan 1426 H. Pada kesempatan tersebut yang meminta fatwa adalah Abu Bakr Anas Burhanuddin, Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah Zain, dan Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja)
      Demikian teks dan terjemahan yang disebutkan oleh Firanda dalam tulisannya tersebut. Namun sayang sekali karena Firanda sama sekali tidak menyebutkan bentuk pertanyaan yang disampaikan kepada Syekh tersebut, padahal teks pertanyaan sangat memberi pengaruh terhadap terjadinya perubahan fatwa Syekh hafidzhahullah. Demikian pula tidak sampainya kepada beliau berita tentang hizbiyyah yang dimiliki Ihya Atturats dengan berbagai kesesatan lainnya. Sebab sikap Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dari hizbiyyah sangat jelas, bagi siapa yang membaca tulisan dan ceramah beliau. Diantaranya disaat beliau memberi muqaddimah terhadap kitab “Madarikun Nadzar” tulisan Syekh Abdul Malik Ramadhani, setelah beliau menjelaskan tentang kesesatan “fiqhul waqi” model hizbiyyun, yang mengantarkan mereka kepada sikap merendahkan para ulama, dan menuduh mereka tidak mengerti fiqhul waqi’, dan yang semisalnya. Lalu beliau berkata:
      وفي الختام أوصي بقراءة هذا الكتاب والاستفادة منه، وأوصي شباب هذه البلاد السعودية أن يحذروا الأفكار الفاسدة الحاقدة الوافدة إلى بلادهم لإضعاف دينهم وتمزيق شملهم والتنكر لما كان عليه أسلافهم، وأن يأخذ كلُّ شابٍّ ناصحٍ لنفسه العبرةَ والعظةَ من قول عبد الله بن مسعود  كما في
      (( الإبانة )) لابن بطّة: (( إنّها ستكون أمور مشتبهات! فعليكم بالتؤدة؛ فإنّك أن تكون تابعاً في الخير خيرٌ من أن تكون رأساً في الشرِّ )).
      “Sebagai penutup, aku menasehati untuk membaca kitab ini, dan mengambil faedah darinya. Dan aku menasehati para pemuda negeri Arab Saudi ini untuk memberi peringatan dari berbagai pemikiran yang rusak dan penuh kedengkian yang dimasukkan ke dalam negeri mereka, untuk melemahkan agama mereka, dan menghancurkan persatuan mereka, dan hendak menjauhkan dari apa yang telah diamalkan oleh para pendahulu mereka. Dan hendaklah setiap pemuda yang menasehati dirinya, agar mengambil pelajaran dan nasehat dari ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Al-Ibanah”, oleh Ibnu Baththah: “Sesungguhnya akan muncul perkara-perkara yang syubhat! Maka hendaklah kalian bersikap hati-hati, karena sesungguhnya engkau termasuk pengikut kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi tokoh dalam kesesatan”. (Madarikun Nadzar, hal:18).
      Dari ucapan beliau ini sangat jelas, bahwa beliau mentahdzir dari berbagai macam pemikiran yang dapat memecah belah persatuan mereka, dan menjauhkan mereka dari aqidah dan manhaj salaful ummah. Dan beliau juga menasehati untuk mengikuti wasiat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, yang menganjurkan untuk menjadi pengikut kebaikan dan tidak menjadi tokoh kesesatan, disaat munculnya berbagai macam syubhat. Akan tetapi diantara mereka ada yang berusaha membela berbagai praktek hizbiyyah, dan bersembunyi dibelakang fatwa ulama yang kira-kira bisa dijadikan sebagai pelindung amalan maupun dana hizbiyyahnya. Salah satu contoh, tentang kitab “Rifqan ahlas sunnah” yang beliau tulis sebagai nasehat diantara sesama ahlus sunnah. Banyak dimanfaatkan oleh para pembela Organisasi At-Turats untuk membelanya, dan membela orang yang bermu’amalah dengannya, dan mengecam para pentahdzirnya. Oleh karenanya, para pembelanya menjadikan kitab ini sebagai “tameng” untuk melegitimasi bantuan dana dari mereka kepada yang selama ini bermuamalah dengannya. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kitab ini ditulis untuk intern dari kalangan ahlus sunnah, bukan terhadap mereka yang memiliki pemikiran hizbiyyah dan berwala’ kepadanya. Ini dijelaskan oleh beliau sendiri, sebagaimana dinukil dalam kitab Ittihaful ‘Ibad bi Fawa-idi Durusi Asy-Syaikh ‘Abdil Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad –kitab ini telah dibaca dan direkomendasi oleh Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin sendiri— (hal. 60):
      “Kitab yang saya tulis pada akhir-akhir ini (yaitu kitab Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, pent) ….. tidak ada hubungannya dengan pihak-pihak yang pernah saya sebutkan dalam kitab Madarikun Nazhar (cttn.1). Dengan ini yang dimaksud dengan bersikap lembutlah wahai Ahlus Sunnah terhadap Ahlus Sunnah, bukanlah kelompok Ikhwanul Muslimin, bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin (para aktivis pergerakan, pent). Tidak pula yang dimaksudkan (oleh buku tersebut) orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’ (cttn. 2), (orang-orang yang) mencaci maki pemerintah, dan meremehkan para ‘ulama. Bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali. Tapi hanyalah yang dimaksudkan (oleh buku tersebut, pent) adalah intern ahlus sunnah saja, di mana telah terjadi di antara mereka ikhtilaf, sehingga mereka sibuk dengan sesamanya untuk saling menjarh, memboikot, dan mencela (cttn. 3). “

      Perhatikan ucapan beliau: “bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin, tidak pula yang dimaksudkan orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’, mencaci maki pemerintah, dan meremehkan para ulama, bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali”, cobalah anda perhatikan kalimat ini, lalu sesuaikan dengan manhaj Ihya Atturats yang berada dibawah asuhan sang mufti Abdurrahman Abdul Khaliq, kalian akan mendapati sifat-sifat yang beliau sebutkan tersebut sesuai dengan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Ihya Atturats tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Syekh hafidzhahullah tidak mengetahui secara persis mahaj dakwah mereka, serta pengaruhnya yang mendatangkan dampak negatif diberbagai negara, khususnya di Indonesia. Bila demikian keadaannya, perlu ada diantara sebagian mereka yang punya kesempatan untuk menjelaskan kepada Syekh secara rinci tentang masalah ini.

      Perhatikan pula fatwa beliau yang disebutkan oleh Firanda:
      Yayasan Ihya’ at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin…”
      Perhatikan apa yang beliau katakan: ” Perselisihan disebabkan hal ini”, lalu perhatikan kembali fatwa para ulama yang mentahdzir organisasi tersebut, maka Nampak bagi kita semua bahwa perselisihan bukan disebabkan hal ini, namun disebabkan karena pengaruh hizbiyyah yang dimiliki organisasi ini.

      Sebenarnya apa yang kami sebutkan terdahulu dari fatwa-fatwa para ulama senior tentang Ihya Atturats ini sudah lebih dari cukup, namun untuk semakin melengkapi fatwa mereka, berikut ini fatwa yang berasal dari Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidzahullah, yang semoga Firanda dan yang bersamanya juga masih menganggapnya sebagai alim yang senior. Beliau ditanya dengan pertanyaan berikut:

      س : ماذا تعرفون عن جمعية إحياء التراث التي في الكويت حيث إنها فتحت لها فرع في العراق و فرقت الشباب السلفي و فتحت دروس و تصرف رواتب لكل من يحضر هذه الدروس و هؤلاء الذين يلقون الدروس ليسوا أهلاً للتدريس ، أرشدونا مأجورين ؟
      Soal : Apa yang anda ketahui tentang Jum’iyyah Ihya’ut Turats yang berada di Kuwait dimana jum’iyyah ini telah membuka cabangnya di irak dan telah memecah belah para pemuda salafy dan membuka pelajaran dan memberikan gaji bagi setiap orang yang menghadiri pelajaran tersebut dan orang-orang yang memberikan pelajaran tersebut bukanlah ahlinya untuk mengajar. Berikanlah kami bimbingan, semoga anda mendapatkan pahala ?

      ج- جمعية إحياء التراث عليها ملاحظات فلا ننصحكم إن كنتم سلفيين بالإلتحاق بها خوفاً عليكم بالإنخداع بما هي عليه .
      و أنصكم أن تصبروا حتى يهيئ الله لكم من يعلمكم على المنهج السلفي و الطريقة الشرعية الصحيحة وهو الأخذ بكتاب الله و سنة رسول الله – صلى الله عليه و سلم – على فهم السلف الصالح و أهل العقيدة الحقة و البراءة من الدعوات الدخيلة من شيعة و شيوعية و غير ذلك .
      و أسأل الله – عز و جل – أن ييسر لكم من يكون من أهل العقيدة الصحيحة و المنهج السلفي من تتعلمون على يديه و ينضاف إلى هذا أيضاً أنكم قلتم : إن الذين يتولون التدريس ليسوا بأهل للتدريس و ليس عندهم علم، لهذافإني أنصكم بعدم الدخول فيها وفقكم الله و سدد خطاكم
      و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه .
      الفتاوى الجلية عن المناهج الدعوية (2/320(

      Jawab : Jum’iyyah Ihya’ut Turats baginya ada catatan-catatan/komentar. Maka kami menasehati kalian – jika kalian salafy – untuk tidak bergabung dengannya karena kawatir kalian bisa tertipu dengan apa yang dia diatasnya. Aku nasehati kalian untuk bersabar sampai Allah berikan untuk kalian orang yang akan mengajari kalian diatas manhaj salafi dan cara-cara syar’i yang benar yaitu berpegang dengan kitabullah dan sunnah Rosulullah صلى الله عليه و سلم berdasarkan pemahaman salafus shalih dan orang yang beraqidah yang benar dan berlepas diri dari dakwah-dakwah yang masuk dari syi’ah, komunis dan lainnya. Dan saya memohon kepada Allah عز و جل agar Allah mudahkan untuk kalian, orang yang beraqidah yang shahih dan bermanhaj salafy yang kalian akan belajar dihadapannya dan termasuk dengan itu juga bahwa kalian mengatakan : bahwasannya orang yang memberikan pelajaran mereka bukanlah ahlinya dan tidak ada padanya ilmu. Karena itu aku nasehatkan kalian untuk tidak masuk pada yayasan tersebut, semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian dan menunjuki langkah kalian kepada jalan yang lurus.
      و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه

      (Al Fatawa Al Jaliyyah ‘An Almanaahiji Ad Da’awiyyah (2/320) , Penulis : Faris At Thahir AsSalafy, Sumber : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=341912. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa’i As Salafy)

      Demikian pula berkenaan tentang pujian Syekh Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahullah Ta’ala, tatkala beliau mengatakan (cttn. 4) :
      “Yayasan Ihya’ At-Turots adalah yayasan yang bergerak mengumpulkan harta dan bantuan dari para pedagang dan orang-orang kaya dan menyalurkannya dalam amalan-amalan kebaikan seperti menggali sumur-sumur, membangun mesjid-mesjid, sekolah-sekolah, dan memberi gaji bagi para da’i.Dan termasuk perkara yang aneh timbulnya perpecahan karena yayasan seperti ini.”
      Hal ini juga disebabkan karena tidak sampainya berita yang detil kepada beliau tentang dampak Ihya Atturats diberbagai negara, dan memberikan berbagai berita yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, lalu disampaikan kepada beliau, dan bukan hal yang mustahil sebagian berita tersebut berasal dari Firanda dan para pendukungnya yang punya kesempatan bertemu dengan beliau. Dan sebenarnya perkara inipun telah dijawab oleh para ulama semenjak beberapa tahun sebelumnya. Diantaranya adalah jawaban seorang syekh senior –yang semoga Firanda pun tetap menganggapnya senior atau jajaran paling senior- muhaddits dari Yaman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah Ta’ala, sebagaimana yang telah kita nukilkan diedisi pertama. Namun sekedar untuk mengingatkan, maka kami nukil kembali fatwa tersebut, sebagai berikut:

      فعلماءنا الأفاضل حفظهم الله تعالى يأتي صاحب الجمعية إليهم ويقول : يا شيخ نحن نهتم ببناء المساجد وبفتح مدارس تحفيظ القرآن وبكفالة اليتامى وبحفر الآبار وغير ذلك من الأفعال الحميدة الصالحة فالشيخ ………(كلمة غير واضحة) ما رأيك في هذه الجمعية تهتم ببناء المساجد وتحفيظ القرآن وكفالة اليتامى وكفالة الدعاة إلى الله وحفر الآبار ,من الذي يقول هذا ما يجوز كل واحد يقول –يا أخي- هذا عمل صالح كله لكن المشايخ حفظهم الله تعالى لا يعرفون ما بعد هذا .
      والواقع أن الأموال التي تأتيهم أصحاب الجمعية لتحارب بها أهل السنة في السودان وفي اليمن نعم وفي أرض الحرمين ونجد وفي أندونيسيا وفي كثير من البلاد الإسلامية .
      (مفرغ من الشريط بصوته رحمه الله وهو عندي)

      “Ulama kita yang mulia –semoga Allah senantiasa menjaga mereka- , lantas anggota Jum’iyyah datang kepada mereka dan berkata: “…wahai syekh, kami memperhatikan masalah pembangunan masjid-masjid, membuka madrasah tahfidz Al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menggali sumur-sumur dan yang lainnya – dari berbagai perbuatan yang terpuji dan salih -”. “Maka syaikh …..(kalimat tidak jelas), apa pendapatmu tentang jum’iyyah ini, yang memperhatikan pembangunan masjid, tahfidz al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menanggung para da’i di jalan Allah, menggali sumur-sumur…”. Siapa yang mengatakan ini tidak boleh ? Setiap orang mengatakan –ya akhi- ini adalah amalan soleh semuanya ! Namun para syaikh tersebut –semoga Allah menjaga mereka- tidak mengetahui apa yang terjadi setelah ini.
      Kenyataannya bahwa harta yang sampai ke mereka para pengurus Jum’iyyah digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Makkah dan Madinah, pen), Najed dan di Indonesia dan dalam banyak Negara Islam.”

      Jika sekiranya Syekh Ar-Ruhaili hafidzahullah mengetahui sepak terjang organisasi Ihya Atturats ini diberbagai Negara, maka beliau tentunya tidak akan memberi pembelaan kepadanya. Dalam salah satu Tanya jawab dengan beliau (cttn.5), beliau sempat ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut:

      السائل: نريد تحديد مفهوم من هو السني حيث إن هناك أقواما يقولون :إنهم من اهل السنة وإذا سمع أحدهم كلامهم وجده يقول قال الله قال رسوله وأما إذا نظر الناظر في أقوالهم وفي أفعالهم فإنه يجد العكس فيراه يثني على أهل البدع والضلال ويصفهم بأنهم أئمة مجددون وبالمقابل يذم أهل السنة والأثر بأنهم لا يفقهون الواقع أو أن فقههم يدور حول سراويل امرأة أي أنهم علماء حيض ونفاس أو أن الدنيا قد غرتهم وبعضهم يرى أن هذه الجماعات البدعية تعد ظاهرة صحية وهي من أهل السنة وتفرقها ليس تفرقا مذموما وبعضهم يرى أن ما يسمى بالأناشيد والتمثيليات والمسرحيات هي من الوسائل التي ينبغي على الداعي إلى الله جل وعلا أن يسلكها في دعوته لأنها تدخل الناس في دين الله وبعضهم يؤصل أصولا حكم أئمة السنة والأثر بأنها أصول بدعة وضلال وأن هذه الأصول لا تمت إلى السنة من أي وجه ,فما توجيهكم حفظكم الله؟

      Pertanyaan: kami ingin penjelasan tentang batasan dalam memahami siapakah pengikut ahlus sunnah itu, dimana ada sebagian orang yang mengatakan: bahwa mereka termasuk dari kalangan ahlus sunnah .Bila seseorang mendengar ucapan mereka, ia mendapatinya mengatakan: berfirman Allah, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun jika seseorang melihat ucapan dan perbuatannya, maka dia mendapati sebaliknya, dilihat dia memuji ahlul bid’ah dan sesat, dan menyebut mereka sebagai imam mujaddid (pembaharu agama), dan sebaliknya dia mencela ahlus sunnah dan atsar bahwa mereka tidak mengerti fiqhul waqi’, atau mengatakan bahwa fiqih mereka hanya berada diseputar celana wanita, atau mereka adalah para ulama haid dan nifas, atau mengatakan bahwa dunia telah menipu mereka. Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa jama’ah-jama’ah bid’ah ini merupakan dampak yang positif, dan termasuk dari kalangan ahlus sunnah, dan perpecahan mereka bukanlah perpecahan yang tercela. Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa apa yang disebut dengan nasyid, teater dan pertunjukkan, termasuk diantara wasilah yang sepantasnya bagi seorang da’i kepada jalan Allah untuk menempuhnya dalam berdakwah, sebab (dengan itu) dapat memasukkan manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Sebagian lagi ada yang menyebut prinsip-prinsip yang para imam ahlus sunnah telah menghukumi bahwa itu merupakan prinsip-prinsip bid’ah dan sesat, dan bahwa prinsip-prinsip ini tidak ada hubungannya dengan sunnah dari sisi manapun. Maka bagaimana nasehatmu –semoga Allah menjagamu-?
      Maka beliau menjawab dengan jawaban sebagai berikut:

      الجواب: كما ذكرت أن صاحب السنة ليس مما يجتهد الناس فيه فيحكمون فيه بأهواءهم أنه صاحب سنة أو صاحب بدعة ,وإلا فالكثير من أهل البدع يدعون أنهم أهل السنة وأن من خالفهم هو من أهل البدع ,وهذا باب توقيفي فصاحب السنة هو من قام بالسنة علما وعملا ودعوة إليه ,وارجعوا إلى النصوص فمن وافق عمله عمل النبي صلى الله عليه وسلم فهو من أهل السنة ,ومن خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم فهو من أهل البدع الذين خرجوا عن السنة .فالسنة معلومة وأصول السنة معروفة في التوحيد وفي القدر وفي الإيمان وفي أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وفي طاعة ولاة الأمر وفي معرفة معاملة العلماء وفي الدعوة إلى الله عز وجل ,دعوة أهل السنة ظاهرة ولا تخفى,ووالله لو عرف الناس السنة وأهلها ما عاداها أحد ,لكن الناس يجهلون السنة ويجهلون حقيقة السنة فيعادونها بجهلهم بها وإلا فالسنة هي المصلحة العظيمة في الدنيا والآخرة لكل أحد,هي لمصلحة الحكام ولمصلحة المحكومين لمصلحة الآباء ولمصلحة الأبناء لمصلحة الرجال ولمصلحة النساء ,لمصلحة الفقراء ولمصلحة الأغنياء ,ليس هناك فرد من أفراد الأمة إلا والسنة في نصرته فما يتركها أحد ولا يتنكر إليها أحد .فالسنة هي ما سنه النبي صلى الله عليه وسلم وما كان عليه الخلفاء الراشدون من بعدهم والبدعة هو ما عدا ذلك كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم .
      ثم إن العلماء ذكروا ضابطا لهذه المسألة لأن الكثير يدعون بأنهم يستدلون بنصوص الكتاب والسنة ويقولون قال الله وقال رسوله صلى الله عليه وسلم لكن ذكر العلماء ضابطا مهما يضبط هذه المسألة قالوا: الاستدلال بنصوص الكتاب والسنة بناء على فهم سلف الأمة . قولنا: الاستدلال بنصوص الكتاب والسنة دخل في هذا الخوارج ,الخوارج يزعمون بأنهم بنصوص الكتاب والسنة لكن بناء على صلف هذه الأمة,هل دخلوا في أهل السنة؟ لا,ما استفادوا من علي وما انتفعوا بعلمه بل كفروه ,فإذا هؤلاء خرجوا من السنة لأنهم لم يستدلوا بنصوص الكتاب والسنة بناء على سلف هذه الأمة.صاحب السنة إذا ما أراد أن يفسر الآية رجع إلى تفاسير أهل السنة ,ماذا قال ابن عباس ماذا قال مجاهد ماذا قال قتادة ,ثم يبني فهمه على أقوال أهل العلم .وصاحب البدعة

  30. abdullah1982 mengatakan:

    syaikh Abdul Muhsin ulama kibar ahlussunnah.

  31. kharisma mengatakan:

    pengen nangis rasanya setelah sekian lama ana berusaha mengenal dan belajar manhaj salaf dr rodja dan grup BB al ilmu ( ust. firanda dkk), ternyata hari ini Allah bukakan petunjuk-Nya kpd ana tentang mereka. setangah bingung dan gak percaya dgn apa yg ana baca sekarang ini semoga Allah selalu memberikan petunjyk-NYa pd ana dan kita semua kaum muslimin. gak tau lg harus berkata apa

    • abdullah1982 mengatakan:

      amin

    • Ummu Abdilllah mengatakan:

      tetaplah menuntut ilmu syar’i kepada asatidzah yang lurus dan amanah dalam da’wah.. anapun dahulu demikian tp wal hamdulillaah..manhaj salafy semakin terang seiring nampaknya penyimpangan turatsiyin.. kita akan sampai kepada apa yang diniatkan insyaa allaah. baarokallahu fiykum.

  32. abdullah1982 mengatakan:

    afwan ana tidak mau menjawab secara panjang, cukup ana bawakan fatwa seorang ulama kibar dari madinah, semoga saudara bisa berfikir apa yang ana maukan dari membawakan fatwa syaikh Ubaid sebagai jawaban dari komentar anda. barakallahu fikum

    LARANGAN MENDENGARKAN RADIO TURATSIYYAH-HALABIYYAH-MA’RIBIYYAH (semisal RODJA dll.) (Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah)

    Pertanyaan:
    Di dekat kami ada radio yang dia ini pengikut At-Turotsiyyin seperti Abul Hasan dan Ali Al-Halaby dan ada sebagian Salafiyyin yang menanyakan tentang hukum mendengarkan radio ini. Dan tentunya di radio ini disebarkan perkataan Al-Halaby, Ar-Ruhaily dan selain keduanya, padahal Salafiyyin memiliki radio sendiri dan memiliki CD-CD yang merekam durusnya para ulama dan para da’i (Salafiyyin) Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, Tauhid, Sunnah, Akhlaq. Maka apakah anda menasehati anak-anak anda di Indonesia untuk mendengarkan radio ini?

    Jawab:
    Yang pertama, mencukupkan diri dengan mendengarkan radio Salafiyyin dan pada yang engkau sebutkan itu sudah cukup. Maka TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH.
    Kedua, barangsiapa yang DIA INI MEMILIKI KEMAMPUAN KEAHLIAN/KAPASITAS LALU MENDENGARKAN RADIO INI DALAM RANGKA MEMBANTAHNYA MAKA TIDAK MENGAPA.
    JADI ORANG-ORANG AWAMNYA AHLUSSUNNAH TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO TERSEBUT.
    Kewajiban kita hanya menjelaskan, dan termasuk kelembutan dan rahmat Allah kepada kita (yaitu) Allah tidak membebani kita untuk memberi hidayah kepada hati-hati manusia dan Allah tidak membebani kita agar kebenaran itu diterima oleh mereka….
    (diterjemahkan secara bebas. Sumber: rekaman pertanyaan-pertanyaan Salafiyyin Indonesia pada malam Ahad, 15 Jumadil Akhir 1433H yang bertepatan dengan 5 Mei 2012).

    Link Suara: http://bit.ly/NVrfUk

    Faidah-faidah yang bisa kita petik:
    1. Si penanya tidak menyebutkan secara khusus nama radio tertentu kecuali penyifatannya adalah radio dari kalangan Turatsiyyun, Abul Hasan, Al-Halaby, Ar-Ruhaily. Ini mengandung faidah yang sangat luas bahwa hukum yang ditanyakan tersebut tidak hanya tertuju pada satu atau dua radio saja (tidak ada celah bagi hizbiyyin dan para pembelanya untuk beralasan [misalnya] “Itu kan fatwa larangan untuk radio A bukan larangan mendengarkan radio B, C atau yang lainnya” atau berhilah “Nama radionya sudah berubah dari RODJA menjadi RADJA, jadi fatwa tentang larangan mendengarkan radio RODJA sudah tidak berlaku lagi” dan hilah-hilah yang lainnya.).
    2. Syaikh memberikan penegasan yang jelas lagi gamblang TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH. Maka apapun nama radio tersebut yang memiliki sifat-sifat di atas masuk dalam larangan beliau.
    3. Asy-Syaikh pada bulan Mei 2012 kemarin masih memperingatkan Salafiyyin tentang Penyimpangan Turotsiyyah maka ini adalah bantahan terhadap ucapan semisal masalah Ihya’ut Turots sudah selesai dan yang masih membicarakannya adalah PAHLAWAN KESIANGAN.
    4. Larangan bagi awam Ahlussunnah untuk mendengarkan radio Turotsiyah Halabiyyah Ma’ribiyyah.
    5. Bolehnya bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan radio tersebut dalam rangka membantahnya (maka bagaimana pula jika dia malah berpromosi, memuji, men-Salafy-kan dan membela tokoh-tokohnya serta menghasung ribuan orang lainnya untuk mendengarkannya?). Wallahul musta’an.

    Diterjemahkan oleh Tim Darussalaf.or.id,.
    Muroja’ah : Al-Ustadz Muhammad Ar-Rifa’i (Alumni Yaman)

  33. Febri mengatakan:

    Subhanallah……..saya doakan niat Bpk Abdullah 1982 ihklas karena Allah Subhanawataala……….tapi Rodja sudah banyak manfaatnya bagi kami orang2 yang rendah sekali keilmuannya dan rodja bisa didengar keseluruh daerah sehingga orang2 bisa belajar sunnah…….maaf kalau bisa Bpk pakai nama yg jelas jangan pakai ABDULLAH 1982…dan berusahalah Bpk abdullah dan ustad2nya buat radio utk media dakwa sunnah…….kalau ada radio utk media dakwah bpk dan ustad2 nya bisa berdakwah sunnah juga……..dari pada membahas kejelekan orang lain takutnya nanti bapak termasuk menggibah.

  34. arnandamhuri2012 mengatakan:

    MAU TANYA DONG INI BLOG PUNYA YAHUDI APA SYIAH YA…..

  35. abdullah1982 mengatakan:

    banyak yang sudah mentabdi ali hasan, bukan hanya syaikh rabi’, syaikh ubaid dan selain dari mereka berdua

  36. juhartomo mengatakan:

    saya ingin mendengarkan dan belajar dari radio bapak abdullah1982…….mana alamatnya ya pak…maksud saya FM apa AM gelombang berapa…gitu pak, atas dijawabnya saya ucapkan terima kasih…wassalam

  37. Ikhwan mengatakan:

    alhamdulillah semoga artikel ini menjadi pecerahan buat yang belum tahu

  38. ruspendi mengatakan:

    salafy.cileungsi.com ga bisa di buka

  39. seuntai kata mengatakan:

    Reblogged this on kehidupan hati and commented:
    menarik,,,

  40. Dhuhur ahmad mengatakan:

    Alhamdulillah
    semakin jelas buat saya, siapa sebenarnya radio Rodja itu.
    tapi ada yang mengganjal di hati sedikit, moga ustadz bisa membantu mengilangkannya.
    “inikan nasehat untuk ummat Tadz”, peringatan untuk umat islam.
    tapi saya bertanya-tanya, siapakah umat yang dimaksud itu???
    apakah umat islam indonesia semua
    yang jumlahnya lebih 200 juta
    NU 60 juta katanya
    Muhammadiyah 40 juta
    belum lagi yang lainnya.
    atau umat yang dimaksud itu khusus yang sudah ngaji
    yang sudah mengerti tauhid
    sudah menjalankan sunnah, yang mungkin jumlah mereka sangat minoritas sekali di indonesia
    atau lebih khusus lagi, untuk yang biasa menghadiri kajian, ustadz-ustadz kita saja.
    tolong penjelasannya Tadz!
    jazakumullah khairan.

  41. aisyah mengatakan:

    bismillah,
    bagi yang membaca blog ini,sadarlah,betapa akhlak beliau(pembuat blog) adalah mulia,insyALLOH.terbukti beliau tidak mau berjidal(berdebat kusir yg tidak mendatangkan maslahat,hanya menambah permusuhan) dg komentar abu faizah yang terkesan “mencari PEMBENARAN”, bukan mencari kebenaran.kata2 abu faizah yang ‘sedikit’ menyinggung perasaan,tapi penulis tetap ‘adem ayem’ menjawabnya,sopan dan jelas.bukankah ini akhlak yang mencirikan seorang sunnah? hal ini saja insyALLOH sudah cukup menjawab kebingungan yang masih awam ttg siapa yg benar,siapa yg salah.BUKALAH MATA HATI KITA.saya aja yg msih awam bisa paham kok.bersikap adillah menilai sesuatu,jgn fanatik,kalo salah,ya harus mau rujuk.kalo benar,pertahankan dg cara yg sopan seperti yg dilakukan oleh pembuat blog ini.salut!!

  42. roby mengatakan:

    maaf, sy bingung..
    apakah kita juga tdk boleh bermuamalah dg orang tua atau saudara kandung yg ahli bid’ah??
    apakah kita juga tdk boleh menerima dana dari mereka??
    mohon penjelasannya..

  43. sofiandi mengatakan:

    Bismillah. Saya melihat dan mendengar banyak sekali fitnah, sehingga membingunkan umat, untuk itu saya mohon pencerahannya, mana yang harus diikuti, dan mana yang harus ditinggalkan, sehingga saya dapat belajar dari yang benar, dan terlihat oleh saya adanya beberapa kubu yang mengatas namakan ahlus sunnah yang sejati (yang paling benar). Sekali lagi mohon penjelasannya, apalagi secara tak sengaja saya melihat postingan di you tube seperti diatas yang menambah kebingungan saya.
    Dan saya mohon maaf bila link video tersebut menyinggung perasaan, adapaun hal ini juga sebagai tabayyun. Dan saya berdoa semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi hamba-Nya dari berbagai macam fitnah yang menimpanya dan memberikan petunjuk yang paling benar untuk menggapai hidayah-Nya.

    • abdullah1982 mengatakan:

      untuk menjelaskan apa yang saudara tannyakan butuh untuk menerangkan lebih banyak dari hanya sekedar menjawab pertanyaan secara singkat di komentar ini. namun hal itu insya Allah tidak saya akan lewtkan dengan harapan sedikit memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. -insya Allah-
      kebenaran adalah seseorang yang berpegang teguh di atas al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.
      terkait dengan fitnah yang banyak terjadi kita diperntahkan mengembalikan perkara ini kepada ahlu ilmu (ulama) mereka yang paling tahu tentang al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, dan alhamdulillah yang saudara tanyakan sudah dijelaskan oleh para ulama kibar kita seperti Syaikh Rabi’ yang kata syaikh al-Albani syaikh Rabi’ adalah pemegang bendera Jarh wa Ta’dil abad ini, begitu juga syaikh Muhammad bin hadi, begitu juga Syaikh Ubaid al-Jabiri, begitu juga syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Whusoby dan yang lainnya, alhamdulillah sebagian penjelasn dari para masyaikh tersebut saya mempunyai rekamannya. adapun yang terkait dengan apa yang saya tulis sudah lama dijelaskan oleh para ulama ahlssunnah. wallahu a’lam bish shawwab.

  44. abdullah1982 mengatakan:

    Ini Komentar anda Ini Jawaban Kami

    Assalamu’alaikum……….
    maaf izinkan saya ikut belajar utk memahami………………..
    ada beberapa pertanyaan yg ingin saya ajukan ,a l :
    1.dimanakah letak makam Nabi Muhammad SAW ?
    2.mengapa anda yakin sekali bahwa mereka yg kemakam bertujuan menyembahnya ?
    3.bagaimana & bolehkan seandainya makam orang tua anda digusur tanpa kehormatan ?
    4.Anda sholat menhadap kiblat..( KA’BAH ),apakah tu berarti anda menyembah ka’bah ?
    Sekedar manambahi, bukan dalil yang salah mungkin pemahman kita yg kurang sempurna,……maaf, saya termasuk orang bodoh…tapi setiap ziaroh kemakam,baik itu makam kerabat atopun makam karomah……..Alhamdulillah tak pernah terbersit niat untuk menyembahnya….na’udubillaahi mindzalik…
    Tolong jawab pertanyaan -2 saya diatas ,agar saya semakin bisa menyadari kebodohan saya. terimakasih
    wassalamu’alaikum…………….

    Komentar anda:

    Assalamu’alaikum……….
    maaf izinkan saya ikut belajar utk memahami………………..
    ada beberapa pertanyaan yg ingin saya ajukan :
    Jawaban Kami:

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Silahkan tafadhol, semoga bisa diambil manfaatnya. (maaf baru sempat balas komentar saudara)

    Komentar anda:

    1.dimanakah letak makam Nabi Muhammad SAW ?
    Jawaban Kami:

    Sebelum menjawab pertanyaan saudara, ada yang ingin ana katakan tentang penulisan shalawat untuk tidak diringkas menjadi SAW, tulislah dengan lengkap (shalallahu ‘alaihi wasallam).
    Adapun jawaban pertanyaan anda
    Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat dirumah ‘Aisyah dan dikubur dirumahnya, rumah ‘Aisyah berada disebelah masjid. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam masih hidup ketika mau sholat berjama’ah beliau biasa keluar dari rumah ‘Aisyah lalu berjalan kemasjid, hal ini perkara yang ma’ruf diketahui. Jadi kalau ada orang yang berdalil atau beragumen ingin mengkeramatkan kuburan atau menjadikan atau mendirikan masjid diatas kuburan,dengan mengatakan atau beragumen bahwa kuburan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam berada dimasjid maka mereka ‘salah alamat’, berargumen dengan argumen yang sangat lemah dari beberapa sisi, diantaranya : (dibawah ini jawaban syaikh Muhammad Bin Shalih Al Ustaimin Rahimahulllah ketika ditanya tentang kuburan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berada dimasjid)
    Pertama : Masjid nabawi tidak dibangun diatas kubur, bahkan masjid tersebut dibangun semasa hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam
    Kedua : Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak dikubur didalam masjid, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa didalam masjid ini ada orang shalih yang dikuburkan, bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dahulu dikuburkan didalam rumahnya sendiri (rumah ‘aisyah -ed)
    Ketiga : sesungguhnya dimasukkannya rumah-rumah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kedalam areal masjid, termasuk kedalamnya rumah aisyah tidak berdasarkan persetujuan semua sahabat. Hal ini terjadi sesudah sebagian besar mereka telah tiada, yaitu kurang lebih pada tahun 94 H, dan tidak termasuk hal yang dibenarkan oleh para sahabat, bahkan sebagian mereka menentangnya. Diantara orang-orang yang menentangnya adalah Sa’id Bin Musayyab dari kalangan tabi’in
    Keempat : kuburan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berada diareal masjid kemudian dimasukkan kedalamnya. Kuburan tersebut semula berada diruang terpisah dari masjid dan masjid nabawi tidak dibangun diatas ruang tersebut. Tempat ini tetap terpelihara dengan dibatasi tiga dinding. Dinding2nya membentuk ruang segitiga dan tidak mengarah kiblat. Dinding bagian utara dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang shalat diutaranya tidak menhadap kearah kubur. Dengan demikian batallah alasan penyembah kubur yang didasarkan pada alasan yang syubhat ini “ (selesai perkataan syaikh Ibnu utsaimin)
    Komentar anda

    2.mengapa anda yakin sekali bahwa mereka yg kemakam bertujuan menyembahnya ?
    Jawaban Kami:

    Seseorang datang kekuburan itu bermacam-macam latarbelakangnya maka kita hukumi sesuai dengan latarbelakangnya dia datang kekuburan.
    1. Kalau dia datang kekuburan dengan niat ingin agar ingat kematian atau akhirat lalu ia berziarah kubur dengan tidak melakukan kesyrikan, kebid’ahan dan maksiat, lalu juga tidak melakukan safar dan tidak mengkhusukan kuburan tertentu maka ia berziarah sesuai dengan sunnah dan mendapat pahala

    2. kalau seseorang berziarah kekuburan lalu meminta kepada orang mati yang dikubur, atau menyembelih untuknya maka yang seperti ini berarti dia telah menyembah kuburan itu

    3. Kalau dia berziarah kekuburan lalu beribadah kepada Allah disisi kuburan tersebuat maka dia terjatuh kepada larangan Allah.
    Ini diantara perinciaannya.
    Saya sangat tidak ragu untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan yaitu beribadah kepada Allah disisi kuburan mbah priuk akan mengantarkan mereka menyembah kuburan itu dengan beberapa alasan:
    1. Adanya dalil yang menyatakan hal itu (diantaranya)
    Diriwayat dalam shahih al-Bukhari, tafsiran ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah Ta’ala:
    “Dan mereka (kaum nabi Nuh) berkata: “ Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan ( penyembahan) terhadap sesembahan -sesembahan kamu, dan ( terutama) janganlah sekali- kali meningalkan (penyembahan) wadd, suwa, yaghuts, ya’uq maupun Nasr ”. Ia mengatakan ,” ini adalah nama- nama orang sholeh dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaithan membisikan kepada kaum mereka : “ Dirikanlah patung – patung pada tempat yang pernah diadakan pertemuan disana oleh mereka, dan namailah patung- patung itu dengan nama- nama mereka ketika itu belum disembah, hingga setelah orang – orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung- patung tadi disembah ”.
    Dan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Ummu salamah Radhiyallahu ‘anha menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tentang gereja dengan patung – patung yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau:
    “Mereka itu, apabila ada orang – orang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal dunia mereka bangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat didalam tempat itu patung – patung. Mereka itulah sejelek- jeleknya makhluk dihadapan Allah .” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dan bukti bahwasannya sikap berlebihan terhadap orang shalih akan menjadi sebab disembahnya kuburan itu selain Allah, sebagaimana kekhawatiran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga beliau berdoa agar kuburannya jangan sampai dijadikan berhala yang disembah selain Allah “ Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah, Allah melaknat sebuah kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka menjadi masjid “ (HR Imam Ahmad dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu)
    2. Hal ini yaitu penyembahan kuburan pernah terjadi di ummat-ummat terdahulu
    Diriwayat dalam shahih al-Bukhari, tafsiran ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah Ta’ala:
    “Dan mereka (kaum nabi Nuh) berkata: “ Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan ( penyembahan) terhadap sesembahan -sesembahan kamu, dan ( terutama) janganlah sekali- kali meningalkan (penyembahan) wadd, suwa, yaghuts, ya’uq maupun Nasr ”. Ia mengatakan ,” ini adalah nama- nama orang sholeh dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaithan membisikan kepada kaum mereka : “ Dirikanlah patung – patung pada tempat yang pernah diadakan pertemuan disana oleh mereka, dan namailah patung- patung itu dengan nama- nama mereka ketika itu belum disembah, hingga setelah orang – orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung- patung tadi disembah ”.
    3. Dengan kondisi jauhnya ummat dari pemahaman agama yang benar, maka sangat berpeluang sekali untuk terjadinya penyembahan kepada kuburan tersebut. Karena bodoh sumber malapetaka. Lihat awal pertama kali terjadinya kesyirikan yaitu asal muasalnya pembuatan patung orang shalih untuk mengingat keshalihan mereka sehingga terpacu untuk mengikuti mereka, pertama2 ketika membuatnya belum dsisembah, setelah mati orang-orang berilmu maka dengan mudah syaithan membisikkan orang-orang bodoh untuk menyembah patung tersebut.
    4. Realita telah terjadi, penyembahan terhadap kuburan bakan hanya terjadi di Indonesia tapi juga di Negara-negara lain.
    5. setelah kejadian peristiwa dikuburan mbah priuk tersebut teman saya menceritakan kepada saya bahwa temannya mendengar orang dipasar mengatakan “Kuburan mbah priuk yang menjaga priuk dari musibah tsunami”, ucapan ini sebagai komentar orang itu atas ketidak setujuan untuk digusurnya mbah priuk. Lihat syrik yang mana yang lebih besar daripada menyandarkan keselamatan dari selain Allah…!!!
    Komentar anda

    3.bagaimana & bolehkan seandainya makam orang tua anda digusur tanpa kehormatan ?
    Jawaban Kami:

    Saya bawakan fatwa lajnah daimah tentang hokum mneggusur kuburan orang muslim
    “ Pada asalnya tidak boleh membongkar kuburan mayit serta mengeluarkan mayat darinya karena bila mayat telah diletakkan didalam kuburnya, artinya dia telah menempati tempat singgahnya serta mendahului yang lain ketempat tersebut, sehingga tanah kubur tersebut adalah wakaf untuknya. Tidak boleh seorangpun mengusiknya atau mencampuri urusan tanah tersebut. Juga karena membongkar kuburan itu menyebabkan mematahkan tulang belulang mayit atau menghinakannya. Hanyalah diperbolehkan membongkar kuburan mayit itu dan mengeluarkan mayit darinya bila keadaan mendesak menuntut itu atau ada mashlahat islami yang kuat yang ditetapkan para ulama “ (majalah asy Syariah)
    Komentar anda

    4.Anda sholat menhadap kiblat..( KA’BAH ),apakah tu berarti anda menyembah ka’bah ?
    Jawaban Kami:

    Sholat menghadap kekiblat adalah perintah Allah dan Rasul Nya, bahkan menghadap kiblat merupakan syarat sah sholat seseorang. Tidak sah sholat seseorang yang tidak menghadap kekiblat yaitu ka’bah. Perintah sholat menghadap kiblat bahkan merupakan syarat sah sholat berdasarkan Al Qur’an dan As-Sunnah dani Ijma.
    Dalil dari Al Qur’an:
    فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ المَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

    “Maka hadapkanlah wajahmu kearah masjidil haram. Dan dimana saja engkau berada hadapkanlah wajahmu kearah itu” (Qs. Al Baqarah : 144)

    Dalil dari Hadist:
    Dari Abu Hurairah Radiyalahu ‘Anhu berkata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “ Apabila kamu mau mendirikan sholat, sempurnakanlah wudhu kemudian menghadap kiblat dan bertakbirlah” (HR: Imam Muslim didalam shahihnya)

    Adapun ijma :
    Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah : “ Menghadap qiblat syarat sah sholat, kecuali dalam keadaan yang telah disebutkan secara terperinci, akan datang penjelasanya tentang keadaan itu pada tempatnya, hal ini (sholat menghadap kiblat merupakan syarat sah sholat -penj) tidak ada perbedaan antara ulama didalamnnya secara umum “ ( Al Majmu3:193, dinukul dari kitab Im’aanun nadhor… : 17)
    Dari penjelasan diatas sangat jelas sekali bahwa menghadap kiblat adalah perintah Allah dan Rasul Nya ketika sholat bukan berarti menyembah ka’bah…!!!, sangat berbeda jika saudara ingin mempermisalkan dengan orang yang menghadap kuburan atau orang yang mendirikan masjid diatasnya kuburan atau orang yang beribadah kepada Allah disisi kuburan, yang satu diperintah (sholat menghadap kiblat), dan yang satu dilarang dan sarana kesyirikan (sholat menghadap kuburan, mendirikan masjid diatasnya)…perhatikan wahai orang yang mempunyai akal….!!!
    Komentar anda

    Sekedar manambahi, bukan dalil yang salah mungkin pemahman kita yg kurang sempurna,……maaf, saya termasuk orang bodoh…tapi setiap ziaroh kemakam, baik itu makam kerabat atopun makam karomah……..Alhamdulillah tak pernah terbersit niat untuk menyembahnya….na’udubillaahi mindzalik Tolong jawab pertanyaan -2 saya diatas ,agar saya semakin bisa menyadari kebodohan saya. terimakasih.
    Jawaban Kami:

    Dalilnya tidak salah dan pemahamannya pun tidak salah karena ini pemahaman yang dipahami oleh generasi para sahabat, Abu Bakar, Umar, Utsman Ali dan sahabat lainnya mereka tidak mengajarkan kepada kita untuk beribadah kepada Allah disisi kuburan orang sholeh, siapa yang merasa aman dari kesyirikan sedangkan nabi Ibrahim saja pemimpin orang yang mentauhidkan Allah dan telah menghancurkan patung / berhala dengan tangannya khwatir dari itpu daya syaithan, sehingga beliau berdoa:
    وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ

    ” dan jauhkanlah aku berserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala ” ( Qs. Ibrahim : 35 ).
    Berkata Syaikh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Ketika Nabi Ibrahim merasa takut terhadap dirinya, maka beliaupun berdoa kepada Rabbnya agar di teguhkan diatas agama tauhid dan agar tidak dipalingkan hatinya sebagaimana dipalingkannya mereka. Karena beliau adalah seorang manusia seperti mereka dan seorang manusia tidaklah merasa aman dari fitnah “ ( Durus Nawaqidul Islam, Syaikh Shaleh Al Fauzan : 37)
    Apakah bapak merasa aman…???

    Al hamdulillah saya telah menjawab pertanyaan-pertayaan saudara semoga mau menerimanya dengan lapang dada.
    Ya Allah perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai sebuah kebenaran dan kuatkanlah kami untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kebathilah sebagai sebuah kebathilan dan kuatkanlah kami untuk menjauhinya

    http://nikahmudayuk.wordpress.com/2010/06/06/ini-komentar-anda-ini-jawaban-kami/

  45. Assalaamualaikum, siapa aja ustadz ustadz kita yg bersih itu?
    Bagai mana kalau di buat juga radio khusus untuk ustadz yang bersih saja! Biar bisa di dengar di seluruh indonesia seperti radio rodja

  46. abdul ary mengatakan:

    Assalamualaikum Ustadz, bagaimanakah inti dakwah, dan apa keutamaan dakwah islam, dan dengan apa caranya agar diterima di masyarakat ?

  47. abda mengatakan:

    Ulasan yg lumayan..hanya perlu kita sadari bahwa hidayah taufik adl hanya dari Allah..kemudian ngajinya sdh lama atau baru juga berpengaruh pd tingkat pemahaman.. tdk bisa disamaratakan..shg bitur waktu/proses yg juga akan ber beda2…yg penting kita hrs2 selalu memohon padaNya serta terus dan terus mencari kebenaran hakiki…

  48. Pahamilah, dan Tinggalkan hawa nafsu mengatakan:

    Bismillah.

    Ana, pernah melihat orang-orang nya salah satu kota tempat mengajarnya Dr. Fulan, Dr. Fulan, Dr. Fulan, membuka tempat untuk menjual buku.

    Memang ahsan menjual buku. Namun sayang, qadarallah Allah menunjukkan ana kepada sesuatu yang membuat ana yaqin, agar ana harus berhijrah dan berpindah WALAUPUN mereka sudah banyak, WALAUPUN Dakwah mereka MEREBAK.

    Apa itu? Ya! mereka menjual buku2nya khawarij, buku2nya MMI dan bekerja sama saling bertukar shift untuk menjaga tokonya. Ana sangat berani bertanggung jawab dengan apa yang ana lihat ini, jikalau ana ingin dimintai persaksian dihadapan Rabbul ‘alamin.

    Bagaimana mungkin, Ustadz yang membantah khawarij, membantah perbuatan khuruj, menolak aksi demo, membantah aksi terorisme dan yang katanya membantah orang-orang sururiyin turatsiyin, ternyata membiarkan ikhwannya menjual buku2nya orang-orang yang membela sururiyin ikhwaniyin turatsiyin, semisal Salman al’audah, dan selainnya, belum lagi CD yang mereka jual.

    Waktu itu, ana masih berbaik sangka, namun makin hari orang2 yang berpemahaman khawarij itu selalu menaruh buku untuk dijualnya, dan merolling buku2 nya.

    Dan ingat, posisi ikhwan murid doktor ini adalah, mereka orang-orang mas’ul dakwah yang jika ada kegiatan dakwah, pasti bertemu dengan ustadznya, yang apa bila ada masalah dakwah pasti di bicarakaan dengan ustadznya. Lalu kenapa berbuat seperti ini?

    Bagaimana bisa, “orang yang senantiasa berhati-hati dalam penyimpangan, dan berusaha maksimal dalam meniru para salaf” menjual buku2 yang bertolak belakang?

    Ana, mengungkap ini bukan ingin membuka aib, tapi ini adalah kemungkaran yang jelas dan nampak yang harus “antum” pahami, dan harus kita rubah!!!! bukan hanya kewajiban kami untuk merubah dan menegur tapi mohon i’tikad baik dari kalangan antum juga wahai murid2 nya sang doktor, untuk berubah pula!!!!

    Jadi sangat tepat jika ada saudara2 kalian wahai murid2 doktor, kalau “kesungguhan kalian dalam menggali kebenaran, dan pengakuan kalian membela salaf” itu dituduh dan di pertanyakan, dan jangan marah antum!!! karena memang beginilah antum itu.

    Ana rasa, memang ungkapan2 ini tidak tepat kalo kita hidup sebagai orang indonesia, karena orang indonesia terlebih, jawa. Jika ada teguran seperti ini, dianggapnya berakhlaq jelek, jika ada teguran seperti ini dikira memecah belah, “ya karena memang ingin memecah, yang haq dan yang bathil”, jika ada teguran seperti ini, langsung tersinggung dan dan dan…. berbagai sifat hawa nafsu yang muncul.

    Apakah karena hanya banyak baiknya lalu, hal yang prinsip (tidak ta’awun dakwah dengan orang-orang yang jelas bertolak dengan salaf) itu antum terjang, lalu antum merasa berat untuk bersikap dan memilih yang haq?

    Ingat! berapa banyak ustadz/dai yang jamaahnya jauh lebih banyak, dan manfaat nya jauh lebih besar “dugaan mereka”, namun mereka benar-benar menyimpang apakah antum akan bela juga? Karena kebaikannya banyak?

    Tidak, ini justru bukan prinsip menyatukan ummat, tapi prinsip menyatukan kebathilan dengan kebenaran!!!

    Ya, ana yaqin bahwa kebaikan itu pasti dibalas oleh Allah dan tidak akan batal jika 2 syarat terpenuhi ikhlas dan mencontoh Rosul, tapi masa seperti ini yang kalian lakukan, tega sekali antum melukai dakwah dengan mempromosikan dan menjual buku2 khawarij. Kenapa?

    Ana pun juga tidak terima, dulu ketika ana masih talim dan belajar di SANA, dituduh kesungguhan ana, dituduh kesungguhan meniru salaf ana, karena memang tidak ada bukti, dan memang ana RASAKAN (pake perasaan), tuduhan itu hanya ucapan dari bagian celaan orang-orang yang mencela. Namun, Alhamdulillah.

    Terjawab sudah!! Terjawab sudah!!

    Sejak saat itu pergolakan dalam diri terjawab sudah, keraguan atas tuduhan2 para Asatidz kepada doktor terjawab sudah, tanpa ragu lagi. Ana katakan, ana baro dari antum dan dari apa yang antum lakukan wahai orang-orang yang tertipu… dengan kebaikan2.

    Dan ana nasehatkan bertaqwalah antum wahai pencari kebenaran, dan bersungguh2lah, tinggalkan segala bisikan-bisikan ‘ashobiyah dan hawa nafsu, agar ketika antum mellihat kemungkaran di hadapan antum antum bisa bersikap, dan tidak lemah!!!

    Dari saudaramu yang butuh ampunan Robb semesta ‘alam.

  49. Ummu Abdilllah mengatakan:

    pelajarilah agama ini dari yang terpenting dahulu seperti tauhid. mengambil ilmu dari ustadz2 yang lurus aqidah dan manhajnya, sangat berhati2 dalam beramal. tidak mudah terpengaruh dengan “uang” hanya demi tujuan membantu penyebaran d’wah. sungguh dana da’wah tidak hanya dari IT (ihya turats yang sudah jelas2 menyimpang )saja. sibukkanlah diri mengkaji ilmu2 dasar dahulu.jika aqidah dan manhaj kita sudah kuat, insyaa allaah akan nampak mana yang benar dan mana yang salah. ana sempat lama ngaji di link yazid jawas dkk. sempat mengalami pergolakan hingga futur 2 thn lamanya. tp wal hamdulillaah karena niat utntuk mencari kebenaran maka dg rahmat allah akhirnya cahaya itu telah nampak di dpn mata. membantah penyimpangan adlah kawasan para ulama yang kita masih minim ilmu dlam memnimbang. meruju’ lah kepada ulama yang terpercaya keilmuannya, yang tidak terpengaruh iming2 “dana” kec itu dari sumber yang jelas2 bersih dari penyimpangan manhaj.wallahua’alam.

  50. Ummu Abdilllah mengatakan:

    @sofiandy.. pelajarilah hal2 mendasar terlebih dahulu spt tauhid kpd ust2 yang bnr2 lurus dan amanah dan konsisten terhadap manhaj ini. janagn tetaplah meluruskan niat. insyaa allaaah akan sampai pada kebenaran yang hakiki itu. dengan mempelajari blog ini adalah rangkaian pembelajaran terhadap ilmu salaf dan yang lbh utama adlah duduk dalam majelis ilmu. semoga allaah memudahkan . baarokallahu fiykum

  51. Ummu Abdilllah mengatakan:

    *jangan lupa tetaplah meluruskan niat

  52. Ummu Abdilllah mengatakan:

    utk Ummu Aishah p2-9 (@Muslimah8541)
    Insyaa allaah ada asatidz2 tengah berupaya tanpa henti untuk mengadakan radio2 spt yang anti maksudkan. walau sudah ada radio yang sdh on air di beberapa daerah. pelan tapi pasti insyaa allah da’wah ini akan semakin menampakkan cahayanya biidznillaah. baarokallahu fiykum

  53. eks NII KARTOSUWIRYO mengatakan:

    Bismillaah
    Untuk info seputar:

    1.Fatwa-fatwa Ulama ttg KHOWARIJ, SURURIYYAH, HIZBIYYAH dan pemahaman sesat lainnya..

    2.Info Dauroh Ahlussunnah di Tanah air tercinta

    3.Artikel ilmiyyah bermanhaj salaf

    Langsung aja klik: http://www.tukpencarialhaq.com

    Semoga bermanfaat

    Baarokalloohufiekum

  54. syamhudi_riau mengatakan:

    bismillah. assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ustadz ana orang awm tentang sunnah, dan sekarang ana tambah bingung…. mana satu dijalan kebenaran. hujjah yang ustadz berikan bisa diterima kebaikannya. cuma sedikit saran… yang komentar di blog ini pakai nama yang lengkap… biar jelas, dan untuk mengelak dari salah pengertian. maaf kalau salah bicara. sehingga saudara kita yang di keritik tau siapa kita dan yang membaca bisa kenal dengan kita. jadi semakin dekat ukhwah kita. mengingatkan saudara itukan bukan sebuah kesalahan, masalah dalam islam dianjurkan. diterima atau enggak ya terserah yang menerima…cuma kalau bisa data kita harus jelas. skali lagi mohon maaf kalau tersalah bahasa. dan ini sekedar masukan. kalau bisa ustadz tolong saya diberi pencerahan asatizdah yang bisa kita jadikan panutan untuk diambil pelajaran darinya siapa saja orangnya… biar kita bisa merujuk kepadanya syukron. wassalam

  55. echal mengatakan:

    assalamu alaikum warohmatullahiwabarokatu…..
    jadza kullah khairan ya akhi….
    semoga ALLAH merahmati kamu dengan ilmu kamu….

    ijinkan ana memperkenalkan diri ana….
    ana adalah salafi dari AMBON yang skarang lagi di jakarta…
    ana selalu mencari kajian dari ustad salaf di jakarta selatan…
    hingga saya bertemu dengan seorang tetangga ana yang penampilannya seperti seorang sallaf
    dan ana bertanya kepada dia dimana ana mendapatkan kajian salaf ?? dan ana di tunjukan ke mesjid assofwa……
    namun alhamdulillah dengan info diatas ana jadi tau kalau mereka adalah sururi….

    tolong bantu ana….
    dimana ana bisa dapat mengikuti kajian salaf dari ustad salaf di jakarta selatan…..?

    tanggal 23 juni ada tabligh akbar di masjid istiklal yang disuarakan oleh radio rodja….???
    apa ana harus mengikutinya juga…???

    jadza kullah khairan

  56. abi yassar mengatakan:

    Makin penasaran aja aku yg org awam terhadap radio rodja.
    Terus terang aku sudah bosan dg amalan atau bacaan yg aku sendiri gak tau dasarnya.

    Jazakallahu khairan

  57. Pathy mengatakan:

    Assalamualaiikum ustad

    Jazakumullahu khoiron katsir…………

    ana mau nanya dmna tempat kajian salafiyyun di daerah Malang ustad , ana pernah di beritahukan oleh seorang ikhwan tapi ana takut dikarenakan bukan kajian salaf malah yang mirip salaf, makanya ana bingung dmn tempat kajian rutinnya,

    mohon infonya ustad

    barakallahu fiikum…… :)

  58. Nis mengatakan:

    Assalaamu’alaykum ustad..

    Sebelum membaca ini sy termasuk yang mengagumi rodja. Saya berpendapat bahwa inilah salafy yang sebenarnya, tapi setelah membaca ini sy menjadi ragu. Kebetulan di daerah ana Palopo, Sulawesi Selatan tidak ada kajian salaf (setau sy). Karena itu sy hanya mendengarkannya melalui rodja. Yang ingin saya tanyakan ustad, apakah semua ustad-ustad di Rodja menyimpang ? Saya sangat senang mendengarkan ceramah dari ustadz Abu Yahya Badrussalam. Bagaimana menurut ustadz tentang beliau ? Bolehkah saya mendengarkan ceramah2 di Rodja selain daripada ustad2 yang menyimpang yang ustad tulis diatas ? Mohon penjelasannya. Saya sangat berharap ustad menjawab pertanyaan saya ini agar bisa terhindar dari was-was, dan bisa terus mencari ilmu dari yang benar2 salaf, bukan yang hanya mirip salaf. Jazakallahu khoir…

    • abdullah1982 mengatakan:

      wa’alaikumussalam warah matullahi wabarakatuh, alhamdulillah ustadz2 yang aqidah dan manhajnya lurus banyak, termasuk di palopo ada ustadz Adnan. adapun keadaan pengisi radio rojda bertingkat2 ada yang hijbi, ada yang memiliki penyimpanagn berbahaya dll dan ada yang tertipu, saya sarankan untuk saudari mengaji kepada yang sudah jelas2 saja aqidah dan manhajnya. wallahu a’lam.

      • ardi mengatakan:

        assalamualaikum ustadz, bisakah ustadz memberikan penjelasan mengenai kesesatan radio rodja, khususnya ustadz-ustadznya , agar tak ada keraguan di hati ini ?

      • abdullah1982 mengatakan:

        sudah di jelaskan diartikel, begitu juga telah ada fatwa ulama tentang radio rodja.
        sebagian syaikh yang mengisi di rodja sudah tahdzir oleh para ulama ahlussunnah, seprti ali hasan, sedah di ahlu bid’ahkan oelh para ulama semisal sayikh Rabi’ dan syaikh ubaid dan para ulama yang lainnya yang mentahdzir ali hasan banyak Syaikh Muhammad bin Hadi, Syaikh Abdullah Bukhari, Syaikh Bazamul dll.
        mereka merangkul orang2 sesat siperti abul hasan ma’ribi, ali hasan dan murid-muridnya.

    • Abu Anisah mengatakan:

      Setahu ana sudah ada, coba hubungi Agen majalah Asy-Syari’ah di Palopo : Ustadz Hilal 081355568865

  59. hardi mengatakan:

    bisa dijelaskan pak dimana letak kesalahan radio rodja? :)

  60. abdullah1982 mengatakan:

    semoga Allah memberikan hidayh kepada anda

  61. ASEP mengatakan:

    anda ini berdakwah untuk orang sekelas anda…, hahahahaha, pamer ilmu tapi sy ragu sm anda saat “dilapangan”..

  62. jannah mengatakan:

    bismillaah
    afwan mw tanya, nama linkx ini apa??
    biar sya bisa ikut menyebarkan..
    mohn d blz
    jazakumullah khairan

  63. fauzan mengatakan:

    Saya mau tanya pendapat anda tentang Ja’far dengan pondok pesantrennya ?
    Saya dengar mudah mudahan salah orang rodja minta bantuan ja’far berkaitan sering diserang orang salafy? Secara umum saya setuju 100% artikel ini karena dalilnya kuat dan saya pernah sering dengar kajian mereka tabrakan dengan pemahaman salafy dan kesesatan rodja tapi saya dengarkan radio lain 837 AM nggak ada sinyal yang ada sinyal kuat hanya 746. Kalau cuma dengerin moratal boleh nggak ustad?
    makasih sebelumnya

  64. kandar mengatakan:

    saya ingin sekali menghack website ini

  65. Abu Hamka mengatakan:

    Bismillah
    Bagaimana menurut Ustad Abdullah 1982 jika ada seseorang yang berkata kebenaran berdasarkan Al Qur’an dan Assunnah (Dai2 dari Radio Rodja) apakah boleh kita dengarkan dan kita ikuti pemikirannya ? mohon dijelaskan secara detail apa bentuk kebidah yang telah dilakukan oleh ustad2 di Radio Rodja ? Mohon dijelaskan sepak terjang Khawarij di Indonesia?
    Bagaimana menurut Ustad Abdullah 1982 (nama ente keren juga ustad) tentang partai2 politik islam di Indonesia? apakah kita boleh mengikuti salah satu parpol tsb? bagaimana menurut ustad Abdullah 1982 apakah kita wajib mengikuti pemilu ?. afwan ustad kalo seandainya pertanyaan saya tidak bermutu.
    Jazakallah atas jawabannya

  66. akbar_plaju mengatakan:

    Semoga Allah memberi hiadayah kepada saya juga, amin

  67. ansharusunnah mengatakan:

    Reblogged this on BilikSalaf.

  68. abu muhammad rafeez mengatakan:

    Antum mencela orang sebagai ahli bidah tapi antum sendiri tidak sadar melakukan maksiat dengan menempelkan ads pada blog antum. Apa gak keliatan tuh iklan iklan wanita telanjang yg nempel di blog antum.
    Dakwah ya dakwah jangan sambil nyari duit

  69. arif mulyadi mengatakan:

    maaf ustadz, bahasan antum tentang masalah agama tapi kok iklannya gambar wanita …..????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s